
...✪✪✪...
Setelah merasa lelah dengan amarah, Yudha menghempaskan tubuh ke kasur. Dia perlahan tertidur dalam keadaan tengkurap. Melepaskan lelah yang menggerogoti. Tidak ada yang mengganggu Yudha sampai malam tiba. Akan tetapi, ketika tengah malam, Deny mendadak membuka pintu kamar Yudha.
"Yud, bangun!" Deny mencoba membangunkan Yudha.
"Emmm?..." Yuda lantas terbangun dengan keadaan mata yang memicing. Dia hanya melihat kehadiran Deny secara samar-samar.
"Yud, kamu sebaiknya pergi dari sini. Cepatlah!" Deny mendesak. Dia berupaya membuat Yudha bangkit dari kasur. Namun perlakuannya malah mendapat tepisan dari Yudha.
"Paman kenapa? Seperti dikejar-kejar setan saja. Tidak ada yang terjadi kok!" ucap Yudha. Dia mengedipkan mata sekian kali. Hingga akhirnya matanya bisa terbuka lebar. Dirinya sekarang menatap Deny dengan kening yang mengernyit.
"Sepertinya komplotan mafia Mata Ular sedang berada di depan rumah. Dia sudah menyerang semua bawahan kita. Hanya aku dan kau yang tertinggal!" ujar Deny. Matanya membuncah hebat. Bahkan keringat bercucuran dikedua pelilipisnya.
"Apa kau bilang? Kenapa kau malah ingin lari? Kita harusnya lawan saja mereka!" sahut Yudha.
"Jumlah mereka banyak. Dan kebetulan sekali saat penyerangan, bawahan kita tidak sengaja tertidur. Aku bahkan tidak akan bangun jika tidur di dekat jendela ruang tamu. Di sana aku bisa mendengar semua keributan. Ayolah, kita tidak punya waktu!" Deny memaksa Yudha pergi. Namun Yudha tetap saja keras kepala.
Yudha sudah mengambil pistol yang tersimpan dilaci. Dia ingin segera melakukan perlawanan. Lelaki itu sudah melingus melewati Deny. Saat itulah Deny merasa tidak punya pilihan.
Deny mengambil sebuah vas bunga kayu. Dia berlari mendekat, dan segera memukulkannya ke kepala Yudha.
Buk!
Yudha sontak oleng. Dia langsung pingsan dan ambruk ke lantai. Deny lantas bergegas membawanya ke tempat aman. Deny terpaksa melakukannya, dari pada harus menyaksikan nyawa Yudha melayang.
__ADS_1
Deny kabur lewat pintu belakang. Dia berlari sambil menggendong Yudha seperti membawa karung beras. Ditangan yang satunya, Deny menjinjing briefcase penting Yudha. Dia hanya berjaga-jaga, karena takut sesuatu yang buruk terjadi.
Baru saja Deny melewati pintu pagar belakang, seseorang bertopeng berhasil memergokinya. Membuat kaki Deny sontak digerakkan laju. Dia berlari secepat mungkin. Lama-kelamaan nafasnya tersengal-sengal. Apalagi dalam keadaan mengangkat badan Yudha.
Deny akhirnya memilih menyembunyikan Yudha di suatu tempat. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, Deny nekat masuk ke dalam pemakaman umum. Dia merasa di sana adalah tempat paling aman untuk menyembunyikan Yudha.
"Aku sudah berjanji dengan Ferdi untuk menyelamatkanmu. Apapun yang terjadi, aku harap kau selamat..." ujar Deny dengan nada yang begitu pelan. Tangannya sibuk meletakkan Yudha di atas sebuah kuburan besar.
Deny memasukkan Yudha ke dalam kuburan yang memiliki pagar beton. Ukurannya sangat pas untuk Yudha. Deny yakin, tempat itu adalah persembunyian yang aman. Demi keselamatan Yudha, Deny memilih pergi menjauh dari pemakaman. Dia melanjutkan larinya.
Sinar matahari yang menyilaukan berhasil membangunkan Yudha. Lelaki tersebut langsung memegangi area kepala yang terluka. Seluruh badannya terasa sakit semua. Perlahan Yudha merubah posisi menjadi duduk. Mengedarkan pandangan ke sekitar.
Mata Yudha terbelalak, saat mengetahui dirinya berada di atas kuburan. Hanya ada suara kicauan burung menyambutnya. Yudha bergegas bangkit. Memaksakan dirinya meski agak sempoyongan.
Yudha melangkah keluar dari lokasi pemakaman umum. Dia tidak lupa membawa briefcase yang sengaja ditinggalkan Deny. Lelaki itu berjalan dengan gontai menuju rumahnya. Yudha sebenarnya berniat melajukan langkahnya, tetapi dia merasakan kepalanya sangatlah pusing.
Jalan Yudha terhenti, ketika menyaksikan rumahnya dipenuhi oleh banyak orang. Ada puluhan aparat kepolisian serta pihak medis di sana. Kaki Yudha otomatis melangkah mundur. Dirinya tidak punya pilihan selain kabur. Yudha melarikan diri, sebelum ada orang yang menyadari kehadirannya.
Yudha memilih singgah ke sebuah apotek. Di sana dia membeli perban dan obat penghilang rasa sakit.
"Mas, boleh pinjam ponselnya tidak? Saya baru saja dirampok, dan kehilangan ponsel." Yudha memasang ekspresi memelas. Agar ucapannya dapat meyakinkan lawan bicara.
"Benarkah Dek? Ini pakailah! Apa kamu sudah lapor polisi?" respon seorang lelaki paruh baya. Dia merupakan Apoteker yang kebetulan berjaga. Tangannya menyerahkan ponsel miliknya kepada Yudha.
__ADS_1
"Ini saya mau telepon keluarga dulu, Mas." Yudha mengambil ponsel yang disodorkan sang Apoteker. Dia menjauh sebentar untuk berbicara melalui ponsel. Yudha mencoba menghubungi Deny. Dengan otak jeniusnya, dia tentu tidak akan lupa nomor rekan setianya.
Lidah Yudha berdecak kesal, kala dirinya sama sekali tidak mendapat jawaban dari Deny. Berapa kali dia melakukan panggilan, Deny tetap tidak menjawab. Yudha kini hanya bisa menggelengkan kepala. Dia bergegas pergi dari apotek. Sebelum beranjak, Yudha tentu tidak lupa mengembalikan ponsel milik sang Apoteker.
Yudha memutuskan untuk menaiki taksi. Dia berniat pergi menemui satu-satunya orang yang bisa menolong. Yaitu Zain. Seorang dokter yang sempat ditemui Yudha beberapa minggu lalu. Tepat ketika insiden jurit malam terjadi.
Baru masuk ke lingkungan rumah sakit, rasa pusing yang begitu menusuk menyerang Yudha. Lelaki tersebut sekarang berjalan melambat. Berpegangan kepada benda-benda terdekat. Yudha merasakan ada yang basah dikepalanya. Saat dirinya memeriksa dengan tangan, ternyata cairan yang membasahi kepalanya adalah darah. Dia tadi benar-benar lupa mengobati lulanya akibat merasa terdesak.
"Yudha? Itu kau kan?" Zain yang kebetulan hendak keluar dari rumah sakit, tidak sengaja menyaksikan kedatangan Yudha. Dia lekas-lekas bertindak, dan memberikan Yudha pengobatan.
Yudha sekarang terbaring di atas hospital bed. Di sampingnya ada Zain yang menatap penuh tanya.
"Aku kebetulan melihat berita mengejutkan. Apa berita itu ada kaitannya dengan apa yang terjadi kepadamu?" tanya Zain.
Yudha perlahan duduk menghadap Zain. Dia sudah agak mendingan dari sebelumnya. "Memangnya berita tentang apa?" tanya-nya memastikan.
Zain lantas mengambil ponsel, dan memperlihatkan berita yang sedang hangat. Yaitu berita tentang perampokan yang terjadi di rumah Yudha. Tujuh orang dikatakan tewas di tempat.
"Polisi mengidentifikasi semua korban adalah preman-preman pasar. Banyak orang menduga kalau insiden ini merupakan perselisihan kubu antar penjahat." Zain memberikan penjelasan. Dia menatap Yudha dengan sudut matanya.
Yudha hanya membisu. Dia mengingat bawahan yang ada di rumahnya memang berjumlah tujuh orang. Semuanya menjadi sembilan jika ditambahkan dengan dirinya dan Deny.
"Deny... dia menghilang. Aku tidak tahu dia dimana. Tetapi dia berhasil menyelamatkanku," celetuk Yudha. Tatapannya nampak kosong. Rasa penyesalan menggerogotinya.
"Kau bisa beristirahat di sini untuk sementara. Jika ada apapun, kau bisa katakan--"
__ADS_1
"Tidak, Zain! Aku tidak bisa terus berdiam di sini. Bisakah kau membawaku ke tempat yang aman. Aku hanya berjaga-jaga dari pencarian polisi." Yudha sengaja memotong ucapan Zain. Dia memegangi lengan Zain.
"Tentu saja, Yud!" jawab Zain dengan anggukan kepala.