
Maira melajukan mobilnya dengan perasaan yang tak menentu, hatinya ia paksa untuk terus bersabar dan menerima semua ini, kini orang yang ia cintai harus duduk di pelaminan bersama sahabatnya. Namun ia akan berusaha tenang dengan rasa sakit yang masih menghinggapi hatinya.
Setelah beberapa lama ia mengendarai mobilnya, kini ia tepat berada di parkiran gedung EXO. Hatinya kembali ragu akan melangkah masuk ke dalam gedung, dadanya seakan tertindih batubyang sangat besar sehingga membuatnya susah untuk bernapas.
Lo harus bisa Ra, lo harus tetap kuat apapun yang terjadi.
Setelah mengembuskan napasnya yang terasa berat, ia keluar dari mobilnya dan melangkah memasuki ruang acara, walauoun langkahnya terasa berat.
Dari sudut parkiran, nampak Romi dan Angel yang datang bersama.
"Hai Ra," sapa Romi ramah.
"Are you ok?" imbuh Angel yang nampak cemas.
"Kalian ini kenapa sih? Aku gak papa," ucap Maira beralasan, dengan menyunggingkan senyumannya.
"Aku masuk ya? kalian gak mau masuk?" imbuh Maira yang berusaha tampak baik-baik saja walaupun tidak demikian.
"Lo duluan aja Ra, aku mau ke toilet dulu," ucap Angel dan di balas anggukan oleh Maira dan kemudian berlalu dari hadapan Angel dan Romi.
"Kita harus awasi dia," ucap Romi yang juga nampak khawatir.
"Aku juga berpikir seperti itu Rom," jawab Angel.
Angel dan Romi mengikuti langkah Maira yang mulai masuk dalam gedung, mereka bermaksud mengawasi Maira dari kejauhan.
Maira sampai di arah pintu masuk acara resepsi Billa dan Darren, ia melangkah masuk, tanpa ia sengaja menatap arah Ana, yang membuat pandangan mereka bertabrakan, ada senyum kemenangan di wajah wanita paruh baya itu, namun Maira hanya membalas dengan senyum tipis. Maira lebih memilih berdiri di ujung ruangan, menatap lurus pada pelaminan tepat Darren dan Billa berdiri menyalami para tamu yang memberi selamat pada mereka.
Bukannya gue yang berdiri disana Darren? Bukankan aku yang seharusnya mendampingimu? Tapi takdir berkata lain. Bukan aku, tapi dia. Sahabatku.
Semoga kalian bahagia.
Maira terus menatap kearah pelaminan, yang membuat mempelai pria menatapnya, iris mata mereka bertabrakan, ada raut sesih dan bersalah diwajah Darren, namun hanya di balas senyum tipis oleh Maira. Darren berusaha menghampirinya, namun sanga mama menahannya, karena para tamu yang tak kunjung berkurang, ia masih di sibukkan dengan ucapan selamat padanya yang membuatnya terbelenggu di sebrang sana.
"Lo kuat Ra, lo wanita hebat," ucap Angel yang sudah berdiri tepat disamping Maira bersama Romi. Maira hanya tersenyum. Hatinya sakit, namun ia tak ingin terlihat nampak lemah karena pemandangan yang tak begitu ia inginkan.
"Romi, Angel, gue pamit ya," ucap Maira.
"Kenapa lo keburu Ra?" tanya Romi heran.
"Gue harus pulang, besok pagi gue harus terbang ke Ausie, pesawatku jam 7 pagi" jawab Maira menjelaskan.
"Ngapain li ke Ausie?" tanya Angel tak kalah heran.
"Gue hanya lanjutin studi gue disana, kalo sudah kelar, ya balik lagi kesini," jawab Maira.
"Tapi Ra...." ucap Angel yang terputus.
__ADS_1
"Gue pamit ya, gue nitip ini buat Darren," ucap Maira sambil memberikan kotak berwana biru ketangan Romi, dan kemudian meninggalkan mereka.
Maira meninggalkan gedung itu, ua lahukan mibilnya dengan keceoatan yang tak biasa. Air matanya berhasil jatuh setelah lama ia tahan supaya tak menetes, namun kini ia dapat menetes dengan sempurna. Dadanya kembali sakit, namun tak sesakit dulu, Maira mengusap air matanya dengan kasar. Ia berusaha tersenyum dalam tangisnya.
Setelah beberapa lama, ia sampai di kediamannya, ia langsung menghamburkan dirinya masuk ke rumah menuju kamarnya, Fatih yang berada di ruang santai, hanya bisa mengawasi anaknya yang nampak tak baik-baik saja, namun ia memilih untuk diam, ia paham dengan apa yang Maira rasakan.
🍁🍁🍁
Pagi ini hari yang di tunggu Maira, ia berangkat ke Ausie, tempat yang ia pulih untuk melupakan goresan sakit hati yang sudah ia lalui.
"Udah siap Ra?" tanya Fatih lembut.
"Udah pa, yuk berangkat keburu telat ntar," jawab Maira antusias.
Maira berangkat menuju bandara dengan di antar oleh Fatih, Fatih memilih tak pergi kekantor demi bisa mengantarkan putri semata wayangnya yang sangat ia sayangi.
Maira dan Fatih keluar dari gerbang rumahnya, tanpa mereka sadari ada mobil berwana hitam terparkir di sudut rumahnya, mengawasi kepergian Maira dan Fatih.
"Maafin aku Ra," ucap Darren lirih.
"Semua udah terjadi, lo gak perlu sesali semua ini, fokus sama Billa yang sekarang jadi istri lo, jaga perasaannya," ucap Romi yang bersedia mengantar Darren pagi-pagi buta dan menajmur di depan rumah Maira.
"Maira ke Ausie pengen lupain lo dan semua yang membuatnya sakit disini, jadi biarkan dia dapatin kebahagiaanny sendiri," imbuh Romi, walaupun sama saja, tak ada lagi jawaban dari sahabtnya itu.
🍁🍁
"Maira masuk ya pa," pamit Maira
"Kamu hati-hati ya Ra, kabari papa," ucap Fatih sambil menarik tubuh Maira dalam pelukannya.
"Pasti pa," jawab Maira dan melepaskan pelukannya.
Maira meninggalkan Fatih setelah mencium punggung tangan Fatih yang masih diam mematung menatap punggung putrinya.
Maira masuk ke dalam bandara, setelah melakukan check in dan pemeriksaan, Maira berada di ruang tunggu. Tak butuh waktu lama ia menunggu, ia pun masuk ke daalm kabin pesawat, ia duduk di pinggir jendela pesawat. Maira memasangkan earphone di telinganya untuk mendengarkan lagu-lagu dari ponselnya hingga pesawat lepas landas.
Setelah beberapa jam, pesawat Maira mendarat di bandara internasional Ausie, ia turun dari pesawat, dengan earphone yang masih menempel pada telinganya, lagu masih mengiringi langkahnya.
Tak ku sangka
Semua seperti ini
Semua yang indah
Berubah jadi sirna
Tak habis pikir
__ADS_1
Kau tega seperti ini
Meninggalkanku
Tanpa suatu kepastian
Ku hanya bisa berharap
Kau bahagia disana
Dengan dia pulihanmu
Walau dia sahabatku
Biar aku yang pergi
Biar aku yang tersakiti
Biar aku yang berhenti
Berhenti mengharapkanmu
Oh Tuhan kuatkan aku
Menerima semua ini
Jika dia memang untukku
Ku harapkan dia kemabali padaku
Lagu yang sangat mewakili perasaannya, ia menekan tanda pause pada layar ponselnya dan ia sudah berada di depan bandara.
*Dengan berakhirnya lagu ini, berakhir juga kesedihan yang telah gue lalui, semua akan gue kubur dalam-dalam. Terimakasih akan kenangan terindah yang kau berikan, terimakasih sakit yang sudah kalian berikan. Menyerah mungkin adalah keputusan yang baik buat gue. Semoga kalian bahagia disana, biarkan aku mencari kebahagian gue sendiri disini. Ausie.
🍁*
🍁
🍁
Terimaksih yang sudah mempir di Pupus, terus beri dukungannya, maaf jika masih banyak kekurangan pada novel ini.
Mampir juga di cerita lainnya ya
🔖 Hijab pertama Na
🔖 The pellows
__ADS_1
tinggalkan jejak disana juga ya 💐