Psychopath

Psychopath
#38


__ADS_3

Ahzarel melihat meter bensin, yang sudah setengah bensin ia habiskan dengan berputar-putar menjemput maut. Namun, maut tersebut belum juga menjemputnya.


Ahzarel memutuskan untuk pulang, karena ia sudah lelah batin dan fisik. Namun, saat dekat di lampu lalu lintas, ia melihat suatu kecelakaan. Kecelakaan beruntun mobil menabrak mobil di depannya.


"Mungkin kalau aku ikutan seru, ah tapi tidak. Tidak hari ini."


Ahzarel memilih untuk memutar jalan, baru saja yang akan menaikkan kecepatan mobilnya, seorang wanita dengan sembarangan menyeberang jalan tanpa melihat ke kanan dan ke kiri.


Dengan rasa panik, Ahzarel menginjak pedal rem mobilnya dengan mendadak. Untung saja moge tidak terjungkir balik karena hal itu. Kedua insan itu mengatur nafas mereka, agar stabil.


Karena sudah lelah, Ahzarel terpancing emosinya. Ia pun turun dari mobil dan ingin membentak wanita itu. Namun, saat hendak mencaci-makinya, ia melihat wajah dari wanita itu, wanita tersebut adalah Lina.


Dengan segera ia menahan emosi, lalu meminta maaf kepada wanita tersebut. Ketika semuanya merasa baik-baik saja, Ahzarel segera pergi dari tempat itu.


Sesuai ucapannya, Ahzarel tidak ingin mengganggu Lina lagi.


Sesampainya di apartemen, Ahzarel merebahkan diri di kasur. Pria itu memandang foto Lina di dalam ponselnya, untuk melepas rindu.


"Huft, aku janji Lina tak akan mengusikmu lagi, selamanya. Biarkan, diriku merasakan kesepian yang amat mendalam ini."


Ahzarel melempar ponselnya hingga menghantam dinding, hancur berantakan. Ia benar-benar tapi ingin mengganggu siapapun lagi.


Mulai besok mungkin selamanya, Ahzarel menjalankan hari tanpa seorang mengikutinya. Biasanya ia diikuti oleh Lina, kemanapun ia pergi namun sekarang sudah tidak lagi.


Ahzarel memutuskan pindah ke Eropa, untuk menemani orang tuanya walaupun sudah tidak bisa merasakan kasih sayang mereka maupun melihat wujud mereka.


Meskipun sudah tidak menemuinya lagi, Ahzarel tetap meminta pamannya untuk menjaga Lina. Pria itu memaksa pamannya tersebut agar kembali lagi ke Asia.


"Maaf aku merepotkanmu Om Roy."


Ahzarel sudah memberitau Roy, untung saja pamannya tersebut baik hati. Ia menyetujui permintaan Ahzarel.


"Ngomong-ngomong, terimakasih ya om, sudah mengurus pemakaman mamaku."


"Sama-sama, Rel. Bagaimana pun dia sepupuku juga," ujar Roy dari balik telepon.


"Ah iya, hehe."


"Om mau siap-siap nih, sampai jumpa. God bless you."


"God bless you too." Panggilan ditutup. Sekali seumur hidup Ahzarel berkata demikian.

__ADS_1


Ahzarel memesan tiket pesawat secara online. Ia masih melihat sisa uang yang cukup banyak, bukan cukup bahkan sangat banyak. Ia memesan pizza, karena ia sedang sangat ingin makan makanan tersebut.


2 jam kemudian, bel kamar dibunyikan. Ahzarel menyalakan menekan tombol camera doorbell-nya, melihat siapa yang ada di depan kamar apartemennya.


"Lina?" Ahzarel spontan tersenyum melihat wajah wanita itu. Ia memegang sekotak pizza, terdengar ia menggerutu.


"Ngapain sih Yuki minta aku yang antar, padahal dia kan bisa. Dasar sok sibuk," dumel Lina, lalu menghela nafas kasar.


Ahzarel membuka pintu kamarnya dan langsung merebut pizza dari tangan Lina. "Kau yang--"


"Perlu tip?" Tanya Ahzarel tanpa basa-basi. Lina mengangguk dengan cepat, pria itu kembali memasuki kamarnya dan mengambil uang. Ia langsung memberikan uang tersebut dan menutup pintu kamar.


Ahzarel ragu, ia membalikan tubuhnya dan meraih engsel pintu. Pikirannya berubah kembali, ia menjauh dan memakn pizza tersebut di meja kerjanya.


"Selamat makan," ujarnya kepada diri sendiri. Ia membuka kotak pizza, lalu hendak menyentuh potongan pizzanya.


"Belum cuci tangan." Pria itu menuju wastafel dan mencuci tangannya. Barulah ia menikmati pizza, dengan toping yang penuh dengan keju.


Ia hanya menghibur diri, bukan berarti bahagia di atas kematian ibunya. Ia ingat, terakhir ia makan pizza bersama ibunya, saat ia ulang tahun ke-14 tahun.


"Sekarang aku makan sendirian, tapi bukan di hari ulanga tahunku. Melainkan di hari kematian mama."


Selesai makan, sifat kebersihan Ahzarel merasuk. Ia membereskan kamar lalu menyiapkan baju-baju serta kebutuhan lainnya untuk ke Eropa.


Telinganya tidak salah menangkap suara seorang wanita, yang mengatakan dirinya menyebalkan. Ahzarel menengok ke arah sumber suara, itu berarti ada di belakangnya.


Wanita itu tertawa dengan bahagianya, dan di sampingnya terdapat seorang wanita berumur sekitar 47 tahun.


Mendengar tawanya saja pria tersebut ikut bahagia, meski tak terlihat. Sam berlari mendekati Ahzarel. Nafasnya tersengal-sengal, namun di belakangnya, Roy berjalan santai dan menyapa singkat Ahzarel.


"Yo, Rel. Semoga betah di Eropa, dingin banget soalnya," Roy melambaikan tangan dengan singkat.


"Iya, om."


Mata Roy mengarah ke kursi belakang, "Pacarmu tuh, gak disapa?" Tanya Roy sambil menyikut lengan Ahzarel.


"Dia bukan pacarku," jawab Ahazarel dengan dingin.


Bukan hanya Roy, Lina dan Sam juga terkejut dengan nada suara yang seakan tak peduli begitu.


"Jangan basa-basi, ayo Sam." Sam mengangguk, ia membuntuti majikannya menuju pesawat.

__ADS_1


"Maaf, Lin."


Di sisi lain, Lina sedang di taksi menuju rumah bibinya yang sudah ditinggalkan 6 bulan lebih.


Ia menatap keluar jendela mobil, teringat sifat Ahzarel tadi. "Dia berubah gitu, ada apa ya?"


"Biasanya dia pamitan kalo mau pergi." Lina benar-benar bingung, itu seperti bukan Ahzarel yang ia kenal.


"Lin, pamanmu sudah sampai duluan," ujar bibi Lina.


"Sungguh!? Wah, cepat juga!" Suasana hati Lina seketika berubah. Bibinya mengangguk, ia tersenyum senang, melihat keponakannya yang kembali ceria.


Lina mulai menyusun rencana ketika sampai di rumah nanti. Ia berencana merapikan kamar, membuat makan malam, berhalusinasi semalam di kamar.


"Kamu mandi dulu ya, baru melakukan kegiatan itu," ujar bibinya.


"Iya, Tan, pasti!"


Sampai di rumah, Lina membasuh diri, dan langsung melakukan rencananya. Ketika semua beres, ia hanya menunggu malam.


Ia tak sengaja melihat nomor kontak Ahzarel di ponselnya. Ia ingin menekan gambar telepon. Namun, ia berpikir dua kali. Tak sengaja ia menekannya, benar-benar tak sengaja.


"Astaga!" Jerit batinnya. Tak menunggu lama, panggilan itu diangkat oleh Ahzarel.


"Halo?" Ujarnya dari seberang telepon, membuka percakapan.


"Um halo, Rel," jawab Lina dengan gugup. Ia tidak siap, percakapannya pun menjadi canggung.


"Ada apa? Aku sibuk."


"Ya sudah, matikan saja," ujar Lina. Panggilan ditutup oleh Ahzarel. Lina mengetuk-ngetuk kepalanya ke layar ponsel.


"Aaaa! Kepencet pula!"


"Telponan sama siapa tuh?" Tanya paman Lina.


"Temen. Aku gak niat nelpon, tapi jarinya nakal, main pencet-pencet nomor aja," jawab Lina. Ia berpura-pura memarahi ibu jarinya sendiri.


"Haha, gitu ya?"


"Iya, hehe."

__ADS_1


Di sisi lain, Ahzarel sedang memandagi nomor yang nelponnya tadi. Dia sudah janji pada dirinya sendiri, untuk tidak mengganggu Lina lagi.


Ia sebenarnya ingin mengobrol untuk berbagi isi hati, tapi mungkin bukan hari ini. "Terimakasih untuk semuanya, Lin."


__ADS_2