Psychopath

Psychopath
#22


__ADS_3

2 tahun dilalui oleh Ahzarel. Kini umurnya beranjak 3 tahun. Hari itu dia hanya bersama dengan Ayah dan Ibunya. Jika dilihat sekilas, Wil dan Ahzarel tidak jauh berbeda, karena warna mata mereka yang sama.


Ia menatap tajam Ayahnya yang sibuk sendiri dengan kertas-kertas bergambar diagram lingkaran serta diagram tabung. Ia merangkak mendekati Ayahnya dan menarik-narik lengan pakaian yang pria itu kenakan.


"Papa," panggilnya.


"Hm?" Wil tak melirik anaknya sama sekali. Itu membuat Ahzarel sedih. Ia pun mengambil boneka bergambar naga dan melempari ayahnya dengan itu.


Mata Wil merah menyala ia baru saja ingin menumpahkan emosi, namun Laura langsung menutup rapat mulut Wil dengan telapak tanganya dan memberi sekantung es batu pada kepalanya. "Apaan sih, Ra!?"


"Gak boleh marah-marah ke anak kecil."


Wajah Ahzarel memerah, kelopak matanya mengeluarkan air mata. Ia takut melihat Ayahnya yang naik pitam tadi.


"Mama, Alel atut!" Anak itu mengulurkan tanganya ke udara, ia ingin dipeluk oleh Ibunya.



Laura mendekat dan mendekap malaikat mungil bernama Ahzarel. "Papa kamu lagi sibuk sayang, jangan diganggu dulu ya. Nanti kamu digigit serigala itu," ujar Laura. Ahzarel menjulurkan llidahnya mengejek Wil.


"Anak iblis," gumam Wil. Kata-kata itu sampai ke gendang telinga Laura.


"Bercerminlah!" Balas Laura.


"Lebih baik kalian pergi, aku tidak mau diganggu."


"Terserah, ayo sayang kita ke taman belakang." Laura menggendong Ahzarel. Ia melewati Wil dan menepuk keras ubun-ubun pria itu.


Di taman belakang rumah. Ahzarel berlajar berjalan bersama Laura, Ibunya. Tiba-tiba Laura melepas Ahzarel karena seseorang menariknya.


"Ah, Mama!" Pekiknya. Ia sudah bisa seimbang untuk berdiri. 2 langkah ia berjalan, terjatuh. Ia tak menyerah dan terus bangkit setiap kali jatuh.


"Aku mau bicara, Ra," ujar Wil. Ia yang menarik tubuh Laura tadi.


"Kamu tau gak? Tindakan kamu berbahaya tadi!"


"Terus?"


"Masa bodo! Kau mau bicara apa?"


Wil menggigit mencium tengkuk Laura lalu mendekati telinganya. Pria itu mengecup bibir Laura dan memainkan lidahnya di dalam mulut Laura. Mereka tak menyadari kalau dari tadi Ahzarel memperhatikanya, sambil duduk dan menopang dagunya.


"Aku mau anak lagi," ujarnya


"Cukup Wil, nanti saja aku pikirkan."


"Apa yang mau kau pikirin sih?"


"Sudahlah, nanti aku beri keputusan saat mau tidur."


"Maunya sekarang," ujar Wil dengan manja sambil menyandarkan kepala pada pundak Laura.


"Papa, anak kecil!" Ujar Ahzarel terbata-bata, karena ia belum lancar berbicara.


"Bercerminlah!"


Tatapan tajam dari keduanya tak kalah menyeramkan. Bagaikan ada halilintar diantara mata mereka. Laura menutup mata Wil agar ketegangan itu terhenti.


"Baiklah, kita makan dulu ya." Laura menggendong Ahzarel dan meletakanya di kursi tingginya.


Laura menyodorkan bubur hangat untuk Ahzarel dan menyuapkanya sedikit demi sedikit. Melihat hal itu hati Wil panas karena tak mendapat perhatian dari Laura.


Wil mencengkram gelas hingga retak dan pecah. Kalau dihitung dari pengalaman Wil, sudah lebih dari 30 kali ia melakukan itu.


"Ya Tuhan. Kamu ngapain sih?"


"Gak tau," jawab Wil dengan ketus. Ia beranjak dari kursinya dengan tangan yang berdarah.


"Kamu cemburu ya?"


"Apa sih! Urusin tuh Ahzarel!"


Ahzarel memandang Sang Ibu dengan mata yang berkaca-kaca. "Seligala malah, Ma," ujar Ahzarel dengan mata merah polosnya yang berkaca-kaca.


"Sudah siang kamu harus tidur ya."

__ADS_1


"Ma, aku maw belajal basa plancis!"


"Belajar sama papa ya, mama gak bisa."


Ahzarel memanjukan bibirnya seperti paruh burung. Laura mencubit pipi anaknya itu dan membawanya ke kamar kecil Ahzarel.


Kamar bertema hitam dan merah maroon itu tampak gelap walaupun lampu dinyalakan. Tak tau apa yang membuat anaknya sangat menyukai tema tersebut.


Setelah anaknya terlelap, Laura menuju kamar dan mendapati Wil sedang tertidur dirinya di atas sofa dengan tangan yang berdarah dan mulai mengering.


"Wil, bangun Wil!" Suaminya tak kunjung bangun. Wanita itu mengigit bibir Wil, mata pria itupun terbuka setengah. Laura melepaskan gigitanya dan mulai salah tingkah.


"Kapan ya, kau tidak memotong waktu tidurku," ujar Wil sambil memijat pangkal hidungnya.


"Aku obati dulu ya tangan kamu," ucap Laura. Ia mengambil kotak P3K dan mulai mengobati tangan Wil, walaupun dia harus menahan rasa ngerinya terhadap darah.


"Aku tuh heran. Kau nyaman dengan tangan terluka gini?"


"Nyaman."


"Gak takut infeksi?"


"Gak," jawab Wil dengan singkat.


"Sarafmu bermasalah," ujar Laura sambil menggelengkan kepalanya perlahan.


Dengan jahilnya Laura menekan keras luka Wil. "Akh! Sakit, Ra!"


"Saraf kamu rusak Wil****," ujar Laura.


"Perlu panggil tukang servis?"


"Beda Wil, aku serius!"


"Apa aku terlihat bercanda?"


"Gak sih," jawab Laura.


Pintu di ketuk berkali-kali. "Buka pintunya, ini polisi!" Wil membuka pintu dengan Laura di belakangnya.


"Kenapa?"


"Kami mendapat laporan anda telah membunuh sekitar lebih dari 100 orang, benar?"


"Siapa yang mengatakan itu?" Rasa gelisah menyelimuti Wil.


"Tuan Sean dan Nona Chalis."


"Apa kalian punya bukti?"


"Kami punya semua dalam USB ini," ujar petugas polisi iu sambil menunjukan benda kecil yang dinamakan USB tersebut.


"Wil." Laura merangkul lengan kekar Wil dengan erat. "Jangan tinggalkan aku," ujarnya dengan lirih.


Wil berkata semua akan baik-baik saja. Ia mengikuti petugas kepolisian itu menuju tempat terkutuk bernama kantor polisi. Laura membawa anaknya dan menyusul ke kantor polisi.


Masa sidang berlalu. Hakim memutuskan untuk mengeksekusi mati Wil. Pria itu sudah menduganya namun ia merasa takut. Ia takut harus berpisah dari anaknya dan istrinya tersebut.


"Wil, kamu berjanji padaku akan menemaniku sampai kematian menjemput 'kita berdua'!"


"Aku tidak tau kalau Sean selicik itu. Maaf Aura, aku gak bisa tepati janjiku."


"Dasar Wil pembohong! Aku benci kau Wil!"


"KENAPA KAMU LAKUKAN INI SEMUA WIL KENAPA?"


"KAU INGIN AKU MATI SENDIRIAN HAH!?"


"TENANGKAN DIRIMU AURA!"


"Pembunuh semacamku pantas mati seperti ini!"


"Anak kita butuh kamu! Dia sayang sama kamu, Wil. Tapi, kamu meninggalkanya! Tega sekali kau!"


"Diam dan pikirkan masa depan Ahzarel."

__ADS_1


"Kalau sampai dia terluka, aku akan menghantuimu!"


"Kau membuatku semakin sedih!"


"Tapi, Wil aku akan sangat merindukanmu."


"Aku juga Aura****." Wil menyentuh kaca pembatas di antara mereka. Ia tersenyum disaat-saat terakhirnya. Hal itu justru membuat Laura kesal. Bagaimana dia bisa tersenyum saat ajal akan menjemputnya?


"Aku bingung Wil. Aku harus bilang apa ke Ahzarel?"


"Bilang apa adanya saja. Sekarang sudah malam, sebaiknya kau tidur agar tidak sakit."


"Gak mau,"


Di rumah Ahzarel bingung karena Ibunya yang berjalan sendiri tanpa Ayahnya.


"Ma? Papa mana?" Tanyanya. Laura langsung mendekap anaknya dan menangis.


"Mama? Aku cedih mama nangis!"


"Mama gak apa-apa, kamu harus sabar ya."


"Kenapa, Ma? Papa gak sayang aku lagi?"


"Bukan, papa kamu harus pergi untuk selamanya. Maaf mama harus mengatakan ini," ujar Laura dengan isak tangis yang mengiringinya.


"Walau gak ada papa, mama masih ada aku!"


"Iya, makasih ya. Kamu selalu ada di sisi mama." Laura semakin erat mendekap Ahzarel. Cukup dia kehilangan 1 hartanya yaitu, Sang suami.


Keesokan paginya, Laura bangun tidur pada siang hari. Ia tak bisa tidur semalaman, ia menangisi bingkai kayu dengan foto pernikahanya dengan Wil.


Matanya sembab akibat menangis semalaman. Chalis masuk ke kamarnya dengan nampan di tanganya. "Nona, anda makan dulu ya," ujarnya.


Namun Laura tak punya selera makan, perutnya sudah terisi oleh kesedihan yang ia alami. "Mama harus makan!" Ujar pangeran kecil sambil berkacak pinggang.


"Mama harus makan, benar tidak, Bi?" Tanya Ahzarel dengan Bahasa Inggris yang lancar.


"Pangeran kecil benar Nona."


"Aku makan nanti saja," ujar Laura, ia menarik kembali selimutnya.


"Tidak bisa, aku rajanya di sini ehehe! Mama harus makan!"


"Baiklah, mama makan. Bersama pangeran kecil mama."


Bel rumah berbunyi. Laura membuka pintu dengan rambut yang masih basah karena baru saja selesai mandi.


"WIL!?"


Wil mengacungkan 2 jarinya. Laura langsung mendekap erat tubuh Sang suami. Wil mengelus kepalanya dan mencium kening Laura.


"Aku tau ini hari terakhir kamu," ujar Laura ia tak mau melepaskan pelukanya. Andai saja waktu terhenti untuk hari itu.


"Kita habiskan waktu bersama, ya?" Pria itu melepaskan dekapan erat Laura. Wanita itu mengusap air matanya yang terus-menerus keluar.


"Papa!" Pekik Ahzarel dan langsung melompat ke dekapan Wil.


"Kita foto keluarga bagaimana?"


"Ya, aku setuju." Mereka bertiga mengganti baju.


Laura sudah memegang kamera dan mereka berfoto bersama.


Waktu terasa sangat cepat. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. "Aku ingin waktu ini terhenti!"


"Aku harap juga begitu. Andai waktu bisa diulang." Wil menceritakan masa lalunya sebagai dongeng tidur untuk Laura.


Bertepatan dengan akhir cerita. Laura tidur terlelap, ia sudah berjalan-jalan di alam mimpi didampingi oleh Wil.


Sinar matahari kembali bersinar. Laura melihat Wil mengenakan kupluk jaketnya hendak pergi. Laura langsung meloncat dari bingkai ranjangnya dan mendekati Wil yang hendak di bawa petugas. Ia menarik tangan Wil, menghalanginya pergi.


Laura menitikan air mata saat suaminya dibawa paksa oleh petugas. Wil perlahan menjauh dan sesekali menengok kebelakang dan menunjukan senyuman pagi yang manis.


__ADS_1


__ADS_2