Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 58 - Season 2 [Kepala Utuh]


__ADS_3

...✪✪✪...


Elisha perlahan mendorong Yudha. Dia lupa kalau sedari tadi ada tawanan yang menonton kegiatan intimnya bersama Yudha.


"Kenapa?" tanya Yudha dengan dahi berkerut.


"Mendingan kita habisi dulu bapak tua itu. Kasihan dia," ujar Elisha sembari mengarahkan jari telunjuk kepada Jaka.


Yudha berbalik menatap Jaka. Dia berseringai dan berpikir bahwa ide Elisha ada benarnya. Kali ini Yudha mengambil pisau belati kesayangannya. Lalu menancapkannya ke perut Jaka.


"Mmmpphhh!" Jaka ingin berteriak tetapi tidak bisa. Sebab mulutnya ditutup dengan seutas kain.


Yudha tersenyum simpul. Kemudian memutar belati yang masih menancap di perut Jaka. Sekali lagi tawanannya itu mengerang kesakitan. Suara pekikan tersebut terdengar seperti surga bagi Yudha dan Elisha. Mereka justru tergelak bersama.


Cairan merah segar keluar dari luka di perut Jaka. Semua organnya keluar ketika Yudha merobek kulit ke bagian dada. Darah Jaka otomatis berlinang layaknya air keran yang deras. Namun langsung habis saat darah terakhir menetes.


Yudha mengusap kasar wajahnya yang tampan. Dia menyuruh Elisha untuk mengambilkan gergaji mesin. Tanpa pikir panjang, Elisha segera memberikan apa yang Yudha mau.


Dalam dua kali pompaan, gergaji mesin langsung menyala. Yudha lantas segera memenggal kepala Jaka sampai putus.


Bruk!


Belum genap satu menit, kepala Jaka sudah jatuh ke lantai. Menyisakan keadaan wajah dengan mata yang terbelalak.


Bau amis serta warna merah mendominasi ruang basemen. Elisha langsung mengambil kepala Jaka. Lalu memasukkannya ke dalam sebuah tas.

__ADS_1


"Apa kita akan teruskan yang tadi?" cetus Yudha.


Elisha membalas dengan senyuman. Ia meletakkan tas berisi kepala ke atas meja terlebih dahulu. Kemudian keluar bersama Yudha dari basemen.


"Mau kemana?" Yudha menarik Elisha untuk mendekat.


"Kita lakukan di kamar mandi ya!" imbuh Elisha sembari membersihkan darah yang menodai wajah Yudha.


"Ya udah, cepat!" Yudha yag sudah tidak sabar, berjalan lebih dulu memasuki kamar mandi. Dia dan Elisha segera menyibukkan diri di dalam sana.


Tanpa sepengetahuan Yudha, Yanto sebenarnya mengikuti sejak awal. Lelaki paruh baya itu berhasil menyaksikan Elisha dengan mata kepalanya sendiri. Sekarang posisi Yanto berada di bawah jendela. Dia tidak jadi masuk, karena Yudha dan Elisha mendadak muncul dari balik pintu basemen.


"Yudha... benar dugaanku." Yanto mengepalkan tinju di kedua tangan. Amarahnya seketika meluap.


Demi menjawab rasa penasaran, Yanto akhirnya memutuskan mengikuti Yudha. Ia bahkan menyuruh Mirna pulang dengan menggunakan taksi.


Kini segalanya sudah terbukti. Yanto yakin, Yudha-lah penyebab Elisha memilih kabur dari rumah. Yanto akan berupaya mencari bukti kuat untuk memasukkan Yudha ke dalam penjara.


Yanto membuka pintu jendela dengan pelan. Untungnya jendela tidak dikunci. Dia masuk ke rumah tanpa gangguan apapun.


Yanto mencoba menahan kesabaran kala mendengar suara de*sahan intim Elisha dan Yudha dari kamar mandi. Dia akan mengutamakan misinya terlebih dahulu. Setelah mendapat bukti kuat, Yanto berjanji akan menghabisi Yudha habis-habisan dijalur hukum.


Langkah pelan Yanto di arahkan menuju basemen. Ia yakin ada sesuatu di tempat itu. Sebab Yanto tadi sempat mendengar suara teriakan seorang lelaki. Jika sosok tersebut bukan Yudha? Lalu siapa orang yang berteriak tadi?


Cieeet...

__ADS_1


Bunyi pintu berdecit pelan saat Yanto memberikan dorongan. Dia segera menuruni tangga menuju basemen. Bau amis dan busuk langsung menghantam indera penciuman Yanto.


"Sial! Tempat apa ini?" rutuk Yanto sembari menutup hidung dan mulutnya rapat-rapat. Meskipun begitu dia tetap melenggang maju. Sampai pemandangan lantai yang dipenuhi darah menyambut penglihatan. Belum lagi penampakan tubuh tanpa kepala yang masih terduduk di kursi. Akibat gairah yang tak tertahan, Yudha dan Elisha menunda untuk membersihkan pekerjaan mereka.


"Sinting!" sekali lagi Yanto mengumpat. Untuk orang normal sepertinya, dia tentu sangat terkejut dengan kengerian yang dibuat Yudha.


Yanto meneguk salivanya. Kemudian mengambil ponsel. Dia memotret gambar sebanyak mungkin agar bisa dijadikan bukti untuk menangkap Yudha.


Dengan ringisan jijik, Yanto memijakkan kaki lebih dalam. Dia juga sukses menemukan banyak senjata di meja.


Kening Yanto mengernyit saat menyaksikan sebuah tas aneh di meja. Tas tersebut dipenuhi oleh tetesan darah. Karena penasaran, Yanto akhirnya membuka tas itu.


Mata Yanto membulat sempurna. Dia menemukan kepala manusia utuh di dalam tas. Yanto reflek menjauh. Kini tangannya gemetar ketakutan.


"Elisha..." Yanto merasa sangat kasihan dengan Elisha. Dia tentu menganggap putrinya sebagai korban. Yanto yakin, Yudha sepenuhnya sudah mencuci otak Elisha.


Setelah menemukan bukti brilian, Yanto bergegas kembali ke mobil. Dia keluar dengan mulus karena Yudha dan Elisha masih sibuk berkutat di kamar mandi.


Yanto sejujurnya sangat ingin langsung memberi Yudha pelajaran. Tetapi sebagai salah satu aparat kepolisian, Yanto paham betul jenis penjahat yang berbahaya. Yang jelas, Yanto tidak akan bisa melakukan perlawanan seorang diri. Bahkan jika penjahat itu lebih muda darinya.


Yanto segera menghubungi rekan-rekan polisinya. Dia meminta surat perintah penangkapan untuk Yudha.


Catatan Author :


Halo guys, maaf jarang up ya. Tapi mulai hari ini, author janji bakal usahain up tiap hari. Makasih...

__ADS_1


__ADS_2