
Ahzarel mendapat kabar tentang ibunya. Hatinya hancur, emosinya mengebu-gebu. Ia bertanya-tanya siapa yang membunuh ibunya, tak mungkin tanpa alasan.
"ARGH!!! SHIT!!" Pekik Ahzarel, ia menendang meja yang ada di dalam kamar apartemenya. Ia menghancurkan isi kamar, hingga Ran yang berada di seberang kamar menerobos masuk.
"Rel!? Lu ngapain sih!?"
"Mama Ran, mama," ujar Ahzarel dengan lirih, suaranya bergetar. Kakinya lemas, ia jatuh berlutut.
"Mama lu kenapa?" Tanya Ran, ia mendekap Ahzarel dan menenangkanya.
"Mama meninggal, Ran! Aku gak terima!!" Ahzarel menjerit ia mencengkram bajunya, ia pun mengigit bibir bagian bawah hingga mengeluarkan darah.
"Lu bohongkan!?"
"Mana mungkin aku bohong, Ran," ujar Ahzarel, seakan tak ada secercah harapan lagi untuknya. Ia menjadi semakin bosan dengan hidup ini.
Ia merasa belum sempat membahagiakan Laura, ingin rasanya memutar waktu. Lalu memanfaatkan saat-saat terakhir bersama ibunda tercinta.
"Ran, aku mau minta maaf sama mama barusan. Tapi, mama nelfon duluan, aku kira ada suatu hal penting. Tapi ternyata, mama meninggal!" Jelas Ahzarel. Sangat terlihat dari air matanya yang mengalir deras.
Ia belum siap kehilangan Sang Ibu, menyesal pun rasanya sudah terlambat.
"Ran, aku mau bunuh diri aja****," ujar Ahzarel dengan pasrah.
"Apaan sih lo!? Sakit?" Tanya Ran dengan kesal, terpancing emosi.
"Aku nyerah dengan hidup ini, Ran! Sakit rasanya."
"Jangan gila juga tapi, Rel! Lu anak satu-satunya, kasian keluarga lu kagak punya keturunan."
"Berisik! Kau gak tau, karena orang tuamu masih lengkap!"
"Udah, gak usah kesal Rel, maaf."
Suasana kembali tenang, Ran membantu Ahzarel merapikan kamarnya. Sepupunya tersebut meminta Ahzarel untuk istirahat.
Sifat keras kepala Ahzarel kambuh, ia menolak mentah-mentah permintaan Ran. Sampai terpaksa Ran menyuntikan obat bius di leher Ahzarel.
Tubuh pria itu melemah, matanya perlahan terpejam.
Ahzarel bangun dengan matanya yang sembab. Ia mencuci muka dan kembali merebahkan diri. Ia merasa tak bersemangat beraktifitas, kepalanya terasa pusing dan berat.
"Loh, kok lu belum siap-siap sih?" Ujar Ran di ambang pintu.
"Males," jawab Ahzarel dengan singkat. Ran menyentuh kening pria itu dengan tangannya. Rasa panas menyentuh permukaan telapak tangan serta punggung tangannya.
"Biar gua sama bapak gua dah yang bantuin lu, mecahin kasus yang ngeselin ini."
__ADS_1
"Wanita waktu itu, adik kembarnya entah adik atau kakak aku gak peduli."
"Sudah gua duga! Oke dah, gua mau ke Eropa," ujar Ran.
"Kapan?"
"Hari ini, sama bapak gua dan calon suami gua, ngurus emak lu. Udah, lu istirahat aja," jawab Ran.
"Wanita itu, harusku bunuh!" Ahzarel mengepalka tangan dan bertekad, akan membunuh neneknya sendiri dalam waktu singkat.
peringatan: jangan ditiru!
Waktu telah berganti menjadi bulan November. Sepertinya salju mulai turun, Lina diliburkan karena hal itu.
Lina baru menyadari, selama 5 bulan ini, ia tak menemukan wajah Ahzarel. Apa mungkin dia sudah bosan dengan Lina yang selalu menghindar.
Wanita itu sangat bersyukur jika itu benar. Ia menuju luar kota untuk menyegarkan pikiran dan berbelanja.
Tangan kirinyanya mendorong troli dan tangan kanannya mengambil beberapa barang. Ia juga mampir ke toko alat tulis karena Yuki sangat suka menggambar. Besok adalah hari ulang tahunnya, Lina mau memberikan beberapa alat untuk mewarnai dan menggambar.
Beberapa barang di musim dingin naik harga. Namun, makanan menurun. Demi Yuki, Lina rela mengeluarkan buget banyak.
Tiba-tiba Lina melihat seorang pria di bagian kasir. Pria itu sedang membayar belanjaan yang ia beli.
"Harganya ... Yen," ujar wanita yang berada di meja kasir tersebut. Pria itu memberikan uang dan langsung pergi.
Setelah Lina membayar, ia mengikuti pria tersebut. Dia duduk di belakang mobil, terdapat seperti meja di belakang mobil tersebut.
"Halo," sapa Lina. Pria itu menengok, wajahnya seperti Ahzarel tapi warna matanya berbeda.
"Halo, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya, suaranya pun mirip dengan Ahzarel. Tapi kenapa warna mata dan sorotan mata kepada Lina berbeda?
"Boleh saya bergabung?"
"Silahkan," jawabnya, ia menyendokan ayam yang ditaburi saus tiram dan nasi ke dalam mulutnya.
Laura juga mengeluarkan makanan yang ia beli tadi, rasanya canggung jika ia duduk di sebelah pria itu. Lina mencari topik yang bagus untuk dibicarakan.
"Kau mirip temanku," ujar Lina membuka percakapan.
"Sungguh?"
"Iya."
"Sifatnya seperti apa?"
"Menyebalkan, sadis, tapi dia juga perhatian. Dia selalu mengikutiku kemana saja, namun 5 bulan ini dia menghilang," Lina menjelaskan, sambil meminum soda.
__ADS_1
"Baguslah, kau tidak terganggu," ujar pria itu. Ia menusuk-nusuk lembut nasinya, dengan sumpit.
"Iya sih, tapi aku takut. Kalau tidak ada dia bisa jadi aku tidak selamat dari maut."
"Keren," ungkap pria tersebut. Ia menutup kotak nasinya dan membuka kaleng bir.
"Aku tau dia, kata sepupunya, ibu dia meninggal."
"Ya Tuhan, turut berduka cita."
Ketika mengatakan hal itu, wajah pria tersebut terlihat sangat sedih. Mungkin depresi?
"Aku harus ke rumah temanku, sampai jumpa." Lina melihat arlojinya. Ia buru-buru meninggalkan pria yang sedang didekap oleh kesedihan tersebut.
Pria yang didekap kesedihan itu membuka kontak lensa, dan mata merah yang bersembunyi di balik itu terlihat jelas.
"Mungkin mulai sekarang, aku berhenti mengganggu Lina, selamanya." Ia menopang dagu sambil mengayunkan kakinya ke depan dan ke belakang.
"Aku merasa trauma jika dekat dengan orang, semuanya pasti pergi." Ahzarel menjambak rambutnya, lalu meneguk kaleng birnya yang ketiga.
Ia menatap jalan dari parkiran, air matanya keluar perlahan. "Yang wanita tua itu butuhkan hanya kematianku kan? Lebih baik aku menyerahkan diri."
Ahzarel mengambil ponsel dan menelfon wanita yang sering menganggu dirinya tersebut.
"Halo, cucuku tersayang," ujarnya.
"Dimana dirimu?"
"Kau mencari mati ya?" Tanyanya kembali.
"Kenapa? Kau belum puas membunuh ibuku!?"
"Tentu saja belum! Aku akan membunuh pamanmu, sepupumu serta pacarnya, lalu kau! Baru aku puas," jawab wanita itu.
"Kalau kau membunuhku saja bagaimana? Jangan mereka." Ahzarel sangat berharap hal itu membuatnya puas.
"Gak mau! Aku mau melihat mu depresi baruku bunuh," balas wanita itu, lalu terkekeh layaknya penjahat yang keji.
"Asal kau tau, kau membunuh ibuku saja sudah membuatku hilang akal," ujar Ahzarel. Ia masih menagan emosi, agar tidak berteriak-teriak di depan umum.
"Ahaha, baguslah, setelah itu bunuh diri aja ya. Sampai jumpa cucuku, muah!" Wanita itu menutup telfon.
"Kenapa wanita itu suka yang berbelit-belit!?" Ahzarel menjerit dalam hati. Ia menyeka air mata lalu memakai kontak lensanya kembali.
"Sebaiknya aku pergi dari sini." Ahzarel menyalakan mesin mobil, ia menaikan kecepatan hingga di kuar batas normal.
Ia menuju jalan sepi, yang jarang di pakai orang lain. Berharap Ahzarel menabrak sesuatu yang bisa membuat nyawanya melayang.
__ADS_1
"Aku lelah! Aku bukan anak yang baik, masa bodo aku masuk neraka!"