Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 7 - Tragedi Mengerikan [1]


__ADS_3

...✪✪✪...


Yudha perlahan muncul. Kehadirannya langsung memeriahkan suasana pesta. Silih berganti lelaki itu mendapatkan ucapan selamat ulang tahun. Terutama dari Dea, gadis yang selalu mengaguminya.


Elisha terlihat baru menuruni tangga. Dia berjalan dengan canggung, akibat tidak tahu harus berbuat apa. Yudha memperhatikannya dari jauh. Gadis itu akhirnya berderap menghampirinya.


"Siapa nih Yud? kok aku ngerasa nggak asing?" tanya Dea sembari menilik Elisha dari ujung kaki hingga kepala. Dia tidak dapat mengenali, karena sosok yang dilihatnya juga memakai topeng.


"Dia Elisha. Aku sengaja mengundangnya," tutur Yudha, tersenyum tipis.


Dea terperangah. Dia tidak percaya Yudha mau mengundang gadis kolot seperti Elisha. Akan tetapi demi mendapatkan perhatian Yudha, Dea terpaksa memasang senyuman diwajahnya. Bahkan dia terlihat mengajak Elisha bergabung bersama gengnya. Yudha membiarkannya saja. Lagi pula dirinya sibuk mengurus tamunya yang lain.


Dua jam berlalu. Bukannya sepi, pesta malah semakin meriah. Ternyata orang-orang yang datang tidak hanya teman sekelas Yudha. Melainkan juga teman-temannya dari kelas lain. Yudha agak cemas dengan keadaan tersebut. Sepertinya ada yang sengaja menyebarkan undangannya tanpa izin.


"Yud, acara pertama apaan? potong kue?" tanya Sandi. Satu tangannya membawa Yudha masuk ke dalam rangkulan.


Yudha tersenyum tipis. "Tenang aja, pestaku ini akan sangat berbeda dari yang lainnya," jawabnya.


Yudha lantas berjalan ke tengah. Lalu menyuruh semua orang memperhatikannya. Dia hendak memberitahukan acara pertama. Namun belum juga dirinya sempat bicara, sosok lelaki di depan pintu menarik atensinya. Bagaimana tidak? ayahnya berdiri tegap dan menatap Yudha dengan keadaan mata yang melotot.


Suasana langsung hening seketika. Yudha bahkan mulai merasa ciut. Dia tidak menyangka ayahnya akan pulang cepat. Mampuslah Yudha.


Ferdi melangkah cepat ke arah Yudha. Dia mendorong kasar orang-orang yang menghalangi jalannya. Setibanya di hadapan sang putra, kedua tangannya langsung mencengkeram kerah baju Yudha.


"Apa yang kau lakukan, hahhh!!!" Ferdi mengeratkan rahang kesal. Dia menarik kerah baju putranya. Hingga Yudha merasa tenggorokannya sedikit tercekat.


"A-aku--" Yudha mulai ketakutan. Apalagi saat melihat mata sang ayah berapi-api. Seolah akan memakannya hidup-hidup.


Yudha mengumpulkan semua keberaniannya. Dia merasa terdesak ketika menyaksikan semua pasang mata tertuju ke arahnya. Yudha mengerahkan tenaganya untuk melepaskan cengkeraman sang ayah.


"Kenapa kau sangat berlebihan?! lagi pula ini hanya pesta!" ungkap Yudha, yang telah berhasil melepaskan jerat Ferdi dari kerah bajunya.

__ADS_1


"Kauuu--" kalimat Ferdi terpotong, karena listrik mendadak padam. Keadaan di ruangan benar-benar gelap. Hanya ada cahaya di jendela yang berasal dari bangunan di sebelah. Semua orang reflek mengeluh.


Yudha yang tadinya sempat berpikir mampu menang dalam perdebatan ayahnya, hanya bisa membisu.


"Apa yang terjadi? listrik dibangunan lain tidak padam?"


"Benar sekali. Yudha? apa yang terjadi?"


"Ce-cepat nyalakan listriknya, aku phobia kegelapan!"


Orang-orang merespon listrik yang mati dengan cara berbeda-beda. Ada yang penasaran hingga ketakutan.


Berbeda dengan Ferdi. Dia semakin dirundung perasaan kesal. Kakinya digerakkan menjauh dari Yudha. Namun belum sempat dirinya mencapai pintu, suara pekikan dari arah luar terdengar sahut menyahut. Bukan hanya itu, suara dentuman tembakan pistol juga ikut menggema. Membuat semua orang yang ada dipesta langsung diserang rasa panik. Mereka ingin keluar, tetapi takut. Sebab keributan yang terjadi tepat berada di halaman rumah.


Tidak lama kemudian muncul beberapa sosok bertopeng. Mereka berpakaian serba hitam dan menggunakan topeng yang menyala dalam kegelapan.



Kepanikan orang-orang semakin bertambah. Apalagi ditangan para sosok bertopeng, terdapat senjata dalam genggaman mereka masing-masing.


Entah kenapa salah satu orang bertopeng melayangkan tembakan secara acak. Serangan tiba-tiba itu berhasil menghamburkan darah salah satu teman Yudha, yaitu Ello. Cairan merah nan kental menodai lantai porselen putih rumah Yudha.


"Aaaaarkkkhhh!!!" semua orang yang melihat berteriak histeris bersamaan.


Dor!


"Diamlah!" salah satu sosok bertopeng memekik lantang. Kembali menembakkan peluru ke salah satu orang. Apa yang dilakukannya berhasil membuat semua orang membungkam mulut. Ketegangan kian menjadi-jadi dalam hening.


"Halo, semuanya?" ucap sosok bertopeng itu lagi. Dia dalah lelaki, terbukti dari suara bariton yang dimilikinya. "Kalian bisa memanggilku Mr. A, sedangkan teman-temanku ini adalah Mr. B, C, D, E, dan seterusnya... kami menggemaskan bukan? hahahaa!" tuturnya tergelak sendirian, lalu kembali meneruskan, "tenang saja, jumlah kami tidak mencapai huruf Z," lanjutnya.


Pintu perlahan ditutup. Beberapa orang bertopeng menyebar ke segala penjuru rumah. Mereka membunuh siapa saja yang ditemukan di ruangan lain. Berniat hanya menyisakan orang-orang yang ada di ruang utama.

__ADS_1


"Siapa kau!" pekik Ferdi. Kedua tangannya mengepalkan tinju. Melotot tajam ke arah Mr. A.


"Apa kau tadi tidak mendengar?!" balas Mr. A. Meletakkan senapannya ke pundak. Kemudian berjalan angkuh ke hadapan Ferdi. Tangannya memegang kuat dagu Ferdi.


"Mati sudah kau hari ini. Bisnismu akan hancur seketika!" ujar Mr. A, lalu melepaskan dagu Ferdi dengan kasar.


Dor! Dor! Dor!


Mr. A meluncurkan peluru ke segala arah. Puluhan manusia seketika tumbang akibat timah panas yang ditembakkannya. Darah berhamburan di dinding beserta lantai. Sedangkan orang yang tersisa reflek berjongkok dan berlindung. Termasuk Yudha. Dia tampak berjongkok di dekat tangga.


Mr. A menyuruh semua kawanannya untuk menjaga orang-orang yang tersisa. Dia lantas berjalan mengitari ruangan. Seperti melakukan touring rumah dadakan.


Ferdi tidak bisa melakukan serangan balik, karena semua anak buahnya sudah berguguran menjadi jasad tak berdaya. Dia hanya memiliki pistol yang tersimpan dibalik saku jasnya.


Yudha menatap sang ayah dengan sudut matanya. Berharap Ferdi bisa melakukan sesuatu, untuk menghabisi semua orang bertopeng.


"Dimana ibumu?" tanya Ferdi dengan suara pelan. Jaraknya tidak begitu jauh dari Yudha. Duduk bersimpuh di lantai.


"Sepertinya di kamar..." sahut Yudha. Peluh terlihat sudah membasahi area kedua pelipisnya.


"Yudha, aku akan mengalihkan perhatian mereka. Kau larilah, dan cari ibumu!" ujar Ferdi dengan pancaran mata yang meyakinkan. Hingga Yudha pun mengangguk dan menyetujui rencana sang ayah.


Ferdi perlahan berdiri, dan mengambil pistolnya. Dia segera melayangkan tembakan ke salah satu orang bertopeng. Kemudian mengarahkan senjatanya tepat ke arah Mr. A. Benar saja, apa yang dilakukannya berhasil menarik perhatian semua orang bertopeng. Ferdi langsung dikepung oleh mereka.


Sementara Yudha, berusaha berjalan mengendap-endap menuju kamar. Dia berhasil menaiki tangga dengan pelan. Lalu berlari masuk ke dalam kamar Rena.


Setibanya di kamar, Yudha segera mengunci pintu untuk berjaga-jaga. Dia berbalik, dan betapa terkejutnya Yudha. Sebab sang ibu sudah tergeletak tak bernyawa di lantai. Bagian perutnya sobek, dan mengeluarkan darah beserta organ-organ dalam yang segar. Di sampingnya tampak ada sebuah baju atasan pria yang tertinggal.


"Ibu!" Yudha menghampiri jasad ibunya. Dia menangkup wajah Rena. Yudha menangis sambil menyatukan jidatnya dengan dahi sang ibu. Rasanya sakit sekali, menyaksikan orang yang disayanginya mati dengan cara mengenaskan. Kini pakaiannya ikut terkena darah, dan Yudha sama sekali tidak memperdulikannya.


Di kala Yudha meratapi dukanya. Suara tembakan beruntun, tiba-tiba menggema dari arah ruang utama. Matanya sontak membulat sempurna. Kini dia khawatir dengan keadaan ayahnya. Yudha bergegas membuka pintu. Akan tetapi, belum dirinya sempat keluar. Sesosok pria bertopeng sudah menghadangnya.

__ADS_1


Dor!


Serangan si pria bertopeng membuat Yudha lekas-lekas menutup pintu kembali. Dia meringiskan wajah, karena tembakan pria bertopeng tersebut berhasil mengenai bagian lengannya.


__ADS_2