Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 47 - Bertemu Mr. A


__ADS_3

...✪✪✪...


Satu malam berlalu. Yudha dan Elisha tertidur di kasur yang sama. Meskipun begitu mereka menjadikan bantal guling sebagai penghelat jarak.


Yudha terbangun lebih dahulu dibanding Elisha. Dia mengusap wajahnya beberapa kali. Kemudian membuka gorden dan menatap keluar jendela. Senang rasanya kembali ke tanah air. Akibat ulahnya, Elisha terbangun dari tidurnya. Sebab cahaya matahari menghantam wajah gadia tersebut.


Elisha lantas merubah posisi menjadi duduk. Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Memperjelas sosok yang sedang berdiri di depan jendela.


"Yudha?..." panggil Elisha lirih. Dia akhirnya bisa melihat dengan jelas. Apalagi saat melihat Yudha menoleh ke arahnya.


"Kau sudah bangun?" Yudha berjalan mendekat.


"Kenapa bertanya? Bukankah sudah jelas?" balas Elisha. Heran terhadap pertanyaan basa-basi Yudha. Dia berdiri, berniat beranjak ke kamar mandi.


"Oh iya, kita akan melakukan pertemuannya hari ini kan?" Elisha menghentikan langkahnya untuk bertanya.


"Iya, nanti sore. Masih lama," jawab Yudha sembari melihat jam yang ada di pergelangan tangan. Pembicaraannya dengan Elisha berakhir disitu.


Sore hari telah tiba. Yudha dan Elisha telah menunggu di gedung terbengkalai. Mereka kebetulan menyewa sebuah mobil untuk bisa sampai di sana. Sekarang hanya tinggal menunggu kedatangan komplotan mafia Mata Ular.


"Sejak kapan kau berhenti terobsesi denganku, El. Gedung kosong ini mengingatkanku dengan tempat rahasiamu," celetuk Yudha sambil menyandarkan pinggul ke kap mobil.


Elisha menatap Yudha dengan sudut matanya. Dia memposisikan diri berada di sebelah Yudha. Ikut bersandar di kap mobil.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan terakhir kali, membuatku membencimu!" sahut Elisha. Kemudian menghembuskan nafas melalui mulutnya.


"Saat itu aku benar-benar merasa kesal. Dan beberapa saat setelahnya, Deny dan orang-orangku mati karena serangan kedua," terang Yudha.


Elisha reflek menoleh. Dia kaget Deny sudah tiada. Elisha tidak menyangka Yudha telah mengalami insiden penyerangan lagi. Empati untuk Yudha kembali dirasakan gadis tersebut.


Dari kejauhan terlihat sebuah mobil hitam berjalan kian mendekat. Yudha dan Elisha segera menghentikan pembicaraan. Mereka yakin, mobil yang datang adalah orang-orang dari kelompok mafia Mata Ular.


"Bersiap-siaplah, El. Bisa saja mereka tiba-tiba melakukan serangan," ucap Yudha seraya menegakkan badan. Hal serupa juga dilakukan Elisha.


Mobil hitam berhenti tepat di hadapan Yudha dan Elisha. Setelahnya, tiga orang lelaki keluar dari mobil. Salah satunya berambut gondrong dan mengenakan kacamata hitam. Yudha dapat menduga kalau lelaki itu adalah pimpinan dari dua orang lainnya.


"Apa kau yang namanya Yudha Baskara?" tanya sang lelaki berambut gondrong.


sangat menyukai nama depannya. Dia belum pernah benar-benar menggantinya.


"Kenalkan aku Jim." Lelaki berambut gondrong perlahan menatap ke arah Elisha. "Lalu dia siapa?" tanya-nya, penasaran akan sosok perempuan yang berdiri di sebelah Yudha.


"Namanya Erika. Dia adalah rekan yang akan membantuku bekerja nanti," ujar Yudha sembari menperkenalkan Elisha.


Elisha sontak terkejut, mendengar Yudha mendadak mengganti namanya. Lelaki itu tidak ada memberitahu sebelumnya. Meskipun begitu, Elisha mencoba untuk mengerti.


"Oke, kalau begitu. Ikutlah dengan kami. Tinggalkan mobilmu di sini!" titah Jim, kemudian mempersilahkan Yudha dan Elisha masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Yudha dan Elisha tidak punya pilihan selain menurut. Keduanya segera dibawa ke markas mafia Mata Ular. Setibanya di sana, Yudha dan Elisha langsung dibawa ke ruang pimpinan. Momen tersebut membuat Yudha merasa tidak sabar. Sebab sudah sekian lama dirinya ingin menemui sang penghancur kehidupannya. Yaitu Mr. A.


Ketika masuk ke ruangan, Yudha bisa melihat kepala seorang pria. Rambutnya nampak memutih. Membuat dahi Yudha otomatis berkerut. Sebab dirinya ingat, kalau Deny pernah mengatakan, kalau ketua mafia Mata ular masihlah muda. Tetapi pada kenyataannya tidak. Atau sosok yang dilihatnya sekarang bukanlah ketua yang sebenarnya.


"Silahkan duduk!" Jim mempersilahkan Yudha dan Elisha untuk duduk di sofa. Tepat berhadapan dengan pria yang memiliki warna rambut keperakan.


Yudha lantas duduk ke sofa. Di ikuti oleh Elisha setelahnya. Sekarang mereka dapat melihat dengan jelas rupa sang pria berambut keperakan. Pria tersebut memang terlihat sudah berumur. Penampakannya sekali lagi sukses membuat Yudha mengukir kerutan didahinya.


"Kenapa anak muda? Kau terkejut melihat aku? Apakah rumor itu juga sampai ke telingamu? Hahaha..." ujar si pria berambut keperakan. Tergelak untuk sesaat.


Mata Yudha membulat sempurna. Sebab dia terkejut dengan suara yang dimiliki oleh pria itu. Yudha sangat yakin suaranya sangat mirip dengan suara Mr. A. Amarah Yudha sempat memuncak. Dia berupaya keras untuk menahannya.


"Apa kau sengaja membuat rumor itu?" tanya Yudha, memastikan.


"Benar, agar jati diriku tidak bisa ditebak oleh orang lain," jawab sang pria berambut keperakan. "Kau bisa memanggilku Andi anak muda," lanjutnya, memberitahu.


"Aku Yudha, dan gadis yang bersamaku adalah Erika." Yudha membalas sembari tersenyum tipis.


"Hmmm... Yudha, apa kau yakin mau bergabung ke sini? Apalagi dengan membawa seorang perempuan bersamamu? Aku tidak bisa menjamin keamanan untuk seorang perempuan di sini," tutur Andi.


"Aku akan jamin, jika ada seseorang yang berani menyentuh Erika, aku tidak akan segan-segan membedah dada kirinya, lalu mengumpankan jantungnya kepada seekor anjing!" Yudha balas mengancam. Entah karena dia kelepasan, atau memang benar-benar berniat melindungi Elisha.


"Hahahaha! Coba buktikan dulu keahlian bedahmu itu. Maka aku akan menerimamu bekerja di sini," kata Andi berseringai sambil mengangkat salah satu alisnya.

__ADS_1


Elisha yang mendengar merasa sedikit panik. Karena dia tahu, Yudha sama sekali tidak memiliki pengalaman membedah seseorang. Berbeda dengan Yudha yang tampak biasa saja, bahkan terkesan sangat percaya diri.


__ADS_2