Psychopath

Psychopath
#40


__ADS_3

Seorang wanita melepas pengikat rambutnya dan berkaca di meja rias. Meski banyak orang yang mengelilinginya. Wanita itu merasa kesepian layaknya ruangan kosong yang tertutup dan hanya dia di ruangan tersebut.


Malam dengan sinar bulan yang menyergap masuk ke kamar wanita tersebut.


"Diam dalam sepi." Lina memperhatikan jam diponselnya, sudah menujukan pukul 05.30. Ia segera membasuh diri dan menuju tempat kerjanya.


Ia berlari mengejar kereta dan masuk ke dalamnya tepat waktu. Lina mengikat rambutnya yang terurai panjang.


Sekitar 4 menit Lina berada di dalam kereta. Ia turun dan langsung menuju ke sekolah dasar, tempat ia bekerja.


Ia masuk ke tempat bertuliskan 'Ruang Guru'. Wanita itu duduk di mejanya, di dekat jendela. Ia melihat tugasnya yang menumpuk, benar-benar membuatnya pusing.


Tak lama 2 siswa dengan tinggi sekitar 130 sentimeter masuk dan mendekati meja kepala sekolah dengan tergesa-gesa.


"Bu, ada yang berkelahi di lapangan," ujar salah satu anak dengan nafas tersengal-sengal. Benar saja, Lina mendengar pekikan seseorang dari lantai bawah, menggaung.


Beberapa guru juga mendengar hal itu dan langsung melongok keluar jendela. Mereka langsung mengambil tindakan dengan berlari menuju lapangan.


Lina juga ikut dan menyaksikan, salah satu siswa yang sedang bertengkar itu menggenggam gunting dengan tangannya yang bergetar. Tangannya tersebut di tahan dengan siswa yang hendak menjadi korbannya.


Seorang guru bernama Izumi melerai kedua anak tersebut. "Hentikan! Apa-apaan ini!?"


Lina mendekati seorang anak yang sedang memegang gunting itu, membujuknya untuk memberikan gunting tersebut kepadanya.


"Ibu guru mau bicara sama kamu sebentar," ujar Lina dengan lembut sembari memegang pundak anak itu.


Lina mengajaknya ke dekat kantin, terdapat tempat duduk di sana. Mereka mengobrol sambil menikmati es krim di cuaca yang sedang panas itu.


"Kenapa kau begitu?" Tanya Lina sembari menjilat es krim berwarna biru yang masih membeku.


"Dia mengejeku," jawabnya sambil mengulum es krim yang sama dengan Lina.


"Dia bilang apa?"


"Aku itu anak cacat, anak miskin dan orang tuaku bukan orang yang baik," jawabnya, lalu menjilat setiap sisi es krim yang hendak mencair.


"Menurutmu apakah itu benar?"

__ADS_1


"Entah." Anak itu menggigit es krim. Ia meringis seperti merasakan sakit.


"Kamu kenapa?" Tanya Lina dengan panik.


"Ngilu," jawabnya, diiringi dengan tawa kecil. Lina melihat jam tangan, lalu segera menghabiskan es krimnya. Ia menyeka mulut dengan tisu yang ia letakan di dalam saku rok mininya.


"Pelajaran segera dimulai, habiskan es krimnya dan ini tisu untuk mulutmu." Lina bangkit berdiri dan berlari kecil menuju ruang guru.


Ia mengacak-acak isi lacinya, mencari ponsel dengan pelindungnya yang berwarna pastel. "Dimana ya?" Namun, tak ada waktu lagi. Dia segera ke kelas dengan buku yang harus ia bawa.


Sebelum masuk kelas, Lina menarik nafas. Begitu membuka pintu, kelas begitu tenang layaknya pemakaman. Semua murid memberi salam dan membungkam mulutnya kembali. Lina melihat anak tadi dengan wajah tertunduk, memandangi kertas kosong dengan pulpen di tangan kirinya, yang menggores permukaan kertas.


"Kenapa aku teringat Ahzarel ya?" Dia langsung tersadar bahwa dia di dalam kelas. Ia membuka kelas dan mulai menulis di papan.


Lina juga memberi tugas yang cukup banyak agar bisa dijadikan pekerjaan rumah. Namun, ekspetasinya buyar ketika anak tadi memberikan bukunya.


Ia merogoh kantong, menarik ponsel yang Lina kenal. Ya, itu ponselnya. Anak itu meletakan ponsel tersebut di atas meja dan kembali menuju kursinya.


"Huft, terimakasih Makoto."


Di lain sisi. Ran sedang mengobati luka Ahzarel akibat pecahan kaca. Benar-benar ia merasa gila karena kejadian dini hari tadi, tepatnya pukul 03.03.


"Tuan saya telah menemukan identitas wanita itu." Sam memberikan USB kepada Ahzarel.


"Ran, kau yang urus." Pria itu tersenyum kepada sepupunya. Ia mengapit USB itu dengan 2 jari dan memberikannya kepada Ran.


Ran menerimanya sambil menggerutu lalu menuju kamarnya. Jarinya mengotak-atik keyboard dengan lihai, serta mouse-nya. Lalu, menemukan data tersebut. Rasanya ia akan gila membaca itu semua.


Ia mencetak file tersebut dan memberikannya pada Ahzarel.


"Anak ke-2 dari 3 bersaudara?"


Lina sedang makam siang di kantin. Dia mau suasana baru saat makan siangnya ini. Ia dikelilingi oleh beberapa siswi sekolah.


"Selamat makan," ujar mereka bersamaan.


Lina melihat Makoto, siswa yang tadi pagi makan es krim bersamanya. Duduk di pojok sambil mengaduk-aduk makanannya.

__ADS_1


"Bu guru?" Tanya salah satu siswi. Lina tersentak dan langsung menghadap siswa tersebut.


"Ya?"


"Kenapa ibu melihat Makoto begitu?" Tanyanya.


"Seingatku, dia pernah hampir membunuh siswa di sekolah ini," timpal siswi lain. Mereka melirik Makato yang masih saja menatap kosong makanannya tersebut.


"Dia aneh," gumam siswi di sebelah kanan Lina.


Lina menutup tempat bekalnya, ia pun mendekati Makoto yang sendirian. "Makoto, kau mau bergabung?" Tanya Lina.


"Tidak, aku lebih suka sendirian." Lina terus membujuk Makoto agar anak itu mau bergaul. Namun, nihil. Anak itu merasa risih dan akhirnya meninggalkan Lina.


"Sudahlah, bu guru jauhi saja dia," ujar salah satu siswa sambil menggenggam tangan Lina.


Siang hari menjelang sore. Lina membereskan pekerjaannya. Sepertinya hanya dia seorang diri di sekolah itu. Dia bertugas mengunci ruang guru dan gerbang sekolah.


Namun, saat tangannya membuka kunci, terasa ada yang menarik pintu tersebut. "Tolonglah ini masih sore!" Beberapa kali gagal, tetapi dia bisa menutup pintu itu pada akhirnya.


Insting wanita itu merasakan ada seseorang di belakangnya. Benar saja, saat dia berbalik berdirilah seorang anak kecil laki-laki, yaitu Makoto.


"Kau membuatku takut, Makoto." Lina bersandar pada pintu sambil mengelus dadanya.


"Aku sengaja nunggu bu guru, karena di lingkungan sekolah ini gak boleh ganjil."


"Oh, begitu rupanya. Ayo pulang," ujar Lina. Ia mengajak Makoto naik kereta.


Seorang pria dengan rambut coklat yang basah, baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu mengeringkan rambutnya.


Ia memakai pakaian serba hitam serta kontak lensa berwarna biru. Ia menata rambut sedemikian rupa, agar tidak seperti Ahzarel.


Seseorang mengetuk pintu kamarnya, dengan malas Ahzarel mendekat dan membuka pintu tersebut. "Lama banget dah," ujar Ran.


"Sabar atuh, aku sedang menjadi esteticos Gabriel****." Ahzarel mengibas poninya. Lalu, mengambil kacamata hitam, dimana kacamata tersebut terdapat kamera tersembunyi.


"Ganteng amat bos, udah mau kencan."

__ADS_1


"Diem deh! Ayo berangkat, informasi palsu udah aku kumpulin di otak****." Ahzarel mengaitkan kancing lengannya. Lalu, mengibas bajunya agar lebih rapi.


Mata Ahzarel fokus ke jalanan, akan tetapi di otaknya muncul seseorang yang menjadi tanda tanya besar. "Siapa sih dia!?"


__ADS_2