
...✪✪✪...
Yudha segera menyetujui tantangan yang diberikan Andi. Dia bahkan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Andi lantas menyuruh Jim untuk menunjukkan ruangan khusus kepada Yudha dan Elisha.
Yudha mendekatkan mulut ke telinga Elisha, dan berbisik, "Kau harus menjadi asistenku, El. Aku yakin kau bisa."
Elisha menatap Yudha dengan sudut matanya. Dia mengangguk dengan penuh keyakinan. Selanjutnya, Elisha dan Yudha beranjak menuju ruangan khusus untuk proses bedah.
Jim membawakan seorang lelaki yang sedang tidak sadarkan diri. Di belakangnya ada Andi yang berjalan mengikuti. Jim segera merebahkan si lelaki yang sedang pingsan ke hospital bed yang tersedia.
"Ambil ginjalnya, tanpa harus membunuh orang ini. Jika dia mati, maka aku tidak akan menerimamu!" pungkas Andi.
"Baiklah," sahut Yudha. Dia dan Elisha memasang sarung tangan karet.
Elisha menyodorkan Yudha peralatan untuk membedah. Peralatan tersebut kebetulan sudah tersedia lebih dahulu sebelum Yudha datang.
Andi dan Jim berdiri menontoni Yudha dari samping. Keduanya hendak memastikan keahlian yang dimiliki Yudha.
Elisha menghela nafas panjang. Dia mencoba mempercayai Yudha sepenuhnya. Gadis itu yakin, Yudha pasti sudah menyusun rencananya jauh-jauh hari. Orang jenius sepertinya tidak akan teledor.
Yudha memulai aksinya. Dia membuka pakaian atas lelaki yang sedang terbaring pingsan di depannya. Selanjutnya, Yudha segera meraih pisau bedah. Lalu menyayat bagian bawah pusar. Tepat dimana salah satu ginjal berada.
Darah seketika merembes dari luka sayatan yang dibuat Yudha. Meskipun begitu, dia tetap melakukan proeses bedahnya.
Perlahan sayatan dibuka, Yudha dapat menyaksikan organ-organ dalam tersusun rapi. Dia tentu langsung membidik ginjal. Memotongnya dengan benar dan meletakkannya ke dalam toples yang telah disediakan Jim.
Setelah menyelesaikan beberapa prosedur lainnya, Yudha pun mengakhiri sesi bedahnya dengan jahitan. Semuanya berjalan lancar seperti yang diduga. Kini hanya tinggal menunggu tersadarnya lelaki yang sedang tidak sadarkan diri.
Prok!
__ADS_1
Prok!
Prok!
Andi bertepuk tangan untuk memuji keahlian Yudha. Dia berjalan kian mendekat. Mengembangkan senyuman lebarnya.
"Hebat sekali, Yudha. Kau berhasil!" puji Andi.
"Tapi lelaki itu masih belum sadar, apa dia mati?" Jim angkat bicara karena masih meragukan Yudha.
"Dasar bodoh! Coba kau lihat perutnya!" balas Andi seraya menepuk kuat bagian kepala Jim.
Jim otomatis memperhatikan perut sang lelaki yang pingsan. Dia melihat perutnya masih bergerak. Membuktikan kalau lelaki tersebut bernafas, dan masih hidup.
"Selamat datang di organisasi Mata Ular!" Andi mengulurkan tangan kepada Yudha.
Perlahan Andi melirik ke arah Elisha dan bertanya, "Apa gadis ini punya keahlian lain yang berguna?"
Yudha reflek bertukar pandang dengan Elisha. Yudha berinisiatif menjawabkan, "Dia hebat dalam hal memasak. Apakah juru masak kalian butuh bantuan?"
"Hmmm..." Andi mengelus-elus dagu dengan satu tangannya. Mencoba mengulik ingatannya. "Kami belum pernah punya juru masak sebelumnya. Tapi apa salahnya dicoba. Ya sudah, masak saja sesuatu untuk kami," ucapnya memberikan perintah.
"Sekarang?" Elisha memastikan.
"Iya, Jim akan menunjukkan dapurnya kepadamu," jawab Andi. Dia mengajak Yudha untuk ikut bersamanya. Menandakan kalau Yudha dan Elisha akan memisah dalam beberapa saat.
Elisha melangkahkan kaki mengikuti Jim. Dia akhirnya tiba di dapur. Jim memberitahu letak barang-barang penting dan segera beranjak meninggalkan Elisha.
Elisha mendengus kasar. Dia terpaksa menggunakan bahan yang ada saja. Yaitu, telur, daging ayam, dan beberapa sayuran. Gadis itu membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk menyelesaikan hidangannya.
__ADS_1
Dari arah pintu terlihat seorang pria berperawakan kurus muncul. Kulitnya berwarna sawo matang dan memperhatikan Elisha dengan tatapan penuh nafsu. Matanya tampak memerah. Membuktikan kalau pria tersebut tengah di bawah pengaruh obat-obatan terlarang atau alkohol.
Elisha sengaja mengabaikan, dan mencoba berjalan melewati pria berperawakan kurus itu. Akan tetapi pria tersebut menghalangi jalannya. Tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.
Elisha otomatis melangkah mundur. Dahinya berkerut dalam. Dia lantas meletakkan hidangan yang ada ditangannya ke atas meja. Ketika dirinya lengah melakukan hal tersebut, sang pria berperawakan kurus malah menyambarnya dengan pelukan dari belakang.
"Kau siapa? Kenapa bisa nyasar ke tempat seperti ini, cantik? hehehe..." ujar si pria berperawakan kurus. Semakin bergerak melecehkan. Dari belakangnya, dia tidak tahu Yudha berlari ke arahnya. Mengambil garpu, lalu menusukkannya ke leher pria berperawakan kurus.
Darah langsung muncrat dari leher pria berperawakan kurus itu. Dia perlahan melepaskan Elisha, dan tumbang ke lantai.
Elisha lekas berbalik, dan menghadap ke arah Yudha. Nafasnya sedang berusaha dikontrol olehnya.
"Apa tidak apa-apa kau membunuhnya?" tanya Elisha.
"Kenapa kau malah mencemaskan itu?! Harusnya kau cemaskan dirimu, El!" balas Yudha dengan kening yang mengernyit. "Masalah kematiannya, aku akan menjelaskan semuanya kepada Andi nanti!" sambungnya. Yudha dan Elisha segera beranjak menemui Andi. Tidak lupa juga untuk membawa hidangan yang telah dimasak Elisha.
Ketika berada di ruangan, Elisha mempersilahkan Andi untuk memakan hidangannya. Namun Andi menolak, dan memilih Jim saja yang mencobanya terlebih dahulu.
"Apa kau takut Erika akan meracunimu?" tanya Yudha.
"Tidak ada salahnya berjaga-jaga bukan. Siapapun kalian, aku harus tetap waspada," sahut Andi.
Jim lantas memakan masakan yang dibuat oleh Elisha. Dia malah ketagihan dan ingin terus memakannya. Andi yang melihatnya, sekarang sepenuhnya bisa mempercayai Yudha dan Elisha.
"Jim, antarkan mereka ke kamar untuk beristirahat!" titah Andi.
"Ba... baik, Bos!" Jim menjawab sembari sibuk mengunyah makanan dari mulutnya. Andi yang merasa kesal, segera merebut makanan yang dipegang oleh Jim. Tanpa basa basi, Andi langsung melahapnya beberapa sendok.
Yudha perlahan menyeringai tipis. Sebuah ide gila kembali terlintas dalam benaknya.
__ADS_1