
...✪✪✪...
Elisha hanya terdiam kala mendengar ucapan Yudha. Matanya bergetar dalam keadaan yang berpendar akan cairan bening.
"Beri aku waktu..." lirih Elisha.
Yudha lantas menganggukkan kepala. Kemudian duduk ke samping Elisha. Dia menatap gadis itu dan memainkan rambut panjangnya yang lurus.
"Yud!" Elisha sontak menyalangkan mata kepada Yudha. Dia tidak terima dirinya disentuh. Hatinya sedang mengalami suasana buruk.
"Oke, oke. Biasa saja, El. Aku hanya merindukan aroma rambutmu." Yudha semakin nakal. Kini dia membaui rambut Elisha dengan hidungnya. Lelaki itu tak kuasa menahan diri. Yudha sangat ingin menyentuh Elisha.
"Cukup!" Elisha memekik sembari lekas berdiri. "Aku memaafkanmu, bukan berarti langsung membiarkanmu menyentuhku!" tegasnya. Kedua tangannya mengepal erat.
Yudha memutar bola mata malas. Dia mencoba mengabaikan ucapan Elisha yang terdengar seperti omelan.
"Terserah... Kalau begitu," ucap Yudha tak acuh. Tidak lama kemudian bel berbunyi. Pertanda bahwa Roy telah datang.
Mata Elisha membulat kala menyaksikan sosok Roy di hadapannya. Dia semakin dirundung perasaan cemas. Bagaimana tidak? Ada dua lelaki nakal sedang bersamanya di apartemen.
"Dia temanmu?" Elisha menatap Yudha tak percaya.
"Kau sudah bertemu dengannya bukan?" Yudha membalas tatapan Elisha. "Kenalkan namanya adalah Roy. Dia akan membantu kita menyingkirkan mayat itu, sekaligus mendapatkan uang," tambahnya memberikan penjelasan.
"Hai, cantik. Kita bertemu lagi." Roy melangkah lebih dekat ke arah Elisha. Namun Yudha segera menghentikan pergerakannya.
"Dia mililku! Jangan coba-coba merayu, apalagi menyentuhnya!" tegas Yudha. "Tugasmu hanya perlu menjual apa yang ada di dalam kantong mayat itu." Yudha menunjukkan jari telunjuknya ke arah kantong mayat berada. Dia juga tidak lupa memberitahu, kalau dirinya sudah memotong jasad Kate menjadi beberapa bagian.
"Baiklah... lalu hasilnya?" Roy memasang mimik wajah serius.
__ADS_1
"Kita akan bagi rata," jawab Yudha tenang. Dia perlahan menoleh ke arah Elisha. "Apa kau juga mau uangnya, El?"
Elisha tentu menggelengkan kepala. Ekspresinya tampak masam. Dia masih merasa tidak enak dengan apa yang telah menimpa Kate.
"Kenapa dia? Apakah gadis ini yang melakukan..." Roy mengalihkan bola mata ke arah kantong mayat. Dia menebak apa yang sudah dilakukan Elisha. Terutama terhadap sesuatu hal yang ada di dalam kantong mayat.
"Benar. Namanya Elisha. Dia yang membunuh seseorang yang ada di dalam kantong itu," kata Yudha.
"Benarkah?" Roy mengangkat kedua alisnya penuh semangat. "Bagus sekali. Jika kita membuat tim, maka aku yakin pasti akan menyenangkan!" lanjutnya dengan mimik wajah yang cengengesan.
"Bersabarlah, Elisha masih butuh waktu untuk mencerna segalanya. Lebih baik kita bereskan kantong mayat itu," ujar Yudha seraya menepuk pelan pundak Roy.
Roy segera membuka laptopnya. Dia menjelajah laman dark web. Mencoba memasarkan potongan tubuh yang ada di dalam kantong mayat. Tidak butuh waktu yang lama, beberapa akun misterius langsung merespon. Mereka menanyakan perihal-perihal tertentu. Jika sesuai dengan yang mereka inginkan, maka mereka memutuskan akan memesan.
"Bagaimana dengan pengirimannya?" tanya Roy. Menatap Yudha dengan sudut matanya.
"Gila!" Roy terlihat terkejut. Atensinya tertuju ke layar laptop. Seolah baru saja mengetahui sesuatu hal yang mengagetkannya. Yudha otomatis beralih mendekatinya. Kemudian ikut melihat ke layar laptop.
"Mereka mau saja membayar dengan harga yang aku tuliskan. Padahal aku hanya coba-coba memasukkan harga semahal itu," terang Roy. Dia masih tercengang.
"Bukankah itu bagus." Yudha tersenyum tipis. Dia perlahan melirik Elisha yang nampak meredakan kegelisahannya.
"Kau tidak perlu khawatir, El. Katakan kepadaku, apa kau menginginkan sesuatu?" Yudha menghampiri Elisha. Kemudian berjongkok, hingga tingginya setara dengan lutut Elisha yang tengah duduk di sofa.
"Ayolah, aku tidak mau melihat kau cemas terus." Yudha memasang ekspresi memelas. Membuat Roy geleng-geleng kepala.
"A-aku ingin tenang. Aku pikir aku butuh waktu sendiri..." lirih Elisha sedikit terbata-bata.
Yudha tersenyum. Dia perlahan berdiri dan segera mengajak Roy untuk pergi.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan membawa kantong mayatnya. Kau beristirahat saja. Jika ada apa-apa, kau tahu harus kemana," tutur Yudha. Lalu beranjak pergi bersama Roy. Dia tidak lupa untuk membawa kantong mayat ikut bersamanya.
Ketika sudah sendirian, Elisha mencoba menenangkan pikiran. Dia menghempaskan tubuh ke kasurnya. Nafas berapa kali dihela olehnya. Elisha tidak menyangka dirinya sudah dua kali membunuh seseorang. Dia merasa ada yang salah, meski semua pembunuhan yang dilakukannya hanyalah ketidak sengajaan semata.
"Baiklah, aku akan mencoba sekali lagi untuk menjadi normal." Elisha berusaha berpikir postif.
Keesokan harinya, Elisha benar-benar berniat untuk menjalani kehidupan yang normal. Saat melihat pintu apartemen Yudha, otaknya tanpa sengaja kembali mengingat tawaran lelaki itu. Tetapi Elisha lekas-lekas menepis. Dirinya tidak mau jatuh pada rayuan Yudha lagi.
Ketika di kampus, Elisha berupaya keras berbaur dengan teman-temannya. Akan tetapi sifat alaminya tetaplah masih melekat. Elisha sulit mengekspresikan perasaannya. Dia selalu cenderung menyimpannya dalam hati. Membuat dirinya lagi-lagi harus dicap sebagai gadis yang pendiam. Karena tidak mempunyai teman, Elisha terpaksa duduk di tempat paling belakang.
Kabar mengenai menghilangnya Kate belum terdengar. Sebab Kate memang sering membolos dan kabur dari rumah. Jadi Elisha tidak perlu khawatir. Sebenarnya Elisha cukup lega setelah mengingat tentang kenyataan tersebut.
Jam makan siang telah tiba. Kebetulan Elisha berniat makan di kantin. Dia mengambil satu-satunya minuman rasa jeruk yang tersisa. Tanpa diduga ada orang lain yang juga berusaha mengambil minuman serupa. Dia ternyata adalah Joyce. Temannya Kate. Seperti biasa di sampingnya selalu ada Alice.
"Menyingkirlah! Ini milikku!" Joyce merampas minuman yang kebetulan sudah berada ditangan Elisha. Dia terlihat saling bertukar senyum dengan Alice. Gelagatnya jelas seperti meremehkan Elisha.
Elisha mengerutkan dahi kesal. Entah kenapa dia sangat benci raut wajah yang ditampakkan Joyce dan Alice.
"Apa salahku, hah?! Kenapa kalian selalu menggangguku tanpa alasan!" geram Elisha. "Jika kau memang mau minuman itu, seharusnya kau memintanya baik-baik kepadaku," ungkapnya lagi.
"Apa kau bilang? Memintanya baik-baik? Cih! Untuk apa aku melakukannya dengan seorang pecundang sepertimu!" balas Joyce sembari membuka tutup botol minuman. Lalu menenggaknya, sengaja pamer di hadapan Elisha.
"Oh, iya. Bisakah kau memperkenalkanku dengan pacarmu kemarin. Oh my god, dia sangat tampan. Aneh sekali orang sepertinya mau memacarimu," tukas Joyce. Tak peduli dengan ekspresi marah yang ditampakkan Elisha.
"Lihat, Joyce. Kau membuatnya marah, haha!" Alice ikut bersuara. Dia bahkan mengajak Joyce untuk mentertawakan Elisha.
Perlahan Joyce berbisik ke telinga Alice. Bola matanya terlihat melirik ke arah Elisha. Selanjutnya, dia segera membawa Elisha masuk ke dalam rangkulannya. Kemudian menyeretnya ke suatu tempat dengan bantuan Alice.
__ADS_1