Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 21 - Jurit Malam [3]


__ADS_3


...✪✪✪...


Yudha meninggalkan Reyhan sendirian di dalam gudang. Dia bergegas bergabung ke ruangan di pos tiga.


"Kemana aja sih kamu Rey, kami nungguin tahu!" tegur Iwan kepada Yudha yang baru saja bergabung. Yudha memilih diam, dan hanya menepuk pundak Iwan dengan pelan.


"Tuh, tiga kelompok sudah ngumpul di dalam. Yuk!" Iwan mengajak Yudha masuk ke ruangan. Di sana terlihat tiga kelompok mahasiswa baru yang berbaris.


Vino tampak memegang toples kaca yang isinya seperti organ otak manusia. Berniat memberikan satu pertanyaan secara bergantian kepada mahasiswa baru.


"Kalian tahu bukan ini organ apa?" tanya Vino sambil memperlihatkan toples kaca yang dipegangnya.


"Tahu..." Semua mahasiswa baru menjawab serentak.


"Ya, anak SD pun pasti tahu ini apa. Tetapi ada bedanya dengan kita. Karena jurusan kita adalah ilmu bedah. Kita harus tahu apa dan bagaimana organ-organ dalam tubuh manusia. Dan salah satu yang terpenting adalah otak. Cacat sedikit saja, seseorang akan mengalami banyak gangguan dalam pikirannya. Jadi... aku ingin menanyakan kepada kelompok satu. Bisakah kalian menyebutkan bagian-bagian penting di otak besar. Waktu kalian lima menit untuk berdiskusi," jelas Vino, yang diakhiri dengan pertanyaan. Membuat para mahasiswa baru di kelompok satu panik.


"Kalau salah, aku berikan toples ini kepada kalian. Terus nanti, lakukan penelitian di bilik ruang operasi tiruan yang ada di pojok kanan." Vino kembali memberitahu. Kemudian dia memberikan pertanyaan lain kepada kelompok lainnya. Dengan toples kaca yang baru tentu saja.


"Maaf Kak, tidak semua bagian-bagiannya kan? Soalnya kalau semuanya, kan banyak banget?" Beni yang berada di kelompok satu mengangkat tangan.


"Semuanyalah! Kalau enggak lengkap, berarti otakmu itu yang kurang!" tegas Vino sembari mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Beni.


Kebetulan kelompok dua ada Elisha dan yang lain di sana. Tanpa Yudha mereka sekarang hanya bertujuh. Mereka mendapat pertanyaan tentang organ paru-paru. Sementara kelompok ketiga mendapat pertanyaan mengenai bola mata.


Lima menit berlalu. Vino segera menagih jawaban kepada semua kelompok. Satu per satu orang dalam kelompok harus menyebutkan jawaban secara bergantian.

__ADS_1


"Rey, kau urus kelompok dua!" suruh Iwan yang segera dilakukan oleh Yudha, selaku orang yang tengah menyamar sebagai Reyhan.


Yudha berderap mendekati kelompok dua. Mendengar jawaban dari semua teman-temannya. Dari orang pertama hingga ke-enam, jawabannya benar. Namun saat tiba giliran Elisha, gadis tersebut tidak mampu menjawab. Dia terdiam seribu bahasa sambil menundukkan kepala.


Dari balik topeng, Yudha memutar bola mata malas. Dia meninggalkan Elisha begitu saja, lalu bergabung untuk berdiskusi dengan kakak tingkat yang lain.


Elisha yang menyadari dirinya diabaikan, hanya bisa mengerutkan dahi. Teman-teman kelompoknya pun ikut terheran.


Yudha mendengarkan diskusi kakak-kakak tingkatnya. Ada sekitar lima orang bertopeng di ruangan. Termasuk Yudha sendiri. Kata Iwan, teman-temannya yang lain akan segera bergabung secepatnya.


"Kalian tahu kan, salah atau benar jawaban mereka tetap akan kita salahkan. Kita berikan saja sudah toplesnya sama mereka," ucap Vino dengan nada berbisik. Dia perlahan berbalik dan segera mengumumkan hasil diskusi kepada para mahasiswa baru.


"Karena tidak ada yang menjawab benar. Sekarang kalian harus menerima resikonya. Lakukanlah penelitian dengan organ dalam toples kaca!" kata Vino, berseringai dari balik topengnya.


"Kalian nggak usah khawatir. Organ yang ada dalam toples kaca asli loh. Jadi, kalian bakalan dapat pengalaman membedah sebelum benar-benar menjadi dokter bedah!" ujar Iwan, dengan segala kebohongannya. Selanjutnya dia segera membagikan toples kaca dengan isi organ palsu itu.


Ada tiga bilik tiruan ruang operasi. Tiga kelompok masing-masing mendapatkan tempatnya. Mereka harus mengeluarkan isi dari dalam toples kaca.


"Rey, kamu kenapa dari tadi diam terus sih?" tanya Iwan kepada Yudha.


"Ekhem! Maaf Wan, tenggorokanku agak sakit." Yudha terpaksa harus bersuara. Dia berusaha sebisa mungkin menyamakan nada suaranya seperti Reyhan. Untung saja usahanya berhasil.


"Ah, pantesan!" respon Iwan. "Tapi kamu masih bisa ikut kegiatan ini kan?" lanjutnya lagi. Tangannya perlahan membawa Yudha masuk ke dalam rangkulan.


"Bisa-lah!" sahut Yudha. Tangannya membalas rangkulan Iwan. Dia tersenyum sinis dari balik penutup wajahnya.


Sementara itu, Elisha dan kawan-kawan. Mereka masih sedang mencoba membuka toples yang berisi tiruan organ paru-paru. Damar sebagai ketua kelompok, memberanikan diri untuk membuka toples. Setelah penutupnya terbuka, bau anyir seketika menyeruak. Membuat siapa saja langsung menjauh dan menutupi lubang hidungnya. Akan tetapi tidak untuk Elisha. Gadis itu malah menggerakkan tangannya untuk masuk ke dalam toples.

__ADS_1


"Gila El, kamu berani banget," ujar Tiara. Dia masih menutup lubang hidungnya rapat-rapat.


"Justru kalian yang aneh. Bukankah kita semua calon dokter bedah. Kenapa harus takut darah?" balas Elisha. Dia sama sekali tidak terganggu dengan bau anyir serta penampakan mengerikan dari dalam toples.


"Bukannya gitu El. Masalahnya kita belum terbiasa loh. Ditambah kita nggak tahu itu darah apa." Damar memberikan alasan.


Elisha hanya mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Damar. Sebelum tangannya sempat masuk ke dalam toples, Vino mendadak memerintahkan semua orang untuk berjongkok.


"WAKTU KALIAN SUDAH HABIS! KALAU ADA YANG MASIH BERDIRI, AWAS SAJA!" pekikan Vino sangat lantang. Menggema di setiap sudut ruangan.


Yudha yang sama sekali tidak mengetahui rencana kakak tingkatnya, hanya mematung di satu tempat. Dia hendak menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Iwan dan kawan-kawan.


Semua mahasiswa baru sekarang tidak punya pilihan selain berjongkok. Mereka menuruti perintah dari Vino.


"Ayo Rey, saatnya beraksi!" ajak Iwan seraya menepuk pundak Yudha. Dia tampak berjalan menuju kelompok satu. Mengambil toples kaca, lalu menyiramkan darahnya ke semua anggota kelompok satu. Hal yang sama juga dilakukan Vino untuk kelompok tiga. Saat itulah kakak-kakak tingkat yang lain berdatangan. Mereka masing-masing menggunakan topeng diwajah.


"Aaarkkhh!" beberapa mahasiswa baru ada yang berteriak. Mereka tentu merasa jijik. Sekarang rambut mereka dibasahi oleh darah binatang. Kecuali Beni, dia satu-satunya orang yang berhasil menghindar dari siraman darah Vino.


"Berani ngelawan kamu ya!" Vino sontak marah terhadap tindakan berani Beni. Dia langsung menendang Beni dengan kekuatan tinggi. Hingga menyebabkan Beni tersungkur ke lantai. Tidak sampai di sana, Vino menambahkan lagi tendangan ke perut Beni.


Selain Beni, ada satu orang lagi yang membuat para kakak tingkat geram, yaitu Tiara. Gadis itu menangis histeris karena merasa sangat ketakutan. Lagi-lagi Tiara harus mengeluarkan cairan sisa makanan dari dalam perutnya.


"Gila nih anak! Bikin masalah mulu!" salah satu kakak tingkat yang baru datang, langsung berjalan menghampiri Tiara. Dia tidak lain adalah Erin. Tangannya dengan sigap menarik ribuan helai rambut Tiara. Menyeret gadis tersebut sampai ke tengah ruangan. Dia digabungkan bersama Beni dan dua orang mahasiswa baru yang juga kebetulan dianggap mengganggu kegiatan.


Yudha mendengus kesal. Dia memang selalu berada dipihak orang yang dibully. Sampai kapan pun. Sebab Yudha sejak kecil tahu rasanya bagaimana dirundung oleh orang lain. Dia selalu bersumpah, kalau dirinya akan membasmi tukang bully yang ditemuinya. Siapapun itu.


Yudha melangkah ke arah pintu. Berniat menguncinya terlebih dahulu sebelum beraksi. Dia berbalik dan menyaksikan, kakak-kakak tingkatnya masih melakukan perundungan. Mereka bahkan terdengar berteriak dan tertawa.

__ADS_1


__ADS_2