Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 51 - Menuntaskan Dendam [2]


__ADS_3

...✪✪✪...


Yudha perlahan mendekati Jim. Dia membisikkan sesuatu ke telinga pria itu. Setelah mendengar bisikan Yudha, Jim nampak tersenyum dan mengangguk. Tidak lama kemudian, Jim segera berseru kepada teman-temannya, kalau Elisha akan memasakkan makanan istimewa untuk pesta perayaan yang sedang dilaksanakan.


"Ide yang bagus, manis. Tapi jangan lama-lama, soalnya nanti kami akan mabuk oleh alkohol!" ujar Andi. Sementara bawahannya terlihat bersorak sorai. Mereka kegirangan dengan keberhasilan serta makanan istimewa yang akan dibuatkan Elisha.


"Apakah penampilan istimewanya juga ada, El?" seorang lelaki berbadan berisi menatap nakal ke arah Elisha. Ucapannya tentu berhasil membuat Yudha geram.


"Kalian mau penampilan istimewa?" Yudha berdiri ke hadapan Elisha. Menghalangi penglihatan semua orang terhadap gadis tersebut. "Datanglah ke ruang pembedahan, lalu aku akan memotong burung gagak kalian!" ancamnya. Sukses membuat semua orang terdiam dalam sesaat. Namun itu tidak berlangsung lama, para bawahan Andi terlihat tertawa lagi.


Yudha berupaya tidak peduli. Dia segera menarik Elisha ikut bersamanya. Keduanya langsung beranjak menuju dapur.


"El, kita akan membuat apa?" tanya Yudha. Menatap Elisha dengan sudut matanya.


"Kau tidak perlu khawatir. Lebih baik kau bersiap saja dengan kepergian kita. Supaya nanti setelah selesai, kita bisa langsung pergi dari sini," imbuh Elisha sembari membuat adonan besar ke dalam wadah. Dia tidak lupa untuk menambahkan cairan sianida ke dalam adonan tersebut.


"Tidak! Aku takut Andi dan semua orang akan curiga. Mungkin hal terbaik untuk dilakukan adalah mengajak Andi mengobrol empat mata." Yudha memberikan usul. Elisha hanya menjawabnya dengan anggukan. Selanjutnya Yudha bergegas pergi menemui Andi.


Yudha masuk ke dalam kerumunan orang-orang mafia Mata Ular yang sedang berpesta. Mata Yudha terfokus ke arah Andi yang tengah duduk menyandar di sofa. Yudha lantas datang menghampiri. Kemudian mengusir orang yang kebetulan duduk di hadapan Andi.

__ADS_1


"Halo, Yud. Aku kira kau sibuk membantu Elisha di dapur. Harusnya kau tidak meninggalkan gadis itu sendirian," tukas Andi.


"Dia baik-baik saja. Aku hanya mau berbicara empat mata kepadamu." Yudha mengungkapkan.


"Baiklah, katakan saja apa yang mau kau bicarakan." Andi penasaran. Dia bahkan tidak berminat bangkit dari sofa.


"Aku tidak bisa bicara di sini. Ayolah, ada banyak orang." Yudha mendesak seraya berdiri dari tempat duduk.


Andi mendengus kasar. Meskipun begitu, dia tetap beranjak dari sofa. Lalu melangkah mengikuti Yudha. Dalam hitungan detik, keduanya sudah bisa menjauh dari bising dan keramaian.


"Cepat! Katakan sekarang!" Andi menghentikan langkahnya. Menuntut Yudha untuk segera bicara.


Yudha sontak ikut berhenti dan berkata, "Aku ingin bicara tentang kelompok mafia Elang Satan." Yudha melangkah lebih dekat dan melanjutkan dengan nada berbisik, "aku dengar ada seseorang dari mafia Elang Satan yang menyamar menjadi anak buahmu."


Yudha memutar bola mata malas. Dia kembali berucap, "Itulah yang di inginkan oleh orang tersebut. Dia mau kau lengah seperti sekarang. Agar suatu hari, dia bisa menghancurkanmu dan juga markasmu."


"Dari mana kau tahu semua ini?" timpal Andi sembari mengangkat dagunya sekali.


"Kebetulan aku tidak sengaja menguping pembicaraan salah satu anak buahmu. Dia berbicara melalui telepon, dan beberapa kali menyebutkan kata Elang Satan," ungkap Yudha dengan mimik wajah serius.

__ADS_1


Andi mulai terpengaruh. Dia mulai terlihat terbawa suasana. Kedua tangannya mengepalkan tinju penuh tekad.


"Katakan kepadaku, siapa dia?" tanya Andi.


"Aku tidak tahu namanya. Tapi aku berhasil mengurungnya ruang bedah." Yudha lekas-lekas berjalan lebih dahulu. Berusaha menunjukkan jalan untuk Andi.


Akibat dirundung perasaan penasaran dan marah, Andi otomatis mengikuti Yudha. Dia tidak memikirkan hal lain selain berniat membunuh orang yang telah berkhianat kepadanya.


Yudha berhenti di depan ruang tempat dirinya sering melakukan operasi pembedahan. "Masuklah! Dia ada di dalam. Aku menyuntiknya dengan obat bius," perintahnya. Mempersilahkan Andi masuk lebih dahulu. Saat itulah Yudha mengambil alat suntikan dari saku celananya, kemudian langsung menancapkannya ke leher Andi. Dalam sekejap, Andi melemah dan menjadi tidak sadarkan diri. Yudha segera menjerat Andi, lalu merebahkannya ke atas hospilat bed.


Di sisi lain, Elisha baru saja menyelesaikan hidangannya. Dia lantas menghubungi Yudha lewat panggilan telepon. Elisha memberitahu, kalau semuanya sudah siap. Selang satu menit, Yudha mendatanginya. Tanpa pikir panjang, Yudha dan Elisha beranjak untuk menyajikan makanan kepada semua bawahan Andi.


Elisha kebetulan menyajikan hidangan berupa prekedel daging. Dia membuat porsi yang lumayan banyak. Gadis itu menghabiskan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya.


Bawahan Andi yang ada, memakan hidangan Elisha dengan begitu lahapnya. Yudha memastikan semua orang memakan hidangannya. Menyodorkan makanan kepada beberapa orang yang belum kebagian.


Setelah menghidangkan makanan ke semua orang, Yudha dan Elisha berdiri di pinggir. Mereka memilih tempat yang tepat untuk menonton.


Lima menit berlalu, satu per satu beberapa anak buah Andi mulai keracunan. Mereka merasakan sesak di dada. Selain itu, terbatuk sampai mengeluarkan darah yang begitu banyak. Hal tersebut terjadi bersamaan kepada puluhan orang yang telah memakan hidangan Elisha.

__ADS_1


Sementara Yudha dan Elisha, hanya berdiri menyandar ke tembok. Menatap datar pemandangan lautan manusia yang sedang sekarat. Suara erangan kesakitan dan permintaan tolong menggema di ruangan. Satu per satu, bawahan Andi pun tumbang dan kehilangan nyawa.


"Kalau kau mau pergi lebih dahulu, bersiaplah! Aku akan mengurus Andi terlebih dahulu!" saran Yudha. Tetapi Elisha menolak, dia memutuskan ikut menemani Yudha.


__ADS_2