
"Laura kamu bawa orang asing lagi ke rumah?" Pintu utama rumah terbuka. Tentu saja itu Roy, dia baru saja pulang dari kerja baktinya.
"Bukan kak, dia teman kuliahku, Kak William." Roy mengulurkan tanganya, Wil menggapai tangan itu. Dengan senyuman mereka berdua memperkenalkan diri.
"Aku mandi dulu ya, Ra," ujar Roy seraya meninggalkan tempat.
"Siapa dia? Suamimu?"
"Bukan! Dia sepupuku****." Laura berjalan menuju dapur, diikuti oleh Wil di belakangnya. Wanita itu berencana untuk memasak makanan kesukaan sepupunya.
"Oia, kau kenapa bisa terluka begitu?" Tanya Laura kepada Wil yang sedang mengiris sayuran.
"Terjadi perkelahian kecil. Itu aja," jawabnya. Wil menunjukan sayur yang ia iris. "Segini cukup?" Tanyanya.
Laura menengok. Ia melihat potongan Wil yang sangat rapi, seperti mesin. "Cukup kok. irisanmu rapi sekali."
"Ya, aku terbiasa."
"Mengiris tubuh," sambungnya dalam hati.
"Are you ok?" Laura menjentikan jarinya di depan wajah Wil. Hingga pria itu tersentak, melanjutkan aktivitasnya. "Yeah, I'm ok," jawab Wil.
Setelah selesai mengiris, Wil memcuci pisaunya dan meletakan pisau dapur tersebut pada tempatnya.
"Terimakasih, Kak. Aku bisa sendiri yang ini," ujar Laura. Wil meninggalkan Laura sendirian di dapur. Ia berjalan kearah pintu belakang.
Terdapat taman kecil di sana. Ia bisa melihat beberapa rumah penduduk dari taman itu. Terutama rumah yang cukup besar dengan cat putih yang melapisinya.
Seorang wanita dengan pakaian pembantu, berdiri di balkon tersebut. Lalu seorang yang lain muncul dari arah pintu. Mereka seperti bertengkar. Keliatanya, wanita dengan pakaian minidress putih itu adalah majikanya.
Majikanya itu menunjuk kasar pembantuya tersebut. Pria yang sedang terfokus itu dikejutkan oleh Laura yang tiba-tiba muncul menepuk pundaknya.
"Liatin apa sih? Di panggil gak jawab." Wil menunjuk balkon yang sedang ia lihat tadi.
"Rumah tetangga baru," ujar Laura. Dia menarik tangan Wil, menuntunya menuju meja makan.
"Silahkan dimakan. Aku harap Kak Wil suka." Wanita itu berjalan ke kamarnya untuk membasuh diri.
Perasaan canggung menyelimuti Wil, tapi tidak dengan Roy. "Kau kenal Laura sejak kapan?" Tanya Roy, membuka percakapan.
"Sejak SMA****."
"Oh! Kau yang mengantar adiku pulang malam-malam ya? Ngapain kalian?"
"Uh, itu, mengajaknya jalan-jalan." Roy menatap Wil dan menaikan sebelah alisnya. Ia tak yakin dengan jawaban Wil, mencurigakan. "Aku bersungguh-sungguh."
"Baiklah, baiklah." Laura keluar dari kamarnya dengan rambutnya yang masih basah. Wil yang sedang minum pun tersedak melihat Laura.
"Kau kenapa bisa tersedak begitu?" tanya Laura.
Wil meneguk air mineral, meredakan batuknya. "Gak apa-apa. Lagi gak fokus aja," jawab Wil.
"Dasar mencurigakan!"
"Ah, sudah sore. Aku pamit ya, Ra, Kak Roy." Pria itu mengalihkan pembicaraan, dia sedikit membungkukan badanya lalu pergi meninggalkan tempat.
Malam terasa sangat singkat. Matahari sudah memancarkan cahayanya. Laura mengusap matanya dan melihat kearah jam dinding. "Jam 6? Tapi kok udah terang sih?"
Laura menatap pintu kamar mandi yang terlihat jauh. Otaknya memaksakan diri untuk menuju kamar mandi tersebut.
Setelah mengenakan pakaianya, Ia mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Ra? Kamu belum berangkat??" Tanya Roy. Dilihat dari raut wajahnya, ia terkejut. "Ini udah jam setengah 8, kamu berapa lama di kamar mand!?"
Laura menengok kearah jam. Matanya terbelalak, benar apa yang dikatakan sepupunya. Ia menyisir asal rambutnya dan langsung berlari kearah halte bus.
"Laper, belum sempat sarapan!" Ujarnya saat di dalam bus.
__ADS_1
Sebuah tangan menyodorkan roti isi coklat. "Lesu banget mbaknya," ujar pemilik tangan tersebut.
"Bulan?" Laura memegang kedua pipi wanita itu dan menengokanya ke kanan dan ke kiri. Benar itu Bulan, tak ada yang salah.
"Kamu naik bus?"
"Iya, aku menginap di rumah mamaku**."
"Makanya aku naik bus**," sambungnya.
"Bagus deh sering-sering menginap ya."
"Hih, dasar Aura!"
Saat sampai di halte tujuan, dua wanita belia turun dari bus. Di lingkungan kampus, Laura mampir ke taman sedangkan Bulan langsung menuju kelas.
Wanita dengan jepitan bergambar Bulan, tak sengaja bertemu sekelompok wanita arogan. Salah satu wanita yang disebut ketua itu menghalangi jalan Bulan.
"Tunggu cewek kampungan!" Ujarnya. Bulan menghentikan langkahnya, ia tak mengerti kenapa jalanya dihalangi.
"Lo kenal gue kan?"
"Gak tuh, kalian siapa?"
"Kita PCK, Pemberantas Cewek Kampungan, kayak lo dan temen lo itu!"
"Lalu, nama gue Kardita."
"Gini, gini, gue punya penawaran menarik buat lo."
"Apa tuh?"
"Lo gak mau kan di panggil kampungan lagi? Jadi, lo bantuin gue deketin William."
"Pertama, lo cari informasi dia dulu. Dia suka apa, terus rumahnya dimana. Gitu deh!"
"Ya karena gue suka sama dia gimana sih!"
"Ini bayaran lo kalo berhasil." Kardita menunjukan setumpuk uang dengan label tulisan '10 juta'.
"Gak mau, aku bisa cari uang sendiri!"
"Eits! Tunggu! Nanti gue masukin lu ke geng gue, jadi orang ke-6 gimana?"
"Bener?"
"Iyalah. Kalo berhasil ya!"
"OK, I'll try my best."
"Semoga berhasil, terimakasih ya, Bulan." Kardita membuka jalan untuk Bulan. Dia tersenyum licik.
"Gue harap dia gak gagal dan Laura kampungan itu bakal, syuh syuh dari William."
"Ya sudah, Kar, kita cus ke kantin." Kardita menerima usulan anggota kelompoknya dan mulai berjalan menuju tujuan.
"Kar, itu si doi," ujar Hana, sahabat terdekat Kardita.
"Kita tunggu dulu."
"Kenapa?"
"Ada deh!" Kardita duduk diujung kantin bersama teman-temanya.
Wil melirik kearah sekelompok wanita yang duduk diujung sedang memperhatikanya. Mereka tersenyum manis kearah Wil. Pria itu bergidik ngeri dan fokus kepada pesananya.
Saat ingin mengambil kembalian, tak sengaja tangan pria itu digenggam oleh penjual makanan tersebut. "Akibat jarang ke kantin," ujar batinya.
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa, ia duduk di seberang kelompok wanita yang terus menerus menatapnya.
Saat ingin menyatap mi yang masih hangat itu, dua tangan tak tau dan tak peduli siapa pemiliknya mengelus lembut dada pria itu. "Permisi saya mau makan****," ujar Wil.
"Kok kamu dingin banget sih sayang." Pemilik suara tersebut tak lain dan tak bukan adalah Kardita. Dengan beraninya ia memijat lembut pundak Wil. "Aku mau dong mi-nya, sayang," ujar Kardita.
Belum pernah Wil membuat keributan di kampusnya. Dengan geram, pria itu berdiri dan melempar mangkuk kearah wajah Kardita. "Tidak bisa kah kau tenang dan membiarkan orang makan!?"
"Kau membuat nafsu makanku hilang!!" Bentak Wil. Ingin sekali menghancurkan wajah wanita itu, namun resikonya sangatlah besar. Dia tak mau masuk ke tempat neraka yang bernama kantor polisi dan berakhir di jeruji besi, ataupun hukuman mati.
"Astaga, Kar, Kardita lo gak apa-apa?"
"Iya, gak apa-apa," jawabnya sambil membersihkan kuah yang berminyak dari wajahnya. "Argh! Sia-sia gue make-up lama-lama!"
"Lain kali ganggulah aku lagi." Dengan langkah ringan Wil meninggalkan kantin untuk memperbaiki mood-nya.
Seseorang menabraknya, jujur ia ingin menumpahkan emosinya kepada seseorang yang menabraknya tersebut. Namun, saat melihat wajahnya, pria tersebut mengurungkan niatnya.
"Ah, Kak Wil, maaf aku gak liat," ujarnya sambil menyatukan kedua telapak tangan serta memberi tatapan memelas.
"Terserah!"
"Aku bicara baik-baik kak, hueee****." Laura menutup wajahnya dengan kedua tangan, sambil berpura-pura menangis. Lalu, mengintip sedikit di antara kedua jarinya.
Wil menghela nafas kasar dan menjambak pelan rambutnya sendiri. "Maaf ya , Aura."
"Kau meminta maaf, kepalamu terbentur ya?"
"Aku bilang begitu?"
"Hih, pikun. Ya sudah, maafmu ku terima, kecuali namaku yang kurang L-nya." Laura melirik arlogi Wil. Hampir pukul 8 tepat.
"Ah, Kak, aku ke kelas ya. Sampai jumpa!"
"Emang aku bilang maaf ya? Ah, sudahlah!"
"Gak sudi aku meminta maaf ke wanita kampungan itu." Wil tak memikirkan hal itu lagi dan segera melupakanya.
"Bulan!" Sapa Laura. Bulan menyahut dan meminta Laura duduk di sebelahnya.
"Aura, aku mau tanya," ujar Bulan dengan hati-hati dan dengan wajah yang serius.
"Kenapa sih serius gitu, santai ajalah****." Bulan mencoba untuk rileks. Ia melemaskan tubuhnya lalu mulai bertanya.
"Wil itu suka apa sih? Ya, makanan kesukaanya gitu?"
"Tunggu, pertama, kamu kenapa nanya aku?"
"Katanya kamu kenal deket."
"Oh. Um, aku suka liat dia makan mi instan kuah. Sering banget waktu SMA."
"Aku mau bertanya hal lain."
"Ah, aku hanya tau makanan kesukaanya saja, maaf," ujar Laura. Mimik wajah wanita berjepitan bulan itu berubah menjadi datar dan menjadi cuek dengan Laura.
"Kenapa ya?" Laura tak mengerti dengan perubahan sikap Bulan. Begitu juga saat pulang. Bulan tak bersama dengan alasan ingin bertemu Wil.
Seminggu berlalu, belum ada perubahan dari sikap Bulan. Bahkan sekarang, Bulan lebih memilih dekat dengan adik dari ketua kelompok PCK. Ia jadi tida duduk di sebelah Laura lagi.
Karena jarak itu, Laura menjadi penyendiri. Dia tak suka bertemu orang banyak. Kali ini dia memberanikan diri mendekati Bulan.
"Bulan mau ke kantin?"
Kardita masuk ke dalam kelas untuk mengajak adiknya dan anggota baru ke tempat biasa mereka berkumpul. "Gak, Bulan ikut kita. Dia tidak mau dekat dengan cewek kampungan seperti kau!" Mereka semua tertawa lalu perlahan menghilang.
"Setelah apa yang ku lakukan untukmu, Bulan. Inikah balasanmu!?" Hatinya terasa hancur, kosong serta gelap.
__ADS_1