Psychopath

Psychopath
#36


__ADS_3

Lina sudah menyelesaikan kelas, ia merenggangkan tubuhnya. Ia merasa lelah dan bosan hari ini, sampai ia menguap beberapa kali. "Ngapain ya?" Tanyanya pada diri sendiri.


Tugasnya begitu banyak hingga membuatnya stres. Ia berniat meunda tugas tersebut untuk sehari. "Hai, Lina," sapa seseorang, melongo jendela. Pria itu adalah Ahzarel, ia menyapa wanita yang terukir di hatinya.


"Sejak kapan kau di situ?" Tanya lina kepada Ahzarel.


"Mungkin 10 menit yang lalu****." Ahzarel memandang langit dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


"Ya sudah, sana pulang," ujar Lina seraya merapikan buku-bukunya. Ia berjalan keluar kelas, menuju ruang loker.


Di tengah jalan, Lina lupa dengan ponselnya sendiri. "Ya Tuhan, Lina! Kamu bodoh sekali!" gumam batin Lina sembari menepuk dahi.


Terpaksa wanita belia itu menuju kelas dan mendapati Ahzarel duduk di kursinya dengan kaki panjangnya, yang menjulur di atas meja. Tanganya memegang ponsel, sambil terkikik.


"Haha, fotomu masa kecil lucu juga."


"Kembalikan ponselku." Lina menyodorkan tanganya untuk menerima ponselnya.


"5 menit," balas Ahzarel. Belum menyentuh detik ke-300. Ahzarel sudah mengembalikan ponselnya.


"Terimakasih gambarnya," ujar Ahzarel sembari menyeringai. Ia lompat keluar jendela sesekali melihat ke belakang dan melambaikan tangan.


"Gambar?" Lina melihat galerinya kosong, semua foto2nya sudah diambil Ahzarel. "AHZAREL!" Pekiknya keluar jendela.


Karena hal itu, seluruh mahasiswa dan mahasiswi menengok ke arah Lina. "Ah, maaf!" Ujarnya sembari membungkukan tubuh.


"Ahzarel sialan," gumam batin Lina. Ia langsung pulang saja, daripada ia semakin stres di luar bertemu Ahzarel, sengaja ataupun tidak.


Sampai di apartemen, Lina melompat ke atas kasur. Melompat-lompat di atasnya, sambil bernyanyi lagu dengan acak, serta volume yang tinggi.


Tiba-tiba sebuah pesan masuk, dari nomor yang tak ia kenal. Seluruh foto masa kecilnya kembali, diakhir semua foto itu terdapat tulisan 'peace'.


"Menyebalkan sekali manusia ini."


Pria berambut hitam legam sedang bersembunyi, memperhatikan Laura yang mengunjungi tempat peristirahatan suaminya. Ia membidik tepat di jantung wanita itu berada. Ketika titik fokus sudah stabil, pria itu menarik pelatuk.


Ia menggunakan senapan kedap suara. Itu sebabnya tak mengundang keributan. Darah merembes pada baju putih wanita itu.

__ADS_1


Orang-orang yang berziarah lainnya dengan panik berusaha menghentikan pendarahan Laura, memberikan pertolongan pertama. Namun, saat ambulans sedang di perjalanan, Laura menghembuskan nafas terakhir di sebelah makam suaminya.


Pria itu pergi meninggalkan lingkungan pemakaman. Ia mengambil ponsel dan memberitau, semuanya beres.


Wanita di seberang telfon menyeringai sambil terkekeh dengan nada kejam. "Mari kita lihat, bagaimana kau bertahan Ahzarel?"


"Salah sendiri kau membunuh adik kembarku, dasar iblis!!" Wanita itu melempar, membalikan meja dengan api amarah yang berkobar.


Rasa dendam mendekap lubuk hatinya. Seakan bom yang akan meledak, ia berteriak sekencang-kencangnya di dalam ruangan pribadinya itu.


Wanita itu ngambil tongkat kasti dan mengayunkan benda tersebut ke benda apapun di sekitarnya. Ia membayangkan bahwa benda-benda tersebut adalah pria yang ia benci, dendam kesumat.


"Lihat saja raja iblis, aku akan membunuhmu dalam waktu singkat!"


Wanita itu mengambil ponsel, dadanya kembang-kempis karena amarah yang masih menggebu-gebu. Ini baru setengah dari amarahnya, sisanya masih tertahan di lubuk hati.


"Kau membunuh suamiku, adik kembarku, bahkan anaku. Begitu kau lahir kesialan datang bertubi-tubi kepada anaku!"


"Terutama wanita dengan mata ungunya yang jelek! Kampungan seperti itu, kenapa bisa Wil jatuh cinta padanya?"


Wanita itu kembali duduk dan mengingat masa lalunya.


Tanggal 29 Februari, Wil dan Sean merasakan udara dunia yang masih hangat di ruang persalinan. Bibirnya tersenyum manis, sangat lucu seperti mochi.


Ardila, Ibu kandung Wil. Tersenyum melihat pangerannya lahir. "Sehat terus ya sayang mama," ujarnya, lalu mencium kening putranya itu.


"Aku mau namain dia, William dan Sean."


"Haha, aku setuju sayang."


Tahun demi tahun berlalu, Wil baru saja pulang dari sekolahnya, menggunakan bus sekolah. Baru saja ia membuka pintu, pemandangan mengerikan menyambutnya.


Kedua orang tua yang tergeletak dengan darah yang menggenang di sekitarnya. Di tengah mereka terdapat pria yang memegang pisau berukuran kecil.


Pria itu langsung pergi meninggalka rumah. Wil mengguncang kuat tubuh kedua pasangan suami istri itu. Sembari menangis karena mereka tak kunjung bangun.


Anak polos itu bingung harus apa, dia mengambil koper dan pergi keluar rumah. Sampai menemukan orang tua yang baru.

__ADS_1


2 jam setelah Wil meninggalkan rumah, Ardila membuka mata, dengan sekujur tubuhnya yang sakit akibat tusukan yang diberikan oleh pria tadi. Ia membangunkan suaminya juga dengan paksa.


Ketika suaminya sadar, Ardila memanggil-manggil Wil. Namun, anak itu tak kunjung datang.


Ia berlari dengan panik, suaminya pun membantu. Mereka berpencar mencari Wil sampai mengelilingi kota mereka tinggal, namun tak ada satupun orang yang tau Wil.


"Tidak ada satupun orang yang melihat anak kita," ujar Ardila.


Sang suami, Rahen, juga berpendapat sama. Ia mengangguk dengan wajah yang kecewa.


"Tapi kita masih ada Sean sayang. Tenang ya," ujar Rahen. Ia mengelus pundak Sang istri dan kembali ke rumah.


Sean sedang menonton televisi dengan pakaian seragamnya yang belum ia ganti. "Sayang ganti seragamnya dong, sini papa mandikan ya," ujar Rahen. Ia menggendong anaknya dan membawanya ke kamar mandi.


Ardila mondar-mandir di kamarnya, ia khawatir pada Wil yang menghilang. Saat Sean berumur sekitar 22 tahun. Mereka pindah kota. Sean ingin mencapai cita-cita sebagai dokter bedah.


Ia pindah ke salah satu universitas di kota yang cukup jauh dari kota ia tinggal. Tak sengaja Sean melihat Sang kakak bersama Laura, sedang memakaikan kalung wanita itu, dari situlah pertemuan antara Ahzarel dan kembarannya.


Padahal ibunya sudah berpesan kepada Sean, "Apapun kesalahan kakakmu, jangan laporkan dia ke polisi."


Sean menurutinya sampai perang itu dimulai. Sean mulai menaruh dendam pada kembarannya sendiri. Ia dengki dan benci karena kehidupan Wil yang tidak pernah diselimuti oleh utang piutang.


Namun karena dendam pernah melukai dirinya, Sean mengumpulkan bukti sebelum ia meninggal. Bukti dari beberapa cctv dan isi ponsel Wil.


"Kamu ngapain Sean?" Tanya ibunya. Sean sedang sangat fokus, tak menjawab pertanyaan ibunya tersebut. Tanganya sibuk mengotak-atik keyboard dan mouse.


"Sean?" Panggil ibunya. Sean menengok dan segera menutup layar laptopnya.


"Eh, Ma, belum tidur?"


"Sean ini jam 8 pagi."


"Eh, um, aku lapar! Ma tolong ambilkan sarapan ya! Makasih!" Sean mendorong punggung ibunya, hingga keluar kamar.


Sean melambai lalu menutup pintu kamar. "Hampir saja ketauan," ujar Sean sambil menghela nafas lega. Ia duduk kembali pada kursinya, dan bersandar dengan tubuh yang lesu.


"Aku benci kau bahagia Wil, bisa-bisanya kau tinggalkan mama papa yang sekarat waktu itu. Dasar bodoh!"

__ADS_1



__ADS_2