Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 44 - Ritual Gila


__ADS_3

...✪✪✪...


Elisha baru meletakkan pizza ke meja. Disusul oleh Yudha yang membawakan jus jeruk. Dia segera mempersilahkan Joyce dan Alice untuk makan.


"Jus jeruk? Apa kau bercanda? Kau tidak punya bir atau wine?" ujar Joyce seraya mengamati gelas yang berisi dengan jus jeruk.


"Kita sudah minum alkohol tadi, sebaiknya jangan dilanjut." Yudha duduk bergabung ke sofa.


"Ya sudah, aku akan menikmatinya demi dirimu," goda Alice. Lalu melirik selintas ke arah Elisha. Selanjutnya dia terkekeh bersama Joyce. Pizza dan jus jeruk benar-benar dinikmati oleh mereka.


Setelah menggigit pizza beberapa kali. Penglihatan Joyce dan Alice perlahan kabur. Keduanya hanya melihat Yudha, Elisha dan Roy memegang potongan pizza. Tetapi sama sekali tidak memakannya. Mereka hanya berlagak seakan menikmati hidangan yang ada. Lama-kelamaan, Joyce dan Alice akhirnya tidak sadarkan diri.


"Sekarang saatnya beraksi." Yudha bangkit dari tempat duduk sambil memasang pose berkacak pinggang.


"Aku tidak menyangka, kau punya ide segila itu." Roy berkomentar sembari menggelengkan kepala. Meskipun begitu, dia memancarkan binar kagum dimatanya.


Joyce dan Alice segera dibawa ke basement. Keduanya di ikat dengan tali yang sama. Posisinya sendiri saling membelakangi. Mempertemukan punggung mereka satu sama lain. Keduanya masih sepenuhnya pingsan.


Roy menggambar lingkaran di sekeliling Joyce dan Alice. Kemudian mengukir beberapa garis, hingga menghasilkan gambar berbentuk pentagram. Sedangkan Elisha sibuk menyalakan lilin merah. Dia meletakkan lilin secara asal. Yang terpenting aura mengerikan dapat dirasakan oleh Joyce dan Alice.


Sementara itu Yudha, tengah berada di dapur. Dia memilah-milih pisau milik Elisha. Kebetulan gadis tersebut sengaja membawakannya untuk rencana yang telah dirancang Yudha.


Elisha berdiri tegak menatap Joyce dan Alice. Dia terpaku dan mengingat segala hal yang pernah dilakukan mereka. Tangan Elisha otomatis mengepal erat.


"El, bolehkah aku bertanya?" celetuk Roy. Sukses menyadarkan Elisha dari keterpakuan. Elisha sontak menoleh ke arah Roy. Dia berbicara melalui tatapan matanya.

__ADS_1


Roy yang mengerti segera berbicara. "Aku penasaran, apakah Yudha hanya hidup seorang diri?" tanya-nya.


"Sepertinya begitu. Aku tidak sempat menanyakan apa yang telah terjadi kepadanya. Karena kami sempat berpisah selama beberapa waktu," terang Elisha. Menatap serius ke arah Roy. "Memangnya kenapa kau penasaran dengan hal itu? Apa Yudha tidak ada bercerita kepadamu?" sambung Elisha. Menimpali dengan pertanyaan.


Roy tersenyum tipis dan menjawab, "Aku hanya memastikan, kalau nasib Yudha sama sepertiku. Sebatang kara. Kau juga bukan? Tetapi bedanya, kau punya orang tua tiri. Yudha yang memberitahukannya kepadaku."


Elisha menundukkan kepala. Dia tiba-tiba teringat dengan kedua orang tua tirinya. Namun seberapa keras dirinya berpikir, pilihan akhirnya tetaplah pada keputusannya sekarang. Elisha tidak mau menjadi normal lagi. Itu sangat melelahkan baginya. Selagi dia punya teman, Elisha akan memanfaatkannya dengan baik.


Suara derap langkah kaki Yudha terdengar mendekat. Tidak lama kemudian lelaki tersebut muncul sambil membawa kardus besar ditangannya. Isinya terdapat jubah hitam, pisau, dan juga senjata tajam lainnya.


"Mereka belum bangun?" Yudha bertanya seraya meletakkan kardus ke atas meja.


"Bukankah sudah jelas? Lihatlah sendiri!" sahut Elisha ketus.


"Bisakah sekali-kali kau memperlakukanku dengan baik?! Kau tahu, sentuhan yang pernah kau lakukan kepadaku cenderung seperti pelecehan!" dahi Elisha mengerut sebal.


Bukannya tersulu amarah, Yudha justru tertawa kecil. "Bukankah kau selalu menyukainya saat di akhir?" tukasnya percaya diri.


"Aku peringatkan kepadamu, jangan coba-coba menyentuhku lagi tanpa permisi!" Elisha mengacungkan jari telunjuknya ke dada Yudha. Menegaskan kalimat yang dikatakannya.


"Ya sudah, mulai sekarang aku akan melakukannya dengan lembut," balas Yudha.


"Cukup!" geram Elisha. Dengan suara yang lumayan nyaring.


"Bisakah kalian berhenti? Aku pikir sebentar lagi tawanan kita akan sadar. Lebih baik kita bersiap-siap." Roy menghampiri, lalu merangkul Yudha dan Elisha sekaligus. Berbicara dengan nada berbisik.

__ADS_1


Yudha, Elisha dan Roy segera mengenakan jubah hitam. Ketiganya memegang pisau ditangannya masing-masing. Mereka juga tidak lupa mengenakan topeng. Penutup wajah yang mereka pakai kebetulan bergambar wajah yang tersenyum.


"Kita tidak akan menunggu lama bukan?" Elisha bertanya sambil memperhatikan Joyce dan Alice yang belum tersadar.


"Aku rasa tidak," sahut Yudha.


Roy perlahan melingkarkan tangan ke pundak Yudha. Dia berbisik, "Jika kau menginginkan Elisha, lebih baik kau jangan terlalu sering menggodanya. Perlakukanlah dia seperti seorang teman untuk sementara. Kau tahu, terkadang para perempuan muak bila terlalu sering mendengarkan kalimat rayuan."


Yudha menatap Roy dengan sudut matanya. Dia mengembangkan senyuman tipis. Kemudian membalas rangkulan Roy. Yudha berpikir teman barunya itu ada benarnya.


Joyce sadar lebih dahulu dibandingkan Alice. Dia langsung memasang ekspresi ketakutan. Berusaha berteriak, tetapi tak mampu. Karena mulutnya ditutup rapat dengan seutas kain.


"Wah, lihat! Sudah ada yang bangun." Roy berjongkok menghadap ke arah Joyce. Membuat Joyce seketika ketakutan. Apalagi saat Roy memainkan pisau ke wajah gadis tersebut. Memberikan sedikit goresan-goresan kecil yang berdarah.


"Sabarlah kawan, sebaiknya kita tunggu temannya terbangun. Baru kita lakukan ritualnya," ujar Yudha seraya menepuk pundak Roy sekitar dua kali.


Tidak menunggu waktu yang lama, Alice akhirnya terbangun. Dia juga langsung mengalami ketakutan yang sama dengan Joyce.


"Biar aku yang melakukan ritual yang pertama." Yudha mengajukan diri. Dia mengambil gunting dari sakunya. Lalu memainkannya.


Yudha segera meraih rambut Joyce terlebih dahulu. Menggunting asal rambut gadis itu.


Joyce berusaha keras melakukan perlawanan. Namun tindakannya sama sekali tidak ada gunanya. Rambutnya perlahan digunting habis oleh Yudha. Kulit kepalanya bahkan dapat terlihat jelas.


Joyce kini hanya bisa menangis dan menatap nanar ke arah Yudha. Seakan meminta belas kasih. Akan tetapi Yudha tidak terpengaruh sedikit pun. Selanjutnya Yudha beralih ke rambut Alice. Dia melakukan hal serupa.

__ADS_1


__ADS_2