Psychopath

Psychopath
#33


__ADS_3

Minggu Sore, Ahzarel bersinggah pada atap gedung 35 lantai. Ia menikmati pemandangan kota serta angin yang sejuk dari atas sana. Ketenangan itu terusik ketika Laura datang dan memijat punggungnya dari belakang.


"Apa sih, Mak?" Tanyanya sambil menyingkirkan tangan Laura dari pundaknya.


"Mama udah selesai kerja, ayo pulang," ujarnya, mengajak Ahzarel menuju istana tercinta. "Ngomong-ngomong, Sam ada di sini. Ayo, pulang!"


"Gak mau, mama duluan aja, masalah paman Sam kasih salamku untuk dia."


"Jangan menyesal kalau pintu rumah udah mama kunci," ujar Laura sembari meninggalkan anaknya sendirian di atap.


Ketika suasana sudah sangat sepi, seseorang datang ke atap tersebut. Ia mengayunkan tongkat kasti, namun Ahzarel berhasil menyadari hal tersebut ia menggenggam tongkat tersebut lalu bangkit berdiri.


Ia mengeluarkan pisau lipat kesayanganya dan mengacungkanya kepada wanita yang menjadi lawanya tersebut. "Ada urusan apa?" Tanya Ahzarel.


Wanita itu menyeringai lalu ikut mengeluarkan pisaunya. Wanita itu menendang tangan Ahzarel yang sedang memegang pisau, lalu menjatuhkan pisau tersebut ke dasar gedung. Dengan cepat, tanganya meraih rambut Ahzarel dan mencengkramnya. "Kau tanya apa urusanku!?"


"Kau membunuh suamiku! Dasar pembunuh!!" Sambungnya wanita itu dengan amarah yang menggebu-gebu. Dadanya kembang-kempis serta matanya memerah karena amarah. Ia menggantung Ahzarel. Begitu di lepas, Ahzarel jatuh menuju kematian.


"Apa bedanya dengan suamimu? Dasar wanita tua!"


Ahzarel yang menggantung itu mengundang perhatian publik, mereka merekam serta menyuruh wanita itu agar menarik Ahzarel ke tempat yang aman. Sampai mobil polisi pun datang menyaksikan itu.


"Nyawa harus dibayar dengan nyawa! Kau paham!?" Wanita itu menyayat leher serta tangan Ahzarel.


"KAU MAU BUNUH AKU!? BUNUH LAH! GAK USAH BANYAK OMONG!" Pekik Ahzarel, menimbulkan kericuhan di dasar gedung.


"Dengan senang hati," ucap wanita itu sambil melepaskan cengkramanya. Ia tertawa seakan dia berjaya.


"Mungkin ini akhir hidupku, jujur aku lelah menyakiti dan disakiti. Tapi terserahlah," ucap batin Ahzarel.


Tubuhnya menghantam mobil yang kebetulan lewat, dan kebetulan sekali itu mobil jemputan ibunya. Atap mobil tersebut penyok karena tekanan yang diberikan oleh Ahzarel. Darah mengalir di atas permukaan logam mobil. Hingga pengemudinya pun terantuk atap mobil. Kemungkinan patah tulang leher serta retaknya tulang tengkorak.


"Ahzarel!?" Pekik Laura saat melihat warna rambut seseorang yang menghantam mobil jemputanya.


Seorang pria menahan tubuh Laura ketika wanita itu ingin mendekati anaknya. "Nona sabar!" Ucap Sam dalam Bahasa Perancis.


Karena syok berat, Laura kehilangan kesadaran sehingga pingsan di tempat. "Nona! Nona Laura!?"


Di sisi lain, Lina merasakan perasaan yang tidak begitu mengenakan, ia merasa sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi. "Tante Laura kok belum pulang ya?" Tanya Lina kearah pintu depan.


Untuk mengisi kekosongan waktu, Lina membereskan setiap sudut rumah. Ia juga memasak, serta dengan iseng ia berolahraga.

__ADS_1


Hari sudah larut, namun belum ada seorang pun yang sampai rumah. Lina menghabiskan waktu dengan tidur.


Sedangkan Laura, menatap anaknya dari kaca transparan. "Nona, jangan bersedih begini."


"Apa!? Bagaimana aku bisa tenang kalau anaku seperti ini Sam!?"


"Nona, tuan muda itu kuat, dia pasti dapat memutar balikan takdir," ujar Sam sambil mengelus pundak majikanya. Ia barusaha menenangkan Laura yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Ahzarel, bangun nak, jangan buat mama khawatir. Kamu belum lulus sekolah loh!" Ucap Laura seakan memarahi anaknya sendiri dan memukul kaca tersebut.


"Nona, ayo pulang. Ini sudah dini hari," ujar Sam. Ia memegang pundak Laura dan membawanya keluar rumah sakit.


"Aku gak mau pulang Sam! Bagaimana anaku!?"


"Nanti nona sakit, kita pulang dulu istirahat sebentar lalu kembali."


Terpaksa mereka pulang menaiki bus. Mobilnya hancur karena anaknya Laura. Air mata menetes dari kelopak mata Laura, ia khawatir anaknya berjuang sendirian di rumah sakit.


"Sam, kita akan ke rumah sakit lagi kan?"


"Nona, percaya sama saya," ucap Sam sambil melontarkan senyuman yang menghangatkan. Laura ikut tersenyum karena itu, ia percaya apa yang dikatakan oleh Sam.


"Tante, Ahzarelnya kemana?" Tanya Lina sambil melihat kearah gerbang.


"Saya akan jawab nanti ya Lin," jawab Laura.


"Oia, Lin, ini Sam."


"Sam." , "Lina." Mereka berjabat tangan sambil melontarkan senyum satu sama lain.


"Sam, saya mau istirahat," ujar Laura, lalu menuju ke kamar untuk membasuh diri dan beristirahat.


Lina mempersilahkan Sam masuk, lalu membuatkan teh hangat. Sam menceritakan apa yang terjadi menggunakan Bahasa Inggris, sebisa mungkin ia menjelaskan walaupun sedikit susah untuknya.


Lina mengerti, hatinya sakit mendengar hal itu. Ia memakai jaket serta mengambil tasnya. "Lin! Lina!" Panggil Sam. Namun, Lina mengabaikan hal tersebut. Ia menuju rumah sakit, menggunakan taksi.


Ia menanyakan ruangan dimana Ahzarel dirawat. Lina melewati lorong dan mendapati ruangan Ahzarel, tepat di ujung lorong rumah sakit. Tangan gadis itu menyentuh permukaan kaca, dengan Ahzarel di baliknya. Terbaring lemah disertai alat-alat medis yang menempel pada tubuhnya.


"Rel? Kamu masih di sana kah?"


"Jangan pergi ya, mamamu butuh dirimu dan juga aku."

__ADS_1


Lina menatap Ahzarel lekat-lekat, tak ada pergerakan sedikit pun, kecuali dada yang naik-turun. "Aku harus bilang apa ke teman-teman sekelas, Rel!? Perjalanan kamu masih panjang."


Lina menyandarkan kepalanya di kaca. Ia hanya mampu berdoa agar Ahzarel baik-baik saja. "Siapa sih yang buat kamu begini!? Akan ku hajar orangnya!"


"Aku gila lama-lam ngomong sendiri dalam hati begini, aku butuh tempat curhat tapi pasti kamu gak mau denger kan, Rel?"


"Bangunlah wahai tiang!" Batin Lina menjerit. Ia tak terima pujaan hatinya terbaring lemah seperti ini.


"Aku heran, Rel, kenapa wajahmu tidak terkena luka yang parah? Paling hanya luka gores, kau membuatki semakin tergila-gila." Lina menggerutu sambil menggembungkan pipinya, jujur ia merasa matanya sudah berat.


Dirinya menutup mata sejenak sambil duduk di kursi dekat situ.


Mata biru Lina memandang sekitarnya, kemungkinan besar ini adalah alam bawah sadarnya. Ia sedang berada di mana saat ini?


Ia berjalan dengan sendirinya menuju gubuk tua yang ada di ujung jalan setapak tersebut. Gadis itu melongo dan menemukan Ahzarel sedang terbelenggu seraya punggungnya dipecut oleh manusia yang berukuran besar.


"Aku benci hidup," ucap Ahzarel dengan suara yang bergetar. Ia menitikan air mata, yang menderas layaknya air terjun.


"Aku tersiksa, kenapa para manusia ini melakukan hal yang tidak berguna!? Hal yang memancing emosiku untuk membunuh kalian semua! KENAPA!?"


Lina berusaha menggapai Ahzarel yang sedang larut dalam kepedihanya, namun tanganya terputus oleh kapak yang diayunkan manusia raksasa tersebut.


"Aku butuh seseorang yang bisa meredakan emosiku, tapi orang itu tidak ada. Semuanya sama saja! Brengsek!" Pekik Ahzarel dengan suara seraknya, matanya melirik kearah Lina. Ia tersenyum sambil mengatakan sesuatu.


"Aku butuh kamu, Lin," ujarnya lalu perlahan menghilang.


Lina terbangun dari tidurnya dan melihat keadaan Ahzarel yang semakin kritis, sedang ditangani oleh dokter serta perawat. Ia panik dan menelfon Laura untuk memberitaukan keadaan Ahzarel saat ini.


Laura meluncur menuju rumah sakit bersama Sam, asistenya. Lalu, mendapati Lina sedang menangis di depan kaca transparan. Dokter yang menanganinya keluar dengan wajah sedih, ia bingung harus berbicara bagaimana.


"Maaf, tapi anak anda ...."


"Gak, GAK MUNGKIN!!" Jerit Lina, menerobos masuk dan mendekap tubuh Ahzarel. Gambar monitor detak jantung menunjukan garis lurus yang menandakan tak ada detak jantung.


"Ahzarel, bangun sayang!" Ucap Laura sambil terisak. Wanita itu mengguncang tubuh anaknya karena tak terima kenyataan yang begitu pahit ini.


"Rel, kamu bohong kan!? Kamu masih di sana Ahzarel! Responlah ibumu yang sedih kalang kabut," Lina bergumam dalam hati. Ia menyatukan kedua tanganya, berdoa serta memohon untuk mengembalikan Ahzarel.


"Aku mohon kembalikan Ahzarel, Ya Tuhan."


__ADS_1


__ADS_2