Psychopath

Psychopath
#35


__ADS_3

"Tunggu."


Lina kembali menghadap depan dengan matanya yang masih tertutup.


Orang yang membekap mulut Karl menusukan pisau di sisi kanan lehernya lalu menggesernya hingga ke sisi kiri.


"Buka matamu," ujarnya. Lina membuka mata dan membalikan tubuh. Ingin sekali ia menjerit sekencang-kencangnya.


"Sudah tak usah menangis." Orang misterius itu ternyata Ran, ia mengambil suntikan yang ada di genggaman tangan Karl.


"Ran? Bagaimana suaramu bisa seperti seorang pria!?"


"Mungkin karena bantuan manusia menyebalkan itu," jawabnya sambil menunjuk seorang pria, alias dosen Lina, Roy namanya.


"Ran, tolong hapus jejak." Ran menarik mayat hingga ujung lorong jalan sempit itu.


"Kalian saling kenal?"


"Dia anaku," jawab Roy. Ia mengajak Lina keluar lorong, agar suasana tidak terlalu tegang.


"Ahzarel memintaku menjagamu, makanya itu aku jadi dosen. Padahal aku tidak mau." Roy melipat tangan dan bersungut-sungut.


"Ahzarel?"


"Iya, keponakanku."


"Kalian membicarakanku?" Tanya seorang pria dari belakang, dengan spontan Lina dan Roy menoleh dan tersenyum masam. Ahzarel datang bersamaan dengan Ran yang sudah selesai membereskan mayat Karl.


"Beres?" Tanya Ahzarel kepada Ran. Wanita itu mengangguk sambil mengacungkan ibu jari. "Pintar! Tak salah aku menyuruhmu," ujar Ahzarel sambil menepuk ubun-ubun Ran.


"Kamu bisa gak sih, jangan dekat-dekat dengan pria lain?"


"Kau seperti suaminya saja," ejek Ran dan membuat bibirnya seperti paruh bebek.


"Huh, Rel, aku juga butuh orang lain kali. Gak cuma wanita."


"Asal kau tau ya, hampir saja kau disuntikan sesuatu oleh pria berambut aneh itu."


"Berdasarkan analisaku, itu adalah narkotika jenis ... yang campur obat penenang yang aku gak tau jenisnya apa. Intinya berbahaya," ujar Ran.


"Lalu, dia anak dari Kardita. Bisa dikatakan dia anak dari hubungan gelap," sambung wanita itu.


"Tapi dia anak baik, di kampus."


"Dia hanya jaga harga diri, pasak." Lina kesal mendengar ucapan Ahzarel tersebut. 'Pasak', apakah dia masih sependek itu? Namun, kenyataannya seperti itu. Tetap saja, Lina tak terima.


"Sebaiknya, kita kembali ke kampus, Lin. Sebentar lagi kelas mulai," ujar Roy, mencairkan suasana. Sebelum mereka mengangkat kaki, Ahzarel memperingatkan Roy untuk tidak menyentuhnya kecuali keadaan genting.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu transgender saja jadi wanita, tiang!" Pekik Lina sembari berjalan menjauh.


"Kita masih ada tugas penting," ujar Ran, bermaksud menahan emosi Ahzarel. Pria itu berdeham dan jalan mendahului Ran.


Ahzarel mencari wanita dengan rambut cyan. Ingatan tentang wanita itu membekas pada ingatanya, karena wanita itulah Ahzarel jatuh dari gedung perusahaan keluarganya sendiri.


"Kau yakin dia ada di negara ini?"


"Ya, semoga saja tebakanku benar, kalau tidak kita pindah negara lagi."


"Aku heran, kenapa tante Laura mau merawatmu?" Ahzarel langsung mencekik Ran dengan lenganya.


"Jaga mulutmu," ujar Ahzarel.


Mata Ran seketika melihat wanita dengan pakaian mewah sedang membeli buah, langkah Ran terhenti begitu juga Ahzarel. "Terimakasih," ujarnya seraya meninggalkan toko buah.


Beberapa helai rambut terlihat, keluar dari topi bundar yang ia kenakan. "Suruh dia ke apartemen," perintah Ahzarel.


"Kenapa sih aku lagi, aku lagi!" Kesal batin Ran. Dia terpaksa mengikuti perintah, untung saja aktingnya berhasil membujuk wanita itu untuk ke apartemenya.


"Silahkan masuk, maaf agak berantakan."


"Tak masalah, saya senang bisa membantu anda. Kamarnya perlu sedikit dekorasi ya?"


"Iya, tolong pilihkan tema yang cocok," ujar Ran, wajahnya memancarkan harapan yang besar.


Kepala wanita itupun terpisah, wajahnya terlihat jelas. "Aku suka tema itu."


"Ya, kita sudah selesai membunuhnya, bakar dia Ran," ujar Ahzarel. Namun ketika hendak Ran membawa ke brangkas, pria itu menghentikanya.


"Tunggu, aku mau bermain dengan mayat ini. Singkirkan bensinnya."


"Ih! Terserah, aku tunggu di luar." Ran keluar dengan jirigen bensin.


Ahzarel menodong pistol ke arah wanita itu dan menarik pelatuknya sampai sekotak peluru habis. "RAN!" Panggil Ahzarel.


Ran pun masuk dengan wajah jengkel. Ia menarik ke brangkas lalu membakar mayat itu. "Kau yakin itu bukan kloningan?"


"Lihat saja nanti," jawab Ahzarel.


Kembali ke Lina, wamita yang sedang membaca novel diam-diam di dalam kelas. Sejujurnya ia malas sekali mengkuti kelas, lebih suka di rumah tanpa diganggu oleh Ahzarel lagi. Apalagi, sekarang ada paman serta sepupunya.


6 tahun tanpa Ahzarel, seperti 6 menit dalam hidupnya. Rasanya ia akan fobia terhadap Ahzarel, atau bahkan alergi.


Ia menatap luar jendela, dengan seorang pria dengan senyum menyebalkan di atas gedung tempat seni. Gedung tersebut cukup dekat, jadi ia bisa melihat apa saya yang pria itu lakukan.


Ia melambaikan kedua tanganya ke arah Lina. Ran yang ada di sebelahnya menepuk dahi sampai dua kali, lalu berbalik badan. Tak sanggup ia menghadapi sepupunya yang sangat konyol itu.

__ADS_1


"Ngapain dia di atap situ!?" Lina melihat Ran menunjuk ponsel yang berada di tanganya, lalu menunjuk Lina. Secara diam-diam, Lina mengambil ponsel dan melihat pesan dari Ran.


"Jangan ke club!!" Pesan itu seperti ancaman, dari Ahzarel.


"Berisik ah!" Balas Lina singkat lalu menaruh ponselnya di laci meja.


Sedangkan, Ahzarel mengepal erat tangannya. "Dia balas apa?"


"Berisik ah!"


"Hey! Aku tanya baik-baik loh!"


"Iya! Dia balas, 'berisik ah!'," ujar Ran sambil menunjukan layar ponselnya tersebut. Ahzarel menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk.


"Ya udah santai!" Balas pria itu, memancing emosi Ran.


"Minta ditonjok," gumam Ran.


"Rel, aku melihat ...." Ucapan Ran terhenti ketika melihat senapan angin yang sedang mengarah ke diri mereka.


Orang yang memegang senapan itu menarik pelatuknya. Bunyi tembakan sangat menggelegar. Ahzarel dan Ran menghindar dengan cara berpencar.


"Kali ini siapa!? Keponakanya!? Sepupunya!? Orang tuanya!? HUH!" Ahzarel menggerutu sambil berlari menuju lantai bawah.


"NINGGALIN GUE!?" Pekik Ran dari kejauhan. Ia segera menyusul Ahzarel ke bawah.


Namun, saat tepat berlari di depan kelas musik, seseorang menariknya masuk ke dalam ruangan. "Sstt," desis Ahzarel sambil membekap mulut Ran.


Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. "Pokoknya kalau ketauan, lari," ujar Ahzarel dengan lirih.


Orang itu nenyentuh gagang pintu, dengan perlahan membukanya. Namun, ponselnya berdering. "Sudah kau temukan?" Tanya seseorang dari seberang telfon.


"Dia menghilang bos, maaf," jawabnya.


"Ya sudah kembali ke sini!" Orang itu menutup telfon, ia tak ingin dimaki-maki oleh atasannya itu.


Orang itu sudah menghilang dari lorong. Ran mendorong sepupunya jauh-jauh darinya. "Pacarku bisa marah, jangan mendekat!"


"Aku kan sepupumu dasar orang aneh," balas Ahzarel sambil mengibas pakaiannya. Serta mencuci tanganya dengan tisu basah, yang selalu ia bawa.


"Senajis itukah saya?"


"Iya, banyak dosanya."


Ran berharap Ahzarel dicoret dari kartu keluarga oleh bibinya.


__ADS_1


__ADS_2