Psychopath

Psychopath
#28


__ADS_3

Laura membuka matanya, ia melihat sekeliling ke luar jendela. Terdapat menara Eiffel yang menjulang tinggi. Pikiranya teringat kapada Wil. Ia sangat merindukan pria tersebut. Ia mengambil ponsel dan menelfon anak semata wayangnya.


"Ya?" Ucapnya dari seberang telfon.


"Rel, Lina udah kasih tau kamu?"


"Dia mabuk, Ma. Nanti aku tanya."


"Baiklah." Panggilan ditutup, Laura memeluk bantal dengan erat. Matanya mandang keluar jendela, teringat masa-masa indah bersama Wil kala itu.


Tiba-tiba ia teringat oleh perkataan Ahzarel saat anak itu kelas 5 sekolah dasar.


"Mama cari pria lain saja," ucap anak itu. Laura melempar bantal itu dengan kesal karena wajah menyebalkan Ahzarel.


"Ih anak siapa sih kamu!?"


"Eh dia kan anaku," jawab Laura kepada pertanyaanya sendiri. Laura mengganti baju dan berjalan keluar rumah.


Ia hendak menyebrang, namun terdengar suara tembakan yang meggelegar. Nasib baik peluru itu tidak mengenainya. "Ya Tuhan." Laura segera menyeberang jalan dan melanjutkan perjalananya.


Di sisi lain, Ahzarel tidur di tepi ranjang, menunggu Lina bangun. Semalam, Lina tak sengaja memeluk Ahzarel dan memanggil-manggil namanya. Saat itu juga Ahzarel menahan tawa karena tingkah konyol asisten pribadinya.


Tiba-tiba Lina memekik dan lelaki yang tengah tidur pulas itu. "Untung saja jantungku kuat."


"Kenapa kau tidur di situ!?"


"Ketiduran," jawabnya. Ahzarel merebahkan diri di sisi ranjang sebelah kanan.


"Ambilin pakaianku," ucap Ahzarel. Lina menatap tajam Ahzarel. Ia tak sudi mengambilkan pakaian Ahzarel.


"Punya kaki kan? Ambilah!" Kaki Ahzarel menendang Lina hingga gadis itu jatuh dari ranjang.


"Akh! Aduh kepalaku!!"


"Cepat ambilkan atau kau ku lempar dari lantai 5 ini!" Mental Lina langsung mengecil ketika mendengar bentakan Ahzarel yang menyeramkan.


Dengan tangan gemetar Lina memberikan baju bersih untuk Ahzarel. "Kenapa gemetar gitu? Lagi gempa?" Tanya Ahzarel sambil menerima bajunya.


"Aku takut sama bentakan kau tadi tau****," jawab Lina, nada suaranya sangat pelan.


"Hm," balas Ahzarel dengan singkat. Lelaki itu membuka bajunya dan memperlihatkan luka cakar yang masih baru.


"Itu kenapa lagi?"


"Aku dicakar singa kemarin malam."


"Hah? Kau ngapain ke kebun binatang malam-malam?"


"Gak kok, justru singanya ada di sini."


"Ha?"


Ahzarel mengambil bantal dan melemparkanya kearah wajah gadis di hadapanya itu. "Aya! Sakit!"


"Berisik! Aku mau mandi terus mencari jalan keluar."

__ADS_1


"Tunggu, kenapa kau tidak meminta asisten papamu waktu itu?"


"Dia aja pesan baju ini dari Paris dan lacak aku di mana."


"Oh."


"Oia, mamamu bilang dia ke Paris buat jagain papa kamu. Kenapa papa kamu?" Tanya Lina. Ahzarel mengubah ekspresi wajahnya, ia sedih jika mengingat Ayahnya.


"Oh, um. Dia sibuk jadi harus ada penyemangatnya."


"Oh, baiklah."


"Ya sudah, sana mandi****," ucap Lina sambil mendorong punggung lelaki itu menuju kamar mandi.


Lina melipat baju Ahzarel dan bajunya. Ia memasukan baju itu ke dalam tas belanja tempo hari.


"Cepat mandi aku tunggu di lobi."


"Oya, bawa baju-baju itu ya," perintah Ahzarel.


"Ih nyuruh," keluh Lina sambil mengambil handuk yang tergantung.


"Bawa aja atau ku penggal." Lina sudah pasrah, menuruti Ahzarel adalah cara terbaik untuk saat ini. Lagipula, hanya 2 tahun itu berarti sampai mereka lulus SMA.


Di lobi, Ahzarel duduk di kursi logam berwarna hitam. Di sebelahnya terdapat pria yang sedang menyulut rokoknya dan menyalakan sumbunya.


Geram dengan hal itu, Ahzarel memotong batang rokok tersebut dengan gunting yang ada di kantung jaketnya dan menginjak potongan batang rokok tersebut. "Dilarang merokok," ujar Ahzarel.


"Kenapa anda protes?"


"Karena itu membahayakan keselamatan jiwa anda."


"Mari saya bantu," ujar Ahzarel. Ia menarik pria tersebut dan membawanya ketempat sepi.


"Untung saja, aku selalu membawa sarung tanganku," gumamnya. Ia memandangi pria yang ketakutan sekaligus kebingungan itu.


"Kamu mau apa?! Mau bunuh saya?"


"Iya, daripada anda mati perlahan lebih baik mati saja langsung."


"Gak sakit kok dan prosesnya akan cepat, mungkin."


Ahzarel mendekati pria tersebut. Ia melempar pisau. Ketika perhatian pria tersebut teralihkan oleh pisau Ahzarel, dia langsung melumpuhkanya dengan menendang kepalanya hingga terantuk dinding.


Ahzarel menginjak tulang keringnya dengan kencang berkali-kali. Pria itu mengerang dan menitikan air mata.


"Sakit ya?" Tanya Ahzarel dengan senyuman lebar yang tercetak jelas di wajahnya. "Gak bagus ya nahan sakit begini, tapi maaf aku sedang tidak berbaik hati."


Ahzarel menahan pundak pria itu dan memutar tanganya 360 derajat. "Astaga, aku terlalu baik padamu."


"CUKUP CUKUP!!" Jerit pria itu.


"Diam atau kau mau lidahmu ku potong!?" Bentak Ahzarel. Namun, ia berpikir lagi. Dia ingin membunuhnya kenapa harus disisakan?


"Ah iya juga, kemarilah orang brengsek." Ahzarel mengeluarkan pisaunya lalu memasukanya kedalam mulut pria itu dan mengarahkanya sedikit keatas. Ia mendorong paksa pisaunya, benda tajam itu menembus hingga ubun-ubun kepala pria itu.

__ADS_1


"Aku kelewatan sepertinya, ya sudahlah aku tak peduli." Ahzarel merusak wajah pria tersebut lalu memutilasinya.


Lina melangkahkan kakinya sambil membawa tas belanja, ia berjalan sampai lobi dan ta menemukan siapapun. Ia bertanya kepada siapapun yang ada di sana. "Ah, maaf. Tadi ada laki-laki rambut coklat dan matanya merah."


"Saya baru datang jadi tak tau, maaf."


"Ah, baiklah terimakasih."


"Tunggu, apakah dia memakai jaket ungu tua?" Sahut seorang pria tua yang duduk agak jauh dari Lina.


"Oh iya, anda tau?"


"Tadi dia keluar bersama seorang pria."


"Eh?"


"Pria itu merokok dan anak remaja itu memotongnya. Terjadi perkelahian kecil sih, tapi entah bagaimana sekarang?"


"Baiklah terimakasih," ucap Lina seraya meninggalkan lobi.


Kakinya melangkah cepat mencari Ahzarel. "Ngerepotin aja tuh bocah," gumam Lina.


Saat berdiri di depan gang sempit, seseorang bekapnya dengan tangan yang basah. "Darah!?"


Orang yang bekapnya berbisik di depan telinganya, "Diam atau ku perkosa," ucapnya dengan nada berat.


Lina melepas tangan orang itu dan menghadap belakang. Terlihat wajah Ahzarel dengan beberapa bercak darah di sekitarnya. "Kamu ngapain?" Tanya Lina.


Ahzarel menunjuk pria yang tadi ia bunuh, sudah termutilasi dan berlumuran darah. "Ash, bisa kau tidak melakukan itu?" Ahzarel menggeleng, menjawab pertanyaan Lina.


"Ah, terserah. Ganti bajumu kita pergi," ucap Lina sambil memberikan kantung belanja itu.


"Pakai baju kotor?"


"Masih ada yang bersih satu," jawab Lina.


Gadis itu menjaga di depan gang sampai Ahzarel selesai mengganti bajunya. Lelaki itu memberikan kantung belanjanya. Mereka berjalan sampai halte bus.


"Kalau begitu kenapa kita gak pulang dari kemarin!?"


"Aku males sekolah," jawab Ahzarel sambil memesan tiket bus.


"Tugas numpuk loh! Otakmu sehat!?"


"Nanti kalau kau kesusahan biar aku saja yang kerjakan."


"Termasuk ulangan?" Tanya Lina dengan mata yang berbinar-binar. Ahzarel mencubit pipi Lina dengan kencang sampai memerah.


"Kalau bantu belajar bolehlah."


"Aku kira ngerjain juga, cih!"


Hari mulai larut. Mata Lina sudah mulai berat akhirnya tertidur. Hampir saja gadis itu jatuh dari kursinya, namun dengan segera Ahzarel menariknya dan meletakan kepala Lina di pundaknya.


Malam itu, Ahzarel tak dapat tertidur. Ia berusaha memejamkan mata sambil mendengarkan lagu yang biasanya membuat ia tertidur, namun nihil.

__ADS_1


Ia memandangi rembulan yang bulat sempurna malam itu. Pikiranya menuju Ayahnya, Wil, membayangkan sedang menjemputnya pulang saat ini.



__ADS_2