
Lina bangun dari tidurnya yang nyenyak. Kini, ia berada di dalam kamar tak di kenal, temanya sangat gelap seperti kamar laki-laki.
Tak lama seorang wanita masuk dengan wajah arogant. Ia membawa nampan yang terdapat makanan di atasnya. "Makanlah, nanti Kak Ahzarel marah," ujarnya sambil menyodorkan nampan tersebut.
"Manusia purba punya adik?" Tanya Lina kepada dirinya sendiri.
"Aku sepupunya. Cih, dia merepotkanku," sahutnya. Ia mengulurkan tangan dan saling berkenalan.
"Ran," ucapnya.
"Lina," balas Lina.
Tak lama Ahzarel masuk dan menyuruh Ran keluar kamar itu. "Hey inikan kamarku, kenapa kamu yang atur?!" Tanya Ran dengan nada tinggi.
Tangan kekar Ahzarel menggapai rambut hitam Ran dan menariknya keluar. "Jangan bicara padaku seperti itu." Ahzarel membanting pintu kamar.
"AHZAREL B*JING*N!" Pekik Ran dari luar kamar, ia bangkit berdiri dan menendang pintu kamarnya sendiri dengan kencang.
Di dalam kamar, Ahzarel mencari diary papanya. Namun, nihil. Sepertinya diary itu di bawa oleh ibunya. "Sialan!"
"Apa sih? Aku hampir saja tersedak."
"Diam saja kau!"
"Manusia purba galak ih," gumam Lina sambil meminum air mineral, untuk menyegarkan kerongkonganya.
"Sudahlah," ujar Ahzarel dengan nada pasrah. Ia membanting tubuhnya keatas kasur.
"Astaga! Untung saja aku udah selesai makan."
"Kenapa?"
"Tumpah semua nanti, gimana sih!?"
"Berisik, aku mau tidur," ucap Ahzarel dan langsung tidur dengan posisi tidak nyaman tanpa bantal.
"Aku pengen tampar, sekali aja," ucap Lina dengan geram di dalam hatinya.
"Tidur yang enak ngapa," ujar Lina sambil menarik-narik lengan Ahzarel. Dia heran karena lelaki itu tidak bergerak.
"Demi apa dia udah tidur?" Tanya Lina. Ia menekan-nekan pipi serta kelopak Ahzarel dengan jari telunjuknya.
"Tidur beneran dia, ya udahlah aku pulang." Lina mengambil pakaian miliknya lalu pamit pulang dengan Ran.
Perjalanan panjang mengharuskan dia menaiki bus yang biasa ia naiki untuk ke sekolah. Di dalam bus ia melihat seorang gadis, yang terkenal akan kenakalanya, membully.
"Astaga, diakan fansnya manusia purba, gadis resek itu." Ketika sedang fokus memperhatiakanya, mata gadis itu tertuju pada Lina tanpa diduga.
Lina memalingkan wajahnya kearah yang tak dapat dijangkau gadis itu. "Matilah diriku, kalau dia sadar ada aku. Beruntunglah tak lama ia sampai di halte tujuanya.
Lina bergegas masuk ke gerbang perumahan dan berlari kecil menuju rumahnya. Tanganya yang kurus membuka pintu.
__ADS_1
"Lin?" Panggil seorang wanita dengan suara yang lembut. Lina terkejut langsung menghadap ibunya yang tercengang melihat dirinya.
"Ya ampun Lin, kamu darimana aja? Mama denger kamu absen loh gak tau kemana, terus kamu dihukum di hari pertama. Iya?"
Lina sebenarnya takut ibunya marah. Tapi, dia memberanikan dirinya untuk bicara."Anu, Ma. Aku diculik dan dibawa ke luar kota. Masalah dihukum itu benar, tapi aku gak tau kalau dia pemilik tempat duduk yang aku tempati dan aku gak bawa hp."
"Diculik!? Ya ampun kamu terluka gak?"
"Gak, Ma. Udah ya aku mau mandi terus istirahat."
"Ya, sana."
Di kamar, Lina teringat oleh Ahzarel, yang berulang kali menyelamatkan dia dan berulang kali membunuh seseorang tanpa belas kasihan. "Ih kesel!"
Hari sudah malam, Lina merebahkan diri sambil menatap langit yang dipenuhi bintang. Ponselnya berbunyi, terdapat sebuah pesan masuk.
"Sudah tidur?" Pesan dari ketua kelas yang Lina suka. Hatinya berbunga-bunga dan segera membalas pesan tersebut.
"Baru mau tidur nih." Balas Lina. Ia tersenyum-senyum sendiri dan rasanya mau teriak.
"Oh, ya sudah."
"Good night, have a nice dream."
"Too." Lina mengambil bantalnya lalu berteriak sekencang-kencangnya.
Mentari pagi menyinari kamar Lina yang gelap. Tak terasa hari sudah berganti. Lina baru saja ingat hari ini hari Senin. Dengan terburu-buru gadis itu membasuh diri dan memakai seragamnya lalu menyisir rambutnya sekilas.
Kakinya menuruni anak tangga lalu menuju dapur. Sudah ada ayah dan ibunya di sana. Dengan terburu-buru ia mengambil roti dan meminum susunya langsung. "Ma, Pa, aku berangkat ya? Udah siang nih!"
"Iya, Pa."
Di sekolah ia langsung menuju kelasnya dan sudah ada Ahzarel yang sedang menulis. Ia begitu fokus, bahkan ada keributan di kursi belakang pun ia tak menghiraukanya.
"Manusia purba," panggilnya. Ia hanya berdeham dan membalik halaman kedua buku tersebut.
"Kata Pak waria itu, aku duduk di sebelahmu saja."
"Siapa tuh?" Tanyanya dan menghentikan kegiatanya menulis.
"Ih, Pak Yura," jawab Lina sambil mencengkram tali tasnya.
"Terserahlah." Ahzarel menggeser duduknya, lalu melanjutkan kegiatan menulisnya. Catatan selama 3-4 hari di luar kota.
Tak lama kemudian, dia menutup buku tersebut dan memberikanya pada Lina. "Apa ini?"
"Catatan," jawab Ahzarel.
"Darimana aja?" Tanya Lina. Ahzarel pun membantunya membuka halaman yang harus dicatat.
"Dari sini sampai habis," ucap Ahzarel. Lina membalikan halaman demi halaman banyaknya bukan main. Beberapa ada yang tidak ia mengerti, maksud dari catatan itu.
__ADS_1
"Fotokopi catatanku besok kembalikan," ucap Ahzarel sambil memberikan buku catatanya.
Lina membuka catatanya tersebut, rapi dan dan mudah dimengerti. Mata Lina pun terbelalak, tak percaya.
"Dia laki-laki atau perempuan sih? Apa jangan-jangan dia cicitnya Albert Einstein?" Lina melirik Ahzarel yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
Sesekali dia tersenyum sendiri saat melihat ponselnya. "Kenapa sih? Kau membuatku takut."
"Rekamanmu saat 'mabuk'," jawab Ahzarel dengan lirih di dekat telinga Lina. Ia memberikan ponselnya.
"Ahzarel!!!" Pekiknya dengan spontan dan memukul lengan Ahzarel dengan kencang.
"Nahkan, kau sebut namaku lagi," ucap Ahzarel, membuat wajah Lina memerah saking malunya.
"REL, LU SELINGKUH DARI AERIN?!" Pekik salah satu siswa di kelas itu, dengan posisi memukul namun terhenti layaknya dipause.
"Aerin siapa?" Tanya balik Ahzarel. Maklum saja, ia hanya kenal Lina dibanding murid serta guru di sekolah.
"Astaga, pacar lu sendiri, Rel, gak kenal?"
"Kagak," jawab Ahzarel dengan singkat.
"Kamu jahat banget, Rel, gak kenal aku****?"
Ahzarel mulai mengingat-ingat gadis yang mengaku-ngaku pacarnya. "Oh, kau orang yang memotretku tempo hari dari lantai 3 kan?" Tanya Ahzarel dengan penuh keyakinan.
"Aduh, kamu inget aja ahaha. Fotomu estetik loh." Aerin menunjukan tampilan berandanya, wajah Ahzarel dengan sinar matahari yang meneranginya.
"Terang banget layar ponselmu, mataku sakit." Ahzarel mengusap kelopak matanya, karena matanya terasa kering.
Sang ketua kelas menggeser pintu kelas. Tanganya mendekap setumpuk kertas, soal-soal ulangan harian dua hari yang lalu.
"Gak dengar bel?" Seluruh murid langsung berhamburan, keluar kelas serta duduk di kursi masing-masing.
"Ketua kelas ganteng banget sih," ucap Lina sambil menutupi pipinya yang merona.
"Matamu rusak." Lina segera mencubit pinggang Ahzarel, lalu menginjak kakinya.
"Akh! Sengaja banget sih!?" Bisik Ahzarel sambil mengelus kakinya.
Di luar sekolah, seorang pria mendongak menatap jendela dengan seorang lelaki berambut coklat di balik kaca. Ia mengambil kamera dan memotret lelaki tersebut.
Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi atasanya. "Target sudah diketemukan," ucapnya. "Dia berhasil kabur waktu itu."
"Bagus, cari informasinya, lalu sampaikan ke saya," ujar seseorag dari seberang telfon.
Di sisi seberang telfon, seorang pria duduk di kursi kantornya sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Ia menyeringai ketika mengetahui targetnya sudah ditemukan.
Pria tersebut menutup telfonya dan menunggu semua informasi tentang targetnya tersebut. "Tak cukup jika hanya satu orang yang musnah."
Ia mengambil ponselnya lagi dan menelfon seseorang di negara berbeda. "Bagaimana? Apa wanita itu telah mati?"
__ADS_1
"Maaf bos, meleset," jawab seorang wanita di seberang telfon.
"Santai saja, cari informasi tentang keluarganya dulu. Aku mau bertemu dengan mereka."