Psychopath

Psychopath
#21


__ADS_3

Udara dingin menusuk kulit Laura. Ia sampai memakai 2 jaket sekaligus untuk menghangatkan diri. Namun, tetap saja tanganya terasa kedinginan di kamar yang begitu luas serta AC yang menyala.


Ia heran melihat Wil yang tak merasakan dingin sama sekali. Pria itu memakai kaus lengan pendek, terlihat dia tidak mengigil sama sekali.


"Aku yakin tubuhnya terbuat dari api neraka," ujar batin Laura.


"Kalau aku api, aku sudah membakar rumah."


"Kau membaca pikiranku?" Laura memajukan bibirnya seperti bebek.


"Insting seorang suami," jawab Wil. Pandangan pria itu tidak teralihkan dari layar ponselnya. Ia sesekali melirik Laura atau jendela.


"Sudah bulan ke 9, aku ragu rasanya."


"Kenapa?"


"Astaga, kamu gak belajar biologi?"


"Oh, terus kenapa kau ragu? Gak akan sakit juga."


Laura mengambil bantal sofa dan melemparnya kearah Wil. Bantal itu mendarat mulus mengenai Wil. Ponselnya pun lepas dari genggamanya dan menghantam nakas hingga terpecah-belah.


"Astaga, maafkan aku Wil," ujar Laura. Ia menunduk dan mencengkram lengan jaketnya.


"Ya ya ya, aku harap kartu memorinya gak apa-apa," ujar Wil sambil memunguti bongkahan ponselnya.


Beberapa menit kemudian. Laura merasakan sakit pada perutnya. Menyadari hal itu, Sang suami mengambil kunci mobil dan menggendong istrinya menuju mobil.


Cukup lama proses bersalin. Laura merasa lega saat mendengar tangisan Sang anak. Anak laki-laki yang sehat dan sempurna. "Lucu banget sih hihihi!" Laura mengelus-elus pipi anaknya itu.


Rambutnya coklat seperti dirinya. "Kamu mau namain dia siapa?" Tanya Laura, pandanganya terfokus pada bayi mungil di sebelahnya.


"Kenapa kau tanya aku?"


"Karena aku mau kamu yang kasih nama. Gimana sih?"


Wil berfikir sejenak, ia menatap bayi yang matanya tertutup, tubuhnya di bungkus dengan kain yang hangat.


"Gabriel Ahzarel Zhou," ucap Wil.


"Namanya bagus****," ucap Laura.


Wil hendak melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut. Langkahnya terhenti saat Laura manggilnya.


"Wil, kamu mau kemana?"


"Menghirup udara segar," jawab Wil.


"Ya sudahlah, jangan lama-lama."


"Hm," balas Wil singkat.


Angin berhembus kencang. Awan hitam menutupi langit yang cerah saat itu. Hujan deras turun seketika.


Mata Wil terfokus pada seorang pria yang mengenakan jaket berwarna hitam. Ia menyipitkan matanya untuk memastikan siapa pria itu.


"Sean?" Tanyanya dalam hati. Ia mengejar sosok pria tersebut. Hingga suara klakson kendaraan mengganggu konsentrasinya.


Di sisi lain Bulan bersama Kardita sedang di kafe. Waktu sudah petang hari.


"Lan, gue disuruh pindah sama papi gue," ujar Kardita.


"Ngapain dan kemana?"


"Untuk urusan kerjaan di Perancis."


"Wah, semoga sukses!"


"Makasih banget Bulan," ujar Kardita. Ia membayar pesananya bersama Bulan dan pamit pulang.


Di rumah ia langsung disambut oleh para pembantunya serta Ayahnya.


"Anaku, kau siap untuk besok?"


"Tentu, Pa, tapi aku gak mau lama-lama. Aku rindu teman-temanku!"

__ADS_1


"Ayolah, disana kau bisa mendapatkan teman juga kok. Sudah, papa gak mau dengar alasan lagi," ujar kepala keluarga itu.


Kardita berdecak lidah sambil melipat tanganya. "Dasar orang tua menyebalkan!"


Di kamar Kardita sedang bermain game online di komputernya. Ia begitu fokus sampai tak menyadari kalau adiknya sudah memperhatikanya selama 2 jam lebih.


"Kakak gak bosan?"


"Kau mengejutkanku!"


"Kakak yang terlalu fokus! Gimana sih?"


"Terserah, apa maumu?"


"Liat berita ini deh kak," ujar adiknya dengan layar ponsel yang menampilkan berita utama kampus.


"Bohong! Sean terbunuh?"


"Iya kak! Huh, pacarku!"


"Mimpi! Lebih tepatnya idolamu!"


"Terserahlah, kasian dia. Bagaimana nasib orang tuanya?"


"Jangan pikirkan itu. Bantu aku kemas baju untuk besok," ujar Kardita sambil mematikan komputernya. Ia mengambil koper yang ada di dalam lemari putih.


Kardita membuka koper hijaunya dan memasukan baju-baju yanh ia perlukan. "Aku akan bilang ke papa untuk kasih kakak uang jajan, ehehe****."


"Eh! Bantuin aku dulu!"


"Males!" Pekik adiknya dari balik pintu.


"Ish! Gak guna," gumam Kardita.


Sedangkan Laura. Dia sedang menggedong anaknya yang sangat tenang di dekapan Ibunya.


"Papa kamu kemana ya sayang?"


Laura mendengar suara kenop pintu di buka. Seseorang mengenakan pakaian hitam putih serta topi hitam dengan bercak darah yang merembes di bajunya itu terlihat jelas.


"Wil kamu kenapa?" Laura mendekati suaminya. Ia tak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan.


"Kecelakaan kecil kok, ketabrak truk doang****."


"Kamu hantu!"


"Hantu itu gak ada," ujar Wil, menyibak rambutnya dan memperlihatkan lukanya yang ia terima karena terbentur aspal ke cermin.


"Kamu basah kuyup juga. Kenapa kamu gak pulang aja?"


"Nanti kamu kesepian," jawab Wil. Ia tersenyum sambil menghadap cermin. Ia melihat pantulan banyangan istrinya yang sedang menggendong Ahzarel di cermin.


"Pokoknya kamu harus diet****."


Laura menengok kearah cermin, melihat senyum menyebalkan Wil. Rasanya ingin sekali merusak wajah tampanya itu.


"Ahzarel, kamu jangan kayak papa ya. Papa kamu jelek hihi," ujar Laura sambil menyeringai kearah Wil.


"Kamu bilang apa?" Wil mendekati Laura sampai wanita itu terpojok.


Seketika itu Ahzarel menangis kencang. "Kan!" Ujar Laura sambil menatap Wil lekat-lekat.


"Diam saja****." Wil mencium bibir Laura dengan tangisan Ahzarel yang mengiringi.


Keromantisan itu terhenti saat seorang suster tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. "Maaf! Saya akan pergi," ujar suster itu sambil menutup pint kembali.


"Malu tau!" Laura mengembungkan pipi layaknya ikan buntal. Namun, Wil langsung mengempiskanya.


"Aku suruh Sam bayar ini itu nanti. Aku pulang ya****."


"Aku juga mau pulang!"


"Besok aku jemput kamu," ujar Wil lalu mengecup sekilas bibir istrinya.


Di luar ruangan. Wil dikejutkan dengan kepanikan Sam. Pria itu panik karena banyak darah yang terdapat di baju Wil.

__ADS_1


"Tuan! Anda kenapa? Anda dipukul?"


"Disakiti?"


"Mau dibunuh?"


"Atau malah, kecelakaan? Maaf tuan aku si--"


"Tutup mulutmu sebelum aku merobeknya," ujar Wil dengan lirih di dekat telinga Sam.


"Baiklah."


Berjalan menuju keluar rumah sakit. Sam memberikan kunci mobilnya kepada Wil.


"Kalau kau tidak sampai rumah sebelum aku, lindungi lehermu."


Sam menutup lehernya dengan tangan dan menganggung berkali-kali. Ia berlari menuju administrasi rumah sakit.


Sam mengentikan kakinya mendadak dan tersandung dengan tali sepatunya sendiri.


"Permisi saya ingin...." Ucapan Sam terhenti saat melihat paras suster yang begitu cantik di matanya.


Pipinya merona, jantungnya seakan ingin keluar dari tubuhnya. "Ya Tuhan, tolong aku. Tenang Sam, tenang!"


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Ah, iya. Saya ingin membayar biaya persalinan Nona Laura."


"Anda suaminya?"


Tidak, saya asisten pribadi suaminya."


"Oh, baiklah."


Sam tiba-tiba teringat ucapan Wil. Ia mengigit bibirnya hingga terluka. Ia dengan gelisah melihat jam di ponselnya.


Sedang fokus memperhatikan jam, panggilan masuk dari Wil. Ia melempar ponselnya dan menginjaknya hingga mati daya.


"Aku terpaksa beli handphone baru besok."


"Tuan tidak apa-apa?"


"Saya baik-baik saja!" Ujarnya dengan nada yang tinggi, dirinya masih panik dan merasa dihantui.


Sedangkan Wil. Dia kesal karena Sam tidak mengangkat telfonya. Ia merebahka diri di sofa ruang tamu dan mematikan seluruh lampu.


Sejam berlalu. Wil belum juga tertidur sampai asistenya tersebut datang. Pintu terbuka saat Wil ingin menutup matanya.


Sam berjalan mengendap-endap memasuki ruang tamu, dengan bodohnya ia mendekati dimana Wil berada.


Sudah merasa begitu dekat, Wil menyalakan semua lampu lewat ponselnya. Sam menjerit dan berjongkok sambil melindungi kepalanya. "TOLONG JANGAN PENGGAL AKU!" Pekiknya.


"Kamu pacaran sama suster di sana? Lama sekali sampai rumah!"


"Tuan, di jalanan macet. Jadi, saya agak lama ke sini."


Wil menyalakan televisi dan memperlihatkan cctv jalan raya yang menunjukan jalanan cukup sepi dan lancar. "Mengaku saja!"


"Tolong jangan penggal saya. Kasian saya belum menikah."


"Cih, aku gak pernah mengeluh seperti itu," ujar Wil.


"Karena anda sudah nikah."


"Iya ya. Eh! Tapi sebelum aku menikah!"


"Pembual," gumam Sam. Ia sangat ingat waktu menjemput Wil di bandara. Pria berambut putih itu mencurahkan isi hatinya, dia merasa kesepian karena tidak punya kekasih, begitu terus selama 3 hari.


"Aku beri kau waktu seminggu untuk mencari pasangan. Tapi, kekasihmu itu menemani Chalis sebagai asisten rumah tangga."


"Gak adil," gumam Sam.


"Katakan itu sekali lagi."


"Um maksudnya, terimakasih atas kebaikan tuan!"

__ADS_1


"Aku berharap bisa menjaga keluarga kecilku dengan baik. Ntah kenapa, aku merasa akan kehilangan." Wil memijat pelipisnya yang terasa pusing.


__ADS_2