Psychopath

Psychopath
#24


__ADS_3

Tak biasanya pagi hari hujan sangat deras. Ahzarel masih nyaman dengan ranjang belum kunjung juga membuka mata. Sebuah tangan membelai rambut coklatnya, hal itu sangat mengganggu.


Matanya setengah terbuka dan terpampang wajah Ibunya dengan senyuman pagi hari yang indah, menutupi cuaca saat ini.


"Ahzarel?" Panggilnya.


"Ma, aku masih mengantuk! Pergilah." Tangan Ibunya ditepis begitu saja. Matanya tertutup kembali dan hampir saja memasuki alam mimpi.


"Rel, hari ini ulang tahunmu, loh, yang ke-17."


"Aku tak ingat, biarkan aku tidur." Ahzarel menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"Ayolah, mama udah bikin kue buat kamu, sayang."


"Oh, ya udah aku mau mandi****," ujarnya sambil mendudukan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengusap wajah dan mengacak-acak rambutnya.


"Baiklah, jangan lama-lama." Laura keluar dari kamar anaknya.


Ahzarel membuka gorden berwarna putih dan melihat kaca jendelanya yang berembun. Ia mengusap embun dan menatap keluar jendela yang basah.


"Saat aku lahir hujan, saat aku ulang tahun hujan. Apakah dunia ini sedih aku lahir?"


Ia membuka jendela dan merasakan air hujan yang dingin menyentuh kulitnya. "Kenapa aku menerima alam padahal mereka tidak menginginkan diriku?"


"Rel."


"Hua!" Ahzarel memutar tubuhnya ke belakang, hampir saja dia keluar jendela. "Ma!"


"Kenapa kamu kaget gitu? Hayo mikir apa? Udahlah, hujan doang gak perlu kamu pikirkan."


"Iya iya."


"Kamu udah mandi?"


"Baru mau. Aku mandi dulu." Ahzarel masuk ke kamar mandi dengan handuk yang bertengger di pundaknya.


Sedangkan Laura menunggu anaknya di ruang makan dan menancapkan lilin pada kue tart yang ia buat. "Perfecto!"


Ahzarel turun ke lantai 1 dengan baju ungu tua kesayanganya. Rambutnya yang setengah basah pun berantakan. "Setelah tiup lilin mama keringkan rambutmu."


"Gak usah, biarin kering sendiri."


"Tidak. Ayo make a wish and blow the candle."


Ahzarel berharap hidupnya lebih baik lalu meniup lilin. Bel rumah berbunyi, Laura segera membuka pintu dan melihat Ayah dan Ibu dari Wil. "Mama, papa. Terimakasih sudah datang****."


"Tidak masalah, sayang. Maaf soal Wil aku belum menjenguknya sampai sekarang," ujar wanita yang sudah lanjut usia itu.


"Wil pasti memahami keadaan itu. Silahkan masuk."


Wanita tersebut berjalan masuk ke ruang tamu dan tak sengaja melihat sosok yang sangat mirip seperti Wil, hanya saja warna rambutnya berbeda.


"Wil?" Gumamnya.


"Ahzarel! Sini sayang ada oma sama opa nih." Ahzarel datang begitu mendengar namanya dipanggil.


"Duduk sini, mama ambil makanan dulu****," ujar Laura.


"Gak aku aja, Ma?"


"Kamu baru pertama kali ketemu oma sama opa kan? Duduk aja kalian mengobrol." Laura mencium kening Ahzarel dan berlari kecil menuju dapur.


"Mirip banget kamu sama papa kamu."


"Mama juga bilang gitu," balas Ahzarel.


"Kamu udah nengokin papa kamu?"


"Udah setiap liburan, sampai-sampai aku dikira papa saat lewat kantor polisi."

__ADS_1


"Terus kamu ditangkap gitu?"


"Cuman ditanya," jawab Ahzarel.


"Kamu gak sekolah?"


"Guru rapat ke luar kota, katanya."


Laura datang, menyajikan beberapa makanan serta minuman.


"Kamu udah punya pacar belum?"


Ahzarel yang sedang minum langsung tersedak karena pertanyaan dari neneknya.


"Kamu kenapa sih?"


"Gak apa-apa, Ma."


"Cari PDKT dong, udah deket terus pasti--"


"Gak," ujar Ahzarel, memotong neneknya sedang berbicara.


"Maaf ya, Ma, soalnya dia itu anti sosial kalau di sekolah."


"Ahaha saya paham, kayak Wil dia tuh."


Ahzarel yang mulai gak enak perasaanya, menuju kamar meninggalkan 3 orang tua di ruang tamu.


"Maaf, dia suka begitu."


"Gak apa-apa."


Ahzarel menjatuhkan diri keatas ranjang. Ia meraih pisau lipat dengan ukiran nama Ayahnya. Pisau tersebut ia arahkan ke lenganya dan mulai menyayat tanganya.


Darah mengalir keluar hingga menyentuh permukaan seprei dan merambat hingga terlihat menjadi lautan darah.


"Pacar ya?" Ahzarel natap plafon putih polos rumah, dirinya ingin menggapai plafon itu namun tak sampai.


"Terlalu, jauh."


Ahzarel mengarahkan pisau tersebut ke lehernya dan mulai menggoreskan pisau itu sehingga menjadi sebuah luka. Kamar Ahzarel begitu terang karena sinar matahari siang.


Laura masuk ke kamar Ahzarel dan melihat anaknya terbaring lemah di atas ranjang dengan tangan menggantung yang meneteskan darah. Ia mulai panik dan menengok wajah anaknya yang pucat pasi seperti mayat.


"Rel! Rel kamu ngapain sih?"


"Jangan bodoh, jangan menyusul papamu dengan cara seperti ini!"


"Kenapa Laura?" Tanya Ibu Zhou yang panik, karena teriakan menantunya.


"Ahzarel, dia gak bergerak."


"Sebentar, saya panggil dokter!"


"Bodohnya aku gak bisa jaga anak sendiri!" Laura menggengam erat tangan anaknya yang lemah itu. Hidupnya hancur jika sesuatu yang lebih buruk terjadi kepada anak semata wayangnya.


"Dokternya sebentar lagi datang, kamu tenang dulu ya, Ra."


"Aku gak bisa tenang, Ma." Air mata Laura jatuh dan membasahi tanganya dan tangan anaknya.


Hujan belum juga berhenti, namun langit sangat cerah hari itu. Ahzarel dilarikan ke rumah sakit, Laura sedih karena anaknya kekurangan darah sangat banyak. Ia bingung, stok darag golongan darah AB itu habis.


"Ya Tuhan aku pusing, aku bingung. Tolong beri aku jalan." Terdengar suara hujan yang sudah mereda dan lama-kelamaan menghilang.


"Haduh Ya Tuhan!" Laura menjambak rambutnya sendiri karena pusing memikirkan anaknya.


"Kau benar-benar menyiksaku, Rel!!"


Laura mondar-mandir dengan pikiran yang membanjiri otaknya. Di tengah keasikan itu, Laura dikejutkan oleh suara yang tak asing baginya.

__ADS_1


"Mama ngapain sih mondar-mandir? Aku mual liatnya," ujarnya. Laura menengok ke ranjang pasien dan mendapati anaknya sudah dalam posisi duduk.


"Rel? Beneran kamu? Bukan orang lain kan?" Laura mendekati ranjang dan menyentuh kedua pipi remaja yang beranjak dewasa itu.


"Kalau aku hantu, mama gak bisa pegang pipi aku dong gimana sih?"


"Kamu mau makan?"


"Iya, apa aja kecuali sayur."


"Justru sayur yang buat kamu sehat! Tunggu sini."


"Lagipula aku tak mampu kemana-mana." Begitu Ibunya pergi, hujan turun sangat deras. Ahzarel menengok kearah jendela yang berembun. Hatinya sedih, dadanya sedikit sakit karena itu.


"Dunia ini lebih suka aku gak ada," ujar batin Ahzarel.


Malam berlalu. Pagi yang cerah, seorang gadis sedang berlari mengejar bus yang hendak berangkat. Beruntung ia tepat waktu masuk ke dalam bus.


"Huh astaga." Gadis itu mengikat rambutnya yang terurai panjang. Hingga papan namanya terlihat.


Angelina Hinata. Siswi pindahan dari kota sebelah. Ia baru pindah hari ini, terlambat 2 hari dari hari pertama masuk sekolah.


Di depan kelas hendak memperkenalkan diri, ia merasa canggung. Tak ada satupun yang ia kenal di dalam kelas tersebut.


"Nama saya Angelina Hinata, panggil saja saya Lina."


"Baiklah, Lina. Silahkan duduk sementara di kursi kosong sebelah sana," ujar guru itu sambil menunjuk kursi yang dimaksud.


Lina menduduki kursi itu dan mendengar bisikan dari murid yang duduk di belakangnya.


"Kalau Ahzarel udah masuk gimana ya?"


"Entah, untung cewek."


"Ahza, siapa tadi?"


"Punya nama kok ribet banget."


Kegiatan di sekolag berjalan dengan lancar. Lani tak berniat langsung pulang, ia ingin menjenguk adiknya yang sedang sakit.


Kakinya melangkah menyusuri loby dan masuk ke lorong. Tanganya merogoh tas untuk mencari ponselnya, tak kunjung jumpa ia melongok ke dalam tas.


Tak sengaja ia menabrak orang dan kehilangan keseimbangan hingga terjatuh. "Jangan mencari barang sambil jalan!" Ujar lelaki jangkung sambil memegang tongkat infus. Kedua lenga dan lehernya di perban, terdapat bercak darah yang menghiasi perban yang putih itu.


"Maafkan saya, saya--"


"Ponselmu di tanganmu daritadi."


Lina melihat tangan kananya yang sedang menggenggam ponsel miliknya. Ia menepuk dahi dan mulai mengingat, bahwa dia daritadi memainkan ponselnya.


"Tunggu darimana kau tau aku sedang mencari ponsel?"


"Nebak," jawab lelaki itu. Lina bangkit berdiri dan melihat tingginya dengan lelaki itu beda jauh.


"Tingginya," gumam Lina, ia menampar kedua pipinya sendiri dan melanjutkan perjalananya menuju kamar adiknya.


"Kakak!!" Teriak seorang anak kecil laki-laki saat Lina memasuki sebuah kamar. Lina langsung memeluknya dan mengecup keningnya.


"Jino, bagaimana kabar kamu?"


"Aku merasa lebih sehat," jawabnya. Ia sendirian di kamar itu dengan mainan-mainanya yang berserakan di tempat tidur.


Saat sedang bermain, Lina teringat oleh lelaki jangkung tadi. Terutama, matanya yang merah menyala seperti iblis yang murka. Jika membayangkanya lagi dia merasa takut dan bulu kuduknya berdiri. "Dia menyeramkan."


"Kakak, aku mengantuk!"


"Ah iya, kakak hubungi mama biar temani kamu di sini."


"Baiklah kak, aku tidur duluan ya."

__ADS_1


"Iya," balas Lina. Ia menelfon dan menunggu Ibunya sampai datang.


__ADS_2