
...✪✪✪...
Elisha duduk termangu di kamarnya. Sebuah kamar berbau obat-obatan yang menyengat. Belum lagi suasananya yang terasa dingin dan mencekam. Namun apalah daya, memang begitulah keadaan kamar di rumah sakit jiwa.
Sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit, Elisha menatap kosong ke luar jendela. Salah satu kakinya terdapat rantai besi yang menjerat.
Akibat tidak kunjung menemukan Yudha, Elisha sudah beberapa kali melakukan aksi bunuh diri. Itulah alasan kedua orang tua tirinya terpaksa memasukkan Elisha ke rumah sakit jiwa.
Semenjak Elisha berhasil ditemukan Yanto dan Mirna, Roy menghilang entah kemana.
"Hmmm... hmmm..." Elisha terus bergumam tanpa alasan. Dia seperti seorang anak autis yang bingung harus mengucapkan apa.
Pintu mendadak terbuka. Sosok pria asing muncul dengan balutan jas rapi. Rambut dan kumisnya tampak sudah memutih. Elisha sama sekali tidak mengenalnya.
Pria asing itu diperbolehkan oleh perawat untuk masuk. Dia sepertinya memang sengaja ingin menemui Elisha.
__ADS_1
"Kau bisa tinggalkan aku? Aku ingin bicara serius dengan Elisha," ujar pria beruban itu.
"Baiklah. Tapi jangan sampai membicarakan sesuatu yang akan memancing emosinya," sahut perawat yang menemani. Dia segera beranjak keluar ruangan.
Kini hanya ada Elisha dan sang pria beruban di dalam ruangan. Pria tersebut menarik sebuah kursi, lalu duduk ke hadapan Elisha.
"Maaf karena datang terlambat," imbuh si pria beruban. Dia tiba-tiba menarik kulit di bagian leher. Anehnya kulitnya itu dapat dikoyak dengan mudah. Hingga wajah asli dibaliknya terlihat jelas. Dia ternyata adalah Roy yang sedang menyamar.
Elisha hanya memasang ekspresi datar. Dia masih tidak mempunyai semangat jika dirinya tidak bertemu Yudha.
"Benarkah? Dimana dia sekarang?!" Elisha yang tidak sabaran, langsung memotong ucapan Roy. Dia bahkan sampai meninggikan nada bicara.
"Psssst... jangan keras-keras, El. Kita masih buronan." Roy meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. Dia bergegas kembali memakai topeng.
"Maaf, aku hanya terlalu bersemangat. Beritahu kalau informasi tentang Yudha itu serius. Kau tidak bercanda bukan?" tanya Elisha.
__ADS_1
Roy megangguk yakin. "Benar! Saat aku melakukan penyelidikan di rumah sakit, aku menemukan catatan kalau Yudha dibawa oleh seorang dokter. Dia sedang dirawat oleh dokter itu sekarang! Apa mungkin dokter yang menolong Yudha adalah kenalannya?"
"Aku harap begitu. Ayo kita cari Yudha. Bisakah kau mengeluarkanku dari sini?" Elisha mengedarkan pandangan ke segala arah. Berharap bisa menemukan sesuatu untuk melepas jerat besi di kakinya.
"Yang kau cari ada di sini, El." Roy memperlihatkan kunci yang ada di saku celana. Dia kebetulan berhasil mencuri kunci tersebut saat berjalan berdampingan dengan perawat tadi.
"Kau hebat!" puji Elisha. Roy segera melepaskan rantai besi yang mejerat kaki Elisha. Selanjutnya, dia menyuruh Elisha untuk berganti pakaian. Lalu mencoba diam-diam keluar dari ruangan.
Sayangnya, di depan kamar terdapat perawat dan pihak keamanan yang berjaga. Roy dan Elisha terpaksa kembali masuk ke ruangan. Mereka hendak menyusun rencana terlebih dahulu.
"Di sini tidak ada jendela. Satu-satunya jalan adalah melewati pintu," kata Elisha memberitahu.
"Aku tahu, karena itulah aku terpikir untuk menembak mereka saja. Pakai ini! Aku juga membawakan topeng untukmu!" Roy menyodorkan topeng yang dia ambil dari dalam tas. Sebuah topeng khas jawa yang dirinya beli entah dimana.
"Kau pasti bercanda," komentar Elisha.
__ADS_1
"Dari pada wajahmu terekspos di CCTV? Masih untung aku membawa topeng cadangan. Aku membelinya saat berkunjung ke Yogyakarta," balas Roy. Dia mengambil sebuah pistol dari dalam tas. Sementara Elisha diberikan pisau lipat olehnya.