Psychopath

Psychopath
#25


__ADS_3

Hari Senin yang cerah, membangkitkan sedikit semangat Ahzarel untuk sekolah. Ia memaksa sekolah walaupun lukanya belum pulih total.


Saat ia masuk, matanya menuju kursi miliknya dengan tas berwarna pink di atas bangkunya. Ia mendekati tas itu dan membuangnya kearah sembarang. Sang pemilik tas rupanya ada di dalam kelas dan langsung menegur Ahzarel begitu saja.


"Hey! Jangan buang tas orang sembarangan!" Mata mereka bertemu. Tentu Ahzarel langsung mengenali wanita di sebelahnya.


"Oh." Ahzarel tetap kekeh tak memberikan kursinya untuk orang lain.


"Aku duduk dimana kalau kau di situ?"


"Di lantai, di atap, di lapangan, silahkan pilih."


"Rel, biarinlah dia di situ," ujar salah satu siswa yang ada di kelas. Ia menepuk pundak Ahzarel.


"Jangan buat aku kesal." Siswa yang memegang pundak Ahzarel pun menyingkirkan tanganya.


"Ya sudah, aku pindah dasar gak tau malu!"


Ahzarel kesal dengan ucapan gadis perebut tempat duduknya. Ia melemparkan tempat pensil besi siswa di belakangnya. Tempat pensil itu melaju dengan kecepatan tinggi dan mendarat mulus di kepala bagian belakang gadis itu.


Ahzarel langsung menghilangkan kejadian tersebut dan berlagak seakan tak terjadi apa-apa.


Guru tiba-tiba masuk karena keributan yang terjadi di kelas. "Ada apa ini? Ribut sekali!"


"Ini Pak, Ahzarel dan Lina bertengkar," ujar salah satu siswi.


Begitu nama Ahzarel disebut, guru itu langsung menengok kearah kursi yang biasa pemuda itu duduki. "Huh, baiklah."


"Maaf Ahzarel, tapi saya harus tegas kepadamu. Lin, Rel, ikut saya ke lapangan."


Seluruh murid sekolah melongok ke lapangan. Melihat Ahzarel dan Lina dalam posisi hormat dan menghadap ujung tiang yang menjulang tinggi, terdapat bendera negara di sana.


Tak ada siswi sekolah melihat wajah Ahzarel di album ponsel mereka. Para siswi itu mengambil ponsel dan memotret Ahzarel. Sungguh, pria itu geram ingin mencekik satu persatu siswi tersebut termasuk yang di sebelahnya.


"Mama pasti malu melihat aku begini," ujarnya. Ahzarel meliriknya, ingin dia berbicara namun lidahnya terasa kelu.


"Semua ini gara-gara kau!"


"Kau yang mencari gara-gara," balas Ahzarel.


"Ah masih lama jam 9. Kita di sini buang-buang 2 jam berharga kita!"


"Terus?"


"Aku bisa hitam kalau di sini! Ish!"


Dengan spontan tangan kiri Ahzarel menutupi matahari yang menyinari wajah wanita di sebelahnya. "Diam jangan buat aku tambah pusing."


"Terserah," ujarnya.


Penantian selama 2 jam, bel akhirnya berbunyi. Ahzarel merenggangkan otot-ototnya. "Tau gitu aku gak masuk." Ujar Ahzarel dalam hati.


"Hey, aku mau tanya."


"Apa?" Tanya Ahzarel.


"Anu, kamu yang di rumah sakit kemarin kan?" Tanyanya balik. Ahzarel menjawabnya dengan mengangguk.


"Kamu gadis konyol itu."


"I-itu kesalahan!" Ketus Lina sambil melipat tanganya.


Ahzarel menjambak rambut Lina dan mengeluarkan pisau lalu memotongnya hingga sepunggung. "HEY RAMBUTKU!" Pekik Lina.


"Aku geram melihat rambut panjangmu tidak diikat!"


"Jahat!" Lina mencubit perut Ahzarel.


"Akh! Apaan sih!?" Ahzarel mengusap letak rasa sakit bekas cubitan Lina.


"Kamu gak tau berapa lama memanjangkan ini!"


"Makanya diikat," ujar Ahzarel sambil membersihkan sisa rambut Lina pada permukaan baju pemilik rambut.


"Sebaiknya kau minta maaf sebelum aku mengamuk!!"


"Sebaiknya kau diam sebelum aku membunuhmu!"


"Aku gak yakin kau akan lakukan itu, haha!" Lina menjulurkan lidah dengan santainya.

__ADS_1


Ahzarel menarik lengan Lina dan membuka seragamnya hingga pundaknya terlihat. Ia mulai mengukir inisial namanya.


"A"


"Z"


"H"


Terdengar isak tangis Lina sambil mencengkram baju Ahzarel sekuat tenaga. "SAKIT TAU!" Jerit Lina sambil meronta.


"R"


"L"


"Perfect," gumam Ahzarel. Matanya berbinar-binar melihat darah yang begitu banyak keluar, membanjiri baju hingga roknya.


Dengan susah payah Ahzarel menelan salivanya, melihat darah yang menggugah selera.


"Ngapain itu?" Tanya seorang pria dengan suara berat.


Ahzarel yang terkejut langsung melipat pisaunya dan menyembunyikan di kantung celana hitamnya.


Mata pria yang disebut guru itu terbelalak, melihat darah yang begitu banyak membanjiri seragam putih Lina.


"Kau buat masalah lagi, Rel?"


"Gak, Pak, ini salah saya tadi ada paku saya gak liat," jawab Lina dengan cepat.


"Kamu gak bohong kan?"


"Kalau saya bohong, saya akan cium bibir Ahzarel," jawab Lina dengan spontan.


"Um, baiklah saya percaya. Rel, tolong urus lukanya."


"Baik." Balas Ahzarel.


Di UKS. Pipi Lina merona sempurna, ia malu dilihat tubuhnya oleh Ahzarel. Ia merasa canggung karena daritadi Ahzarel membungkam mulut.


"Kau berbohong pada pak guru tadi." Lina tersentak karena suara Ahzarel.


"Uh, oya? A-aku tak ingat, ehehe."


Di sisi lain, Laura terus-menerus memikirkan keadaan anaknya. Ia merasa gelisah karena sesuatu hal yang buruk akan terjadi. "Tenang, Ra, Ahzarel sudah dewasa."


"Aku gelisah, aku khawatir."


Pintu utama terbuka, Ahzarel sedang memikul tasnya sambil bernyanyi dengan suara merdunya. "Astaga, kau membuatku gelisah!"


"Kenapa, Ma?"


"Gak apa-apa," jawab Laura yang langsung menghilangkan kegelisahanya.


"Oia, aku ada tugas kelompok, jadi--"


"Kau bakal keluar rumah malam ini. Kau akan menginap?"


"Gak kok, mungkin."


"Baiklah," ujar Laura. Ia tidak tau yang sebenarnya terjadi.


Waktu menunjukan pukul 4 sore hari. Ahzarel memakai jaket ungu tua serta masker wajah berwarna ungu kesayanganya dan membawa pisau dengan terukir nama William di sisinya.


Ia menuju ke club malam dan melihat pemuda yang satu kelas denganya sedang minum bersama wanita berpakaian terbuka yang mengelilinginya. "Hey Ahzarel!" Panggilnya dan meminta Ahzarel untuk bergabung.


"Kau mau meminjam 'salah satu wanitaku'?" Tanyanya dengan senyuman nakal sambil merangkul wanita yang ada di sebelah kirinya.


Ahzarel menaikan sebelah alisnya. "Tidak terimakasih."


Mata Ahzarel terfokus pada wanita yang menundukan kepalanya. Ia menjambak rambut wanita itu dan menariknya. Mata Ahzarel melihat wajah cantik yang tak asing di matanya.


"Lina!?" Ahzarel dan pemuda itu terkejut saat mengetahui gadis berwajah polos itu ternyata berkerja sebagai wanita penghibur.


Wanita belia tersebut langsung memukul lengan Ahzarel dan segera berlari meninggalkan tempat.


"Gara-gara lo sih!" Ahzarel melirik dari sudut matanya yang lancip lalu melemparkan pisau area bawah pemuda itu. Nasib baik menyertainya, pisau itu meleset dan menancap di sofa. "Ampun bang."


"Gak lo kejar itu?" Tanyanya kalu menengak menuman berwarna merah di dalam gelas.


"Harus? Emang dia siapanya saya?"

__ADS_1


"Ish! Pacar lo kan?" Tanya balik dengan senyuman yang menyebalkan. Ahzarel mengangkat tinjunya, dengan spontan lawan bicaranya itu mengulurkan tangan mengisyaratkan untuk Ahzarel berhenti.


Akhirnya Ahzarel memutuskan untuk mencari Lina tanpa alasan yang jelas. Ia menemukan sepasang kaki jenjang milik wanita di balik gorden hitam. Tangan Ahzarel menyibak gorden.


Di balik gorden terdapat sosok wanita dengan parah yang cantik dan memakai pakaian terbuka. Ahzarel yang melihat itu bergidik geli, rasanya mau muntah. "Bajumu kurang bahan?"


"Memang modelnya begini! Kau manusia dari pedalaman mana, sih?"


"Kau tak perlu tau," jawab Ahzarel lalu menahan kedua tangan Lina ke atas. Ia mengambil ponsel dan mengaktifkan kamera ponselnya.


"Namun, mungkin guru perlu tau kelakuan sampahmu ini."


Tidak!! Aku mohon rahasiakan ini!"


"Oh, aku tak peduli."


"Aku mohon, aku akan lakukan apapun!"


"Apapun?" Ahzarel menaikan sebelah alisnya, tak yakin. Lina mengangguk mantap, walaupun ia ragu dengan ucapanya sendiri.


"Kau jadi asisten pribadiku selama 2 tahun." Lelaki itu menyeringai, sedangkan Lina hanya terbelalak dengan mulut ternganga.


"2 tahun? Kau sehat?"


"Baiklah akan ku sebar."


"JANGAN!" Pekik Lina hingga terdengar sampai luar gedung club.


"Akh! Telingaku****." Ahzarel mengusap sekitar lubang telinganya yang terasa perih.


"Ah, maafkan aku. Baiklah aku akan menjadi asistenmu yang setia selama 2 tahun!"


"Meragukan, tapi ya sudahlah ikut aku."


"Kemana?"


"Menghirup angin malam," jawab Ahzarel sambil berjalanan menuju pintu keluar.


"Dengan baju begini kau mengajaku keluar!?"


"Ck, bisa kah kau diam saja dan jangan berteriak?"


"Terserah," balas Lina dan membututi Ahzarel. Jarinya menjepit pakaian Ahzarel dengan kepala tertunduk.


Udara dingin menusuk kedalam kulit Lina, apalagi bajunya yang terbuka seperti itu. "Hey kau, aku kedinginan."


"Kau bicara padaku?"


"Tentu saja orang pedalaman!"


"Aku punya nama," ucap Ahzarel yang tetap berjalanan, tak menggubris Lina.


"Tolonglah!"


Ahzarel yang risih dengan keluhan Lina akhirnya melepaskan jaketnya dan melempar jaket tersebut ke wajah Lina.


"Ah, tidak bisa kah kau sopan sedikit terhadap wanita?"


Ahzarel merogoh kantung jaketnya yang telah dikenakan oleh Lina. Ia mengambil lakban dan mengeluarkan pisau lipatnya. Lelaki itu menempelkan potongan lakban itu ke mulut Lina.


"Jangan dilepaskan kecuali aku yang melepasnya." Lelaki itu membuang gulungan lakban yang sudah mulai menipis dan menyimpan pisaunya.


Di tengah perjalanan, Ahzarel melihat pria sedang menggoda setiap wanita yang lewat. Ia melepas paksa lakban yang ada di mulut Lina. "Aw! Hey pelan-pelan!"


"Kau lihat pria itu?"


"Aku punya mata pasti aku lihat."


"Goda dia dan bawa kemari."


"Goda dia!? Kenapa tidak kau saja?"


"Baiklah ku sebar," balas Ahzarel sambil menyalakan layar ponselnya.


"Tidak! Baiklah aku akan ke sana," ujar Lina sambil melangkahkan kaki ke sana.


"Tunggu, kemarikan jaketku."


Lina menatap Ahzarel dengan wajah kesal. Ia jengkel terhadap pria seperti dia. Gadis itu memberikan jaketnya dan menjalankan tugasnya.

__ADS_1


"Tenang aja aku akan mengawasi dari sini." Lina menghentakan kaki dan kembali berjalan.


__ADS_2