
Mobil putih terparkir degab seorang pria di dalamnya. Sedang memakan donat tanpa toping. Pria itu menyibak rambutnya sambil kembali memakan donatnya. Sebuah notifikasi masuk dari nomor tidak di kenal. Pria itu membacanya lalu menyalakan mesin mobil.
Dirinya menyetir sampai di tempat tujuan, ia mengecek kembali alamatnya dan ternyata benar. "Mana orang itu?" Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri. Pria itu tak menemukan wujud dari Si Pengirim pesan.
Seseorang langsung membekap mulutnya. Orang yang membekapnya menyuntikan sesuatu di leher pria itu. Lama kelamaan kedarannya menghilang. Pandangannya memburam dan akhirnya menggelap.
🔪🔪🔪
Ahzarel sedang membuat simpul mati agar tidak mudah terlepas. " jangan kencang-kencang, kasihan dia kesakitan." Lina memperingatkan Ahzarel. Tetapi, justru Ahzarel menatap Lina dengan sinis lalu menghela nafas kasar.
Tiba-tiba pria itu bangun dari tidur panjangnya. Ahzarel memperhatikan dia dari jarak dekat, Ahzarel tidak menyadari bahwa jumlah gitu begitu dekat.
"Tidurmu nyenyak?" Tanya Ahzarel dengan senyuman manis, tapi mematikan.
"Di mana aku!? Jawab!" pria bernama Roki itu panik, meronta-ronta. "Kalian tidak punya mulu--!?" Sebuah bentar melayang, menghantam kepala Roki dengan kencang.
Mata Ahzarel membulat dan tatapannya kosong. Ia menatap lurus Roki, memandanginya dengan penuk kebencian. "Baru ketemu saja, kau sangat menyebalkan!"
"Jaga nada bicaramu," lanjut Ahzarel dengan nada berat.
__ADS_1
"Kau tidak punya hak mengaturku!" Pekik Roki, ia langsung tersenyum, bahkan tertawa kecil.
"Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu sopan santun? Atau bahkan kau tidak punya orang tua??" Pria itu tertawa tanpa rasa malu. Hampir saja ia tersedak dengan air liurnya sendiri.
Ahzarel mengayunkan tongkat besi yang ia genggam ke arah kepala Roki, berkali-kali hingga kepala itu mengeluarkan darah segar. Pria itu tersungkur dengan tangannya yang masih terikat.
Mata pisau Ahzarel menggores permukaan kulit wajah Roki. "Rel, cukup. Biarkan saja dia," ujar Lina dengan suara bergetar.
"Ayo keluar, Rel," Lina melerai Ahzarel dan Roki.
🔪🔪🔪
Ahzarel tersentak dan langsung menggelengkan kepalanya. "Kau yakin?" Tanya Lina lagi.
Ahzarel berdeham, bermaksud mengatakan iya. Lina menghela nafas lega. Wanita itu menawarkan teh hangat untuk pria di sebelahnya. "Nanti kau kasih racun di minumanku," ujar Ahzarel.
"Kau memberiku ide jadinya," ujar Lina sambil mengelues dagunya, juga tertawa kecil.
"Ya udah gak usah****." Api emosi Ahzarel kembali menyala.
__ADS_1
"Bercanda. Duduk sana. Aku buatkan dulu tehnya." Lina menuju dapur dengan wajah gembira.
🔪🔪🔪
Ran sedang di kantornya dengan suasana hati yang sedang tidak enak. Namun, 5 menit kemudian dia merasa senang, 5 menit kemudian ia merasa sedih, begitu seterusnya.
"Gak enak banget sih," ujarnya dengan suara bergetar.
Telepon di kantornya berbunyi, rasanya malas sekali untuk meraih gagang telepon. Namun, akhirnya dia mengumpulkan niat dan mengangkat telepon itu.
"Ran," ucapnya.
"Nona Ran, sebaiknya pulang sekarang." Suara Leo seakan sangat serius, namun Ran tidak bisa meninggalkan kantor sebelum jam kantor selesai.
Kaca jendela Ran pecah, sebuah peluru nyasar masuk ke dalam kantornya itu. Wanita itu langsung mendekati jendela. Melihat pria asing di seberang.
"Ah! Mereka benar-benar akan membunuh keluarga ini!" Ran semakin kesal. Rasanya ingin mencabik-cabik wajah orang-orang yang ingin memusnahkan keluarganya.
"Ya sudah aku pulang saja." Tanpa mmbawa tas, Ran langsung menuju lantai 1 untuk bersiap pulang.
__ADS_1
"Leo, ada yang mau aku tanyakan padamu," ujar Ran sesaat sudah di dalam mobil.