Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 50 - Menuntaskan Dendam [1]


__ADS_3

...✪✪✪...


Setelah puas berhubungan intim, Yudha dan Elisha telentang sambil menatap ke langit-langit pelafon. Tubuh mereka ditutupi oleh selimut tebal yang memang sedari awal tersedia.


"Yud, bagaimana kau bisa mahir membedah? Bukankah kau belum pernah praktik saat kuliah?" tanya Elisha tanpa menoleh ke arah Yudha. Dia menutupi area dadanya dengan selimut.


"Itu mudah, El. Jika kau sering membaca buku..." jawab Yudha.


Elisha meringiskan wajah. Sebab dirinya sama sekali tidak hobi membaca buku seperti Yudha. Elisha lebih suka praktik secara langsung. Makanya gadis itu sangat gemar memasak. Pembicaraan Yudha dan Elisha berakhir disitu. Keduanya perlahan mengantuk, lalu tertidur.



Yudha dan Elisha berusaha menyesuaikan diri untuk tinggal di markas mafia Mata Ular. Sampai mereka benar-benar bisa dipercaya oleh Andi. Tidak terasa, waktu berlalu sampai satu bulan lebih.


Elisha hampir setiap hari memasakkan hidangan untuk Andi serta bawahannya. Sedangkan Yudha bertugas membedah korban-korban yang diculik oleh komplotan mafia Mata Ular. Mereka berupaya mengerahkan kinerja yang bagus dan maksimal.


Sekarang Yudha tengah sibuk mencuci tangan. Dia telah menyelesaikan pembedahan jantung. Dan orang yang Yudha operasi tadi, langsung kehilangan nyawanya. Jika terkait organ jantung, Andi memang memperbolehkan korbannya untuk dimatikan saja.


"Aku sangat suka kinerjamu. Lebih baik dibanding orang yang dahulu." Andi tiba-tiba muncul. Dia terlihat menyandar di depan pintu. Memperhatikan apa yang sedang dilakukan Yudha.


"Apa yang terjadi dengan orang yang dahulu?" Yudha memutar tubuhnya. Menghadap ke arah Andi.


"Pastinya sudah dibunuh. Dia ketahuan berkhianat kepada kubu lain. Orang itu hampir membuatku bangkrut!" terang Andi dengan wajah masamnya. Sepertinya dia sedang mengingat sosok yang telah berkhianat kepadanya tersebut.


"Kubu lain?" Yudha penasaran. Keningnya mengernyit.


"Ya, apa kau mau mendengarkan ceritanya. Aku yakin, kau pasti akan suka!" sahut Andi. Terlihat bersemangat.

__ADS_1


"Tentu saja. Telingaku selalu terbuka lebar!" ujar Yudha. Memaksakan dirinya tersenyum.


"Aku dahulu punya saingan bisnis ilegal. Nama organisasi mereka adalah Elang Satan." Andi mulai bercerita.


Deg!


Nama Elang Satan yang disebut oleh Andi, otomatis membuat Yudha semakin yakin untuk melakukan pembalasan dendamnya. Apalagi ketika Andi bercerita secara detail bagaimana penyerangan besar yang dia lakukan terhadap markas Elang Satan.


"Rumah mereka terbakar habis. Aku menghabisi musuhku dalam satu malam. Jenius bukan? Hahahaha!" Andi tergelak. Sampai perutnya yang buncit bergerak mengikuti irama tawanya.


Yudha yang mendengarnya tentu merasa panas. Dia ingin sekali melayangkan pisau bedahnya ke leher Andi. Menyayatnya hingga saraf dan urat nadi musuhnya itu putus. Namun Yudha berusaha menahannya. Dia hanya bisa mengepalkan tinju dikedua tangannya. Sebab Yudha tahu betul jika dirinya membunuh Andi sekarang, maka kemungkinan dia akan dikeroyok oleh komplotan mafia Mata Ular.


"Ya, kau memang sangat luar biasa. Aku mau ke toilet sebentar," imbuh Yudha. Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Andi. Dia hanya berkilah, karena sudah tidak sanggup menahan amarahnya lagi.


Di sisi lain, Elisha baru selesai memasak. Dia baru meletakkan semua hidangannya ke dalam beberapa piring. Sebuah tangan yang mendadak memegangi lengannya, sukses membuat gadis itu tersentak kaget.


"Kau kenapa sangat suka membuatku kaget?!" timpal Elisha dengan dahi berkerut.


"Maaf, El. Aku lupa mengetuk pintu," jelas Yudha asal. Dia perlahan mendekatkan dirinya ke arah Elisha. Kemudian berbisik, "El, aku rasa besok kita sudah bisa untuk melakukan rencanaku. Lagi pula, aku juga tidak ingin terlalu berlama-lama di sini."


"Kau benar. Aku juga tidak berniat tinggal di sini selamanya," jawab Elisha.


Yudha terkekeh. "Siapa yang mengajakmu untuk tinggal di sini selamanya?" tukasnya. Menampakkan gigi atasnya yang tersusun rapi.


"Kau!" Elisha memukul pelan pundak Yudha. Tindakannya itu menyebabkan tangan Yudha memegang bagian pelipis Elisha. Mereka saling bertukar pandang lekat dalam sesaat.


"Padahal aku tidak pernah mengajakmu untuk ikut bersamaku..." ujar Yudha. Menyunggingkan mulutnya ke kanan.

__ADS_1


Elisha memutar bola mata jengah. Lalu mendorong Yudha menjauh darinya. "Aku akan mencoba membeli bahan ke toko dahulu," ucapnya. Dia segera beranjak.


"Sebelum itu, kau lebih baik antarkan semua hidangannya kepada Andi dan komplotannya." Ucapan Yudha berhasil membuat langkah kaki Elisha terhenti. Gadis tersebut menghela nafas panjang, kemudian mengambil piring yang ada di atas meja. Di ikuti Yudha yang bersedia sukarela untuk membantu.


Setelah memberikan makanan kepada semua orang, Yudha dan Elisha keluar dari markas. Keduanya berjalan berbarengan menuju sebuah apotek.


Setibanya di tempat yang tepat, Yudha segera menghampiri apoteker yang berjaga.


"Bisakah aku membeli sianida? Aku memerlukannya untuk membasmi tikus yang ada di rumah. Mereka sangat menyebalkan," kata Yudha.


"Baiklah." Sang apoteker yang terkesan dingin tersebut langsung mengambilkan pesanan Yudha. Selanjutnya, Yudha pun segera melakukan pembayaran.


"Apa satu saja cukup?" Elisha berbisik ke telinga Yudha.


"Apa menurutmu tidak?" Yudha balas bertanya.


Elisha menggeleng, lalu berkata, "Aku rasa tidak. Karena tikus-tikus di markas ada banyak."


"Ah, kau benar." Yudha setuju. Dia lantas memesan sianida dua buah lagi. Setelahnya, mereka segera kembali ke markas.


Setibanya di markas, Yudha dan Elisha dikejutkan dengan riuhnya para anggota mafia Mata Ular. Mereka terlihat bersenang-senang. Dipimpin oleh Andi, yang tampak menghamburkan uang ke udara.


Bagaikan hewan yang dikasih umpan, para bawahan Andi saling berdahuluan untuk mengambil uang. Semuanya terlihat kacau, tetapi orang-orang yang ada nampak senang dan bersemangat.


"Apa yang terjadi?" tanya Yudha kepada Jim.


"Perampokan yang kami lakukan di sebuah rumah pengusaha kaya sukses besar!" sahut Jim dengan rekahan senyum lebarnya.

__ADS_1


Yudha dan Elisha reflek bertukar pandang. Untung saja Yudha mampu menyimpan rapat sianida di dalam kantong besar jaket hodienya.


__ADS_2