Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 52 - Ending


__ADS_3

...✪✪✪...


Yudha dan Elisha sudah berada di ruang bedah. Keduanya menunggu Andi siuman terlebih dahulu. Mereka sedang berdiri saling berhadapan. Posisinya sendiri tidak jauh dari tempat dimana Andi telentang.


"Bagaimana kabar ayah dan ibumu? Apa mereka ada meneleponmu?" tanya Yudha sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Tidak ada. Aku memang sengaja mengganti nomor telepon semenjak kita pergi meninggalkan Sydney," jawab Elisha. Dia menatap serius Yudha. "Kali ini, aku benar-benar bisa mempercayaimu bukan?" lanjutnya. Mendadak melemparkan pertanyaan yang sedikit emosional.


"Aku hanya punya kau sekarang. Tentu saja kau bisa mempercayaiku." Yudha melangkah lebih dekat ke hadapan Elisha. Mengaitkan helaian rambut gadis itu ke daun telinga.


Elisha tersenyum tipis. Perlahan dia memagut bibir Yudha dengan bibirnya. Keduanya mengawali sebuah ciuman dengan lembut. Hingga lama-kelamaan pergulatan mereka kian menggebu-gebu. Saat sedang asyik-asyiknya, suara gumaman dari Andi harus menghentikan cumbuan yang terjadi di antara Yudha dan Elisha.


Yudha bergegas menghampiri Andi. Hal serupa juga dilakukan Elisha. Andi terlihat berupaya melepas ikatan yang menjerat tangan dan kakinya. Akan tetapi dia sama sekali tidak mampu.


"El, ayo kita mulai sekarang." Yudha membuka lebar telapak tangannya. Memberi kode kepada Elisha, agar segera mengambilkan peralatan bedah yang ada di meja.


"Mmpphh! Mmmpphh! Mmmpphh!!" Andi semakin menggelepar tidak karuan. Dia tentu sangat ketakutan dengan apa yang akan dilakukan Yudha. Apalagi ketika menyaksikan Elisha sudah menyerahkan pisau bedahnya kepada Yudha.


"Halo, Mr. A. Aku pikir kau harus tahu siapa jati diriku. Akulah anak kandung dari Ferdy dan Rena. Kau melewatkanku saat melakukan penyerangan besar-besaranmu." Yudha memperkenalkan diri sambil mengukir seringai. Dia langsung merobek baju Andi dengan ganas. Kemudian menyayat perutnya tanpa ampun.


Andi hanya menggeram nyaring dalam keadaan mulut yang masih ditutupi oleh lakban. Dirinya tidak bisa melakukan perlawanan sedikit pun. Tubuhnya perlahan-lahan semakin melemah. Cairan bening tampak menitik dari kedua sudut matanya. Terutama saat Yudha mulai mengobrak-abrik organ dalam yang ada di dalam perutnya.


"Pertama-tama, mungkin aku akan mengambil ginjalmu terlebih dahulu," ucap Yudha seraya memotong salah satu ginjal milik Andi. Dia melakukannya dalam keadaan mengembangkan tawa puasnya.


"Kau benar-benar gila, Yud!" komentar Elisha. Meskipun begitu, gadis itu tersenyum tipis. Kemudian mengambil organ ginjal yang disodorkan Yudha kepadanya.


"Kau juga gila saat menghabisi Alice dan Joyce!" balas Yudha. Membuat Elisha otomatis tergelak kecil.

__ADS_1


Yudha melanjutkan proses operasi selanjutnya. Dia membidik kedua bola mata Andi. Yudha hanya perlu mencongkelnya tanpa melukai bola mata yang tengah dibidiknya.


Andi belumlah pingsan. Bahkan ketika kedua bola matanya sudah dicopot oleh Yudha. Saat itulah Yudha melepas lakban yang menutupi mulut Andi.


"Cepat! Bunuh saja aku! Aaarghhhh!!!" mohon Andi dengan segala erangannya. Dia tentu merasakan sakit yang luar biasa. Kulit di bagian perutnya yang masih terbuka lebar, menampakkan pemandangan organ-organ dalam yang tampak diselimuti dengan cairan merah segar.


"Lihat? Bagaimana rasanya? Sakit bukan? Kau tahu, rasa sakit yang aku alami setelah kehilangan kedua orang tuaku, lebih sakit dari apa yang kau rasakan sekarang! Kau bahkan juga telah membunuh orang kepercayaanku! Aku tentu tidak akan membunuhmu begitu saja!" ungkap Yudha panjang lebar. Dia kini beralih membidik lidah Andi. Menariknya dengan beringas sampai Andi berteriak kesakitan.


Setelah memotong lidah, Yudha mengakhiri proses penyiksaannya dengan mengambil jantung Andi. Apa yang dilakukannya itu, langsung membuat Andi kehilangan nyawa. Sebab jantung merupakan salah satu organ tubuh terpenting dalam tubuh.


"Kau mau apakan semua organ-organ ini?" tanya Elisha.


"Entahlah, aku ingin meletakkannya kembali ke tempatnya dengan asal. Lalu memotretnya dengan kamera!" seru Yudha.


Elisha mengangguk paham. Dia mewujudkan apa yang di inginkan Yudha. Yaitu meletakkan kembali semua organ-orang milik Andi ke tempat semula. Semuanya hanya diletakkan biasa. Yudha hanya perlu pemandangan mengerikan yang akan membuat dendamnya terasa memuaskan.


"Kita akan meninggalkannya seperti ini?" Elisha menatap Yudha penuh tanya.


"Tentu saja tidak. Kita harus membakar tempat ini. Aku akan menuntaskan dendamku, El!" sahut Yudha. Dia terlihat melepaskan sarung tangan lateks. Lalu mengajak Elisha untuk beranjak pergi dari markas. Sebelum itu, mereka tentu tidak lupa untuk menyulut api terlebih dahulu.


Dalam sekian menit, api membesar dengan ganas. Melahap segala hal yang ada disekitarnya. Termasuk mayat-mayat anak buah Andi yang keracunan. Hingga Andi sendiri, yang masih telentang tak berdaya di atas hospital bed.


Yudha menyaksikan pemandangan terbakarnya markas Andi, yang tidak lain adalah sosok Mr. A. Yudha benar-benar lega. Dia merasa mampu menjalani kehidupannya dengan lebih tenang sekarang. Perlahan perhatiannya teralih kepada Elisha, yang juga tampak ikut menatap kobaran api.


Yudha melingkarkan tangannya ke pinggul Elisha, dan berbisik, "Beritahu aku tempat yang paling ingin kau datangi bersamaku."


Elisha reflek membalas tatapan Yudha. Dia tersenyum tipis, kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Yudha. Gadis tersebut membisikkan sesuatu hal.

__ADS_1



Di sebuah tempat nan sepi. Tepatnya di basement pada area perumahan terbengkalai, terdengar suara sayup-sayup lenguhan yang memecah keheningan. Bunyi tersebut berasal dari Yudha dan Elisha. Keduanya sedang berada di tempat rahasia milik Elisha. Dimana foto-foto Yudha masih tertempel memenuhi area dinding.


Yudha dan Elisha baru saja mengakhiri kegiatan intim mereka. Kini suara erangan yang sahut-menyahut tak terdengar lagi. Hanya ada sisa nafas yang sulit dikontrol oleh dua insan tersebut.


"Aku yakin ayahmu pasti mencari-carimu, bukankah begitu?..." imbuh Yudha. Dia memejamkan matanya rapat.


"Entahlah... aku tidak begitu memikirkannya lagi..." respon Elisha, yang masih tampak lemas. Dia dan Yudha sedang rebahan di atas kasur kecil.


"Aku punya ide, El! Bagaimana kalau kita melanjutkan kuliah kita. Tetapi tidak di kota ini. Mungkin kita bisa pergi ke negara yang sangat jauh. Agar polisi dapat cepat melupakan tentang kita." Yudha merubah posisi menjadi duduk. Kemudian menyalakan sebilah rokok. Kepulan asap langsung dikeluarkannya dari mulut.


"Ya, itu ide bagus..." jawab Elisha. Dia masih lemah untuk ikut duduk bersama Yudha. Gadis tersebut hanya memiring, dan menatap Yudha dari samping. Dia menyentuh lembut kulit lengan Yudha. Lalu mengembangkan senyuman. Perlakuannya sukses membuat Yudha membalas tatapannya. Yudha lantas iseng memberikan sebuah kecupan singkatnya untuk Elisha.


..._______...


Catatan Author :


Halo readers, pasti nggak nyangka ya novel ini akan tamat? Hehehe...😆


Aku emang sengaja nggak ada kasih clue kok. Dari awal aku emang sudah konsepin cerita ini akan berakhir, bila Mr. A mati. Dan di sinilah kita sekarang.


Pokoknya aku mohon maaf kalau endingnya kurang memuaskan.


Maaf juga jika ada kesalahan penulisan, baik itu dari typo, kalimat yang menyinggung dan sebagainya. Dan juga, aku mau kasih tahu kalau semua adegan kekerasan dalam cerita ini jangan ditiru ya guys. Maaf juga jika ada adegan yang terlalu sadis.


Aku ucapkan terima kasih banyak kepada yang masih setia membaca novel ini sampai akhir. Semoga kalian berkenan juga ya nengok novelku yang lain...

__ADS_1


Salam cinta, Auraliv... 🤗😘


__ADS_2