
Lina berhasil membawa pria itu mendekati tempat Ahzarel menunggu. Namun, dia tidak lihat wujud manusia itu dimana-mana. "Dia meninggalkanku?" Tanya batin Lina yang sedikit panik karena di tinggal berduaan oleh pria mesum ini.
Tiba-tiba sebuah tangan keluar dari kegelapan membekap mulut pria itu dan langsung menariknya. Lina langsung berbalik badan dan tidak melihat pria tersebut, menghilang begitu saja.
"Ya Tuhan, apa jalan ini berhantu?" Dirinya baru menyadari ada sebuah gang yang begitu gelap. Ia menyalakan korek api yang ia bawa, tak tau apa alasanya ia membawa korek tersebut.
Cahaya yang remang-remang memperlihatkan Ahzarel sedang membuka pakaian pria tersebut.
"Kau mesum," gumamnya. Ahzarel melirik dan menutup cahaya korek api dengan tanganya.
"Silau, bisa kau matikan?" Pintanya. Lina
menurut saja dan melihat mata merah yang terlihat jelas. Matanya seperti kucing, dapat menyala di dalam gelap.
Matanya sudah terbiasa dengan gelap ia samar-samar melihat Ahzarel akan membedah pria itu.
"Apa yang kau lakukan? Kau akan membunuhnya?"
"Diam," ujarnya dengan suara lirih dan berat.
Lina membungkam mulut. Dia melihat Ahzarel memotong tubuh pria itu dan memisahkan leher dan kepalanya. Darah dimana-mana. Lututnya lemas, ia takut terhadap manusia bertangan dingin seperti dia.
"Aku pinjam pematik apimu." Lina memberikan pematiknya dengan tangan gemetar. Ia melihat Ahzarel membakar sarung tangan yang ia pakai dan menebarkan abunya tidak mengumpul.
"Ayo pergi," ujar Ahzarel setelah 1 jam berlalu. Lina berdiri tegak sambil berjalan keluar gang.
Lina menelan air liurnya dengan susah payah. Kejadian tadi mengingatkan dia pada adiknya, beruntung adiknya selamat hari itu.
"Kau betah dengan pakaian kotor begitu?" Bisik Lina. Ahzarel menengok dan tersenyum kecil.
"Tentu, kenapa tidak?"
"Kita ke toko baju itu. Ayo," Ujar Lina. Ia mengenggam tangan Ahzarel yang terasa dingin dan menariknya menuju toko baju di dekat mereka.
Lina membuka pintu dan langsung menuju pakaian untuk laki-laki. "Wah bajunya keren-keren." Lina menyentuh baju hitam dengan kerah dan lengah berwarna putih yang menghiasinya. Namun, saat melihat harganya yang begitu di mahal Lina mengurungkan niat untuk memberikanya kepada Ahzarel.
Ia berbalik badan dan melihat Ahzarel sedang melihat baju berwarna ungu tua, dihiasi dengan warna hitam di ujung lenganya.
"Ayo pilih lalu aku mau pulang," ujar Lina sambil melipat tanganya.
Ahzarel berjalan mendekati baju yang di sentuh Lina tadi lalu membawanya ke kasir. Lina terpaku melihat Ahzarel mengambil baju tanpa melihat harganya.
"Kau tidak melihat harganya dulu?"
"Haruskah?" Lina mendengus kesal mendengar hinaan itu.
"Cih! Dasar orang kaya!" Pekiknya dalam hati.
Setelah membayar, Ahzarel langsung mengenakan baju itu dan membakar baju lamanya. Lina yang sudah mengantuk berpamitan pulang ke Ahzarel. "Aku mau pulang, sampai jumpa."
Baru saja ia melangkah, mulut Lina dibekap dengan sapu tangan yang ternyata sudah diberi obat tidur. Pandanganya menggelap dan tak sadarkan diri.
Tak tau berapa lama ia pingsan, namun saat membuka mata ia seperti berada di gudang barang. Tanganya diikat pada tiang, ia baru menyadari Ahzarel diikat bersamanya di belakanganya. Ia menyadari itu karena terdapat cermin besar di sebelah kirinya Lina.
"Masih belum bangun juga tuh orang?" Matanya memicing saat memastikan cairan yang mengalir dari kepala lelaki itu.
"Dia terluka!?"
Beberapa lama kemudian, Ahzarel mengerang lirih. Ia mendongak dan melihat sekeliling.
"Apa yang terjadi?" Tanya Lina, membuat Ahzarel menghadap ke kanan.
"Aku gak tau, kepalaku sakit."
"Kau amnesia ya?"
"Buktinya aku masih ingat papaku."
"Oya, aku tak pernah lihat orangtuamu."
__ADS_1
"Bulan depan saat ambil rapot pasti datang."
"Astaga, masalah begitu aja dia inget?" Lina menggelengkan kepala, heran.
"Kepalamu terluka gitu gak sakit kah?"
"Oya? Aku baru sadar."
"Ya Tuhan, dia ini manusia atau batu sih?"
"Hey, bisa kau ambil pisau di kantung celanaku?" Lina berusaha menggapai pisau tersebut, susah namun demi lolos.
"Singkirkan tanganmu, ada orang yang akan datang."
Lina tak mendengar langkah kaki sepelan apapun. Kemudian, seseornag membuka pintu dengan paksa oleh seorang pria berbadan gemuk. Lina langsung bersikap biasa walau sedikit kaku.
"Aku kira dia bohong!"
"Sudah bangun ternyata, terutama kau bocah laki-laki merepotkan."
"Memang aku ngapain?" Tanya Ahzarel.
"Dasar bodoh, kau melawan tau gak?"
"Tak ingat dan tak peduli."
"Pria ini bosan hidup sepertinya," ucap batin Lina. Setelah Ahzarel berbicara demikian, kepalanya di tendang dengan kencang.
"Kan." Lina mengambil kesempatan emas untuk mengambil pisau secara diam-diam. Berhasil, namun ia susah untuk memakai pisau tersebut.
"Pisaunya ribet!"
"Diam di sini jangan kemana-mana!" Pria itu keluar sambil membanting pintu.
"Ini pisaumu."
"Uh, tidak."
"Orang pedalaman mana kau? Hey, kau tidak merasakan ada tuas kecil di tepinya?" Ujar Ahzarel sambil menahan kekesalanya.
Ternyata ada tuas kecil seperti yang diucapkan oleh lelaku di belakanganya. Lina menjauhi sedikit pisau itu dari Ahzarel lalu menarik tuasnya, mata pisau itu muncul.
Lina langsung motong tali yang mengikatnya. Tanganua sedikit tergores karena perbuatanya sendiri. "Aw, sakit."
Ia memotong tali yang megikat Ahzarel juga. Namun, pria tersebut kembali dan melihat Lina sudah meloloskan diri. Ahzarel merebut pisaunya dari tangan Lina dan langsung menusuk kepala pria gemuk tersebut dan membelahnya.
"Kau mau lewat jendela atau pintu depan?" Lelaki itu memunculkan tanganya yang tersembunyi di balik lengan jaketnya namun ia memasukanya kembali dan memegang pisau dengan tangan berbeda.
"Kalau pintu depan kau akan membunuh mereka semua?"
"Tentu, kalau tidak mereka pasti melihat mayat ini, terus melaporkan ke polisi."
"Baiklah, aku akan tunggu sini. Saat kau selesai aku akan keluar," ujar Lina sambil tertunduk dan mendekap kakinya.
"Kau akan memandangi mayat ini?"
"Ah, tidak!" Lina kembali bangkit berdiri.
Entah, apa yang ada di pikiran Ahzarel, ia mengelus kepala Lina lalu menariknya keluar gudang itu. Melihat target, Ahzarel memberikan jaketnya kepada Lina lalu maju menyerang mereka semua dengan brutal.
"Saat sudah dewasa dia jadi tukang potong daging sepertinya."
Sebuah benda hangat menempel di kepala Lina. Ia melirik, ujung pistol menyentuh kepalanya.
Tiba-tiba sebuah kapak melayang dan memutuskan tangan wanita yang menodongnya pistol tersebut. Wanita itu mengerang kesakitan lalu menendang wajah Lina dan kabur.
Kabur pun terlambat. Ahzarel menarik pelatuk pistol, pelurunya mendarat sempurna di kepala wanita itu 3 kali. Setelah semua beres, Ahzarel berlari mendekati Lina.
Nafasnya tersengal-sengal. Banyak darah di pakaianya. "Ayo kita keluar dan segera mengobatimu."
__ADS_1
"Iya, ayo." Ahzarel memakai jaketnya untuk menutupi noda darah. Mereka berjalan keluar dari tempat berdarah tersebut.
Lina merasa asing dengan tempat yang ia lihat sekarang.
"Dimana ini?" Tanya Lina. Ia benar-benar tidak tau ini dimana.
"Kayaknya, ini kota yang jauh dari tempat tinggal kita."
"Jangan-jangan kita di...."
"Kita cari penginapan."
"Eh?"
"Kau tuli? Ayo cepat." Mereka menemukan hotel bintang 5 yang cukup jauh dari tempat mereka di sekap.
"Pesankan kamar," ujar Ahzarel kepada Lina. Gadis itu menghela nafas kasar, sudah tugasnya menjadi asisten dan akan sangat menyebalkan.
"... Maaf kami hanya tersedia satu kamar yang kosong."
"Batal--"
"Saya ambil." Lina menengok kearah Ahzarel. Tapi, dia langsung memaklumi karena wajah Ahzarel yang nampaknya sudah sangat lelah.
"Baik tunggu sebentar."
"Perlu tambahan ekstra bed-nya?"
"Tidak," jawab Ahzarel. Kunci kamar diterima, mereka menaiki lift untuk menuju lantai 5.
Di depan kamar, Lina membukakan pintu dan langsung menjatuhkan dirinya ke kasur. "Apa kau lupa kalau kau sedang memaki rok mini?"
"Ah, kau mengintip!" Pekik Lina sambil menurunkan serta menahan roknya.
"Itu terbuka tidak sengaja," balas Ahzarel. Dia membuka bajunya dan mengambil handuk lalu memikulnya di pundak.
"HEY! KAU TIDAK BERFIKIR ADA WANITA DI SEKITARMU?" Pekik Lina sambil menutup matanya dengan kedua tangan.
"Aku hanya buka bajuku tidak sampai celana, bawel." Ahzarel masuk ke kamar mandi lalu membasuh diri.
Sedangkan Lina menunggu di luar sambil melipat baju Ahzarel. Ponsel pria itu bergetar dan menunjukan nama kontak 'Mama'.
Lina segera mengangkat panggilan itu.
"Halo Ahzarel?" Ucapnya di seberang telfon.
"Um, maaf tante ini Lina. Saya temanya Ahzarel, ada apa ya?"
"Oh, iya iya. Tolong bilang ke Ahzarel ... Ya?"
"Tentu tan," balas Lina.
"Baiklah sampai jumpa."
"Sampai jumpa, Tan." Panggilan di tutup. Ahzarel keluar dengan baju mandi puth yang terlihat tebal dan lembut.
Lina terpesona melihat Ahzarel dengan rambut basahnya. "Kau sakit?" Tanyanya.
"Hah? Gak, kenapa?"
"Wajahmu merah," jawab Ahzarel. Lelaki itu mendekat dan menyentuh kening Lina. "Sedikit panas. Sebaiknya kau mandi dan istirahat."
"Aku gak sakit!"
"Terserah, cepat sana." Lina mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi sambil menghentakan kaki.
"Awas terpeleset," ucap Ahzarel. Lina berdeham lalu menutup pintu kamar mandi.
Ahzarel mengambil ponsel lalu mengecek isinya. "Mama nelfon?" Ahzarel tidak menghiraukan itu dan menelfon orang lain.
__ADS_1