
Ahzarel berdiri di hadapan pria tua dengan amarah yang menggebu-gebu. Kali ini ia harus menghabisi nyawa kakeknya sendiri. Sejujurnya ia tidak ingin, namun ini demi ibunya.
Dengan langkah kilat pria itu melangkah, tak terlihat. Baru saja Ahzarel tersadar bahwa lenganya terluka karena ayunan pisau. "Tidak bisa dipercaya."
Hampir saja kepala lelaki itu mengenai pisau yang melaju cepat kearahnya. Ia menunduk dengan segera, untuk menghindari pisau tersebut.
"Intinya kalau aku maju sedikit saja, mamaku dalam bahaya. Pft! Curang," ucap batin Ahzarel dengan kesal. Ia akhirnya melipat tangan dan berdiam diri, sampai pria tua itu kembali bergerak.
Di saat pria itu sekali melangkah, Ahzarel berbalik badan dan langsung mengacungkan pisaunya dan menusuk tepat di perut pria tua tersebut. Lima orang pria yang sudah bersiap dengan senapanya, menarik pelatuk. Ahzarel dengan cepat memotong tali yang mengikat ibunya dan menggendongnya keluar ruangan gelap tersebut.
Lenganya mengeluarkan darah karena sayatan dan dua tembakan peluru. Terasa panas, namun Ahzarel harus melawan hal itu untuk bisa bebas. Ketika mendapat tempat sembunyi sementara, ia mendekap tubuh ibunya yang lemas sambil menahan tangis. "Aku gak mau mama nyusul papa, sekarang."
Mata Laura perlahan terbuka. Ia menengadah dan menatap mata merah Ahzarel yang terlihat jelas di kegelapan itu. "Rel?" Tanya Laura. Ahzarel langsung mendesis, untuk mengisyaratkan agar ibunya membungkam mulut sejenak.
"Argh! Kemana dia!?"
"CARI DIA KE SANA!" Ucap salah satu dari mereka dan langsung pergi kearah berlawanan dari Ahzarel dan Laura bersembunyi.
"Aman," ucap Ahzarel sambil menghela nafas.
"Rel, kamu ngapain di sini?"
"Manaku tau mak!" Jawab Ahzarel dengan penuh penekanan.
"Kita harus keluar dari neraka ini."
"Iya, Mak! Aku lagi pikirin caranya," ucap Ahzarel sambil memantau keadaan dengan sudut matanya yang lancip.
"Sudahlah, aku tidak bisa berpikir dengan jernih, kita lurus saja aku akan hajar mereka semua," ucap Ahzarel, ia mengenggam tangan ibunya kuat-kuat dan membawanya keluar tempat pembantaian tersebut.
Mereka berhasil mengendap-endap keluar, namun saat sampai di depan pintu. Sebilah pisau menusuk perut Ahzarel dari belakang.
"Ma, pergilah duluan!" Ucap Ahzarel sembari mendorong ibunya menjauh.
"Tapi, tapi--"
"Argh! Tolong pergilah mak!" Pekik Ahzarel. Laura akhirnya menuruti kata anaknya dan segera pergi meninggalkanya.
Pisau itu dicabut dari tempatnya. Ahzarel langsung tersungkur di tanah dan berusaha bangkit berdiri. "Ada kata-kata terakhir?" Ucap pria itu.
Kaki Ahzarel menjatuhkan pria itu. Lalu, menduduki perut pria yang buncit itu. Ahzarel menyeringai dengan mata merah yang menyeramkan. "Kita makan malam pisau hari ini, mau ku suapi?" Tanya Ahzarel sambil menginjak kuat-kuat kedua tangan pria itu.
Ahzarel memasukan pisau itu sampai menusuk di langit-langit mulut pria tua itu. Lalu memutarnya 360 derajat dua kali, hingga kepala pria tua itu terpisah dari tubuhnya.
Hal itu mengundang gelak tawa Ahzarel, lalu menusuk-nusuk wajah pria tersebut hingga hancur. "Good bye, grandpa."
Laura menunggu di ujung jalan dengan perasaan cemas. Matanya tertuju pada seorang laki-laki yang jalan sempoyongan layaknya orang mabuk. "Ahzarel!?" Tanyanya dalam hati.
Mulutnya mengeluarkan darah yang begitu banyak hingga menetes di jalan trotoar tersebut. Laura mendekati lelaki itu dan memapah orang tersebut. "Anak mama memamg hebat," ujar Laura sambil mengelus pipi anaknya tercinta.
Laura memanggil taksi dan mengantar anaknya ke rumah sakit terdekat.
Laura tertidur di ruang tunggu, ia sudah menunggu sehingga 3 jam. Wanita itu bosan dan akhirnya tertidur.
Setelah beberapa lama seorang dokter dengan memakai baju operasi, keluar ruangan dan membangunkan Laura.
"Bagaimana?" Tanya Laura sambil menengok anaknya dari balik kaca pintu.
"Kekurangan darah, untung saja stok masih ada."
"Syukurlah! Terimakasih dokter," ujar Laura dan langsung memasuki kamar anaknya itu. Ia sedang melihat tanganya yang dihiasi oleh selang infus benar-benar menarik perhatianya.
__ADS_1
Begitu ibunya sampai di sampingnya. Ia langsung menagih ponsel, "Apa kek, salam atau apa****!?" Tanya Laura dengan kesal sambil menggembungkan pipinya.
"Mak, aku butuh dan ini darurat." Laura mengalah, ia langsung memberikan ponselnya kepada anaknya tersebut.
Dengan cepat, jari Ahzarel mengetik nomor telfon. Lalu menempelkan ponsel tersebut di telinga kiri.
"Jangan sampai habis pulsa mama! Baru beli itu."
"Gampang mak, aku beliin nanti," ucap Ahzarel dengan entengnya.
"Halo?" Ucap seorang gadis di seberang telfon.
"Aku lupa mengambil bukuku tadi sore, tolong taruh di atas mejaku besok pagi. Awas kau!"
"Bawel ah! Iya aku taruh besok. Btw, kamu nelfon pakai ponsel siapa?"
"Mama, bye!" Ucap terakhir Ahzarel dan langsung menutup panggilan tersebut. Lelaki itu juga langsung mengembalikan ponsel tersebut.
"Pacarmu?" Tanya Laura sambil tersenyum nakal.
"Bukan, dia asisten pribadiku," jawab Ahzarel.
"Yakin?"
"Sangat yakin!"
"Yakin?" Tanya Laura lagi. Namun, kali ini Ahzarel tak bisa menahan tawanya. Pipinya pun merona.
"Harus berapa kali aku katakan, Ma?" Tanya balik Ahzarel sambil tertawa.
Laura pun tersenyum saat melihat Ahzarel seperti ini. "Sering seringlah kamu tertawa, Rel."
Di sisi lain, Lina sedang cemas tanpa alasan. Ia sedang belajar namun pikiranya kemana-mana. Apalagi saat di halte tadi sore, rasanya ingin memekik hingga ke luar angkasa. "Maafkan aku ketua kelas, kayak aku pindah ha-- GAK!"
"Aku gak mau!"
"Pacaran!"
"Dengan!"
"ORANG SADIS KAYAK DIA!!" Pekiknya dalam hati dan tanpa sengaja ia menggebrak meja sampai-sampai ayah dan ibunya masuk ke kamar dengan perasaan khawatir dan panik.
"Kamu kenapa, Lin!?" Tanya ayahnya dengan mata terbelalak.
"Gak apa-apa, Yah. Tadi ada nyamuk hendak lepas landas di mejaku," jawab Lina sambil menggaruk tengkuknya.
"Oh, ya sudah. Sekarang tidur, sudah larut."
"Siap komandan!" Lina memasukan buku pelajaran esok hari serta buku lelaki bernama Ahzarel tersebut.
Ia melompat ke kasur sambil meraba-rabanya. Lalu, memasuki alam mimpi.
Lina membuka matanya, ia sedang berada di padang bunga. Ukuran tubuhnya seperti anak kecil berumur 8 tahun. Bunga-bunga cantik terpajang dimana-mana, kecuali satu tempat.
Bunga-bunga tersebut layu, seperti tak pernah diurus dan tak terdapat kehidupan sedikitpun di sana. Namun di tengah-tengah terdapat anak laki-laki dengan mata merah penuh kebencian. Rambut putihnya melambai bersama dengan warna cyan.
Ia berdiri dan mendekati Lina. Lalu, membisikan sesuatu di telinganya. "Tolong jaga anaku, dia hartaku yang paling berharga." Suara itu perlahan menghilang dan berganti dengan suara alarm jam yang begitu berisik.
Lina mengambil jam itu dan langsung melemparnya. Gadis itu meregangkan tubuhnya lalu menuju kamar mandi untuk bersiap menuju sekolah.
Lengkap dengan seragam coklat serta peluit dan kacu merah putih yang terpajang di seragamnya tersebut. "Jangan lupa bawa topi," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kelas, seluruh murid mengerumuni mejanya dan meja Ahzarel. "Permisi," begitu Lina berkata demikian, para murid membukakan jalan dan memperlihatkan Ahzarel dengan lengan serta leher yang dilapisi dengan perban putih.
"Buku," ucapnya singkat sambil menyodorkan telapak tanganya.
Lina segera mengambil buku tersebut dan memberikanya kepada Ahzarel. "Habis tauran di mana?" Tanya Lina.
"Nanti aku ceritakan," ucap Ahzarel. "Bubar!" Perintah lelaki dengan membentak mereka semua.
"Tumben mau cerita, biasanya mah ...." Ucap Lina yang terputus sambil menatap Ahzarel dengan malas, ia bosan setiap hari harus lelaki itu yang ada di sebelahnya.
Ternyata Ahzarel sedang tertidur saat Lina berkata demikian. Guru datang, namun Ahzarel belum juga mengangkat kepalanya. "Orang pintar bebas."
"Selamat pagi, anak-anak. Rel, Lin, kalian harus susulan." Guru itu mengantar dua insan itu keluar dari kelas. Ia menempatkan Ahzarel di ujung koridor dengan Lina di ujung koridor, sebelum ditinggalkan guru itu menyita alat elektronik.
Ahzarel membaca soal keseluruhan lalu menjawab soal tersebut satu persatu. Tak selama Lina, ia langsung mengumpulkan soal itu ketika selesai.
"Dasar mesin!" Pekik batin Lina. Ahzarel menyempatkan diri menengok kearah Lina lalu menjulurkan lidah, bermaksud mengejeknya.
Lina mengangkat tinjunya mengancam Ahzarel. Namun, lelaki itu bergidik sambil tersenyum geli, lalu memasuki kelas.
Saat jam istirahat berbunyi, jiwa pemalas Ahzarel sedang merasukinya. Ia tertidur dengan kepala ya menyentuh meja.
"Lin, kantin yuk. Aku traktir," ujar seorang pria yang dipanggil ketua kelas.
"Um, iya ayo." Tangan Lina digenggam oleh ketua kelas tersebut, namun Ahzarel langsung memukul tangan lelaki tersebut.
"Apa-apaan sih, Rel!?"
"Kalau mau pegang, izin!" Ucap Ahzarel dengan penuh ancaman.
"Ok! Santai bro, gue mau pinjem cewek lu, ok?"
"Lima menit," ucap Ahzarel. "Atau--"
"Iye, iye! Makasih bro!" Ucap ketua kelas itu tersebut dan langsung lari sambil menarik Lina keluar kelas.
"Argh! Shit!" Umpat Ahzarel sambil menggebrak meja, mengundang perhatian para siswa siswi kelas.
Ahzarel melihat jam dinding, waktu sudah enam menit berlalu. Ia langsung beranjak dari kursi menuju kantin.
Beruntung posisi Sang ketua kelas membelakangi arah Ahzarel masuk. Dengan penuh amarah, Ahzarel menjambak rambut pria tersebut dan menendang perut lelaki itu sekencang-kencangnya beberapa kali.
Ketua kelas itu tak terima akhirnya melawan dan terjadi main tangan antara dua belah pihak.
Beberapa orang melerai mereka berdua. Namun Ahzarel lepas beberapa kali, karena tenaga dia yang paling besar. "CUKUP!" Teriak Lina di antara mereka berdua.
"Aku gak habis pikir!" Ujar Lina dengan nada tinggi, saat berada di luar kantin. Tempat sepi dan tak ada seorang pun yang lalu lalang.
"Aku juga, aku gak habis pikir kau suka dengan lelaki yang tak tau waktu seperti itu!" Balas Ahzarel yang tak mau kalah.
Tanpa sadar Lina menempelkan bibirnya pada bibir Ahzarel yang terasa manis. "Diam!" Ucap Lina dengan tegas.
Ahzarel memperhatikan Lina yang dari tadi mondar-mandir. Kepalanya pusing hingga mengundang isi perutnya yang berusaha keluar.
"Tadi aku kira, kau akan membela orang yang kau suka," ujar Ahzarel sambil memainkan permukaan kuku-kuku tanganya.
"Aku tidak merasakan sesuatu lagi pada lelaki itu. Argh! Masa bodo, aku mau ke kelas."
"Cepat sekali kau melupakanya."
"Udah, udah, ayo ke kelas." Lina menarik lengan seragam Ahzarel menuju kelas.
__ADS_1
"Karena aku sukanya denganmu untuk sekarang, Rel," Ucap batin Lina.