
...✪✪✪...
Yudha memang sendirian sekarang. Tetapi dia tidak perlu mengkhawatirkan masalah keuangan. Selain bisnis propertinya yang masih berjalan baik, Yudha juga mempunyai banyak uang di bank.
Pilihan kampus Yudha tetap jurusan kedokteran bedah, yang membedakannya cuman tempat. Dia membeli sebuah rumah untuk ditinggali. Yudha tidak lupa untuk mencari tahu keberadaan Elisha. Baginya itu hal mudah, karena kampus yang memiliki jurusan kuliner di Sydney tidaklah banyak.
Di pencarian ketiganya, Yudha berhasil menemukan Elisha. Gadis itu tidak sendiri. Dia berjalan menunduk di belakang ketiga temannya. Tidak ada yang berubah darinya. Apa yang dilihat Yudha, tidak seperti yang dibicarakan Mirna ditelepon.
"Apanya yang beradaptasi. Dia lebih terlihat seperti seorang pesuruh," gumam Yudha, mengomentari.
Yudha mengiringi dengan pelan. Dia memperhatikan gerak-gerik Elisha dari kejauhan beberapa meter. Sejak dirinya mengikuti, Elisha belum terlihat berinteraksi dengan ketiga temannya. Setiap kali gadis tersebut bicara, semua temannya mengabaikan.
'Kasihan sekali kau, El...' batin Yudha sembari menggeleng iba.
Elisha dan tiga orang gadis yang bersamanya, masuk ke mall. Di sana mereka berbelanja baju dan barang kebutuhan wanita lainnya. Momen itu semakin jelas, kalau Elisha hanya dianggap batu kerikil oleh semua temannya. Diabaikan.
Yudha yang mengamati dari kejauhan, memutar bola mata jengah. Dia masuk ke toko baju pria. Di sana dirinya mengambil setelan jas, kemudian langsung mengenakannya.
Pramuniaga serta pelanggan yang kebetulan berada di toko terpaku menatap Yudha. Bagaimana tidak? Lelaki tersebut semakin menawan dengan setelan jas. Dia juga tidak lupa untuk menambahkan dasi. Lalu merapikan rambutnya. Entah apa tujuan Yudha mengganti pakaian. Kemungkinan dirinya hanya ingin membuat Elisha terkesan.
"Anda terlihat luar biasa dengan setelan itu, Sir..." tegur seorang pramuniaga yang sedari tadi mengamati.
"Thanks," sahut Yudha seraya merekahkan senyuman tipis. Dia segera membayar apa yang sudah dibelinya ke meja kasir.
Yudha membuang pakaian lama ke bak sampah. Dia tentu tidak lupa untuk tetap menyimpan dompetnya. Tanpa pikir panjang, Yudha bergegas menemui Elisha.
Dari kejauhan, Yudha dapat melihat Elisha tengah diomeli ketiga temannya. Nampaknya ada sesuatu hal yang dilewatkan Yudha. Elisha lagi-lagi tampak tertunduk. Seakan pasrah dengan perlakuan ketiga temannya terhadapnya.
Yudha kadang bingung kepada Elisha. Seingat dirinya, Elisha merupakan gadis pemberani. Tetapi kenapa sekarang gadis itu terlihat seperti pecundang yang tidak mampu berbuat apa-apa.
"Apa Elisha punya dua kepribadian?" gumam Yudha sambil menggerakkan kakinya. Dia melangkah menghampiri Elisha. Kedatangannya tentu langsung menarik perhatian ketiga gadis yang merundung Elisha.
"Kate! Look at him..." bisik salah satu dari tiga gadis yang sedang berdiri di hadapan Elisha. Dia dan kedua temannya terkesiap kala menyaksikan kemunculan Yudha. Ketiga gadis tersebut, bernama Kate, Alice dan Joyce.
__ADS_1
Kate yang merasa paling cantik lekas-lekas merapikan rambut dan bajunya. Dia mengira Yudha akan mengajaknya bicara.
Elisha yang mendadak diabaikan, lantas merasa penasaran. Kenapa ketiga gadis di depannya mendadak heboh. Kemudian menyibukkan diri untuk saling berbisik. Perlahan Elisha mendongakkan kepala, dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Mencoba mencari sesuatu yang telah berhasil mengalihkan perhatian ketiga temannya.
Mata Elisha membulat sempurna, saat melihat kemunculan Yudha. Apalagi ketika lelaki itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Hai, El. Apa kabar?" sapa Yudha dengan raut wajah datar. Tatapannya hanya tertuju ke arah Elisha. Seolah dirinya sudah berhasil mendapatkan mangsanya.
"Yudha..." lirih Elisha, terkejut.
"Kamu kenal dia, El?" tanya Kate. Akan tetapi Elisha sama sekali tidak menjawab. Dia begitu dibuat kaget dengan kedatangan Yudha yang terasa tiba-tiba.
"Aku pacarnya Elisha. Kenalkan aku Yudha." Yudha menggunakan bahasa inggris untuk berkomunikasi. Satu tangan diulurkannya kepada Kate. Keduanya lantas saling melakukan salam perkenalan.
"Aku melihat kalian mengomeli Elisha tadi. Memangnya apa yang terjadi?" timpal Yudha. Menatap Kate, Alice dan Joyce secara bergantian.
"Kami hanya..." Kate tampak kebingungan harus menjawab apa. Sebab tatapan Yudha sangat mengancam. Dia merasa ciut dan ingin lekas-lekas pergi.
"Tapi--" Elisha yang hendak mengejar ketiga temannya, segera mendapat cegatan dari Yudha. Gadis tersebut berbalik dengan menunjukkan mimik wajah masamnya.
"Apa-apaan Yud! Kenapa kau mencariku lagi?!" tukas Elisha. Keningnya mengernyit kesal.
"Kenapa kau marah? Bukankah harusnya kau senang bisa bertemu denganku?" balas Yudha. Tangannya masih mencengkeram erat lengan Elisha.
"Kau gila!" hardik Elisha sambil menarik paksa tangannya. Usahanya berhasil melepaskan cengkeraman Yudha. Gadis itu segera berjalan menjauh.
Elisha melangkah laju di jalanan trotoar. Dia tahu, Yudha masih mengekorinya dari belakang. Akibat merasa tidak tahan lagi, Elisha memutar tubuhnya dan berdiri saling berhadapan dengan Yudha.
"Apa maumu?!" geram Elisha.
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu tempat tinggalmu," jawab Yudha santai. Dia bahkan menghisap rokok, lalu mengeluarkan kepulan asap. Seolah niat yang akan dilakukannya bukanlah hal besar.
"Yud, aku tidak mau terlibat lagi denganmu! Aku ingin menjadi normal. Saat bersamamu, aku tidak pernah melihat adanya kenormalan!" Elisha berbicara dengan nada tinggi. Membuat beberapa orang yang berlalu lalang, sontak menoleh ke arahnya. Meskipun begitu, tidak ada yang mengerti bahasa Elisha. Karena dia dan Yudha saling berbicara bahasa Indonesia.
__ADS_1
"Hmmm... Bukankah tidak ada manusia yang normal di dunia ini?... Coba pikirkan tentang hal itu, El." Yudha lagi-lagi menyahut dengan tenang.
Elisha mendorong Yudha dan berkata, "Pergilah!!"
Karena dorongan Elisha, Yudha hampir terjatuh. Dia merasa tak percaya gadis tersebut berani memperlakukannya dengan kasar.
"Lihat yang kau lakukan. Kenapa tadi kau tidak melakukan itu kepada tiga teman sialanmu?" respon Yudha. Satu langkah lebih dekat ke hadapan Elisha. Jarak wajah di antara keduanya hanya beberapa senti. Menyebabkan jantung Elisha tidak kuasa menahan debaran.
Takut ekspresi gugupnya dipergoki, Elisha segera menajaga jarak dari Yudha. Dia membuang muka sembari gelagapan merapikan rambut panjangnya.
"Teruskan saja perjalanan pulangmu, El. Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya ingin alamat rumahmu, itu saja. Tidak lebih," tutur Yudha. Menyunggingkan mulut ke kanan. Dia tahu Elisha masih tertarik kepadanya.
Tanpa sepatah kata pun, Elisha melanjutkan langkahnya. Hal serupa juga dilakukan Yudha. Dia masih menikmati rokoknya. Memasukkan satu tangan ke saku celana.
Elisha berhenti di depan sebuah gedung. Dia berbalik dan memandang ke arah Yudha.
"Kau tahu sekarang. Bisakah kau pergi?" timpal Elisha.
"Baiklah, aku akan pergi." Yudha beranjak pergi sembari berseringai. Dia menghilang ditelan oleh banyaknya orang. Atau begitulah menurut penglihatan Elisha.
Elisha berlari kecil ke arah gedung apartemennya yang sebenarnya. Dia tadi memang sengaja menunjukkan tempat yang salah untuk Yudha. Namun sayang, Yudha tidak sebodoh yang Elisha kira. Lelaki itu diam-diam kembali mengikuti. Bahkan langsung mengetahui dimana lantai apartemen Elisha berada.
"Oke, lantai sepuluh. Mudah di ingat!" ujar Yudha. Kemudian pergi meninggalkan gedung apartemen Elisha.
Ketika di rumah, Yudha merasa dirinya harus bertindak untuk melakukan pencarian. Terutama mengenai identitas Mr. A. Yudha iseng membuka briefcase yang belum sempat dilperiksanya semenjak Deny meninggal.
Ada secarik kertas di dalam berkas. Yudha bergegas membaca tulisan yang ada di dalamnya. Yudha menemukan alamat web di kertas tersebut. Kemungkinan Deny-lah orang yang menulisnya.
Yudha lantas mencari alamat web yang tertulis di kertas. Tanpa sengaja dirinya menemukan alamat rahasia dark web. Akan tetapi, untuk masuk ke laman dark web tidak semudah melakukan pencarian di papan ketik Go*gle. Yudha sangat kesulitan masuk ke laman dark web. Komputernya bahkan harus menjadi korban serangan virus perangkat lunak.
*Catatan Kaki :
Dark web : Adalah sebuah bagian internet yang tidak bisa diakses oleh sembarang orang. Didominasi oleh kegiatan ilegal oleh orang-orang jahat.
__ADS_1