
Tok tok tok ....
Pintu Ran diketuk oleh seseorang. Wanita itu langsung bangkit dari kursi, meja kerjanya. Tangannya memutar kenop pintu. Seorang pria dengan rambut hitam legam dan matanya yang berwarna hijau.
"Nona Ran?" Tanyanya. Ran mengangguk, matanya terpaku pada wajah pria itu. Jantungnya berdetak kencang tak beraturan.
"Apaan sih Ran, konyol dah!" Gerutu batin Ran.
"Maaf menganggu. Anu ...." Wajahnya memucat. Pria itu gugup, ia mengigit bibir bagian bawahnya dan mengepalkan tangan.
"Saya Leonard Galendo, panggil saja saya Leo. Saya asisten pribadi anda, salam kenal." Leo membungkukan tubuhnya beberapa saat. Lalu, berdiri tegak kembali.
"Ehem, baiklah. Saya mau ke kantor 5 menit lagi, tunggu di ruang tamu ya."
"Baiklah, Nona Ran," ujar Leo dari balik pintu, sudah ditutup oleh Ran.
Satu-persatu anak tangga Leo lalui. Sampai ia berpas-pasan dengan ayah angkatnya, Sam. Leo tidak menyapa pria yang sudah tua itu. Ia melewatinya begitu saja.
Leo mendudukan dirinya di atas sofa. Ia mennyandarkan diri lalu menutup mengedipkan matanya dengan tempo lambat.
Seorang pria berjalan memasuki rumah dari arah pintu utama. Matanya yang merah tampak menyeramkan. Tatapan matanya bagaikan elang, begitu tajam.
"Darimana aja lo!?" Tanya Ran dengan nada tinggi, berbicara dari tangga. Ahzarel mendongak, berdecih menatap wanita itu.
"Kepo!" Balas Ahzarel. Pria itu memasuki ruangan, ruang khusus komputer.
Baru saja ingin melewati ambang pintu, langkahnya terhenti. "Berarti kalo gue--"
"Hal yang buruk jangam ditiru," pungkas Ahzarel, memasuki ruangan itu sambil membanting pintu.
Leo segera berdiri. Berjalan menuju garasi lalu memarkirkannya depan pintu utama. Leo keluar dari kursi pengemudi, membukakan pintu untuk Ran. "Makasih."
Roda mobil berputar, menempel pada aspal sepanjang jalan. "Boleh saya bertanya?" Leo berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung itu.
"Hm." Ran membuang muka ke luar jendela mobil. Sambil menyetir Leo bertanya kepada wanita itu.
"Siapa pria yang di rumah tadi?"
"Sepupu."
Leo mengangguk kecil. Ia memutar setir mobil hingga berhenti sempurna di depan pintu gedung Grup ZF.
Kali ini Ran membuka pintu mobil sendiri, tanpa ia sadari. "Leo, kau pulang saja dahulu. Nanti aku telpon kalo aku mau pulang."
"Ah, baiklah."
__ADS_1
🔪🔪🔪
Ahzarel mengotak-atik keyboard, mengetik sana-sini. Tangannya juga menggerakan mouse, klik sana-sini dengan lincah.
"Rel?" Panggil seseorang dari belakangnya.Tak tau mengapa Ahzarel terkejut bukan main dan langsung memutar kursinya 180 derajat.
"Kau ini kenapa?" Lina dengan wajah panik memperhatikan apa yang Ahzarel kerjakan. Kecurigakan mulai merebak di diri Lina.
"Kau buka situs aneh-aneh ya? Apa aku mengganggu?" Lina memasang wajah curiga, menyipitkan matanya.
"Heh! Sembarangan!"
"Terus kenapa kaget gitu?"
Pikiran Ahzarel tertuju pada film horor yang ia tonton semalam. Ahzarel segera menggelengkan kepala, melupakan film itu dan kembali ke komputernya.
"Rel, kau mau makan apa?"
"Terserah," balasnya yang tetap fokus pada layar komputer.
"Nasi goreng?" Tanya Lina.
"Apapun yang ada di pikiranmu." Ahzarel menengok sedikit sampai Lina pergi.
"Ha? Roki Andika?" Ahzarel memperbanyak informasi. Jujur matanya terasa kering, ia belum berkedip sejak tadi Lina masuk ke kamarnya. Matanya terasa berat. Pria itu memutuskan untuk tidur sejenak.
Sekali Ahzarel berkedip, terasa perih sampai mengeluarkan air mata. "Kenapa kau menangis? Ada yang jahatin kamu?"
"Mataku perih, Lin." Pria itu mengusap kelopak matanya. Jarinya menyeka air mata. Lina mendengus kesal, sambil mendudukan diri di sofa panjang yang ada di ruangan itu.
"Rel, mata kamu ...." Lina menujuk mata Ahzarel, jarinya bergetar semakin lama semakin bergetar hebat. "Mata kamu ngeluarin darah, Rel. Are you ok?"
Ahzarel menyentuh cairan yang keluar, benar itu adalah darah. Ia segera ke toilet dan bercermin. Namun, aneh. Kenapa bayangan dicermin tak bergerak sama dengan tubuhnya.
Bayangan itu tertawa jahat. Sebenarnya Ahzarel tidak takut karena dia pernah lakukannya. Namun, teringat film tempo hari, ia menjadi takut.
Bayangan itu keluar dari cermin setengah tubuhnya. Tangannya terulur, mencekik Ahzarel lalu mengangkat pisau dan langsung menusukannya ke dada Ahzarel, tempat jantung berada.
"Rel! Rel!! Bangun Rel!" Ahzarel langsung bangun dari tidurnya. Ia ternyata tertidur di depan komputernya yang masih menyala.
"Kamu mimpi apa sampai keringetan dan ngos-ngosan gitu?"
Ahzarel mendongak menatap komputernya. "Terus? Kau peduli gitu?" Ahzarel menyandarkan diri di kursinya ia menyeka keringat dengan sapu tangan yang berada di dekat tangan kanannya.
"Ya, kayaknya," ujar Lina sambil menggaruk tengkuk. Ahzarel berdiri dari kursinya, ia merasa lucu ketika melihat Lina yang begitu pendek di matanya.
__ADS_1
"Kamu pendek banget sekarang, haha!" Ejek Ahzarel. Ia mengukur ukuran tubuhnya, ubun-ubun Lina hanya sampai di leher pria itu.
"Ya ampun, kamu kekurangan kalsium dan olahraga sepertinya."
"Dasar tiang!" Wanita itu berusaha memukul Ahzarel, tapi kepalanya ditahan dengan tangan Ahzarel yang kekar.
"Jangan buang-buang tenaga gitu," ujar Ahzarel. Jarinya menyentil dahi Lina hingga terdapat bekas merah.
🔪🔪🔪
Lina menatap punggung Ahzarel yang menjauh, hingga menghilang dihalagi oleh pintu.
"Tetep aja ngeselin. Kapan kamu berubah, Rel?" Lina bertanya-tanya pada batinnya. Ia menengok ke komputer Ahzarel. Terdapat biodata pria itu.
Nama : Roki Andika.
Umur : 28 tahun
Banyak data yang lainnya, tapi Lina sangat malas untuk membacanya. "Ada-ada saja manusia satu ini," gumam Lina.
Ting!
Lina mendengar suara oven. Ia segera mematikan oven itu lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Sebuah kue coklat yang sengat nikmat. Bau harum menjalar kemana-mana.
"Harum surga." Lina memindahkan kue itu ke piring dan mengambil garpu dan pisau untuk memotong rotinya.
Seseorang masuk ke dapur tiba-tiba, tentu saja itu Ahzarel. Mata Lina terbelalak ketika melihat pria itu bertelanjang dada.
"WOY! PAKAI BAJUMU!!" Jerit Lina sambil menutup matanya. Ahzarel melirik Lina, ia mengangkat bahu lalu membuka pintu kulkas.
"Apa hak mu?" Tanya Ahzarel sambil menuangkan susu ke dalam gelas. Lina terus menunduk, ia duduk lalu memotong kue itu.
Coklat yang lumer keluar begitu kue di potong. Tampak menggugah selera. Tapi potongan pertama justru diambil oleh Ahzarel. "Aku kira rasanya akan mengerikan," ujar Ahzarel sambil meletakan garpu ke atas piring.
Tanpa sadar Lina menatap Ahzarel terus-menerus, kesal. "Apa?" Satu kata itu membuat Lina tersentak.
"Bukan apa-apa," jawab Lina. "Ahzarel menyebalkan, tak ada akhlak!" Gerutu batin Lina.
"Gak usah menggerutu dalam hati," ujar Ahzarel tiba-tiba. Lina langsung menengok ke arah Ahzarel, lebih tepatnya punggungnya.
Lina tidak betah dengan visualnya dengan Ahzarel yang seperti itu. Wanita itu langsung melempar pakaian bersih ke wajah pria itu dan menyuruhnya untuk memakai pakaian tersebut. "Urat malumu sudah tercabut sejak embrio kah?"
.
.
__ADS_1
.
[Jujur author cringe ngetik eps ini 😂]