
Laura sedang bersantai membaca koran sambil menunggu anaknya pulang. Matanya menjamah setiap kata sampai suara gerbang mengalihkan perhatianya.
Seorang Lelaki dia pakaian yang berantakan masuk ke dalam rumah. "Pramuka apa senam sehat? Sampai keringetan gitu," ucap Laura sambil melirik anaknya sekilas.
"Tadi aku disuruh lari maraton keliling bumi," balas Ahzarel. Ia menuju kamar dan melempar tasnya sembarang.
Bel rumah dibunyikan oleh seseorang yang tak dikenal. Laura membuka pintu, nampak seorang gadis yang masih memakai seragamnya sambil membawa sebuah buku.
"Um, tante, Ahzarelnya ada?" Tanyanya dengan ekspresi lugu.
"Ada, mungkin lagi mandi. Ada apa?"
"Ini, buku dia ketinggalan di atas meja," jawab gadis itu sambil menyodorkan buku dengan nama Ahzarel di pojok kanan atas.
"Astaga dia ceroboh." Laura mempersilahkan gadis itu masuk, namun gadis tersebut menolak dengan halus dan langsung beranjak dari tempat.
"Ma, mama liat buku--" Mata Ahzarel menuju kepada buku yang sedang ibunya lihat-lihat. Sang Ibu terkejut dan rasa geli di perutnya begitu menggelitik hingga ia ingin tertawa.
"Ahahaha!" Tak dapat menahanya, Laura tertawa terbahak-bahak sampai rasanya ia akan pingsan karena tertawa.
"Astaga, catatan MTK atau buku catatan hutang?"
"Kalau kau bukan ibuku, sudah ku penggal!" Ucap Ahzarel seraya merampas buku tersebut dari ibunya.
"Ih, galak!"
Ahzarel menuju kamarnya dan duduk di meja belajar. Ia merapikan isi catatanya di buku lain. Kepalanya terasa pusing saat melihat semua angka-angka tersebut.
"Jangan-jangan kamu rabun, Rel?" Laura menerka-nerka sambil menatap plafon kamar Ahzarel.
"Ya kah? Gak merasa," ucap Ahzarel sembari tetap menulis.
"Mama tuh gemes gitu sama mulutmu!"
"Tapi, mulutku gak ada wajahnya," balas Ahzarel dengan senyuman kemenangan, berhasil membuat Laura membungkam mulut.
Wanita itu memutar bola matanya dengan malas, lalu meninggalkan Ahzarel di kamar dengan kesibukanya.
Ponsel lelaki itu bergetar, dan menunjukan nomor gadis yang menjadi asistenya saat ini. Ia mengangkat telfon itu dengan lemas lesu.
"Halo?" Ucap Ahzarel. Namun, yang menjawab sapaanya itu bukanlah Lina, melainkan seseorang dengan suara laki-laki.
"Halo, Ahzarel," jawab orang itu dari seberang telfon. Ia terkikik sementara dan mulai melanjutkan kalimatnya. "Cepat datang kemari, atau 'pacar'-mu dalam bahaya," ujar pria tersebut dengan setengah terkekeh.
"Kemana?"
"Ke rumahnya lah, masa ke empang!" Jawab pria itu dan langsung menutup telfonya. Ahzarel sebenarnya tidak peduli, namun ia akan kerepotan jika tak ada Lina.
__ADS_1
Lelaki itu memakai perlengkapan. Ia membawa senjata berbeda, untuk cadangan ia membawa pisau kesayanganya. Ahzarel menyembunyikam kapak di balik jaketnya dan keluar rumah lewat jendela.
Ia berhasil menemukan rumah Lina. Ternyata, sangat jauh dari rumahnya jika berjalan kaki. Ia memanjat pagar dan memasuki rumah gadis itu lewat pintu depan, karena sudah terbuka lebar.
Baru beberapa langkah memasuki rumah, sebuah benda menghantam leher bagian belakang Ahzarel. Tubuhnya seperti melayang, lalu kehilangan kesadaranya.
Lina berusaha melepaskan ikatan, yang mengikat tanganya. Namun, gagal. Justru tanganya tergores oleh serat-serat tali tambang tersebut. Ia terkejut ketika pintu tiba-tiba terbuka.
Pria tersebut melempar seseorang. Lampu dinyalakanya, dan menampilkan sosok Ahzarel yang tersungkur lemas. Namun, matanya setengah terbuka, lalu menyuruh gadis itu merahasiakan hal itu.
"Penjahat! Lepaskan aku atau kau akan menyesal," ujar Lina sambil meronta-ronta. Pria itu menampar pipi Lina berkali-kali, hingga sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah segar.
Ahzarel bangkit dan segera menjambak rambut pria tersebut dan menyeretnya menjauh dari Lina. Lelaki itu mengikat kencang mulut pria asing tersebut, lalu ia mengeluarkan kapak yang ia bawa.
"Lin, dia nampar kamu berapa kali?" Tanya Ahzarel sembari duduk di atas perut pria tersebut.
"Lima atau enam? Seingatku," jawab Lina dengan penuh keraguan, mana mungkin ia seteliti itu? Tak ada waktu menghitung berapa kali ia ditampar.
"Oh, baiklah," timpal Ahzarel. "Ini akan sakit dan lama," sambung Ahzarel.
Ahzarel mulai memotong bagian tanga kirinya dan semakin ke atas, hingga lengan atas. Lalu tangan kananya, kedua kakinya, lalu tubuhnya.
"Berapa potongan ya? Satu ... Lima ... Sepuluh ...." Ucap Ahzarel seraya menghitung anggota tubuh tersebut.
"Rel, kita gak lagi kelas MTK. Bisa kau lepaskan aku?"
Gadis itu menangis tersedu-sedu sembari memeluk tubuh kedua orang tuanya yang lama kelamaan mendingin.
Polisi pun datang beberapa jam kemudian, beserta ambulans yang mendampinginya. Petugas ambulans mengevakuasi jenazah serta mengobati luka Lina.
Ahzarel mendekat kepada Lina, lalu mendekap tubuh gadis itu untuk menenangkanya.
Di sisi lain, seorang wanita memerhatikan hal tersebut dari kejauhan. Rambut cyan-nya melambai tertiup angin. "Salah sasaran, dasar pria gak guna!"
Sedangkan Ahzarel, ia menelfon Laura agar menjemput dirinya ke rumah Lina. "Datang aja mak, jangan banyak cincong!"
"Sabar dong! Mama lagi di jalan," ucap Laura dari balik telfon. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kapan anaknya itu tobat?
Begitu mobil ibunya sampai, ia pulang bersama Lina. "Ho, ini pacarmu, Rel?" Tanya Laura kepada Ahzarel yang ada di sebelahnya.
"Mungkin," jawab Ahzarel dengan asal sambil memainkan ponselnya.
"Ne!?" Laura serta Lina pun kebingungan, namun Laura tau anaknya bukan orang yang mudah jatuh cinta.
Laura menginjak rem secara mendadak, karena hampir menabrak mobil depanya. "Aduh kepalaku." Lina mengusap keningnya.
"Siapa suruh gak pakai sitbelt?"
__ADS_1
"Berisik kau, Rel! Gara-gara jawabanmu tau mama rem mendadak," ujar Laura. Namun, kata-kata tersebut mengingatkanya kepada Wil.
"Terserah, lampunya sudah hijau tuh," ucap Ahzarel, tak mengalihkan pandanganya dari ponsel.
Ketika sampai, Ahzarel menunjukan kamar Lina sekilas. "Intinya kalau ada apa-apa bilang," ucapnya lalu menuju ruang keluarga di sebelah kamar Lina.
Ternyata ada ibunya yang sedang menonton televisi di sana. Ahzarel meletakan kepalanya di atas paha Sang Ibu. Laura pun memainkan rambut Ahzarel menggunakan jari-jarinya yang kurus.
"Ma, kalau aku pacaran sekarang, apa itu salah?" Tanya Ahzarel sengan segenap keberanian. Sebenarnya ia mau mengatakan hal itu sejak SMP, namun saat itu mentalnya belum sekuat sekarang.
"Kalau kau bisa fokus dengan pelajaran sih boleh-boleh aja," jawab Laura, dengan mata yang tetap fokus menatap televisi.
"Oh."
"Tidur di kamar gih, jangan di sini," ujar Laura sembari mematikan televisi. Namun, Ahzarel tetap tak beranjal dari posisinya.
"Huh, ya sudah," ucap Laura, ia mendekatkan bantal dan meletakanya di kepala belakang Ahzarel. Lalu, mengecup lembut kening anaknya.
"Good night, have a nice dream."
Sinar matahari menyergap masuk ke dalam kelopak mata Ahzarel, matanya silau karena cahaya itu.
Namun tiba-tiba cahaya utu perlahan menghilang. Ahzarel mengambil kacamata hitamnya dan melihat kearah matahari. Pantas saja gelap, sedang gerhana matahari. Namun, di tengah keasikan itu. Laura memanggil Ahzarel dari luar ruang keluarga.
"Apa ma?" Sahut Ahzarel sambil membuka pintu.
"Bantuin pacarmu di dapur tuh," ucap Laura.
"Ish, dia bukan pacarku." Ahzarel menuju dapur dan mendapati Lina sedang memasak.
"Aku harus apa?" Tanya Ahzarel pada dirinya sendiri.
"Tuh potongin sayur sama dagingnya." Lina menunjuk tugas Ahzarel dengan sendok sayur.
"Daging apa? Dagingmu?"
"Bukan, daging gajah!" Laura terkekeh di depan pintu dapur, mendengar percakapan aneh mereka.
"Mama nikahin aja ya kalian?"
"Gak mau!" Ujar Ahzarel dan Lina bersamaan sambil menatap tajam satu sama lain.
"Ya sudahlah, kerjain tuh tugasmu, numpuk." Laura menunjuk daging dan sayur, seperti Lina tadi. Ahzarel berdeham dan menjalankan tugasnya.
"Lin, kalau makananya gak enak, salahkan Ahzarel."
"Siap tante."
__ADS_1
"Terserah kalian," balas Ahzarel, ia heran kenapa wanita selalu benar.