
...✪✪✪...
Satu minggu berlalu. Yudha melupakan sejenak tentang pencariannya terhadap Mr. A. Dia sedang sibuk mengurus kuliah serta berusaha memeriksa bangunan warisan yang diterimanya. Ada banyak sekali properti yang dimiliki Ferdi di kota Bima Jaya. Untung saja Deny dapat mengatasi semuanya. Terutama mencari orang-orang terpercaya untuk mengurus penagihan kepada para penyewa.
Yudha sekarang berdiri di depan cermin. Menatap pantulan dirinya sendiri. Dia mengenakan setelan rapi. Menyisir rambutnya, serta tidak lupa menyemprotkan parfum ke badannya. Dari ujung kaki hingga kepala, Yudha mengenakan pakaian bermerek ternama. Bahkan sepatu yang dikenakannya memiliki harga puluhan juta rupiah. Dia tidak hanya terlihat rupawan tetapi juga kaya raya. Untuk orang yang mengetahui dunia mode lebih banyak, pasti tahu akan hal itu. Namun tidak bagi Yudha. Dia hanya memakai apa yang dibelikan Deny untuknya.
Dengan mobil sedan berwarna hitam, Yudha pergi ke kampusnya. Perlahan Yudha memarkirkan mobilnya. Dia telah tiba dikampusnya yang bernama Universitas Bima Jaya tersebut.
Ketika baru selesai mematikan mesin mobil, atensi Yudha mendadak teralih ke arah mobil sport yang ada di sebelah. Pemiliknya tampak membuka atap mobilnya, sangat bergaya dengan kacamata hitamnya. Kemunculan lelaki itu sontak menjadi pusat perhatian semua orang. Apalagi para kaum hawa yang kebetulan melihatnya. Dia tampan tetapi tidak serupawan Yudha.
Yudha yang menyaksikan terkekeh geli. Dia tidak meremehkan, hanya saja lucu dengan kepercayaan diri pemilik mobil sport tersebut. Tampan tetapi terlihat bodoh.
"Aaa! Kak Rehyan datang tuh!"
"Sudah kaya, ganteng lagi!"
"Eh, mobil sedan di sebelahnya kayaknya baru tuh. Itu mahal juga loh. Punya siapa ya?"
Para wanita saling berbisik. Mereka membicarakan si pemilik mobil sport yang ternyata memiliki nama Reyhan. Yudha yang kebetulan memarkirkan mobil di sebelah kendaraan Reyhan, juga tidak luput dari pembicaraan orang-orang.
Saat Reyhan keluar dari mobil, dia langsung melepaskan kacamata hitamnya. Merasa tahu dirinya menjadi pusat perhatian, dia semakin berlagak paling keren. Apalagi ketika ada beberapa wanita yang reflek memanggil namanya dengan histeris.
Yudha yang tidak tahan lagi melihat aksi Reyhan, segera keluar dari mobil. Dia mengenakan topi dipuncak kepala. Tidak menampakkan wajahnya begitu saja. Yudha sekarang tidak berniat menarik perhatian terlalu banyak.
Reyhan yang mendengar suara pintu mobil ditutup, reflek menoleh ke arah Yudha. Dia memperhatikan Yudha yang sibuk berjalan memasuki bangunan kampus.
Yudha terus saja berusaha menutupi wajahnya dengan topi. Berjalan sambil menunduk menuju kelasnya. Meskipun begitu, dia tetap menjadi pusat perhatian. Sebab Reyhan dan beberapa orang lainnya bisa mengetahui betapa mahalnya setelan pakaian yang dikenakan Yudha.
__ADS_1
"Siapa tuh!"
"Cogan baru kayaknya. Tetapi kok dia malu-malu ya?"
"Mahasiswa baru sepertinya. Wajar sih kalau masih malu,"
Yudha tidak lepas dari bahan perbincangan semua orang. Akan tetapi dia berusaha mengabaikan semua itu. Karena dengan kuliah, Yudha tidak hanya berniat ingin memiliki teman baru, tetapi juga memanfaatkan anugerah otak jeniusnya dengan baik.
Kini Yudha kebingungan mencari kelasnya. Apalagi lima menit lagi kelas akan segera dimulai. Yudha agak terlambat. Yudha lantas tidak punya pilihan selain bertanya kepada seorang gadis yang lewat. Gadis tersebut memakai kacamata dan mengikat rendah rambutnya ke belakang.
"Halo, maaf mengganggu, bisakah kamu memberitahuku dimana kelas mata kuliah Pra-Bedah Dasar?" tanya Yudha sopan.
Gadis berkacamata itu tersenyum sebentar. Dia terlihat gugup. Bisa ketahuan dari jari-jemarinya yang terus digerakkan tanpa alasan.
Yudha yang menunggu sang gadis berkacamata menjawab terus memandangi. Namun tiba-tiba seseorang tanpa sengaja menabrak bahu Yudha. Sosok yang menabrak tersebut tersungkur ke lantai. Menghempaskan dua buku yang dibawanya.
"Elisha?" panggil Yudha memastikan. Mengharuskan Elisha menoleh. Matanya langsung terbalalak kala menyaksikan Yudha. Dia tampak terkejut dan membeku di tempat.
"Astaga, kau selalu saja ceroboh!" gerutu Yudha sembari memungut buku Elisha yang terjatuh.
Elisha lekas-lekas berdiri, dan merebut buku yang ada ditangan Yudha. Kemudian beranjak pergi begitu saja.
'Sialan! dia mengabaikanku?' rutuk Yudha dalam hati. Dia memutar bola mata sebal.
"Ka-kau bertanya dimana kelas Pra-Bedah Dasar kan?" si gadis berkacamata yang sedari tadi berdiri, akhirnya bersuara. Yudha pun mengangguk untuk mengiyakan.
"Aku... juga akan pergi ke kelas itu," ungkap gadis berkacamata tersebut. Namanya adalah Jena.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita bisa pergi bersama. Kau tahu tempatnya bukan?" balas Yudha.
"Iya. Aku sudah berkeliling-keliling kampus ini sebelum hari kuliah dimulai. Aku mengingat tempat-tempatnya. Terutama kelas-kelas yang sering dipakai oleh jurusan Ilmu Bedah." Jena memberitahu seraya melangkah lebih dahulu untuk memimpin jalan.
"Ah begitu, kau sepertinya orang yang sangat teliti. Aku suka!" sahut Yudha yang berjalan mengiringi dari belakang. Kalimat pujiannya membuat Jena tersenyum tipis.
Yudha tiba di kelasnya. Matanya langsung menangkap sosok Elisha. Selain itu juga ada Reyhan di sana.
Beberapa saat kemudian Pak Heri selaku dosen yang bersangkutan datang. Dia memperkenalkan diri dan saling berkenalan dengan semua mahasiswa barunya. Selanjutnya dia segera masuk ke dalam pelajaran mata kuliahnya. Menjelaskan perihal apa saja yang akan dilalui oleh seorang mahasiswa jurusan Dokter Spesialis Bedah.
"Aku yakin kalian sudah belajar tentang ilmu anatomi. Sekarang aku akan mengujinya satu per satu!" ucapan Pak Heri membuat semua orang di kelas panik. Terutama untuk mahasiswa yang belum belajar.
"Reyhan! sebagai mahasiswa yang paling senior di kelas ini, bisakah kau menjelaskan salah satu anatomi bagian tubuh manusia? sebut saja yang kau ingat!" Pak Heri menatap serius ke arah Reyhan. Suasana menghening seketika.
Reyhan terdiam seribu bahasa. Dia memang anak yang dikenal bebal. Sudah dua kali mengulang mata kuliah Pra-Bedah selama dua semester. Itu pun karena desakan kedua orang tuanya.
"Bagaimana kalau yang lain?" melihat Rehyan tidak mampu menjawab, Pak Heri lantas melemparkan pertanyaannya kepada yang lain. Saat itulah Yudha dan Jena mengangkat tangan bersamaan. Akan tetapi gerakan Yudha lebih cepat dari Jena. Sehingga Pak Heri menyuruh Yudha menjelaskan terlebih dahulu.
"Yudha, buka topinya lebih dahulu, biar enak Bapak lihatnya!" ucap Pak Heri seraya melipat tangan di depan dada.
Sambil menghela nafas panjang Yudha pun melepaskan topinya. Sekarang wajahnya bisa terlihat jelas. Membuat para gadis otomatis saling berbisik.
"Nah gitu dong! wajah setampan gitu kok mau disembunyiin terus. Ayo sekarang jelaskan anatomi apa yang kau ketahui!" Pak Heri satu langkah lebih dekat dari Yudha.
"Jantung, aku tidak kebetulan mengetahuinya, tetapi memang menyukainya." Semua orang di kelas langsung terdiam saat Yudha mulai bicara. Bahkan Pak Heri sendiri.
"Ada tiga lubang besar aliran darah di jantung, lalu tiga lubang kecil lainnya lagi. Ada empat katup yang mengatur peredaran darah didalam tubuh. Jantung adalah dewa untuk darah, dan tanpa darah manusia tidak bisa hidup. Satu menit saja jantung berhenti berdetak, maka seseorang akan langsung mendapat keadaan darurat. Jika ingin membunuh, jantung adalah sasaran--
__ADS_1
"Cukup Yudha. Kau sudah menjelaskan lebih dari yang kuduga. Aku tidak ingin penjelasanmu mengarah kemana-mana. Apalagi pembunuhan. Ayolah guys, kita bukan polisi." Pak Heri tergelak kecil sambil menepuk pundak Yudha. Tawanya menular kepada orang-orang yang ada di kelas. Dia kemudian memimpin tepuk tangan untuk memberikan penghargaan atas pengetahuan Yudha.