Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 26 - Jalan Pulang Untuk Sandi


__ADS_3

...✪✪✪...


Elisha sempat terdiam dalam beberapa saat. Selanjutnya kepalanya perlahan mengangguk. Melihatnya, Yudha tersenyum simpul. Kemudian mengecup bibir Elisha.


Mata Elisha membulat ketika dirinya mendapat ciuman tak terduga. Gadis itu kembali terdiam, dan membiarkan Yudha menyentuhnya.


"Kamu memang gadis luar biasa, El!" puji Yudha, yang seketika menyebabkan mulut Elisha merekahkan sebuah senyuman.


Yudha segera mengambil ponsel dari saku celana. Lalu memesan makanan lezat untuk menjadi sajian makan malamnya bersama Elisha.


"El, kau sebaiknya beritahu dahulu orang tuamu, kalau kau sedang bermalam di rumah teman. Mereka nanti khawatir," saran Yudha sembari mengeluarkan bungkusan makanan dari plastik. Sementara Elisha tengah sibuk menyiapkan peralatan makanan di atas meja.


"Aku sudah memberitahu mereka," jawab Elisha.


Hanya perlu waktu tiga menit, semua makanan telah tersaji di meja. Yudha dan Elisha segera menikmati hidangan.


Yudha berhenti makan setelah melahap satu sendok. Dia memperhatikan Elisha yang tampak tenang mengunyah makanan.


Sebenarnya ada sesuatu yang membuat Yudha bertanya-tanya tentang Elisha. Yaitu alasan dibalik gadis itu menerima jati dirinya dengan mudahnya. Padahal jika gadis normal mengetahui kebenaran Yudha telah sering membunuh, mereka pasti akan takut. Dan kemungkinan besar tidak akan mau berhubungan dengannya. Anehnya hal tersebut tidak berlaku untuk Elisha.


"El, apa kau sesuka itu kepadaku? Sampai kau bahkan mau membunuh Anton untukku? Dan sekarang, kau menerima jati diriku sepenuhnya," tutur Yudha seraya menopang dagu dengan kedua tangan. Menatap lurus ke arah Elisha.


"Uhuk! Uhuk!" Mendengar penuturan Yudha, Elisha merasa kaget. Sampai dia harus tersedak dengan makanannya.


"Oh astaga... minumlah!" Yudha bergegas menyodorkan segelas air putih untuk Elisha.


Elisha menundukkan kepada. Dia tidak menjawab sama sekali pertanyaan Yudha. Membuat Yudha terpaksa harus menerima, kalau Elisha tidak berminat memberikan alasan.


"Kau istirahat saja dahulu. Aku mau melihat keadaan Sandi sebentar," ungkap Yudha sambil bangkit dari kursi. Kemudian berderap menuju gudang.

__ADS_1


Sandi tampak sudah bangun. Lelaki itu terjatuh di lantai beserta dengan kursi yang menjadi tempat duduknya. Sepertinya semenjak sadar, Sandi berniat melarikan diri. Namun tangan dan kaki yang terikat kuat, membuatnya tidak mampu berkutik.


Yudha berseringai, dia segera memperbaiki posisi Sandi. Lalu membuka lakban yang menutup mulut Sandi.


"Gila kamu Yud! Apa yang kau lakukan kepadaku!" begitulah kalimat sambutan Sandi untuk Yudha.


"Apa kau bilang? Apa yang telah aku lakukan? Justru akulah yang harus bertanya begitu!" balas Yudha sembari mendorong kasar jidat Sandi.


"Apa... apa maksudmu?" nada bicara Sandi mendadak menciut. Dia nampaknya sadar dengan kesalahan yang telah dilakukannya terhadap Yudha.


"Ini mengenai insiden kebakaran. Aku dengar kau terlibat!" ucap Yudha sambil menyalangkan mata ke arah Sandi. Memberikan ancaman agar tawanannya segera menjawab.


"I-i-itu... a-aku..." Sandi gemetar ketakutan. Apalagi ketika Yudha sudah mengeluarkan sebuah pisau dari saku celana.


"Cepat katakan. Sebelum benda tajam ini mengiris urat nadimu." Yudha mendesak sambil mengarahkan ujung pisau ke leher Sandi.


"Ba-baiklah..." sahut Sandi. Keringatnya sudah mengalir deras di kedua pelipis.


"Aku tidak tahu maksudnya. Tetapi polisi itu mengatakan, kalau aku akan mati jika terus berada di pesta. Alhasil, aku pun beranjak pergi tanpa sepengetahuan dirimu." Sandi bercerita dengan suara yang bergetar. Dia mencoba sebisa mungkin meyakinkan Yudha, kalau dirinya tidak terlibat.


"Jangan bilang, kau-lah yang sudah menyebarkan undangan kepada semua orang di sekolah?" tanya Yudha.


"I-i-itu..." Bibir Sandi tampak gemetaran. Dia yang tidak kuasa mengiyakan dengan mulut, akhirnya hanya bisa mengangguk.


"Maafkan aku Yudha! hiks! hiks! Aku benar-benar tidak tahu insiden kebakaran itu akan terjadi... kumohon, ampuni aku..." Sandi mendadak merengek. Air mata penyesalan bercucuran dipipinya.


Yudha yang tadi membungkuk, merubah posisi menjadi berdiri tegak. Dia memutar bola mata penuh amarah. Mulutnya menganga akibat rasa pengkhianatan menusuknya. Namun Yudha mencoba menenangkan diri, karena dia masih perlu informasi dari Sandi.


"Jadi, kau sama sekali tidak tahu siapa orang-orang bertopeng itu?!" Yudha kembali bertanya. Sandi langsung menjawab dengan gelengan kepala. Pertanda dirinya memang benar-benar tidak tahu.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu." Itulah kalimat terakhir Yudha, sebelum melangkahkan kaki keluar gudang.


"Tunggu Yud! Apa kau tidak akan melepaskanku?!" Sandi memekik lantang. Membuat derap kaki Yudha sontak berhenti.


"Diamlah di sini dahulu. Aku harus mempersiapkan sesuatu untuk mengantarmu pulang!" ungkap Yudha. Kemudian menutup sekaligus mengunci pintu.


"Apa?! Tetapi bisakah kau setidaknya melepaskanku? Yudha!" Sandi kembali berteriak. Suara nyaringnya menyebabkan Yudha menyadari satu hal. Yaitu, untuk menutup mulut Sandi kembali dengan lakban. Kini mantan temannya itu tidak mampu bicara lagi.


Yudha bergegas menghubungi Deny, dan menyuruh dua bawahannya untuk datang. Dia sekarang duduk menunggu di teras belakang.


"Yud..." Elisha tiba-tiba muncul dari arah pintu. Dia berjalan dengan canggung, sambil sesekali mengusap tengkuknya. Seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan. Tetapi sepertinya gadis tersebut masih ragu untuk mengungkapkan apa yang ingin diucapkannya.


"Hai El..." sapa Yudha malas. Suasana hatinya sedang buruk, gara-gara baru saja berhadapan dengan Sandi.


"Ada yang ingin aku beritahu kepadamu. Ini mengenai pertanyaanmu tadi sore," ujar Elisha yang sudah memposisikan diri duduk di sebelah Yudha.


"Bicaralah." Yudha memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan.


"Aku punya tempat rahasia Yud. Sebuah rumah kosong yang jaraknya tidak begitu jauh dengan lokasi panti asuhanku dulu," terang Elisha pelan.


"Lalu?" Yudha mengerutkan dahi heran. Dia ingin penjelasan lebih lanjut.


"Jika kau melihat tempat itu. Maka kau juga bisa melihat sebesar apa rasa sukaku kepadamu," kata Elisha seraya memainkan jari-jemarinya. Lalu mengaitkan anak rambut ke salah satu daun telinga.


"Memangnya ada apa di sana, El. Kau membuatku penasaran!" imbuh Yudha.


"Aku tidak bisa menjelaskannya dengan perkataan. Kau hanya perlu berkunjung ke sana!" sahut Elisha bersikeras.


"Ah... baiklah, sayang." Yudha mengusap pucuk kepala Elisha. Saat itulah Agung dan Haris datang. Dua bawahan Yudha itu langsung disuruh menggali tanah di semak yang ada di bawah pohon mangga.

__ADS_1


"Kau mau apa dengan lubang itu?" tanya Elisha. Dia berdiri di samping Yudha yang sedang mengamati cara kerja dua bawahannya.


"Membuat jalan pulang untuk Sandi," jawab Yudha. Membuat mata Elisha otomatis terbelalak. Sudah jelas Yudha akan menghabisi Sandi. Entah bagaimana caranya.


__ADS_2