Pupus

Pupus
Prolog


__ADS_3

Tidak ada yang namanya kebetulan, semua pasti ada alasannya. Kau mau yang mana? Alasan aku belajar atau alasan aku menetap?


-Amora, Temanggung 2019


_______________________


     


        Di titik nol kilometer Kota Temanggung ini, Amora duduk tegap dengan pandangan kosong. Ia membiarkan beberapa bayangan muncul menjadi sebuah tontonan yang sedari tadi tak ada habisnya. Amora mencengkram ujung pegangan pada bangku panjang ini, meremasnya pelan sambil menampilkan senyum ketika beberapa anak kecil melihatnya dengan raut wajah bingung. Kameranya tergeletak di samping. Membiarkan benda itu teronggok tenang tanpa harus merasakan pelukan hangat dari kesepuluh jari mungilnya.

__ADS_1


       Ia menunduk dalam. Memejamkan mata sembari menahan napas. Rasa sesak itu muncul kembali. Menggerogoti hatinya yang masih terasa awam. Sebuah pengakuan yang berhasil mengguncangkan seluruh tubuhnya, melemahkan sendi dan ototnya, serta memusingkan kepala. Lututnya bergetar kala itu, ia masih ingat betul.


        " Kak Egie kok lama ya," gumamnya sok merasa jengah. Padahal yang dirasa ia ingin segera pulang dan menumpahkan air mata sialan ini pada kasur empuk kesayangannya.


         " Ngelamun aja, nggak takut kesambet?" seseorang menepuk bahunya lembut. Sedikit menundukkan kepala memastikan jika ia tak salah orang. Ia yakin tidak salah orang, baju yang dikenakan masih sama dengan baju sebelum ia tinggal pergi. Egie Laksmana, laki-laki yang menjadi pengganggu Amora itu terhenyak ketika melihat pipi gembil yang selalu menjadi incaran tangannya kini basah, merah, bahkan hidungnya kembang-kempis mencari udara pernapasan.


       Egie menarik Amora dalam dekapan hangat yang menenangkan. Mengelus kepala yang diselimuti hijab pashmina itu dengan lembut. Sejurus kemudian indra pendengarnya menangkap sebuah isakan tertahan yang begitu memilukan. Cengkraman pada ujung jaketnya menguat, disertai rasa dingin yang muncul di permukaan bahu kekarnya. Sosok adik kelas ini ia kenal sebagai sosok yang hiperaktif, sebelum ia mengenal yang namanya cinta, biasanya sih ia akan menggoda gadis itu dan membuatnya tertawa, tapi Egie tahu, permasalahan ini sudah tidak bisa dijadikan bahan lelucon lagi.


         Cinta memang begitu rumit, tak ada yang berhasil lolos mencintai tanpa merasakan sakit barang setitik. Saat kamu memilih seseorang sebagai raja yang berperan sebagai sosok utama di hatimu, akan ada air mata yang menangisi keputusanmu.

__ADS_1


        Di sisi lain, bahkan ada banyak orang yang memilih berbohong mengorbankan perasaannya sendiri, memilih diam dan bersikap seolah mendukung, padahal sebenarnya jauh dalam lubuk hati paling dalam, ada ribuan penyesalan hinggap, bertanya mengapa ia mengizinkan kesakitan ini menempel erat. Mereka tetap memilih berdiri, yang lain meratapi.


   " Sudah, tidak usah dipikirkan, kamu berhak bahagia, tapi bukan dia alasan di balik bahagiamu" ujar Egie dengan sentuhan yang makin lama makin menenangkan. Amora hanya diam sambil memejamkan mata erat. Meresapi segala kalimat yang keluar dari mulut Egie.


   " Daf, kamu tahu? Mencintai kamu itu menurutku adalah hal yang mudah, yang sulit adalah menerimanya. Ada banyak kemungkinan yang terjadi, dan harus menuntut aku untuk menerima ini semua. Ketika kamu memilih bersama dengan yang lain, aku harus bisa menyadari, bahwa ini hanyalah perasaan sepihak, bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku harus menghapus rasa agung ini, semuanya pupus"


         


          " Sebenarnya aku bersikap egoispun bisa, tapi hal yang mendasari dari sebuah cinta sejati adalah kerelaan. Kalau memang kamu yang tidak dipilih Tuhan untuk menjadi alasan aku menetap, setidaknya kamu menjadi alasan kenapa aku belajar. Belajar memahami arti sebuah rasa ikhlas"

__ADS_1


__ADS_2