
"Um, aku****--" Ucapan Leo terpotong saat Ahzarel memasuki dapur dengan wajah masam.
"Ini tehmu, Rel." Lina menyodorkan teh hangat yang sudah ia buat. Pria itu menerimanya dengan baik. Lalu, meminumnya sampai habis.
"Malam ini aku mau jalan-jalan, kau mau ikut?"
"Kemana?" Lina bertanya balik, ia merasa ambigu dengan ajakan Ahzarel tersebut.
"Keliling kota," jawab Ahzarel sambil mendekati wajah Lina. Wanita itu syok, pipinya merah merona.
"Cuciin gelasku, terimakasih****." Ucapan Ahzarel membuat perasaan Lina tersayat. Harapan palsu diterimanya.
"Ahzarel kamveng!" Jerit batin Lina sembari mencuci gelas Ahzarel. Leo di sebelahnya tertawa kecil. Namun, langsung meningglakan dapur, dengan membawa kopi yang ia buat tadi.
"Lina, kau sangat menyedihkan," ujar Lina dalam hati.
🔪🔪🔪
Waktu menunjukan pukul 21.54. Ahzarel memakai jaketnya. Lalu menuju kamar Lina, ia mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban apapun dari dalam kamar.
"Lin? Kau ikut?" Tanya Ahzarel. Pintu terbuka setengah, Lina dengan wajah kusut menganggukan kepala. Lalu, menutup pintu kamarnya kembali.
Pria itu menunggu di ruang tamu sambil mengetes pisaunya itu. Ia mengiris permukaan kulit tangannya. Darah segar mengucur keluar. "Masih tajam."
🔪🔪🔪
Lina yang melihat hal itu langsung mendekatinya dengan panik. Dia langsung mencari kotak obat lalu mengobati tangan Ahzarel. Setelah terobati, pria itu mengelap pisaunya hingga mengkilat kembali.
"Ayo pergi," ujar Ahzarel dengan kunci mobil di tangannya.
Pria itu melajukan mobil menyusuri jalan-jalan pada malam hari. Pemandangan indah dengan lampu-lampu yang menyala. Mata Lina berbinar saat melihat cahaya-cahaya itu.
Mobil terhenti di depan toko roti. Seorang wanita tua sedang menyajikan kue ke pelanggannya. "Rel kau mau****--" Lina tak melihat wujud pria itu di dalam mobil.
Ia keluar mobil, menengok ke segala arah. Ternyata pria itu sedang di dalam toko roti, membeli sesuatu yang sangay misterius.
Keluar dari toko itu, Ahzarel menyodorkan kantong plastik berwarna putih dengan sekotak kue di dalamnya. "Aku tau kau mau. Ya kan?"
Lina tertawa kecil, lalu menerima kue itu. Dia makan di dalam mobil dengan Ahzarel di sebelahnya. "Tumben kau mengajaku jalan-jalan," ujar Lina dengan mulut yang penuh dengan roti.
"Telan dulu****." Ahzarel memberikan botol minuman. Lina langsung menerima botol itu dan meminumnya.
__ADS_1
"Aku mau kembali ke kehidupan lama," ujarnya. Lina menengok dan menyipitkan matanya.
"Kau serius?" Lina memicingkan mata. Ekspresinya membuat Ahzarel bergidik ngeri melihatnya.
Ahzarel mengangguk dengan ragu. Wanita itu memajukan bibirnya seperti bebek yang sedang memicingkan matanya. "Aku serius, Lin. Menjauhlah sebelum kau menjadi korban."
Wanita itu langsung menjauh, menyatu dengan pintu mobil yang ada di sebelah kirinya. Mesin mobil di nyalakan. Ahzarel memegang setir lalu menghela nafas panjang.
Kakinya menginjak pedal gas hingga kecepatan mobil tidak kira-kira. Lina sedikit terkejut, tapi dia sudah terbiasa dengan itu. "Kita mau kemana?" Tanya wanita itu sambil mengigit roti dengan isi coklat yang lumer.
"Kemanapun aku mau," jawab Ahzarel sambil melewati Jembatan Alma. Lina memperhatikan Ahzarel yang begitu fokus menyetir.
Kecepatan mobilnya mulai menurun, padahal jalanan masih sepi. "Ada apa, Rel?"
Pria itu menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah seorang wanita yang menangis tersedu-sedu di bawah lampu jalan. "Suruh dia ke tempat sepi, di mana saja."
Lina menelan air liurnya. Ia menyiapkan mental lalu turun, mendekati wanita itu. Langkah demi langkah ia ambil.
Lina menyentuh pundak wanita itu. Dia menoleh ke belakang dengan perlahan. Matanya sembab, mungkin dia menangis terlalu lama.
"Ada apa?" Tanya Lina dengan lembut. Tangannya mengelus-elus pundak dari wanita itu yang bergetar karena isak tangis.
"Masalah keluarga, aku tidak mau membicarakannya." Wanita itu berusaha tidak menatap mata Lina. Ia mengusap matanya setiap air matanya menetes.
"Maafin aku," ujar batin Lina. Beberapa menit kemudian. Lina tidak mendengar langkah kaki sama sekali. Ia berbalik, tak ada siapapun di belakangnya. Kakinya berlari ke arah mobil terparkir, tapi tak ada siapapun di dalam sana.
"Ahzarel kemana?" Mata Lina terbelalak. Ia mengigit jari. Saat berbalik, wanita itu menabrak tubuh seseorang. Tubuh Ahzarel yang sudah terdapat bercak darah di pakaiannya.
"Kau membuatku khawatir!" Lina menghentakan kaki. Dahinya mengerenyit. Namun, Ahzarel justru tertawa melihat ekspresi Lina yanh kesal itu.
"Gula alami." Meski dengan ekspresi kesal, tetapi batin wanita itu tersenyum. "Cepetan kita pergi lagi," ujar Lin dengan nada kesal.
🔪🔪🔪
Tangisan bayi terdengar saat mobil yang mereka kendarai berhenti di dekat taman. Suara tangisan yang samar-sama sampai ke gendang telinga Ahzarel.
"Ada bayi," ujarnya sambil meraba telinganya. Namun, Lina tak mendengar apapun. Wanita itu menggeleng pelan.
Dengan rasa penasaran tinggi, Ahzarel keluar mobil dan mengikuti sumber suara. Semakin lama semaking jelas suara tangisan itu. Tangannya mengibas semak-semak. "Ah, kasian sekali." Mata Lina berkaca-kaca saat melihat bayi itu.
"Nampaknya dia lahir prematur, Rel." Lina membuat wajah lucu kepada bayi itu. Namun, tak sampai 10 detik, kepala bayi itu sudah terpisah dari tubuhnya.
__ADS_1
"Rel--!" Ahzarel langsung membekap mulut Lina dan menyuruhnya diam. Pria itu tetap menbekap mulut Lina dan membawanya pergi menjauh dari bayi itu.
Ahzarel langsung melempar Lina ke kursi belakang. Sedangkan dia menuju kursi pengemudi. "Kau jahat, Rel."
"Daripada tidak ada yang mengurus dia," balas pria itu.
"Rel, ada orang di depan!!" Ahzarel yang terkejut langsung menginjak pedal rem. Hampir saja mobilnya jungkir-balik.
"Astaga, Lin!"
"Kamu harusnya kasih tau dari awal!"
"Ma-maaf, Rel." Lina menunduk. Wanita itu mengigit bibir bawahnya.
"Aku cari tempat aman untuk parkir, kamu bawa manusia entah wujudnya itu ke tepi jalan." Lina mengangguk dan langsung keluar mobil.
Satu menit kemudian, Ahzarel kembali. Orang itu, seorang pria, masih syok dengan kejadian tadi. Dadanya kembang-kempis dan tangannya bergetar.
"Kita ke sana terlebih dahulu," ujar Ahzarel dengan ramah. Mereka menuju tempat gelap dan tersembunyi.
🔪🔪🔪
Pria menengok ke belakang. Secara tiba-tiba, mulutnya dimasukan benda tajam. Benda itu melukai seluruh isi mulutnya.
Sret!
Lidahnya terpotong. Darah mulai menggenang di dalam mulutnya. Ia berushaa kabur sambil berusaha berteriak minta tolong, meski tak mampu.
Pria itu melihat kedua mata dengan tatapan suka cita di atas ambang kematian orang lain.
Jleb!
Sebilah pisau menusuk matanya. Pisau itu menusuk semakin dalam, lalu memutar-mutarnya dan mencabutnya. "Hehehe~ Sayang sekali hidupmu hanya sampai di sini," gumam pria yang mengajaknya ke tempat itu sambil terkikik.
Berkali-kali pisau ditusuk di kepala pria itu. Rasanya sakit, sakit bukan main. Ahzarel juga membelah kepala itu layaknya membuka durian. Ahzarel mengeluarkan setiap organ dari kepalaitu. Begitu juga dengan perutnya.
Ahzarel mengeluarkan usus, lambung, pankreas, ginjal, dan lainnya. Bercak darah sudah menyebar di mana-mana.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Ahzarel. Dengan cepat pria itu berbalik badan sambil mengayunkan pisau.
"Aaaa!! Rel!!"
__ADS_1
"Apakah pisauku mengenainya?" Tanya Ahzarel dengan panik dalam hati.