
Lina keluar dari kamar mandi dan mendapati Ahzarel sudah tertidur di atas sofa. Lina ingin membangunkanya namun ia tidak tega. Namun, di sisi lain ia tak tega jika Ahzarel tidur di sofa. "Rel," panggilnya.
Ahzarel membuka setengah matanya lalu menutupnya lagi. "Hm?"
"Apa kau tidak mau tidur di ranjang? Kau yang membayar, tapi kau tidur di sofa."
"Aku lebih suka di sofa, lebih baik kau tidur."
"Ah, baiklah. Selamat malam."
Matahari telah terbit. Lina membuka setengah matanya. Ia melihat Ahzarel sudah berpakaian rapi sembari memakan sarapan.
"Kalau mau ganti baju, ada di sana." Ahzarel menunjuk kantung belanja yang berada di depan lemari.
"Kapan kau belanja?"
"Semalam aku menelfon Sam, asisten papaku untuk membelikanku pakaian lalu mengirimnya kemari."
"Tak ku sangka kau pintar."
"Jangan buang-buang oksigen, cepat pakai bajumu lalu makan." Lina mendesis, kesal. Ia menuju kamar mandi.
Ia bingung harus pakai yang mana, semua bagus dan ia menyukainya. Matanya tak sengaja melihat label harga. "540 ribu!?"
"Ya, Tuhan."
"Kau sudah selesai?" Tanya Ahzarel dari balik pintu kamar mandi.
"Kenapa memang?"
"Aku mau keluar, kau harus menemaniku."
"Cih, baiklah terserah! Tunggu."
5 menit kemudian. Lina keluar dan tida melihat Ahzarel di mana-mana. "Tuh anak menghilang kemana?"
Lina turun menggunakan lift untuk ke lobi. Ternyata Ahzarel menunggu di lobi daritadi. Ia dilirik oleh setiap wanita yang lewat. Namun, ia tak peduli.
"Kau jadi pergi?"
"Jadilah, ayo cepat."
Mereka mampir di rumah kemarin. Tak ada garis polisi dan mayatnya masih ada. Mereka pun pergi dan berjalan-jalan.
"Hey, aku lapar." Lina menarik lengan pakaian Ahzarel dari belakang.
"Kau bicara padaku?"
"Iyalah! Buktinya aku menyentuh bajumu!"
"Aku punya nama, asisten," ucap Ahzarel, menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Aku tak akan menyebut namamu."
"Bohong~" Ujar Ahzarel sambil menundukan tubuhnya, mendekati wajah Lina. Gadis itu sedikit mundur untuk menjauhi wajah Ahzarel.
"Ma-maksudnya dari sekarang sampai selamanya!"
"Pembohong," ujar Ahzarel lagi lalu berdiri tegak. Lina mengintip dari balik tubuh Ahzarel.
Matanya berbinar-binar saat melihat gerobak dengan tulisan 'Ketoprak'. "Hey, kita makanan itu yuk!!" Ujar Lina dengan antusias.
Ahzarel menoleh ke belakang dan melihat apa yang Lina maksud. "Makanan murahan itu? Aku gak mau kau saja."
"Jangan menyesal ya." Lina langsung mengambil langkah seribu menuju tukang ketoprak tersebut, diikuti oleh Ahzarel di belakangnya.
Sekitar ada 6 orang yang makan di sana, terdiri dari wanita dan anak-anak. Walaupun tak mengenali satu sama lain, mereka tetap mengobrol dengan akrab dan santai.
"Ayo sini, mumpung dapat tempat teduh."
"Perasaan semuanya teduh," ucap batin Ahzarel.
__ADS_1
"Jujur aku tak sudi berdiam diri melihatmu makan," ujar Ahzarel.
"Kita putar balikan fakta saja, kau asistenku selama beberapa menit ke depan." Lina duduk sambil menarik-narik lengan baju Ahzarel dengan wajah manjanya.
"Aku harap ini pertama dan terakhir." Ahzarel mengikuti Lina dan duduk di sebelahnya.
Mulai pelanggan wanita bergosip sambil menyuapi anaknya dan anak-anak yang ikut campur gosipan itu
"Ya ampun, orang kaya dibawa makan ke sini."
"Saya merasa rendah."
"Boleh tuh kalau saya jodohin sama anak saya."
"Aku mau dong ma, nikah sama pangeran itu."
"Bertobatlah kalian semua," ujar batin Ahzarel.
Saat makanan sudah jadi, Ahzarel hanya memandangi asistenya tersebut sambil menopang dagu.
"Kau mau? Ini." Lina menyodorkan sendok dengan potongan ketupat yang sudah dibumbui di atasnya.
"Kau mau membunuhku dengan makanan murahan!?" Lina langsung menutup mulut Ahzarel dengan tanganya dan meminta maaf kepada pelanggan lain.
"Ish! Ini tempat umum bukan pemakaman!"
"Ayolah, coba sekali ini saja," sambung Lina. Ahzarel memakan ketupat yang ada di atas sendok. Lina mengukir senyuman jahat pada bibirnya.
"Bagaimana?" Tanya Lina. Ahzarel menelean ketupat yang terasa pedas itu.
"Pedas," jawabnya dengan nada datar.
"Ah, gak seru. Aku tuh mau melihat ekspresimu kepedesan!" Jengkel Lina sambil memakan ketupat itu dengan lahap karena kesal.
"Ekspresiku?"
"Iya!" Jawab Lina dengan jengkel. Ahzarel memutus mata rantai rasa malunya. Lelaki itu mulai berakting merasakan pedas. Hal tersebut sukses membuat Lina tertawa terbahak-bahak. Tak sengaja gadis itu menggebrak meja karena tingkah laku majikanya itu.
"Rasa malumu sudah hilang, huh? Kau berani sekali berakting seperti itu."
"Agar kau senang, nona."
"Bagus, aku hargai usahamu manusia pedalaman," ujar Lina, ia mencubit pipi Ahzarel karena sangat gemas dengan kelakuanya.
"Sekarang aku gak pura-pura, aku kepedesan." Meski dengan ekspresi datar, peluh di dahinya tidak bisa berbohong.
"Pak, tolong minum dong." Pedangang itu langsung menuangkan teh hangat ke gelas dan memberikanya pada Lina. "Terimakasih," ucap Lina.
Ahzarel menenguk teh hangat itu perlahan sampai setengah gelas. "Aku mau mati rasanya."
"Hahaha, aku mau melihatmu menderita padahal. Kenapa aku kasih minum ya tadi?"
"Sudah 30 menit kita di sini, ayo pergi."
"Baiklah, aku bayar dulu ya."
Setelah membayar, mereka menuju taman yang tak jauh dari sana. Lina mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan akun sosial medianya. "Hai semua aku lagi di taman yang aku gak tau daerahnya apa. Kalau tau coba komentar."
Lina menunjukan pemandangan taman tersebut. Namun para penontonya salah fokusnya kepada Ahzarel.
"Dari belakang ganteng, entah dari depan," ucap salah satu dari mereka di kolom kometar.
"Menurutku tidak, entah menurut kalian. Sebentar aku perlihatkan." Lina berlari ke depan Ahzarel dan merekam wajah Ahzarel yang datar itu.
Banyak yang terpesona bahkan berhalusinasi kalau Ahzarel adalah pacarnya.
"Nama akunya apa kak?" ucap salah satunya.
"Aku gak punya akun," jawab Ahzarel. Padahal dia tak melihat isi komentar itu, namun bagaimana ia bisa tau?
"Bisa kau matikan itu?" Pinta Ahzarel sambil duduk di kursi panjang taman.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Hal itu mengangguku."
"Bentar, aku pamitan dulu." Terdengar gesekan logam yang membuat Lina terancam.
"Yo, santai bro. Aku matikan," ucap Lina dengan terbata-bata dan langsung mematikan siaran langsungnya.
"Kemarilah," pinta Wil. Lina mendekat, namun ia tersandung dan hampir saja berciuman dengan Ahzarel. Spontan Lina menampar pipi Ahzarel lalu menjauhi wajah lelaki itu. Ia berjongkok dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Bodoh, bodoh, bodoh, bodoh!!" Pekiknya membuat semua orang di taman menengok kearah sumber suara.
"Jujut aku geram ingin membunuhmu, tapi nanti aku akan kesusahan karena gak ada asisten."
"Argh! Gara-gara kau aku--"
"Kualat," potong Ahzarel dengan penuh penekanan. Bagaikan ada asap putih tak kasat mata di atas kepala Lina.
"Oya tadi kau mau apa?" Tanya Lina, mengintip di antara jari tengah dan jari manis.
"Belikan aku bir," jawab Ahzarel sambil menyodorkan selembar uang.
"Tunggu, apa? Kau serius?"
"Apa wajahku terlihat bercanda?" Tanya Ahzarel kembali dengan mata merahnya yang menyeramkan.
"Ah, iya maaf." Lina menerima uang Ahzarel dan langsung melesat menuju minimarket terdekat.
Lina kembali dengan dua kaleng bir di tanganya. "Aku tak minta dua," ucap Ahzarel.
"Satu untuku." Lina duduk di sebelah Ahzarel dan memberikan kaleng birnya. Ia berusaha membuka tutup kaleng itu namum tak bisa.
"Payah."
"Cih, aku bisa membuka kaleng ini dalam waktu singkat. Jangan sombong!"
"Buka kaleng itu dalam hitungan 3 detik."
"Kalau aku kalah?"
"Goresan pisau di lenganmu."
Lina kesulitan menelan salivanya karena hukuman itu. "Aku menyerah," ucap Lina.
"Kau yang memulai dan kau yang harus mengakhirinya."
Lina berusaha membuka kaleng itu, saat itu juga Ahzarel mulai berhitung. 1... 2 ... 3 ....
Tepat di akhir hitungan akhir, Lina berhasil membuka kaleng itu. Jantung tak terkendali saat Ahzarel mulai menghitung.
"Kan!" Ucap Lina dengan antusias, karena berhasil membuka tutup kaleng tersebut
"Aku lebih senang kau gagal."
"Dasar!" Lina menyelipkan sisa rambutnya ke belakang telinga. Terlihat luka yang dibuat oleh Ahzarel untuknya.
"Lukamu sudah sembuh ya, gak seru."
"Jangan liat-liat!"
"Udah terlihat, dasar."
Sebuah bola menghampiri dan berhenti di depan dua insan tersebut. Anak-anak yang menendang bola itu memalingkan muka.
Ahzarel mengambil lalu menjuggling bola itu. Lelaki itu tidak sadar banyak orang yang merekam aksinya. Setelah 1 menit Ahzarel baru mengoper bola tersebut kepada anak-anak tadi.
"Kau keren, sayangnya kau menutupi itu semua di sekolah. Kenapa?"
"Fake friends," jawab Ahzarel. Lina bersandar di pundak Ahzarel, kepalanya terasa pusing dan melayang-layang.
"Aku pernah merasakan itu, aku lupa kapan." Lina tak sadar memeluk Ahzarel. Kepalanya pusing, entah kenapa.
__ADS_1
"Gak bisa minum tetapi tetap saja minum. Gimana sih?" Ahzarel menggendong gadis itu dan membawanya ke kamar hotel.