
3 Tahun kemudian.
Ahzeral berlari masuk kedalam rumah dengan berlinang air mata. Laura yang sedang membaca majalah terkejut karena hal itu. Ahzeral melompat dan memeluk Ibunya tersebut.
"Mama," ujarnya dengan lirih di dekapan Laura.
"Kenapa sayang? Kok kamu menangis?"
"Semua temanku di sekolah menertawakanku dan menghinaku! Karena aku tidak bisa Bahasa Perancis, Ma!"
"Kamu jangan dengarkan mereka ya," ujar Laura sambil mengelus kepala Ahzarel.
"Kata-kata mereka menyakitkan, Ma. Aku gak mau sekolah besok!" Ahzarel menangis semakin kencang. Hatinya benar-benar terluka dengan ucapan semua murid di sekolah.
"Kamu harus sekolah. Kalau kamu sekolah kamu jadi pintar dan menunjukan bahwa kamu bisa berhasil walaupun tak lancar berbahasa Perancis." Laura menggenggam tangan mungil Ahzarel.
"Iya, Ma. Aku ganti baju dulu," ujar anak itu sambil menghapus air mata di pipinya yang gembul.
Selesai di bantu oleh Chalis untuk mengganti bajunya, Ahzarel menuju taman belakang rumah untuk bermain di tenda.
Ia melihat burung kecil dengan dengan sayap yang patah. Ahzarel awalnya tidak peduli, tapi suara kicauanya yang menggangu, akhirnya anak itu menggali lubang dan mengubur burung itu. "Berisik sih!" Ia menginjak gundukan tanah lalu menandainya dengan ranting tanaman.
"Apa itu?" Ia heran kenapa ada hewan bisa masuk ke taman belakang. Ia menggendong seekor anak kucing dan membawanya ke dalam rumah.
"Mama, ini apa?" Tanyanya sambil menunjukan anak kucing yang masih sangat kecil.
"Lepaskan dia, Rel, itu anak kucing yamg baru lahir."
"Anak apa?"
"Kucing, Rel. Letakan dia di tempatnya tadi."
Ahzarel menurut saja, dia ke pintu belakang dan melempar anak kucing itu menjauh.
"Cuci tanganmu ya," ujar Ibunya yang masih fokus dengan kertas-kertas yang berisi banyak tulisan dan diagram lingkaran.
"Iya, Ma," balasnya. Anak laki-laki itu mencuci tanganya dan mengeringkanya dengan handuk. Tiba-tiba ia teringat Ayahnya. Wajah ayahnya yang hendak marah waktu Ahzarel umur 3 tahun.
"Aku rindu papa," gumamnya.
Kakinya melangkah hendak duduk di sofa bersama Ibunya, namun wanita itu tidak ada di tempat. "Mungkin tidur," duganya.
Ia memutuskan untuk berjalan keluar rumah meski Ibunya pasti melarang. Berjalan menyusuri jalan sendirian hingga ia bertemu 3 teman sekelasnya.
"Wah, lihat anak baru kita Joan."
"Gak bisa Bahasa Perancis katanya." Mereka semua tertawa di depan Ahzarel.
"Kasian, dia masih kecil. Lihatlah bahkan ukuran tubuhnya di bawah standar!"
"Diam!" Bentak Ahzarel yang marah.
"Lihatlah dia marah!" Ujar salah satu dari mereka lalu kembali tertawa.
Ahzarel kesal. Ia memukul perut anak laki-laki yang berada di tengah hingga terpental. "Tertawalah lagi!!" Ujarnya dengan kepalan tangan yang erat.
2 anak lainya membalaskan dendam dengan maju memukul Ahzarel. "Merepotkan," ujarnya dalam hati.
Ahzarel menendang tulang kering 2 anak itu dengan keras. Ia mengeluarkan pisau lipat milik Ayahnya dan mengukir nama inisialnya.
__ADS_1
Saat sedang asik melalukan itu, banyak orang yang melerai dan menjauhka mereka berempat. "Lepaskan aku!" Pekik Ahzarel sambil melihat 3 anak laki-laki tadi dengan penuh kebencian. Warga yang melerainya membawa Ahzarel pulang ke rumahnya.
Bel rumah ditekan, Laura membuka pintu dan melihat anaknya bersama orang lain. "Permisi, anak anda melukai orang, lebih tepatnya anak kecil." Laura mengerti apa yang orang itu katakan. Matanya terbelalak melihat anaknya, tanganya memegang pisau milik Wil dengan darah yang menetes.
"Maafkan anak saya, terimakasih sudah mengantarnya kemari."
"Iya, saya pamit, permisi." Orang itu pergi.
Laura menarik anaknya masuk ke dalam. Sejujurnya dia ingin sekali marah kepada anaknya itu. "Apa yang kau lakukan?"
"Cuma pukul mereka dan mengukir namaku. Apa itu salah?"
"Itu salah, temasuk tindakan kejahatan kau tau?"
"Aku gak tau dan gak peduli!"
"Sudah, pergi ke kamarmu!" Ujar Laura dengan tegas. Ahzarel yang masih kesal membating pintu kamarnya. Ahzarel membuka kamus Bahasa Perancis dan mempelajari setiap katanya.
Laura masuk ke kamar anaknya dengan nampan di tanganya. "Makan dulu, nanti kamu sakit."
"Gak mau, bawa makanan itu pergi!"
"Kalau kamu gak makan, nanti papa marah loh!"
"Papa udah gak ada, gak mungkin marah!" Foto keluarga yang ada di tepi meja belajar Ahzarel jatuh, kacanya pun berhamburan kemana-mana.
"Tuh, makanya makan sayang," ujar Laura. Ia menyendokan makanan ke mulut anaknya. Dengan terpaksa anak itu memakan makananya.
"Kamu bisa makan sendirikan? Mama mau bersihkan serpihan kacanya biar kamu gak terluka."
"Ya, Ma."
"Andai waktu bisa diulang ya, Ma," ujar Ahzarel.
"Kamu rindu papa kamu?"
"Banget, Ma! Aku main sama dia cuma sebulan sekali. Papa sibuk terus****." Ahzarel yang kehilangan nafsu makan, mengaduk makananya.
"Eh, jangan dimainin makananya. Kita jenguk papa setelah kamu makan."
"Beneran!? Hari ini!?"
"Iya sayang," jawab Laura.
"YES! AYO PERGI SEKARANG!" Pekik Ahzarel dengan antusias. Rasanya ingin melompat sampai luar angkasa saking senangnya.
"Tunggu sebentar ya, mama beresin ini dulu."
2 menit Ahzarel menunggu di ruang tamu. Akhirnya Ibunya datang dengan pakaian minidress putih.
Di pemakaman, Ahzarel mendekati tempat peristirahatan Wil.
"Papa," ucapnya.
"Papa aku menderita di sini. Andai papa di sisiku! Aku sedih papa gak temani aku di sini," ujar Ahzarel. Ia meneteskan air matanya jika mengingat semua hinaan yang pernah ia terima. Terutama soal Ayahnya sendiri.
"Ahzarel, kamu itu mirip papa kamu. Mama yakin kamu itu anak yang sangat kuat seperti papa."
"Begitu?"
__ADS_1
"Iya, mama yakin!"
Ahzarel memandangi nisan papanya. "Papa gak apa-apa aku tinggal? Aku mau pindah, Pa."
Laura terkejut dengan ucapan anaknya. Dia mungkin tersiksa sekolah di Eropa. "Kamu mau pindah kemana?"
"Ke tempat mama dan papa lahir!"
"Andai kamu tau, di sana lebih menyakitkan," ujar batin Laura. Tapi kalo memang itu keinginan anaknya, dia pasti lebih mudah untuk beradaptasi.
"Tapi, di sana lebih menyakitkan sayang."
"Gak apa-apa," ujar Ahzarel yang penuh tekad.
"Baiklah, kalau itu mau kamu."
"Maaf ya, Pa, tapi aku janji setiap libur sekolah aku akan kemari."
"Maafin aku ya sayang, aku harus ikut Ahzarel," ujar Laura. Ia pasrah dan ikut saja dengan anaknya. "Aku janji akan menjengukmu bersama Ahzarel."
Ahzarel dan Laura berdoa untuk ketenangan Wil. Mereka pun berkemas dan bersiap untuk terbang menuju tanah air besok.
"Sam aku percaya kau bisa mengurusnya," ujar Laura.
"Tenang saja, Nona." Sam menuju sekolah Ahzarel untuk mengurus perpindahan sekolah Ahzarel.
Matahari pagi menyinari. Laura dan Ahzarel sudah berada di pesawat sejak 20 menit yang lalu. Mereka sudah bersiap untuk terbang. Laura melihat anaknya sedang sangat asik menggambar sambil bersenandung.
"Kamu belajar gambar dari siapa?"
"Papa, sebelum dia dibawa petugas."
"Keren, mama bangga sama kamu." Laura mengusap kepala anaknya. Tak terasa pesawat sudah terbang.
"Wah! Lihat, Ma, awanya sangat tebal!"
"Iya ya," jawab Laura.
Hari sudah mulai malam, Ahzarel yang sudah mengantuk pun tertidur. Ia jadi teringat saat ia disekap di Eropa bersama Wil.
"Wil konyol!" Laura tersenyum-senyum dan sedih sendiri kalau mengingat pertama kali ia bertemu Wil sampai dia meninggal.
"Ma? Mama sehat?" Panggil Ahzarel.
"Ah iya, mama sehat kok!"
"Bohong, mama senyum sendiri."
"Ehehe. Kamu udah bangun?"
"Udah daritadi," jawab Ahzarel.
"Baiklah, mama mau tidur ya."
"Baiklah, aku mau lanjut menggambar."
Perut Ahzarel terasa lapar. Ia mengambil susu rasa anggur dari tas kecil milik Ibunya. Sambil mencari inspirasi ia melihat keluar jendela. Terlihat cahaya petir yang dibalik awan.
"Seram," ujarnya dalam hati. Melihat semua penumpang tidur. Ia mendapat inspirasi untuk dirinya. Ia mulai berimajinasi, papanya duduk di sebelah kirinya dan Ibunya sebelah kanan sedangkan dirinya berada di tengah.
__ADS_1
"Aku harap suatu hari ini akan terwujud walaupun hidup di tubuh orang lain."