
...✪✪✪...
Dua bulan berlalu. Sebelum pindah, Yudha menunggu Elisha melahirkan terlebih dahulu.
Dengan bantuan rekan Zain yang merupakan seorang dokter kandungan, proses persalinan Elisha diharapkan dapat berjalan lancar. Kini gadis itu sedang menunggu waktu saja. Ia telentang di atas ranjang.
Sementara Yudha dan Roy, keduanya duduk di teras belakang rumah. Menanti perkembangan Elisha dengan sabar.
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Roy. Menatap Yudha dengan sudut matanya.
"Aku ingin mengajak Elisha pindah ke kota kecil yang ada Rumania," jawab Yudha.
"Rumania yang terkenal sebagai tanah drakula itu? Apa-apaan, Yud. Apa kau akan berpura-pura menjadi makhluk mitologi itu agar darah psikomu tidak hilang?" Roy merasa tak percaya.
"Kau hebat, Roy! Tebakanmu benar seratus persen." Yudha menepuk pundak Roy. Senyuman mengembang di wajahnya.
"Kau benar-benar belum kapok ternyata," komentar Roy sambil geleng-geleng kepala. Setahunya, Yudha melewati banyak masalah karena kebiasaan membunuhnya. Tetapi sepertinya lelaki itu belum juga jera untuk melakukan aksi bunuh-membunuh.
"Cara membunuh sudah mengalir dalam darahku. Dan sebuah pisau seperti sendok untukku," ucap Yudha.
Tak lama kemudian terdengar suara erangan Elisha. Pertanda kontraksi telah terjadi.
Yudha sontak berlari masuk ke kamar. Berniat menemani Elisha untuk mengeluarkan buah hatinya.
Perlahan tapi pasti, Elisha mengejan sekuat tenaga. Yudha membiarkan Elisha memegang tangannya se-erat mungkin.
__ADS_1
"Kau pasti bisa, El. Setelah ini, aku menjamin hidup kita akan lebih baik. Hanya ada aku, kau, dan anak kita. Dan kita bisa melakukan apapun... aku pastikan itu." Yudha bicara dengan pelan ke telinga Elisha.
Elisha mengangguk pelan. Wajah cantiknya tersebut sudah dibanjiri keringat dan air mata. Memang tidak ada yang bisa melawan rasa sakit wanita saat melahirkan.
Setelah hampir setengah jam berjuang, akhirnya anak Elisha dan Yudha lahir. Suara tangisan bayi memecah kesunyian dalam kamar.
Yudha seketika tersenyum. Dia segera meraih anaknya yang lahir dalam keadaan sehat.
Karena baru saja lahir, bayi itu masih dalam keadaan belepotan darah. Namun Yudha sangat suka pemandangan tersebut. Ia menggendong sang anak dan memperlihatkannya kepada Elisha.
"Dia tampan," kata Yudha. Secara tidak langsung, dia memberitahukan jenis kelamin sang anak.
"Syukurlah... pastikan dia lebih tampan darimu..." sahut Elisha lirih. Dia masih lemas dan harus beristirahat sampai merasa baikan.
"Erga Antariksa. Itulah namanya." Yudha memberikan nama untuk sang putra.
Hari demi hari berlalu. Tiga hari pun terlewat. Sudah saatnya Yudha dan keluarga kecilnya pergi ke Rumania. Dia sudah memilih kota kecil bernama Tjefork.
Yudha dan Elisha tidak lupa berterima kasih kepada Zain. Mereka harus berpisah karena memiliki kesibukan masing-masing.
Sementara itu, Roy telah pergi lebih dulu sehari sebelu Yudha berangkat. Lelaki tersebut memutuskan kembali ke Sydney.
Butuh memakan waktu seharian untuk tiba ke negara Rumania. Kini Yudha dan Elisha duduk berdampingan di kursi pesawat kelas bisnis.
Elisha baru saja meletakkan Erga ke keranjang bayi. Dia baru selesai menyusui putranya tersebut.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya Yudha.
"Iya, Erga sudah tidur nyenyak," jawab Elisha sembari menyematkan kancing bajunya. Akan tetapi tangan Yudha sigap menghentikan.
"Sekarang giliranku," ujar Yudha. Menatap nakal ke arah belahan dada Elisha yang masih terlihat. Sebab dia belum sepenuhnya menutup kancing bajunya.
Elisha tersenyum. "Tapi aku masih belum sepenuhnya pulih dari proses persalinan kemarin," terangnya. Atensi Elisha tertuju ke arah bibir Yudha.
"Aku tidak masalah dengan itu," ungkap Yudha.
"Kau tahu? Kau itu lelaki tergila yang pernah kutemui." Elisha memegang wajah Yuda dengan satu tangan. Ibu jarinya menyentuh lembut bibir Yudha.
"Karena itulah kau tergila-gila padaku." Usai berucap begitu, Yudha menggigit lembut ibu jari Elisha. Apa yang dilakukannya, sukses membuat Elisha mengulum bibirnya sendiri.
Tanpa pikir panjang, Elisha langsung menyumpal mulut Yudha dengan ciuman. Dia memposisikan diri duduk ke atas pangkuan. Mengapit kuat pinggul Yudha. Ciuman panas terjadi. Deru nafas keduanya mulai memburu.
Keributan yang dibuat Yudha dan Elisha membuat semua penumpang lain tidak nyaman. Meskipun begitu, Yudha dan Elisha tak mau peduli.
"Apa yang kau rencanakan di Rumania?" tanya Elisha sembari mengatur nafasnya yang naik turun lebih cepat. Dia melepas tautan bibirnya dari mulut Yudha sejenak.
"Masa depan untuk putra kita. Aku pastikan dia jadi orang yang lebih hebat dariku," sahut Yudha.
"Maksudmu menjadi pembunuh yang hebat?"
"Lebih dari itu." Yudha menegaskan. Dia segera menyatukan kembali mulutnya dengan bibir Elisha.
__ADS_1
...TAMAT ...