
"Kenapa?" Ahzarel membuang kacamatanya dengan senyuman yang membuat Ardila sebal.
"Kau ... kau menipuku selama ini!!" Pekik Ardila, menjatuhkan puntung rokok lalu menginjaknya. "Dasar bocah menyebalkan!"
"Tidak bisakah kita berdamai?"
"Itu hanya mimpi," ujar Ardila. Entah, perasaan apa yang menyelimuti Ahzarel. Melihat Lina dengan bekas cambukan yang begitu banyak, serta beberapa luka di wajah wanita cantik tersebut.
"Wanita jahat!" Ketus Ahzarel. Tangannya mengepal sangat erat. Pikiran Ardila begitu aneh, dia terkekeh melihat ekspresi marah dari Ahzarel. Dia harusnya sudah tau kemarahan Ahzarel yang besar akan membuat dunia hancur seketika.
"Hahahaha!! Astaga, kau membuatku sakit perut!"
Ahzarel langsung menampar keras pipi Ardila, hingga wanita itu tersadar dan berhenti tertawa. "Jaga nada bicaramu," ujar Ahzarel dengan suara berat, terasa mengancam nyawa.
"Rel?"
"Simpul apaan ini? Mereka gak pernah pramuka atau bagaimana?" Ahzarel memandangi simpul aneh. Tali yang diikat dengan asal, tetapi sangat kencang.
"Lupakan aku. Kau lupa berapa orang di luar sana?" Suara lirih Lina membuat Ahzarel menjadi semakin iba. Dia tak mungkin meninggalkan wanita yang sedang tak berdaya begitu saja.
"Tutup mulutmu dan maafkan aku kalau kau terluka." Ahzarel mengeluarkan pisau kesayangannya, memotong tali tersebut walaupun sedikit menggores tangan Lina.
Ardila yang sendari melamun, mengumpulkan tenaga dari kebenciannya. Ia mengambil pisau daging di atas meja, mengayunkannya ke arah kepala Ahzarel.
Untung saja pria itu menghindar, jadi tak mengenai tubuhnya. "Dasar wanita menyebalkan!"
"Tangan kosong kalo berani!" Ahzarel benar-benar menantang wanita itu tanpa pikir panjang. Lina hanya bisa menonton dari kejauhan sambil menghela nafas.
Ardila tak membuang pisau daging tersebut, tapi ia malah terus mengayunkannya dan berusaha mengenai tubuh Ahzarel, berharap terpotong.
Dengan lincah pria itu menuju ke belakang Ardila, lalu menusuk ubun-ubun wanita itu, diiringi dengan suara patahan-patahan tulang. Tak hanya itu, Ahzarel berusaha membelah dua Ardila. Ia jadi ingat, wanita ini membunuh ibunya yang sangat Ahzarel sayang.
Ahzarel langsung menarik pisau tersebut hingga wanita itu terbelah. Darah berceceran dimana-mana. Bercak darah membanjiri baju Ahzarel. Pisaunya pun terbalut sempurna oleh darah segar berwarna merah itu.
Dari situ, ternyata ia tak mengenai jantung Ardila, terlihat jelas berdetak lemah. Ahzarel menusuk vena hingga darah mengucur keluar dengan deras, jantung itu pun berhenti berdetak.
"Tinggal pria bandar narkoba itu saja, semoga dia bukan siapa-siapa wanita ini." Pintu dibuka paksa oleh pria-pria yang Ahzarel tipu. Pria itu menggendong Lina dan terjun bebas dari lantai 5 menuju kolam renang.
__ADS_1
Lina memunculkan kepalanya, ia seperti melihat lautan darah dan mencari-cari Ahzarel. Tubuhnya tenggelam sampai leher membuatnya sesak bernafas. "Dinginnya, Ahzarel hilang."
Tak lama Ahzarel memunculkan kepalanya. Memang sudah takdirnya Ahzarel tinggi. "Tingginya dirimu," gumam Lina. Pria itu seperti mencari sesuatu di dalam air.
"Makanya olahraga," sahut Ahzarel dengan mata yang tetap terarah ke dalam kolam. Wanita yang sedang berusaha bernafas dengan lega itu menggerutu dalam hatinya.
"Kemana ya pisauku****?" Tanyanya kepada diri sendiri. Pria itu tiba-tiba menyelam seakan ditarik oleh seseorang dari bawah.
"Rel?? Rel??" Panggil Lina dari permukaan air. Saat itu juga Ahzarel muncul, ia seperti mengantungi sesuatu yang tentu saja itu pisau miliknya.
"Ayo pulang," ujar Ahzarel sambil berjalan ketepi. Dengan mudahnya dia naik ke tepi kolam. Tangannya terulur untuk membantu Lina.
"Cepetan, dingin tau!"
"Sabar dong!" Balas Lina yang ikut kesal.
"Cie!" Ujar seseorang dari belakang Ahzarel. Wanita dengan rambut pendek yang cantik, Ran.
"Kalian udah baikan?" Ahzarel dan Lina menatap satu sama lain dengan bingung. Ahzarel berdeham saja, mengiyakan walaupun dia tak mengerti.
[Flashback]
"Hati-hati dong!!" Protes Ahzarel yang sedang menyamar sebagai Gabriel sambil melipat tangannya.
"Gue gak tau, tadi tiba-tiba ...." Ran melihat sekeliling, tak ada yang mencurigakan sama sekali.
"Sudah, lampunya udah hijau. Ayo nyebrang," ujar Gabriel. Ia jalan mendahului Ran.
"Kenapa lo menyusul?"
"Jujur, aku rindu Lina. Aku penasaran kehidupan dia jadi guru. Haha pasti sangat canggung dengan murid-muridnya."
"Cih, gue kira apaan," ujar Ran sambil melipat tangannya. Wanita itu mengeluarkan pistol dari balik roknya saat sudah di dalam gedung. Gedung yang tempatnya begitu terpencil, alias ditutupi oleh gedung-gedung tak terpakai yang mengelilinginya.
"Gue akan menembak mereka semua, lo akting saja."
"Baiklah bos." Gabriel segera berpura-pura. Dia memang cocok menjadi aktor sepertinya.
__ADS_1
Namun, saat para bawahan Ardila keluar, amunisi pistol Ran habis. Ia lupa membawa cadangan. Wanita itu bersembunyi di tempat yang sangat tertutup, ternyata di tempat itu ada tempat lain.
Terdapat beberapa senjata dengan amunisi penuh. "Wah, keren! Colong satu ah!" Ran menimbang-nimbang cukup lama.
Pada Akhirnya ia mengambil salah satu pistol tersebut beserta amunisi cadangan. Perlahan dia menuju lantai paling atas yaitu lantai 5. Segerombol orang sedang mendobrak pintu secara bergantian.
Ran menyiapkan senjatanya dan membidik kepala mereka. "Semoga gak meleset." Ran menarik pelatuk.
Dor .... Dor ....
Saat semuanya sudah terbunuh, di dalam ruangan ternyata suda tidak ada manusia itu, hanya mayat Ardila yang menjijikan.
"Cih, kabur gak bilang-bilang!" Ran mendengar dari bawah, air yang dihantam dengan benda besar. Wanita itu melongo dan melihat air jernih itu menjadi warna merah secara perlahan.
"Loh! Kamveng!!" Jerit batin Ran. Ia segera turun sambil menghindari mayat yang bergelimpangan itu.
"Enak banget dia terjun bebas sedangkan gue harus naik turun tangga." Kaki Ran mulai pegal, dia duduk sebentar di anak tangga. Memandangi pistol baru yang ia punya.
Tadi juga Ran melihat pisau daging di dekat tangan wanita tua bernama Ardila itu. "Udah bau tanah, masih weh nyusahin," gerutu Ran dalam hati.
"Tapi Si tua bangka itu tau selera bagus juga." Gendang telinga Ran menangkap suara Lina sedang memanggil-manggil Ahzarel dengan nada panik.
Ran langsung bergegas menuju lantai 1 ke kolam renang. Disaat dia sampai, Ran melihat dua insan itu berpegangan tangan dengan pandangan mata yang memiliki nilai estetika di dalamnya. Segera dia mengeluarkan ponsel dan membuka kameranya.
Cekrek!
"Buat keturunan lo nih, Rel."
[Flashback off]
Ran membuka galerinya dan tertawa sendiri memandangi sepasang insan yang begitu serasi di matanya.
"Ngapain sih?" Tanya Lina sambil menengok ke kursi belakang di dalam mobil. Ran hanya menggeleng, lalu melanjutkan tawanya.
"Biarkan aja orang gila kayak gitu," ujar Ahzarel. Ia melipat tangannya lalu menyandarkan kepalanya di pundak Lina.
Sungguh, Ran ingin tertawa sampai pita suaranya keluar dari tenggorokannya, tapi dia harus menahan itu dengan memukul-mukul jok mobil di sebelahnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, jangan buat sepupuku gila."