Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 32 - Ruang Rahasia


__ADS_3

...✪✪✪...


Yudha menyuruh Deny bersiap. Sebab Yudha sedang melakukan rencana penyerangan kepada beberapa anggota Mata Ular. Kebetulan Deny menemukan lima orang sasaran. Kelima orang itu dipastikan terlibat dalam insiden kebakaran rumah Yudha.


Ada tiga orang yang membantu Yudha menjalankan rencana. Termasuk Deny. Yudha sebenarnya ingin membawa Elisha dalam rencananya. Namun masalah yang menimpanya dengan Yanto, membuat Yudha harus berhati-hati untuk melibatkan Elisha. Sekarang Yudha dan kawan-kawan dalam perjalanan ke tempat dimana target sedang berkumpul.


Setelah memakan waktu dua puluh menit, tibalah Yudha dan kawan-kawan di tempat tujuan. Kebetulan hari tengah hujan. Menyebabkan keadaan di kota Bima Jaya seluruhnya lembab dan basah.


Yudha melangkah masuk ke dalam sebuah kedai kecil. Ya, itu memang hanya kedai kecil. Setidaknya begitulah yang terlihat di permukaan. Namun jika seseorang mengetahui kode tertentu, maka dia diperbolehkan masuk ke ruang rahasia yang ada di dalam. Lokasinya sendiri disembunyikan sangat rapat. Berada di balik pintu setelah pedapuran kedai.


Yudha, Deny beserta dua orang lainnya, beriringan masuk ke dalam ruang rahasia. Semuanya berjalan lancar, ketika Deny menyebut kode rahasia dan menyerahkan uang kepada wanita paruh baya penjaga kedai.


Kini Yudha telah masuk ke ruang rahasia. Tempatnya seperti sebuah diskotik. Namun dengan suasana lebih gelap dan liar. Penari striptease bahkan juga ada di sana. Membuat mata Yudha otomatis jelalatan sejenak. Lelaki mana yang tidak telan ludah saat melihat wanita menari hanya mengenakan bikini minim.


Yudha duduk di salah satu kursi yang kosong. Di iringi Deny dan dua anak buahnya. Mata mereka terus terpaku ke arah panggung. Memanjakan dengan buaian penari striptease yang beraksi.


Kedua tangan Yudha segera bertindak. Dia memutar kepala Agung dan Norman sekaligus. Agar berhenti terpaku menontoni pertunjukan penari striptease.


"Jika kau tertarik, coba bicaralah kepadanya. Sepertinya wanita itu bisa mempermudah rencana kita!" ujar Yudha, memberitahukan dua bawahannya. Deny yang mendengar mengernyitkan kening. Sebab dia tidak memahami rencana dadakan Yudha.


Norman dan Agung lekas-lekas menganggukkan kepala. Keduanya segera menuruti perintah Yudha. Mereka kegirangan dan saling berdahuluan untuk menghampiri penari striptease. Bahkan sebelum Yudha sempat menjelaskan apa yang harusnya dibicarakan.


"Itu ide yang buruk Yud. Mereka tidak akan bisa bicara baik-baik dengan wanita itu. Pikiran Norman dan Agung pasti ke lain arah!" Deny mengingatkan Yudha sambil menggelengkan kepala.


"Coba kita lihat dahulu," sahut Yudha. Dia memperhatikan kelakuan dua bawahannya dari jauh.

__ADS_1


Benar yang dikatakan Deny, Norman dan Agung malah terlalu sibuk menikmati rayuan penari striptease. Mereka bergabung di antara banyaknya lelaki yang berdiri di bawah sekitaran panggung.


"Sudah kubilang kan!" ujar Deny. Satu tangannya meraih gelas berisi minuman beralkohol. Tetapi belum sempat cairan itu sampai ke mulut, Yudha lebih dahulu merebutnya. Kemudian menelannya sampai habis.


Sebelum beraksi Yudha mengedarkan pandangannya. Dia tidak berniat bicara kepada sang wanita penari. Akan tetapi kepada orang yang lebih berkuasa.


Yudha bangkit dari tempat duduk, saat menyaksikan seorang wanita berbadan berisi. Wanita tersebut mengawasi penari striptease dari kejauhan. Yudha yakin wanita itu pasti adalah bosnya.


"Halo, kenalkan aku Kevin. Ini pertama kalinya aku ke sini." Yudha menyapa wanita berbadan berisi. Dia lagi-lagi memakai nama samaran. Satu tangannya sibuk bersalaman dengan sang wanita.


"Aku Santi, senang bertemu denganmu." Sang wanita mengembangkan senyum. Menilik penampilan Yudha dari ujung kaki hingga kepala. Dia mendecakkan lidah sembari geleng-geleng kepala.


"Kenapa orang setampan dirimu bisa nyasar ke tempat ini?" tanya Santi. Dia terpesona akan kerupawanan Yudha.


"Itu hal yang mudah sebenarnya. Tetapi, butuh--" belum sempat Santi menyelesaikan kalimatnya, Yudha sudah lebih dahulu mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya. Sebuah cek uang yang berhasil membuat Santi ternganga.


"Katakan kau butuh berapa?" tanya Yudha percaya diri.


"Jujur anak muda, aku sangat ingin mencumbumu sekarang!" balas Santi dengan mata yang berbinar-binar. Salah satu tangannya menyentuh area pribadi Yudha tanpa permisi.


"Jangan kurang ajar, pelac*ur!" Yudha menatap tajam Santi. Tangannya mencengkeram erat tangan nakal wanita itu. Dia tidak terima terhadap perlakuan Santi yang sesuka hati. Terkadang tidak perempuan saja yang mengalami pelecehan.


Santi berseringai. Dia langsung menarik tangannya dari cengkeraman Yudha. Dirinya sama sekali tidak takut dengan tatapan penuh ancaman dari Yudha.


"Kita lebih baik kembali ke bisnis kita. Katakan jumlah yang kau mau. Dua puluh juta?" Yudha mencoba melupakan insiden yang mengganggunya beberapa detik lalu.

__ADS_1


"Seratus juta!" ungkap Santi seraya melipat tangan di depan dada. Dia mengamati Yudha yang sedang sibuk menulis angka di atas lembaran cek.


"Ini!" Yudha menyerahkan cek uang kepada Santi. Saat itulah suara sorakan gerombolan pria menggema. Penari striptease telah mengakhiri pertunjukkannya. Dia segera mengenakan pakaian kimono untuk menutupi badannya.


"Mbak San, hari ini ada bonus kan?" sosok penari striptease menghampiri Santi. Atensinya langsung tertuju ke arah Yudha. "Siapa nih Mbak? Ganteng banget!" lanjutnya lagi. Memposisikan dirinya ke samping Yudha.


"Siapa namanya Dek? Mau main sama Kakak?" si penari striptease menggandeng tangan Yudha.


"Lia! Jangan ganggu dia! Anak muda ini perlu hal lain dari kita!" Santi menarik tangan Lia. Sehingga membuat wanita tersebut menjauh dari posisi Yudha. Santi langsung memberitahukannya mengenai rencana Yudha. Mereka akan segera beraksi.


Di sisi lain, ada sesuatu yang tidak diketahui Yudha. Semenjak pergi dari rumah, Elisha mengikuti mobilnya dari belakang. Elisha berhasil mengiringi sampai ke kedai kecil. Gadis itu hanya kesulitan untuk masuk ke ruang rahasia.


"Ayolah Mbok, temanku saja boleh masuk ke sana. Kenapa aku tidak?" timpal Elisha dengan dahi berkerut. Dia masih berusaha mendapat persetujuan dari wanita penjaga kedai yang bernama Tika.


"Karena kau tidak tahu kodenya! Sudahlah, lebih baik kau tunggu saja temanmu itu di sini!" geram Tika sinis.


"Aku akan bayar dengan uangku!" Elisha mengeluarkan semua uang yang kebetulan dibawanya. Namun jumlahnya hanya mencapai tiga ratus ribu rupiah.


"Hahaha! Uangmu tidak cukup, cantik!" ujar Tika dengan gelak tawanya. Membuat raut wajah Elisha seketika cemberut. Gadis tersebut lantas duduk ke kursi kosong yang ada di kedai. Dia sesekali menoleh ke arah pintu yang menuju ke arah ruang rahasia.


Elisha sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Yudha. Dia mau tahu, apakah kekasihnya itu terus melakukan pembunuhan. Elisha sebenarnya hanya ingin memastikannya. Makanya dirinya nekat keluar dari rumah malam-malam. Kemudian pergi ke rumah Yudha.


Awalnya, Elisha sebenarnya hendak menemui Yudha. Akan tetapi niatnya langsung diurungkan, saat Yudha menolak mentah-mentah kedatangannya. Gelagat lelaki tersebut membuat Elisha kian penasaran. Benar saja, ketika Elisha menunggu di dalam mobilnya, dia menyaksikan dua buah mobil Yudha keluar dari rumah. Elisha tidak akan melewatkan kesempatan itu.


'Kenapa Yudha mendadak merahasiakan segalanya kepadaku?' batin Elisha sembari mengepalkan tinju di salah satu tangan. Untuk yang ke sekian kalinya, dia merasa sangat kesal kepada Yudha.

__ADS_1


__ADS_2