Psychopath

Psychopath
#41


__ADS_3

"Rel!" Panggil Ran dengan panik, mulutnya berkata-kata yang membuat Ahzarel sama paniknya.


"Hah? Beneran!?" Ahzarel langsung mengambil ponsel dan menyuruh seseorang di bandara untuk membatalkan penerbangan pesawat.


Selesai menelepon Ran meminta ayah dari wanita itu untuk segera pulang. "Loh, lo kok gak ngajak Lina?"


"Suka-suka hatiku!" Ujarnya dengan nada tinggi. Pria itu memasang suara berat dan menelepon seorang wanita.


"Kau di mana?" Tanyanya.


"Ow, halo Gabriel," jawab seorang wanita dari seberang telepon. Suaranya yang manja membuat Ahzarel, alias Gabriel itu merasa geli.


"Kau belum menjawab pertanyaanku****." Tanya Gabriel menjadi dingin karena panik yang ia rasakan.


"Aku sedang si bandara, sayang. Aku akan terbang ke Negeri Sakura, untuk mencari wanita dan pria yang sering bersama Ahzarel itu****."


"Untuk apa?"


"Untuk apalagi kalau bukan menculiknya dan memaksa mereka berdua untuk membuka kunci pada mulutnya," jawab Ardila. Ia memberi kecupan manis dari balik telepon sebelum menutup panggilannya.


"Aku harap penerbangannya sudah dibatalkan."


"Tenanglah, Rel. Gue sudah telpon papa, dia juga akan ajak Lina kemari."


"Aku tidak peduli soal Lina-nya, tapi terimakasih." Ahzarel membanting dirinya ke sofa yang empuk, menatap plafon putih yang tinggi.


"Terserahlah. Rel, gue tau lo itu menghindar dari Lina, tapi gak segininya bung!" Ahzarel seakan tak menanggapi ucapan Ran. Ia mengalihkan pembicaraan.


"Urus aja papamu, kapan sampai." Ahzarel memakai kacamata hitamnya yang terdapat kamera tersembunyi.


"Gak ada ruang lagi untuk wanita manapun."


Kakinya menjulur hingga ke meja yang ada di depannya. Ia mengayunkan gelas berisi wine putih secara memutar. Ia mengirim pesan teks untuk Gabriel.


'Aku akan pulang seminggu lagi****' Ia tersenyum licik.


"Maaf nona, cuaca sedang buruk di rute yang anda tuju. Jadi, penerbangan hari ini dibatalkan." Pramugari pribadi itu menunduk, seperti menyembunyikan sesuatu. Namun, Ardila tak menyadari hal itu.

__ADS_1


"Kita terbang besok, keinginan saya mutlak."


"Baik," balas pramugari itu. Lalu, seorang pramugara menghampiri Ardila dan menawarinya minum.


"Tidak terimakasih," ujar Ardila. Sebuah notifikasi muncul di ponsel wanita itu. "Gabriel."


'Baiklah, saya akan tunggu' Jawab pesan itu.


Gabriel menuju ruang kerja Ardila. Untung saja tidak ada penjagaan yang ketat hari itu. Pria itu menekan saklar lampu dan tak terjadi apapun. "Cih, orang kaya tapi gak bayar listrik."


Pria itu mengeluarkan ponsel dan menyalakan senternya. Ia mencari sesuatu, meski rencananya ini bodoh tapi mungkin saja ia lalai. "Harusnya aku bawa senter yang biasa aja."


Kenop pintu seakan diputar. Gabriel langsung menutup laci dan mematikan senternya. Ia bersembunyi di tengah-tengah kegelapan.


Telepon yang berada di kantor kerjanya itu berbunyi, panggilan masuk entah dari siapa. Seseorang yang membuka kenop pintu itu membuka paksa pintu, karena tadi Gabriel sempat mengganjalnya dengan papan kayu.


Ia meraih gagang telepon dan mendekatkan telepon tersebut ke telinga. "Siapa?" Tanyanya langsung.


"Maaf tuan, saya salah sambung." Pria tersebut mengakhiri panggilan dan membanting telepon tersebut.


Gabriel langsung mendekati kunci tersebut, tetapi ternyata pria tersebut kembali ke dalam ruangan.


Lina di telepon oleh Roy, memintanya segera ke bandara untuk nenemui Ran. Lina mengangguk dan langsung berkemas. Sebuah batu menghantam kaca jendela Lina.


"Astaga!" Pekik Lina. Rasa ragu menyelimuti hati Lina, ia memberanikan diri untuk mendekat jendela dan melihat siapa yang melemparkan batu.


Rambut hitam legam yang mengkilat terlihat jelas. Ia tersenyum, menutup matanya sambil melambaikan tangan. Namun, di tangannya tersebut terdapar pistol. Ia menodong pistol tersebut ke arah Lina, matanya terbuka. Warna kuning yang menyala dari sela-sela kelopak mata.


Mulutnya berkata tak bersuara. "Matilah kau," ucap mulut itu. Lina mengambil tas dengan baju-bajunya di dalam. Ia segera keluar kamar melalui pintu belakang.


Ternyata pria yang tadi sudah ada di taman belakang. Terlambat untuk lari, pria itu mendekap Lina dari belakang dan membekap mulutnya dengan saputangan.


Uap obat tidur itu sudah sampai ke bagian saraf Lina. Ia merasa mengantuk, matanya sangat berat.


Wanita tua bernama Ardila, mendapat pesan dari seseorang bernama Roki. 'Beres' ucap pesan itu.


Ardila tersenyum senang. "Kau pikir kau bisa kabur dariku, sayang?" Ardila menjamah foto yang diberikan oleh Roki dengan jari-jarinya. Foto Lina yang sudah ada di bagasi mobil Roki.

__ADS_1


Terdapat pesan lagi di bawah foto tersebut. 'Tenang, saya sudah susun semua rencana'


'Bagus' Balas Ardila. Dia memanggil asistennya dan memberitau bahwa dia tak jadi terbang ke Negeri Sakura tersebut.


Pria dengan tubuh besar dengan mukanya yang garang menatap seisi ruangan dan mendapati Gabriel sedang mengambil kunci. Pria tersebut sangat hapal dengan kunci tersebut, itu kunci miliknya.


Tangan pria itu langsung mengambil tongkat kasti dan mengayunkannya. Mendarat mulus di kepala Gabriel, tidak kepala Ahzarel lebih tepatnya, pria iti tersungkur. Kacamata pria muda itu terlepas. Tak nyaman dengan kontak lensanya, pria itu juga melepasnya.


Ahzarel segera berbalik dan menatap mata berwarna hijau yang sangat mencolok. "Sial ketauan," gerutu batinnya.


Pria itu terbelalak, menatap Ahzarel dengan amat marah dan menyerangnya dengan sangat brutal.


"Akh! Kalau kayak begini terus, tubuhku bisa hancur." Sekuat tenaga Ahzarel memukul kepala pria besar tersebut.


Ahzarel mengeluarkan pisau, dengan suara gesekan besi tersebut saat Ahzarel menarik tuasnya. Mata pisau itu muncul sempurna dengan cahaya bulan yang menghiasi pisau tersebut.


"Pertarungan dimulai," gumam Ahzarel. Dia sudah lama tak berkelahi, ada keraguan di hatinya, mungkin ia akan terbunuh saat ini juga. Pria itu mulai menyerang, begitu juga dengan Ahzarel.


Ahzarel langsung menusuk mata pria besar tersebut, tak peduli dengan jerit sakitnya. Lalu, mencabut mata beriris hijau itu. "Candy from a baby," gumam Ahzarel.


Pria besar itu tumbang sambil menjerit-jerit dan memegangi mata kanannya yang tercabut itu.


Ahzarel melihat kunci yang ia ambil tadi. Terdapat angka kunci tersebut, 7403. "Kamar hotel? Berangkas?"


Ahzarel yang lengah, perutnya dipukul debgan kencang berkali-kali. Pria besar itu menatap mata Ahzarel dengan penuh kebencian. "Kalau mataku hilang, kau juga!!" Pekiknya sambil berusaha meraih mata merah Ahzarel.


Tentu saja pria muda itu melawan. Darah yang menetes dari balik kelopak mata pria tersebut mengenai pipi Ahzarel. "Aku tidak akan menyerang bagian itu." Ahzarel berusaha menahan diri, walau dirinya ingin sekali menendang bagian sensitif dari pria itu.


Karena kelengahan itu, pisau yang Ahzarel genggam terpental. Sebenarnya tidak terlalu jauh, Ahzarel terus berusaha meraih pisaunya tersebut. Namun, sikutnya diinjak oleh pria itu. Ahzarel sudah tak ada tenaga, ia pasrah yang akan terjadi kepadanya.


Tiba-tiba suara tembakan terdengar, hampir saja pria besar tersebut menimpa tubuh Ahzarel yang kecil. Tubuh dari pria besar itu tarik menjauhi Ahzarel.


"Pantesan lama! Berantem dulu," gerutu Ran. Sambil meniup bubuk mesiu di sarung tangan kulitnya. Wanita itu melempar pistol tersebut di tempat gelap. Lalu, mengajak Ahzarel pulang.


"Semoga tulangku gak ada yang retak."


__ADS_1


__ADS_2