Psychopath

Psychopath
#30


__ADS_3

Hari Senin, pukul 17.30. Hampir seluruh murid telah meninggalkan sekolah, beberapa siswa dan siswi sedang menjalankan piket kelas sebagai kewajiban selepas pulang sekolah. Begitu juga dengan Ahzarel dan Lina.


Gadis bermata biru itu sedang berusaha menggapai bagian atas papan tulis, beberapa tulisan yang belun terhapus.


"Ih, pasak," ucap Ahzarel yang sedang menyapu lantai.


"Diam kau tiang!" Balas Lina. Ingin sekali dia melempar penghapus ke wajah Ahzarel.


"Kenapa gak kau yang menyapu?" Tanya Ahzarel sambil menyodorkan sebuah sapu ijuk kepada Lina.


"Iya dah!" Ujar Lina sambil merebut sapu itu dari tangan Ahzarel.


Beberapa siswa telah menyelesaikan piketnya, mereka berpamitan pulang. Kini, hanya Ahzarel dan Lina saja yang berada di kelas. Namun, seseorang dengan suara cemprengnya memasuki kelas dan membuat keributan.


"Ahzarel!! Ayo kita pulang!" Ucapnya sambil merangkul tangan Ahzarel yang sebelah kanan.


"Aku sibuk, duluan saja," ucap Ahzarel.


"Oh, tuh manusia kidal toh," gumam batin Lina. Ia melanjutkan kegiatanya hingga selesai dan meletakan sapu tersebut pada tempatnya.


Hendak ia keluar kelas, Ahzarel bersuara, membuat Lina menghentikan langkahnya tempat di depan pintu. "Siapa suruh asisten meninggalkan majikanya?"


"Cepatlah! Aku harus fotokopi bukumu!"


"Sabar," ucap Ahzarel sambil menyingkirkan tanganya dari rangkul Aerin, lalu meletakan penghapus pada laci meja guru.


"Bawakan tasku dong." Lina terbelalak, tasnya saja sudah berat apalagi tas Ahzarel.


"What!? Hello?"


"Aku serius, bawa itu atau kembalikan bukuku."


"Eh iya iya!" Lina segera mengambil tas Ahzarel lalu membawanya, tak disangka tasnya lebih ringan.


"Kau gak bawa semua pelajaran ya?"


"Gaklah, buat apa?"


"Santai sekali hidupmu," ujar Lina sambil membuntuti Ahzarel serta Aerin.


"Eh, bawain tas aku juga dong."


"Dia asistenku dan hanya boleh melayaniku bukan orang lain," ujar Ahzarel lalu menarik tangan Lina agar jalan beriringan denganya.


Di tempat fotokopi dekat, "Ada apa nona cantik dan ...." Wanita yang sedang menjaga itu terdiam melihat rupa Ahzarel, yang membuat hatinya terbunga-bunga.


"Tuan tampan," sambungnya.


"Bu, saya mau fotokopi ini, semuanya."


"Baik tunggu sebentar."


Pikiran Ahzarel tiba-tiba mengacak, kemana-mana. Dadanya terasa ada yang mengganjal. "Kenapa ya?" Ia melihat ke belakang, matanya menyapu lingkungan. Ia merasa sepasang mata mengawasinya, namun dimanakah itu?


"Rel, kamu kenapa?"


"Suatu bahaya akan datang, tapi aku gak tau apa itu."


"Perasaan doang kali," ucap Lina yang ikut melihat sekitar.

__ADS_1


"Semoga saja. Oia, kemarikan tasku."


"Oya, aku hampir saja lupa," ucap Lina sambil menepuk dahi. Ia memberikan tas itu, namun Lina sekarang merasakan hal yang sama. Perasaan itu seperti mengalir dari Ahzarel kepadanya.


"Perasaanku kurang enak," ucap Lina sambil menyentuh dadanya. Ia merasakan hal buruk akan terjadi.


Ahzarel tiba-tiba membungkuk sambil menarik kepala Lina agar ikut denganya. Saat kembali berdiri tegak, seorang wanita paruh baya yang ada di sebelah Lina tergeletak dengan kepala yang berdarah, dan anaknya menangis keras melihat ibunya tidak berdaya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Ahzarel. Lina masih terkejut dengan kejadian itu. Hampir saja maut menjemputnya hari itu juga.


Seorang di sekitar memanggil ambulan dengan segera. Di balik keramaian itu, seorang pria tengah kesal sambil mengepalkan tanganya. Ia mejauh dari keramaian itu, lalu menelfon atasanya.


"Bos, saya gagal lagi! Maafkan saya."


"Dasar payah!" Pria di balik telfon itu memaki-makinya, sehingga menemukan cara lain.


"Bawa dia kemari, apapun caranya!" Ucapnya dan langsung menutup telfon. Tanganya mencengkram ponsel kuat-kuat hingga hancur berantakan.


"Tunggu saja, Ahzarel." Ia menengok kearah foto dirinya dengan anak kembarnya. Mereka tak senang satu sama lain. Sampai akhirnya satu-persatu dari mereka pergi dan tak akan kembali.


Seseorang masuk ke dalam kantornya dengan membawa wanita yang terlihat masih muda dan terbelenggu. Pria itu mendekati wanita yang dilempar begitu saja ke dalam kantornya.


Tanpa banyak bicara, pria itu menunjukan foto Ahzarel di balik kaca jendela di sekolahnya. "Apa ini anakmu?" Tanyanya.


Wanita itu terbelalak dan menaikan alisnya. "Mau kau apakan anaku!?"


"Aku tanya ingin ...." Ucapnya, ia menyeringai sambil terkikik.


"Jangan kau coba-coba!!" Pekik Laura.


"Ah, sayangnya sudah gagal dua kali. Kali ini tak akan gagal," ucapnya sambil menunggingkan senyuman. Laura hanya dapat berharap agar anaknya selalu dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.


Ia menjadi paranoid dan was-was jika akan berpergian. Namun, Ahzarel berkata semua akan baik-baik saja, tapi tidak dengan Lina. Gadis itu merasa orang yang paling dekat denganya dalam bahaya, akan tetapi siapa orangnya?


"Pasak, kau memalukanku," ucap Ahzarel sambil menyeka air mata Lina.


"Berhenti memanggilku begitu, aku punya nama tau!" Ucap Lina sambil terisak. Air mata gadis itu keluar semakin deras.


"Apa sih yang kamu tangisi?"


"Sejak kapan kau peduli?" Tanya balik Lina. Ahzarel hanya mendengus lalu tak membungkam mulut sampai di halte tujuan.


Ahzarel merasa ada yang memperhatikanya lagi. Ia mencari-cari dimana sepasang mata itu. "Cuma perasaan," ucapnya dalam hati, memberi sugesti supaya ia tak panik.


Begitu sampai di halte tujuan. Hujan deras turun, beberapa orang beruntung karena membawa jas hujan serta payung. "Pasak, kau bawa payung?"


"Kau sendiri gak bawa?"


"Kalau aku bawa, aku gak nanya."


"Iya juga," ujar Lina sambil menatap langit yang tertutup awan berwarna abu-abu. Lalu, matanya melihat jalanan yang terdapat genangan air dengan mobil yang lalu lalang.


Tangan sengaja lenganya menyentuh lengan Ahzarel, terasa dingin seperti mayat. "Kau kedinginan?" Tanya Lina.


"Gak," jawab Ahzarel dengan singkat, lalu memasukan tanganya ke dalam kantung celana.


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di bibir Lina. Ketika ia menyadari bahwa Ahzarel yang sedang menciumnya.

__ADS_1


Ahzarel menjauhkan bibirnya setelah beberapa lama. Ia melihat sekeliling lalu menghela nafas.


"Kau mencuri ciuman pertamaku!" Ucap Lina dengan nada bicara yang meninggi. Ia mencubit dari lengan hingga perut lelaki itu.


"Akh! Aw! Apa sih?"


"Bibirku tidak suci lagi karena kau!" Ucap Lina sambil berusaha memukul Ahzarel, namun kepalanya ditahan oleh tangan kekar lelaki itu.


"Demi keselamatan, bukan bermaksud hal lain."


"Ish! Padahal bibirku ini hanya untuk ketua kelas!"


"Dia itu pemikat, bukan hanya kau yang suka."


Hujan mereda, Ahzarel nekat menerjang hujan itu dengan jalan yang santai. Ia tak ingin membuang tenaga hanya untuk berlari menuju rumah.


Sesampainya di rumah, ia begitu malas menunu kamar mandi. Namun, ia memaksakan rasa malasnya dan menuju kamar mandi, untuk membasuh diri.


Ia merasa begitu lelah seharian ini, lelaki itu langsung merebahkan diri dan menutup matanya rapat-rapat.


Namun, beberapa lama ia merasakan benda kecil menusuk lehernya jenjangnya. Ia memaksa matanya terbuka, melihat seorang pria tua dengan rambut putih seperti salju dan mata merahnya yang seperti lampu.


Matanya begitu berat sehingga tak dapat menahan rasa kantuknya.


Matanya perlahan terbuka. Menatap sekitar dengan seorang wanita yang tak asing di matanya. "Mama?" Tanyanya dalam hati. Namun, karena kegelapan yang menyelimuti, ia tak dapat melihat jelas siapa wanita itu.


Matanya masih terasa berat untuk terbuka. Namun, suara nyaring benda mengejutkanya. "Wah, sudah bangun ternyata. 'Cucuku'," ucapnya.


"Sejak kapan ada kakek yang menculik cucunya sendiri?" Tanya Ahzarel dengan suara lirih.


Sebilah pisau menyentuh permukaan kulit pada lehernya. "Kau harus tau, ayahmu itu seorang pembunuh. Ia membunuh kembaranya sendiri."


"Siapa? Aku gak kenal," ucap Ahzarel. Tangan pria tersebut mengayunkan pisau sehingga membuat luka gores pada leher Ahzarel. Cairan merah segar, keluar dari leher lelaki itu.


"Jangan memotong saat orang tua sedang bicara!" Pria itu mengayunkan tanganya lagi, lalu pisau itu melukai pipi Ahzarel.


"Sean dan William selalu saja bertengkar, namun aku tak tau kenapa mereka seperti itu? Akhirnya aku pisahkan mereka saat berumur lima tahun. Tapi saat umur dua puluh dua tahun, mereka bertemu kembali di Universitas. Namun, ternyata malah saling membunuh, konyol."


"Lagi pula ayahku sudah mati pak tua! Kenapa aku jadi kena masalah!?" Tanya Ahzarel dengan nada tinggi.


"Karena, kalau Sean tak ada keturunan berarti kau juga harusnya tidak ada. Ahahaha!" Sebilah pisau itu menusuk pundak lelaki itu. Lalu, pria itu mengambil pisau kedua dan menusuknya di perut Ahzarel.


Lelaki itu mengerang kesakitan. Rasa dingin itu benar-benar menusuk ke dalam kulitnya.


"Giliran wanita cantik ini juga." Kaki pria tua itu melangkah mendekati wanita yang sedang tak sadarkan diri tersebut.


"Jangan dekati ibuku!" Ucap Ahzarel sambil terbata-bata menahan sakit. Ia berusaha melepaskan ikatanya dengan pisau lipat yang selalu ia bawa.


Tali itu terputus, lelaki itu lang mencabut dua pisau yang menancap dan langsung menyerang pria yang hendak melukai Sang Ibu.


Namun, pria itu langsung menyadarinya dan menangkis pisau Ahzarel dengan pisaunya. "Kau pintar ternyata, seperti ayahmu."


"Aku tak peduli, tapi jangan sakiti ibuku atau kau akan menyesal."


"Bukankah kau yang akan menyesal?" Lima orang pria keluar dari kegelapan dengan senapan angin mereka. Sudah siap menarik pelatuknya kapan saja.


"Aku akan melindungi ibuku meski aku harus mati sekalipun! Camkan itu pak tua!"


Pria itu mengacungkan pisau sambil tersenyum seakan dia yang akan menang.

__ADS_1


__ADS_2