Psychopath

Psychopath
#48 -Penyesalan yang datang terakhir-


__ADS_3

Rumah putih tempat tinggal Ahzarel, lebih tepatnya peninggalan Sang Ayah. Banyak kenangan di rumah itu termasuk kenangan bersama ibunya.


"Mama ...." Memandangi foto keluarga yang berada di bingkai foto dengan perasaan yang campur aduk.


DOR


Sebuah tembakan mengejutkan seisi rumah. Mereka berlari mencari perlindungan. Termasuk Lina dan Ahzarel, mereka bersembunyi di loteng dan siap terjun jika pintu diterobos.


"Sstt." Ahzarel menempatkan telunjuk di depan bibir. Dia meminta agar Lina dan Ran diam. Sedangkan Leo berjaga di depan pintu, dia akan menembak jika seseorang masuk ke dalam.


"Rel, mending kita serahin diri aja. Gue capek!" Ujar Ran dengan lirih. Dia mengacak-acak rambutnya.


Ahzarel juga bingung, dia juga lelah saat ini. "Kita lari keluar saja, kalian siap lompat?"


"Mau bunuh diri atau--"


DOR DOR


Ternyata pintu berhasil diterobos. Mau ta mau mereka melompat. Sakit rasanya terkena tanah yang keras itu.


Sedangkan Leo?


Mereka bertiga berlari ke jalan. Sekencang mungkin hingga batang hidung orang misterius itu tidak terlihat.


"Rel, gue capek sumpah. Kita mau kemana lagi?"

__ADS_1


"Kemana saja, ayo."


Mereka menuju rumah kosong yang benar-benar tak berpenghuni. Suasana horor menyelimuti tempat itu.


Suhu dingin yang begitu mendukung. Ahzarel berjalan-jalan tidak menentu di dalam rumah itu. Dia jadi teringat saat dia di sekap.


BRAK!


Pintu terbuka tiba-tiba. Semua peluru ditembakan secara asal sehingga mengenai mereka ber-3 dan tersungkur. Namun, Ahzarel masih bisa melihat dengan jelas. Tubuh Lina yang diseret kasar membuatnya marah.


DOR


Ahzarel menutup mata rapat-rapat, yang tertembak itu adalah Ran. Dia melindungi Ahzarel apapun yang terjadi.


Sebuah tamparan mendarat mulus mengenai pipi kiri Ran. "Rel, lu harus selamat ya. Gue mohon," ujar Ran sambil terisak.


DOR!


Darah keluar dari kepala Ran dan mengenai tangan Ahzarel. Lelaki itu sudah tidak memiliki harapan lagi. Dia menyerah dan membiarkan dirinya dibawa oleh sekelompok orang itu.


"Bagus, gini dong menyerah!" Ujar salah satu pria yang ada di sana.


Kulit ahzarel dikelupas sedikit demi sedikit, tetapi rasa sakit itu tidak sesakit kehilangan orang yang dia sayang.


Harapan pupus, Ahzarel hanya bisa berharap salah satu dari keluarganya menjemput dia. Bertemu dan berkumpul kembali bersama.

__ADS_1


"Mustahil." Satu kata di batinnya membuat dia semakin kehilangan harapan. Dia menatap langit-langit yang gelap itu sambil berhalusinasi.


Dia sampai tidak sadar kalau jiwanya sudah terpisah dari raga. Dia dudum sendirian di situ sampai orang-orang meninggalkannya sambil membawa mayat Ahzare yang sudah hancur sehancur-hancurnya.


Tak ada yang menemaninya. Sendirian di atas penyesalanlah yang Ahzarel rasakan. Dia ingin menangis, tetapi air mata tidak keluar juga.


Dia menatap sekitar, ruangan yang benar-benar kosong. Ahzarel menutup mata lalu membukanya beberapa menit kemudian.


"Rel! Ngapain di situ?" Ujar seseorang dari kejauhan. Ahzarel menoleh, itu adalah Lina. Dengan wajah cerianya dia melambaikan tangan. Sambil membawa seikat bunga yang begitu cantik di tangannya.


Ahzarel tidak menyusul, dia takut itu hanya imajinasi gilanya saja. Tapi ....


Ctak!


Kening Ahzarel dijitak oleh Ran cukup keras. "Gabung atau nambah jitakannya?"


"Iya, iya! Bawel!"


Namun, Ahzarel kembali menyadari. Dia tidam bisa mendekati mereka. Tempat dia ada di belakang dari tempat indah itu. Kesepian dan terkena siksaan di atas penyesalan.


"Maaf aku gak bisa gabung."


-Tamat-


(Author menangis mengetik ini (😂 cringe))

__ADS_1


__ADS_2