
...✪✪✪...
Yudha baru saja mendapatkan telepon dari seseorang. Dia dan Elisha mendapatkan pekerjaan baru. Yaitu tugas untuk membunuh seorang lelaki penjual buah.
Kebetulan lelaki penjual buah itu bernama Jaka. Entah karena apa, dia terlibat dengan insiden kecelakaan yang terjadi kepada salah satu Dewan Politik. Menurut Yudha, Jaka tidak sengaja menjadi saksi atas kecelakaan terencana tersebut. Makanya Jaka menjadi incaran kubu jahat misterius yang menginginkan kematiannya.
Elisha berpura-pura menjadi seorang gadis yang akan membeli buah. Dia sengaja menggunakan mobil yang seolah-olah melakukan perjalanan jauh.
Kebetulan lokasi toko buah Jaka berada di jalanan sepi. Di dekat gang kecil serta bangunan terbengkalai. Meskipun begitu, tempat itu berada di jalanan raya yang sering dilewati banyak transportasi roda empat.
"Buah apel berapa satu kilonya, Mas?" tanya Elisha. Ia mengenakan dress mini berwarna cokelat muda. Elisha menggelung rambutnya agak ke atas. Kulitnya bahkan nampak semakin putih. Kemungkinan akibat terlalu sering menghabiskan waktu di ruang bawah tanah. Di sana adalah tempat teraman bagi Elisha dan Yudha untuk memotong-motong mayat.
"Satu kilonya tiga puluh ribu, Neng. Ayo, ayo, silahkan dipilih toh." Jaka bersikap ramah. Dia terlihat menambahkan senyuman di wajah.
"Iya, Mas." Elisha balas tersenyum.
Sementara Yudha, sedari tadi mengamati dari dalam mobil. Dia sengaja duduk di kursi paling belakang. Yudha akan beraksi ketika Elisha nanti membuat Jaka memeriksa ke dalam mobil.
Elisha tampak sudah selesai membeli buah. Ia lantas melenggang menuju mobil.
"Astaga!" Elisha berlagak kaget kala membuka pintu belakang mobil. Dia bahkan membekap mulutnya sendiri. Seakan menyaksikan sesuatu hal terburuk di dalam situ.
"Eh, ada apa, Neng?" tanya Jaka yang merasa cemas.
"A-ada sesuatu di mobilku, Mas! Bisa periksakan nggak?" ujar Elisha sembari menjaga jarak dari mobil. Akting yang dia lakukan benar-benar meyakinkan. Yudha yang melihat perlahan menyunggingkan mulut ke kanan.
"Iya, Neng. Biar saya periksakan!" seru Jaka seraya bergegas memeriksa apa yang ada di dalam mobil. Akan tetapi dia tidak melihat apapun yang aneh di sana.
"Dimana, Neng? Nggak ada yang aneh kok." Jaka menoleh selintas ke arah Elisha. Lalu berbalik lagi menengok keadaan di mobil.
Elisha yang ada di belakang, dengan cepat membekap mulut dan hidung Jaka. Dia menggunakan sapu tangan yang telah diolesi obat bius.
Jaka sempat melakukan perlawanan, hingga berhasil membuat Elisha terdorong. Saat itulah Yudha turun tangan dan memukul kepala Jaka dengan benda keras.
Jaka otomatis ambruk dalam keadaan kepala yang berdarah. Elisha dan Yudha kini bisa mendengus lega.
__ADS_1
Bruk!
Terdengar bunyi benda tertabrak dari arah kanan. Yudha dan Elisha sontak menoleh ke sumber suara. Mereka melihat seorang siswa SMP. Entah sejak kapan siswa itu berada di sana. Dia termangu di dekat gang yang kemungkinan menjadi tempat awal kedatangannya. Sudah jelas siswa tersebut menyaksikan apa yang dilakukan Yudha dan Elisha terhadap Jaka.
Mengetahui dirinya dalam bahaya, siswa SMP itu melarikan diri. Seluruh badannya gemetaran. Dia bahkan berlari dalam keadaan menangis ketakutan.
"Arrghhh! Sial! Pulanglah lebih dulu, El!" titah Yudha sambil memasukkan Jaka ke dalam mobil. Elisha langsung mengangguk dan menuruti perintah.
Yudha lekas-lekas melakukan pengejaran. Gawat sudah bila dia membiarkan siswa SMP tersebut pergi. Mungkin kedoknya dan Elisha akan terkuak.
Lari siswa SMP itu tidak sebanding dengan kecepatan Yudha. Namun Yudha kehilangan sasarannya ketika berada di sekitar tempat rongsokan.
'Dia pasti bersembunyi di sekitar sini," batin Yudha menduga. Dia sengaja memelankan langkah. Mengedarkan pandangan ke segala penjuru.
Bukan mata Yudha yang menemukan siswa SMP itu, melainkan telinganya. Sebab dia jelas mendengar suara nafas serta tangisan dari balik mobil bekas.
"Papah! Papah! Ada seseorang yang mengejarku. Aku rasa dia akan membunuhku... hiks... hiks..." siswa SMP yang bernama Zidan itu berucap pelan. Dia menelepon seseorang menggunakan ponsel. Tetapi karena suara bicaranya tersebut, Yudha menjadi tahu tempat persembunyiannya.
Mata Zidan terbelalak saat melihat dua kaki bersepatu putih muncul. Dia perlahan mendongak dan melihat Yudha sudah berdiri di depannya. Ponsel yang ada di tangan Zidan terlepas. Anak itu tidak punya pilihan lain selain meringkuk ketakutan. Ia tidak sanggup berlari lagi akibat saking takutnya.
Yudha merampas ponsel Zidan, lalu menghempaskannya ke tanah sampai hancur.
Zidan hanya bisa menangis histeris sambil berusaha menjauhi Yudha. Dia memejamkan rapat matanya. Berharap tidak melihat cara sadis Yudha untuk menyakitinya.
Saat hendak menyentuh Zidan, ponsel Yudha tiba-tiba berdering. Ternyata panggilan itu dari Elisha. Tanpa pikir panjang Yudha langsung menjawab.
"Yudha, apa kau sudah membunuh anak itu?" tanya Elisha dari seberang telepon.
"Hampir saja. Kenapa kau bertanya?" balas Yudha sembari mengeluarkan pisau dari saku. Kemudian menodongkannya ke leher Zidan. Dia melakukannya agar Zidan tidak berani kabur kemana-mana.
"Dia hanya anak-anak. Apa kau tega membunuhnya?" ujar Elisha.
"A-apa? Kau meneleponku hanya karena ini?" Yudha memutar bola mata kesal. Sebab ini bukan pertama kali saja Elisha meragu. Di tugas sebelumnya, Elisha juga pernah menghentikan Yudha yang hampir membunuh seorang wanita tua. Yudha benar-benar tidak paham sisi psikopat Elisha seperti apa.
"Dengar, jika aku tidak membunuhnya. Maka kedok kita berdua otomatis ketahuan. Apa kau mau tinggal di penjara?" geram Yudha. Matanya tidak teralihkan dari Zidan yang masih sibuk menangis.
__ADS_1
"Jika kau membunuhnya, jangan bawa mayatnya ke rumah! Aku tidak mau melihatnya!" pungkas Elisha. Dia mengakhiri panggilan lebih dulu.
Yudha mendengus kasar. Dia mengajak Zidan untuk berdiri. "Tidak apa-apa. Pacarku baru saja menasehati kalau aku tidak perlu membunuhmu. Katanya masa depanmu masih panjang," tuturnya lembut.
Seakan percaya, Zidan menganggukkan kepala. Dia memang hanya anak polos yang tak tahu apa-apa.
Yudha lantas menuntun Zidan melangkah. Menyusuri jalanan setapak menuju hutanan kecil.
"Kita akan kemana?" tanya Zidan memberanikan diri. Tetapi Yudha hanya diam dan menuntunnya ke arah sungai.
"Berhentilah menangis dan cucilah wajahmu!" suruh Yudha. Ia dan Zidan telah tiba di sungai.
Zidan lantas menuruti perintah Yudha. Dia perlahan berjongkok, lalu membasuh wajah.
Di belakang Yudha berseringai. Sebelum bertindak dia memastikan tidak ada orang yang melihat. Selanjutnya, barulah dia mencengkeram kepala Zidan.
Yudha memasukkan seluruh kepala Zidan ke dalam air. Dia menenggelamkan kepala Zidan ke air selama mungkin.
Zidan hanya bisa menggerakkan tangan tidak karuan. Dia berusaha melepaskan diri. Namun kekuatan Yudha bukanlah tandingannya. Perlahan Zidan tidak mampu bernafas. Tubuhnya melemah dan berakhir tidak sadarkan diri.
..._____...
...Bonus Visual...
...🗡️Yudha Antariksa🗡️...
..._____...
...🗡️Elisha Stevalina🗡️...
...____...
__ADS_1
...Season kedua dimulai!...