
6 tahun berlalu, Lina sekarang tinggal di luar negeri sendirian. Gadis sekarang membiayai hidupnya sendiri. Lina memutuskan untuk pindah ke luar negeri agar tak merepotkan Laura, tepat di hari kematian Ahzarel. Gadis itu pindah ke negara yang terdapat 4 musim, yang masih satu benua dengan negara tempat ia dilahirkan.
Sendirian, tinggal di apartemen yang tak jauh dari universitas. Bukan hal mudah, maju dan berjuang sendirian. Namun, itu semua cepat berlalu. Gadis itu bertemu dengan seorang pria tampan keturunan asia timur.
Sejujurnya, Lina tidak terbiasa dengan pria yang baik. Ia terbiasa dengan sifat Ahzarel yang ....
Sudahlah, Lina berharap bisa cepat beradaptasi dengan sifat lembut hati pria tersebut, serta orang-orang di sekitarnya.
"*Ra, aku mau mentraktirmu di kafe nanti siang, kau ada wakt**u*?" tanya pria bernama Daike.
"Um, aku sedang sangat sibuk. Maaf," jawab Lina dengan tida enak hati. Sejujurnya ia mau saja, namun tugas tak mendukung kebahagiannya itu.
"Biar aku yang bantu."
"Jangan! Itu akan merepotkanmu." Lina berusaha menolak Daike, namun pria itu benar-benar bersikeras ingin mengajak Lina.
"Ku mohon Lina," ujar Daike. Lina akhirnya tak mampu untuk menolak. Ia menyutujui ajakan Daike, yang mendadak itu.
Sore hari, Lina menuju kafe yang Daike maksud. Mata Lina yang berwarna biru mengarah ke sosok pria berambut coklat dengan mata merahnya yang menatap milkshake coklat di hadapanya.
Ia mengaduk milkshake itu terus menerus, sampai benar-benar terlihat menjijikan.
"Lin!" Panggil Daike, membuat Lina tersentak dan menatap pria tersebut dengan mata terbelalak.
Lina mendekati meja nomor 6 yang sedang di tempati oleh Daike. Pria itu ternyata sudah memesankan makanan untuk Lina. Wanita belia tersebut hanya tinggal menyantapnya.
Lina duduk membelakangi pria yang tadi ia lihat. Pria yang duduk di meja pojok dekat dengan dinding kaca yang berfungsi sebagai jendela.
Lina segera melupakan hal tersebut, lalu membuka laptopnya. Pantulan banyangan dari layar hitam laptop Lina, menggambarkan sosok pria yang sangat mirip dengan Ahzarel.
Pria tersebut menatap lurus ke arah layar laptop. Pria itu menyeringai dan akhirnya layar laptop menyala.
Peluh sudah mengucur dari kening wanita belia tersebut. "Positif aja, hanya kembaran."
Hari menjelang malam, Daike mengantar Lina sampai rumahnya. Begitu ia menginjak gas dengan kecepatan penuh, seseorang menghalangi jalannya. Ia buru-buru menginjak pedal rem.
Hampir saja orang misterius itu tertabrak. Daike membuka kaca mobil dan meneriakinya sambil melongo. "Kau tak punya mata kah!?"
Pria itu menyeringai, ia mengangkat kapak dan mengayunkanya pada kap mobil. Mesin mati total, Daike terjebak pada mobilnya.
Pria dengan mata merah yang menatapnya lekat-lekat, mendekati kaca depan dan memecahkanya dengan kepalan tangannya.
Pria itu menggunakan sarung tangan, pria itu menarik paksa kerah baju Daike hingga keluar mobil. Pria itu memukul wajah Daike dengan gagang kapak hingga pingsan.
__ADS_1
Daike menemukan dirinya sedang berada di ruangan yang amat gelap. Ia fobia dengan gelap. Keringat dingin bercucuran serta nafasnya tidak teratur.
Lampu dinyalakan, saat itulah Daike merasa lega. Seorang pria dengan mata merah itu berada di ambang pintu. Ia memasukan tangannya ke saku celana.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Daike. "Beraninya kau merebut wanitaku," ujarnya dengan nada lirih.
"Apa maksudmu?" Daike bingung apa yang di maksud oleh pria tersebut. Wanitanya?
Ahzarel mengambil tongkat golf, dan mengayunkanya ke sisi wajah pria tersebut. "Aku tak akan biarkan siapapun menyentuh Lina!" Pekiknya sembari menendang kepala Daike serta perutnya berulang-ulang.
"Akh! Cih, kenapa tidak kau ikhlaskan dia untuku!?"
"Apa kau sadar? Kau berbicara seperti itu, membuat dirimu sendiri menuju gerbang kematian." Tampangnya begitu mengerikan. Daike berusaha menelan air liurnya, ia sangat ketakutan.
"Ingat namaku 'Ahzarel'," ujarnya dengan lirih. Ia langsung menancapkan pisau di leher Daike dan menyeretnya ke sisi lain hingga kepala itu terpisah dari tubuhnya.
"Cih, berani sekali kau merebut kekasih orang lain," ujar Ahzarel dengan wajah sebal layaknya anak kecil.
Ia memotret mayat pria yang tidak utuh itu, dan mengirimkanya kepada Lina. "Hehe, selamat menikmati malam ini."
Dengan topi dan pakaian baru, Ahzarel menuju club malam. Mendapati Lina yang mabuk dan sedang digoda oleh pria, berumur sekitar 38 tahun.
Tangan Ahzarel mengepal, emosinya melunjak saat wanita itu hendak berciuman. Ia datang dia dengan botol dan membatasi mereka berdua.
"Pergilah," ujar Ahzarel. Pria tersebut pergi dengan wajah yang tidak senang.
"Aku pikir kau Ahzarel~" Ujarnya, wajahnya cemberut saat pria itu menolak ciumannya. Namun akhirnya, Ahzarel mengecup bibir Lina. Kecupan itu mengganas, hampir saja Ahzarel terbawa arus.
"Kamu harus istirahat." Ahzarel menggendong Lina ke mobilnya.
"Biarkan aku pergi, aku orang asing!" Pekik Lina saat di dalam mobil.
"Katakan di mana kau tinggal?"
Ketika memberikan alamat, Ahzarel menyetir Lina sampai apartemennya, namun jalan berpihak pada Ahzarel. Jalanan macet itu berarti ia bisa lebih lama bersama Lina.
"Ahzarel." Lina mengigau memanggil nama tersebut. Air matanya mengalir keluar dari kelopak matanya.
"Ahzarel, Daike tewas! Entah di tangan siapa?" Ujar Lina. Ia mungkin sedang bermimpi mencurahkan hatinya kepada Ahzarel imajinasi.
"Matilah aku," gumam batin Ahzarel.
Begitu sampai di kamar, Ahzarel meletakannya Lina ke ranjangnya, ia pun itu tidur di sebelah wanita tersebut. Ia menarik selimut dan mendekap wanita itu.
__ADS_1
"Selamat malam," ujar Ahzarel.
Alangkah terkejutnya Lina, ketika ia bangun. Ia didekap oleh seseorang. Ia berfikir itu Daike pada awalnya, namun ia ingat bau parfum yanag dikenakan pria itu.
"Ini bukan Daike," ujar batinnya. Lina itu berusaha melepaskan dekapan yang erat tersebut. Namun, nihil, dekapan itu semakin erat dengan.
Ia ingat semalam ia berciuman dengan seorang pria. Apakah dia pria itu?
"Kau sudah bangun?" Tanya pria itu. Lina menengadah, melihat paras dari pria itu.
"Ahzarel!? Gak gak! Dia sudah ...."
"Iya, selama dua hari."
"Keluar dari kamarku mayat hidup!" Pekik Lina, berusaha ia mendorong Ahzarel.
"Iya aku pergi!" Ahzarel pergi dari kamar Lina, ia mengedipkan sebelah matanya, lalu menutup pintu.
"Hih, dasar menyeramkan."
Lina berangkat menuju universitas. Ia berlari mengejar bus yang sebentar lagi akan berangkat. Tepat pada waktunya ia berada di dalam bus, jika tidak ia sudah terjepit.
"Fokus kuliah saja Lin, jangan pedulikan mayat hidup itu," ujar batin gadis itu.
Kabar kematian Daike sudah menyebar luas di lingkungan kampus. Lina hanya dapat berpura-pura tidak tau. Seorang wanita bernama Hanayuki, panggil saja Yuki.
"Lina, aku turut berduka atas kematian kekasihmu itu," ujarnya. Lina mengangguk sambil menopang dagu. "Masih banyak pria yang menyukaimu."
"Sungguh?"
"Ya," jawab Yuki.
Yuki pergi sambil mengajak Lina menuju aula untuk acara berdoa bersama, mendoakan Daike.
Sahabat Daike, Karl. Dari awal sudah menargetkan Lina sebagai kekasihnya, namun ia mundur demi sahabatnya sendiri. Sekarang, ia bisa bebas mendekati Lina tanpa rasa tidak enak hati. Ia menyentuh pundak wanita itu dan mengelusnya.
"Ada yang lebih baik dari dia kok," ujar Karl.
"Siapa?"
"Tentu saja, aku." Karl merangkul Lina dan mengajaknya jalan-jalan ke luar universitas.
Perasaan Lina tidak enak, ia dia dibawa ke tempat yang sepi dan cukup gelap. "Kau mau membawaku kemana?" Tanya Lina.
__ADS_1
"Ke tempat dimana tidak ada satu orang pun," jawabnya. Ia menutup mata Lina, lalu mengeluarkan suntikan. Belum ia menusuk jarumnya ke Lina, mulutnya dibekap oleh seseorang dari belakang.
"Apa aku boleh buka mata sekarang?" Lina menengok ke belakang dengan mata yang masih tertutup rapat.