
Ugh....
Lina terbangun hanya melihat kegelapan, benar-benar tempat yang sempit. Ia hanya bisa bergerak dengan sedikit. Lina merasa tubuhnya begitu lemas, tak mampu berbuat apapun. "Dimana aku?"
Sebuah cahaya menyergap tempat gelap tersebut. Seorang pria yang ia lihat tempo hari ada di hadapannya. "Ternyata kau sudah bangun, tidurlah lagi." Pria itu mengeluarkan suntikan dan memasukan jarum pada leher Lina.
Kelopak mata Roy terbuka setelah tidur sekitar 3 jam. Ternyata dia masih di pesawat. "Huft~ Kapan sampainya coba?" Ia melirik ke kursi sebelah. Terdapat Makoto di sana, tapi dimana Lina?
"Loh, harusnya kita satu pesawat." Roy mencari-cari wanita itu. Ia menengok ke belakang dan ke depan. Tak menemukan wanita itu dimanapun. "Ck, di mana dia!?"
"Ada apa?" Tanya Makoto. Roy menengok dengan wajah sedih.
"Kau melihat Bu Guru Lina?" Tanya Roy. Kepala Makoto hanya menggeleng.
"Bagaimana aku bilang ke Ran?"
Jari-jari lentik mengangkat panggilan dari ponselnya. "Halo?" Sapa Ran.
"Ran! Begini .... "
"Apa!? Papa jangan main-main!" Ran mengigit bibir bawahnya. Suara pria di seberang telepon terdengar begitu menyesal. Pria itu meminta maaf berkali-kali.
__ADS_1
"Ya sudah, papa tenang aja. Aku akan cari Lina semampuku," tungkas Ran.
"Kenapa?" Ahzarel baru saja terbangun dari tidurnya. Berjalan mendekati Ran sambil menyibak rambutnya ke belakang.
"Sok ganteng lo. Lina gak ada sama papa," ujar Ran.
"So?"
"Argh! Kenapa lo tak bisa akur dengan mantan sih?" Tanya balik Ran.
"Aku tak pernah pacaran." Jawab Ahzarel sambil menuju dapur untuk membuat teh. Ran hanya bisa menepuk dahi melihat kelakuan sepupu itu.
"Gue akan kasih kutukan buat lo suatu hari nanti, Rel. Liat aja," gerutu batin Ran. Wanita itu mengepalkan tangan dengan seluruh emosinya yang ada dikepalan tangannya.
'Dimana dia?? Apa yang akan kau lakukan?'
'Santai dong'
'Dia cuma akan ku interogasi sedikit' Jawabnya. Ran merasa kesal atas jawaban tersebut. Wanita tua itu memberi tau lokasinya. Segera Ran mendatangi wanita tua itu, bersama Sam.
Ketika di dalam mobil. "Anda tidak mengajak Tuan Ahz--"
__ADS_1
"Tidak!" Jawab Ran dengan tegas.
"Ba-baiklah," ujar Sam dengan ragu. Ia memarkirkan mobilnya di seberang gedung yang menjulang tinggi tersebut.
"Nona Ran, apa kau yakin?"
"Wish me luck," jawab Ran sembari membuka pintu mobil itu.
Kepalanya menengok ke arah lampu penyeberangan yang masih berwarna merah. Ia menatap jalanan dengan kendaraan yang melaju kencang.
Tiba-Tiba....
Ia didorong oleh seseorang hingga tersungkur, dan bertepatan ada truk yang sedang melaju kencang ke arahnya. Suara decitan antara rem dengan ban, juga suara pergesekan antara permukaan ban. Ran menutup mata rapat-rapat.
Ardila menyulut rokok sambil menyaksikan Lina disiksa oleh para bawahannya. Sudah 12 cambukan diterima badan Lina. Bekas berwarna merah terlihat di lengan gadis itu.
Jeritan-jeritan Lina bagaikan musik di telinga Ardila. Wanita itu juga berkali-kali memohon ampun kepada Ardila. "Diamlah! Nikmati saja rasa sakitnya!" Bentak Ardila.
"He-hentikan! Sakit!!" Lina meringis bahkan mengerang kesakitan. Air matanya terus menerus keluar. Sampai suara tembakan beruntun terdengar dari luar ruangan.
Tiba-tiba seseorang masuk lalu jatuh tersungkur. Seorang pria yang Ardila kenal, Gabriel dengan kacamata hitam yang melekat di wajahnya. "Tolong! Di luar ...." Ardila yang mendengar itu, meminta semuanya keluar dari ruangan.
__ADS_1
Hanya mereka bertiga saja di ruangan itu. Gabriel mengambil papan kayu untuk mengganjal. Pria itu membuka kacamatanya sambil tersenyum licik, mencerminkan seseorang. Seseorang yang bisa dikatakan salah satu anggota keluarga Ahzarel.