
Ahzarel memandangi langit yang gelap. Dimatanya terlihat banyangan bintang bertaburan. Bibirnya menunggingkan senyum, di atas pahitnya nasib yang ia alami.
Hati hampa, sudah tidak ada rasa kepada siapapun. Hanya orang tuanya yang menghiasi isi hati walau hanya bisa melihatnya lewat imajinasi atau foto keluarga.
Ia tertawa kecil saat mengingat masa lalunya. "Hahaha, konyol!" Ahzarel melirik jam yang terus berputar seperti kehidupan.
Pria itu mengambil jaket, topi, serta sarung tangan. Ia tersenyum dan menampilkan gigi-giginya yang putih.
"Kembali ke masa-masa bebasku. Selamat tinggal Lin," ujar batin Ahzarel. Ia mengambil kunci mobil, bertepatan ia bertemu dengan Sam.
"Tuan anda--"
"Pergi sebentar, mungkin pulang besok pagi. Jaga rumah, jangan sampe maling masuk, sampai jumpa!" Ahzarel menginjak pedal gas menuju klub untuk menemui sepupunya.
Di klub. Ahzarel langsung disambut dengan perkelahian pria, merebutkan wanita. Hal tidak berguna tersebut membuat Ahzarel muak.
"Oy!" Panggil seseorang dari kejauhan. Wanita dengan rambut pendek, ia melambaikan tangan ke arah Ahzarel lalu memanggil Ahzarel mendekat.
Semua mata wanita di sana tertuju pada Ahzarel. Membuat pria itu risih sampai bergidik ngeri, seandainya dia tiba-tba diterkam oleh 7 orang wanita di sana, tidak termasuk sepupunya.
"Pindah aja," ujar Ran.
Mereka memutuskan untuk mengobrol di dalam mobil. "Jadi?" Tanya Ahzarel. Ran pun menjelaskan tentang rencananya untuk menjebak wanita tersebut.
"Jadi ... terus ... gitu," jawab Ran. Ahzarel sebenarnya keberatan dengan cara Ran. Namun, apa salahnya mencoba?
Di sisi lain, wanita tua dengan rambut cyan sedang gelisah sambil menggenggam ponselnya. Ia mengetuk meja dengan jari-jari di tangan yang berlawanan.
"Uh! Nyari informasi aja gak becus!" Pintu terbuka saat wanita itu selesai menggerutu dalam batinnya. Seorang pria muda, berumur sekitar 26 tahun.
Warna rambutnya tak terlihat karena ruangan yang remang-remang, yang pasti, ia memakai kacamata hitam pekat. Kacamata layaknya cermin, memperlihatka bayangan wanita itu dengan jelas.
"Siapa kau?" Tanya wanita itu.
Pria tersebut berdeham dan menyebutkan namanya. "Gabriel," jawabnya dengan nada berat.
Wanita tua itu merasakan hawa nafsunya meningkat saat mendengar suara Gabriel, yang membuatnya merasa panas. "Saya hanya membantu anda, bukan melayani nafsu anda."
Wanita itu hendak berdiri, tetapi ia mengurungkan niat karena perkataan Gabriel. Wanita itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.
"Ardila," ujarnya. Tangan yang terulur itu hanya disentuh pada ujung jari oleh Gabriel. Ardila memberikan 3 foto, yaitu Wil, Laura dan Ahzarel.
__ADS_1
"Bantu saya cari informasi anak ini," ujar Ardila, dengan sidik jari telunjuknya menempel di foto Ahzarel. Gabriel mengangguk, ia tersenyum seperti menahan tawa.
"Bagaimana dengan 2 orang lainnya?" Tanya Gabriel.
"Dua orang ini sudah mati. Prinsipku, kalau orang tuanya sudah mati anaknya harus mati," jelasnya. Gabriel mengelus dagu, seakan berpikir keras.
"Apa kau yang membunuh orang tua wanita ini?"
"Tentu, saat dia berusia 4 tahun. Tak hanya orang tuanya, bibinya pun ikut menjadi korban." Dia mengambil pisau dan menusuk foto Laura dengan pisau tersebut.
Gabriel menelan saliva, terlihat dari jakunnya yang bergerak seperti mendorong sesuatu. Ardila semakin tergoda. Namun, ia harus menahannya. "Uh, aku bisa tersiksa jika menahannya terus."
"Kalau gitu saya pergi, sampai jumpa." Pria itu keluar dan menghilang ketika pintu di tutup.
Di sisi lain. Ran menunggu seseorang di parkiran bank. Ia gelisah, jika rencana itu sampai gagal.
Seorang pria dengan kacamata hitam masuk ke dalam mobil Ran di kursi pengemudi. Ia melepas kacamata dan memperlihatkan mata biru yang indah.
"Gimana?"
"Aku tau siapa yang membunuh orang tua mama," ujar pria itu seraya melepas kontak lensanya.
"Iya, Rambut dia seperti rambut papa, walaupun hanya sedikit."
"Apa dia ibu kandung ayahmu?"
"Teori yang bagus. Sekarang bagaimana?"
Ran memberitau rencananya, semoga berjalan mulus. Ahzarel mengangguk, ia menjalankan mobilnya menuju tempat yang bisa menenangkan pikiran.
"Huft, baru satu bukti. Aku butuh lebih banyak, akan ku jebloskan dia ke jeruji besi, kalau perlu hukum mati."
Ran tiba-tiba membuka mulutnya. Wanita itu membicarakan hal acak, sampai titik pusat topik berhenti di Lina. "Rel, Lina gimana ya sekarang?"
Ahzarel langsung menginjak rem secara mendadak. Mobil tersebut berhenti tepat di garis berhenti, lampu lalu lintas yang menyala merah.
"Untung aku pakai sabuk pengaman," gumam Ran seraya menggenggam tali sabuk yang ada di depan dadanya.
"Jangan bicarakan dia di depanku, jangan pernah."
"Kamu tuh masih cinta sama dia, jujur aja lah!"
__ADS_1
Ahzarel tiba-tiba menginjak pedal gas. "Kenapa Om Roy masih mau ngerawat kamu ya?"
"Gue juga heran kenapa Tante Laura mau punya anak kayak lo? Kalo gue jadi Tante Laura, gue udah kick lo dari kartu keluarga."
"Suka-suka mamaku dong. Aku lahir dari rahim dia bukan rahim kamu," sahut Ahzarel dengan pandangannya yang terkunci pada jalan raya.
Perlahan Ran mengangkat kedua tangannya. "Nyerah aja gue."
Ponsel Ahzarel bergetar di atas dashboard. Nomor tak dikenal dari negara tanah airnya. "Jawab Ran," perinta Ahzarel.
"Nyuruh," gerutu Ran dan menjawab telepon tersebut. Ia menyalakan speaker agar Ahzarel dapan mendengarnya.
"Halo?" Sapa seorang wanita diseberang telepon, siapa lagi kalau bukan Lina. Wanita pujaan hati Ahzarel di masa lalu.
"Oy! Lina, aku dan Ahzarel kangen sama kamu," ujar Ran.
"Ah, Ran! Ahzarel ada?"
Ahzarel merebut ponselnya dari tangan Ran. Ia mematikan speaker, lalu menempelkan ponsel tersebut pada telinga kirinya.
"Aku sibuk, nanti saja ya?" Ahzarel langsung menutup panggilan setelah berkata demikian dan mematikan daya ponselnya.
"Dingin banget kau ke Lina sekarang."
"Gak apa-apa, aku gak mau ganggu hidup dia itu aja," ujar Ahzarel dengan suara yang bergetar. Ran memilih diam, daripada harus menyayat perasaan sepupunya.
10 menit Ahzarel dan Ran dijebak kemacetan. Di tengah kota yang benar-benar padat, sepertinya untuk keluar jalannya sangat sempit.
Cahaya kuning layaknya lampu mobil lama-lama melebar dan semakin terang. Dua insan itu penasaran dan menengok ke belakang.
"Oh shit," ujar mereka bersamaan. Mata mereka ketika melihat truk besar berkecepatan tinggi melaju arah mereka mereka.
"Ran, kita harus keluar. Sekarang!" Namun, pintu tak bisa di buka lebar. Ran merasa putus asa.
Ahzarel memecahkan kaca mobil dan berusaha keluar. Ia juga menarik Ran keluar mobil dengan segera. Betapa beruntungnya mereka. Begitu keluar mobil truk tersebut langsung menabrak mobil mereka. Mungkin kalau tidak keluar tepat waktu, nyawa mereka sudah melayang.
Nafas Ran tersengal-sengal, ia masih merasakan paranoid dan membayangkan hal-hal yang tidak-tidak tentang kecelakaan barusan.
Ahzarel sempat melihat siapa yang menyetir truk tersebut. Rambutnya berwarna cyan, tetapi ia laki-laki.
"Siapa lagi itu!?"
__ADS_1