
...✪✪✪...
Elisha melangkah masuk ke dalam toilet. Dia langsung disambut dengan siraman air dari Fevita. Parahnya air yang digunakan Fevita adalah cairan kotor bekas kain pel.
"Makan tuh kotoran!" geram Fevita. Lalu mengukir senyuman puas.
Elisha sontak mematung di tempat. Ia hanya bisa memejamkan mata, kala rambutnya sibuk dialiri dengan air.
Sebelum Elisha melakukan perlawanan, Fevita lekas-lekas menyeretnya. Kemudian mengurungnya ke toilet terbengkalai yang berada di ruang sebelah. Namun tanpa diduga, Elisha mendadak melakukan perlawanan. Dia berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkeraman Fevita.
"Din! Cepat bantuin! Jangan diam mulu!" protes Fevita kepada satu-satunya teman yang membantunya. Dina pun bergegas menghampiri.
Namun belum sempat dirinya mendekat, Elisha dan Fevita terlihat melakukan perkelahian intens. Keduanya saling adu jambak rambut.
"Dasar gadis gila!" pekik Fevita. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Dina. "Din! Kenapa kau masih diam?!" timpalnya sambil berusaha menahan serangan dari Elisha.
"Eh, maaf!" Dina bergegas memegangi Elisha.
Kini Elisha kalah telak. Dia tidak mampu melawan kekuatan dari dua orang. Hingga gadis tersebut tetap terkurung di dalam toilet terbengkalai.
Akibat sudah merasa begitu kesal, Fevita mendorong kasar Elisha ke lantai. Menyebabkan lutut Elisha tanpa sengaja mengenai pecahan kaca.
Elisha langsung bangkit dan berlari ke arah pintu. Akan tetapi Fevita sudah lebih dahulu menutup sekaligus menguncinya.
Dug!
Dug!
Dug!
Sekarang Elisha hanya mampu menggedor pintu. Dia juga tidak lupa untuk menarik-narik gagang beberapa kali. Nihil, pintu tetap bergeming.
__ADS_1
"Seseorang kumohon!" teriak Elisha. Berharap ada orang yang mendengar teriakannya. Dia sedikit frustasi, karena dirinya juga kebetulan lupa membawa ponsel. Hari bahkan sudah sore, kebanyakan mahasiswa akan melakukan praktek ke rumah sakit. Sangat jarang ada kelas malam di Fakultas Kedokteran tempat Yudha dan Elisha berkuliah. Meskipun begitu, Elisha tetap tidak berhenti memekik sekaligus menggedor pintu.
"Menjauhlah dari pintu! Aku akan mendobraknya!" perintah suara seorang lelaki dari depan pintu. Elisha lantas menuruti suruhannya.
Bruk!
Bruk!
Bruk!
Di dobrakan ketiga, lelaki itu berhasil membuka paksa pintu. Muncullah sosok lelaki yang menolong Elisha. Ternyata dia adalah Tirta, dosen muda yang tadi mengajar di kelas. Mata Elisha sontak membulat. Dia agak terkejut dengan kehadiran Tirta.
"Te-terima kasih, Pak." Elisha berucap dengan terbata-bata, sambil sedikit membungkukkan badannya. Dia bergegas keluar dari toilet. Berdiri tidak begitu jauh dari Tirta.
Tirta hanya diam. Ia terpaku pada luka yang ada dilutut Elisha. "Lihat! Kau terluka," katanya sembari menjongkokkan badan. Kemudian memastikan keadaan lutut Elisha.
Elisha merasa kaget dengan perlakuan Tirta yang tiba-tiba mendekati lututnya. Dia merasa tidak nyaman, karena kebetulan dirinya sedang mengenakan rok.
"Sa-saya tidak apa-apa..." ujar Elisha seraya melangkah mundur. Berupaya menjauh dari Tirta.
"Tidak. Saya tidak ketakutan, hanya saja, ini cuman luka kecil, jadi anda tidak perlu repot-repot," tutur Elisha. Memasang ekspresi bahwa dirinya memang baik-baik saja. Dia perlahan mengalihkan pandangannya ke depan. Ke arah jalan yang dibelakangi oleh Tirta. Saat itulah jantungnya berdegub kencang. Sebab Elisha melihat Yudha mengamatinya dari kejauhan.
Yudha tampak menggelengkan kepala beberapa kali. Senyuman miring mengembang dimulutnya. Dia terlihat berbalik dan menjauh.
"Se-sekali lagi terima kasih, Pak. Saya harus pergi sekarang!" ucap Elisha. Lalu berlari meninggalkan Tirta. Dia tentu berniat mengejar Yudha. Takut lelaki itu salam paham dengan apa yang dilihatnya.
"Yudha!!" Elisha memanggil Yudha yang telah berdiri di depan mobil. Yudha memegangi pegangan pintu, dan hendak lekas-lekas masuk ke mobil. Tetapi tangan Elisha berhasil mencegatnya.
Yudha otomatis menoleh ke arah Elisha. Menampakkan raut wajah cemberut. Ada kekesalan dalam semburat paras rupawan tersebut.
"Jangan salah paham! Pak Tirta hanya bermaksud menolongku. Tadi Fevita dan Dina mengerjaiku habis-habisan!" jelas Elisha dengan nafas yang tersengal-sengal.
__ADS_1
Yudha awalnya merasa kesal, tetapi saat dirinya menyaksikan luka dilutut Elisha, dia lantas mempercayai penjelasan gadis itu. Dia segera melakukan pengobatan di dalam mobil. Cara Yudha mengobati benar-benar sudah seperti seorang dokter.
"Kau tahu? Dirimu sebenarnya sudah pantas menjadi dokter. Lebih baik kau langsung ujian dan melakukan praktik saja. Aku yakin kau pasti akan lulus!" ungkap Elisha. Kala memperhatikan gerak-gerik Yudha.
"Ya, itu benar. Lalu polisi akan menangkapku dengan mudah, karena aku dianggap melakukan malapraktik!" sahut Yudha sembari menyimpan kembali kotak P3K-nya ke dashboard mobil.
"Kau marah?" tanya Elisha. Dia menilik mimik wajah yang ditampakkan Yudha.
"Apa Fevita yang membuat bajumu basah begitu?" Yudha malah berbalik tanya. Elisha langsung menjawab dengan anggukan kepala.
"Apa perlu aku memberinya pelajaran. Aku bisa melakukannya dengan cepat jika kau mau," imbuh Yudha.
"Biarkan saja dahulu. Jika semakin berlebihan, maka kau bisa bertindak!" jawab Elisha. Menyebabkan pupil mata Yudha seketika membesar. Dia sedikit terkejut dengan respon Elisha. Padahal biasanya gadis itu mempunyai belas kasih terhadap orang lain. Bahkan kepada orang-orang yang merundungnya.
"El, sejak kapan kau menjadi nakal begini?" respon Yudha. Masih tak percaya. Dia merasa terkagum. Perasaan kesalnya langsung sirna.
"Kau yang mengajariku, bukan?" Elisha tersenyum tipis. Kemudian melayangkan bibirnya ke mulut Yudha. Untuk yang pertama kalinya, gadis tersebut berani memulai permainan.
Tanpa disangka Yudha malah melepaskan tautan bibirnya dari bibir Elisha. "Kau lebih baik mandi dulu," pungkasnya. Membuat Elisha kini sadar diri, kalau badannya masih kotor dan bau.
Yudha terkekeh. Apalagi saat menyaksikan merah malu yang tampak diwajah Elisha. Lelaki itu menjalankn mobil dan segera mengantarkan Elisha pulang.
Sesampainya di rumah, Yudha langsung mengganti pakaian. Dia mengenakan pakaian serba hitam. Tidak lupa juga untuk membawa dua barang yang dapat membantunya. Termasuk pisau dan juga topeng yang dicurinya ketika jurit malam.
Tujuan Yudha adalah mendatangi rumah Erwin. Dia sengaja tidak memakai mobil, dan menggunakan angkutan umum. Seperti biasa, Yudha selalu menggunakan topi untuk menutupi sebagian besar wajahnya. Kali ini dia menyandang tas selempang. Dalam tas itu terdapat topeng yang nanti akan dipakainya saat menjalankan rencana.
Selang waktu lima belas menit, tibalah Yudha di rumah Erwin. Dia mengamati rumah aparat kepolisian tersebut.
Salah satu alasan yang membuat Yudha nekat menyerang Erwin, karena dia sudah tahu kalau polisi itu tinggal sendirian. Erwin baru bercerai dengan istrinya. Dua anaknya pun sudah tidak tinggal lagi bersamanya. Sebab menurut kabar yang Deny dapat, Erwin sangat jarang berkumpul dengan keluarganya. Dia lebih sering menghabiskan waktu dengan pekerjaan. Erwin dikenal bukanlah orang yang suka tidak peduli. Bahkan kepada keluarganya sendiri.
Melihat rumah Erwin tampak sepi, Yudha mulai melangkah masuk. Dia lewat jendela lantai dua yang kebetulan terbuka. Untung saja jaraknya tidak begitu tinggi. Jadi, Yudha dapat memanjatnya dengan mudah.
__ADS_1
Catatan Author :
Guys, untuk sekarang novel ini akan update helat satu hari ya. Selain karena kesibukan author di dunia nyata. Tapi juga karena lagi nunggu review kontraknya. Terima kasih buat yang masih betah dan setia ♡