
Rumah besar milik keluarga Siregar nampak sunyi, Fatih yang biasanya menikmati sarapannya bersama putrinya, kini ia hanya duduk di meja makan sendirian. Maira, putri semata wayngnya kembali mengurung diri di kamarnya. Setelah kejadian di perpustakaan waktu itu, Maira tak lagi mau keluar dari kamarnya, apalagi untuk berangkat ke kampus. Ia lebih memilih meratapi kesedihannya di dalam kamarnya.
Tok.. tokk
"Sarapan Ra," ucap Fatih di depan pintu kamar Maira. Kali ini, Fatih ingin mengantarkan sarapan Maira, tugas yang biasa di lakukan oleh pembantunya.
"Kenapa papa yang ngantar?" tanya Maira setelah membukakan pintu kamarnya.
"Papa ingin tahu keadaan kamu," ucap Fatih yang berjalan mengekori Maira dan duduk di ujung kasur Maira.
"Maira gak papa pa," jawab singkat dan duduk di samping Fatih.
Masih terpancar kesedihan di wajah cantik maira, walaupun sudah tak ada air mata lagi yang membesahinya.
"Sudah hampir dua bulan kamu selalu mengurung diri seperti ini Maira, apa kamu gak ke kampus?" tanya Fatih dengan oenuh penekanan.
"Pa, ijinin Maira pindah ke Ausie ya," pinta Maira yang membuat Fatih terkejut.
"Ngapain kamu kesan Ra? Kamu tega ninggalin papa sendirian?"
"Maira ingin melupakan semuanya pa, terlalu sakit buat Maira melanjutkan kuliah disini." tegas Maira seraya memohon.
"Ra, masalah itu dihadapi bukan dihindari," ucap Fatih.
"Maira gak menghindar pa, semua sudah aku anggap selesai. Maira cuma ingin membuka lembaran baru dengan lingkungan baru." jelas Maira.
Final. Jawaban Maira membuat Fatih bungkam, memang tak ada yang salah dengan maksud Maira pindah ke Ausie, dan mungkin itu merupakan pilihan tang baik untuknya.
"Maira akan kembali setelah studi Maira selesai pa," imbuh Maira berusaha menenangkan Fatih.
"Baiklah Ra, papa gak bisa larang kamu. Kapan kamu mengurus semuanya?" tanya Fatih pasrah.
"Hari ini Maira ke kampus buat urus perpindahan pa," jawab Maira tegas dan hanya di balas anggukan ringan oleh Fatih.
Maira sangat merasa lega karena mendapat ijin dari Fatih. Merelakan seseorang yang sangat ia cintai harus bersanding di pelaminan bersama sahabatnya memang menyakitkan, namun apalah daya Maira karena restu yang tak ia dapatkan karena kisah masa lalu yang tak tertuntaskan.
__ADS_1
Lo bisa bangkit Ra, lo harus ikhlas untuk kebaikan bersama.
Maira bersiap untuk pergi ke kampus setelah menyelesaikan sarapannya. Ia bermaksud menyelesaikan keperluannya untuk pindah ke Ausie.
🍁🍁🍁
Darren memarkirkan mobilnya di depan rumah Billa, kini menjadi rutinitas Darren mengantar jemput Billa, tentu saja dengan paksaan Ana yang tak dapat ia tolak. Walaupun dengan berat hati, ia pun melaksanakannya.
Nampak Billa keluar dari rumahnya, tentu seperti biasa dengan wajah yang tak pernah ceria. Tak beda dengan Darren, ia pun dengan mati-matian menolak supaya tidak ke kampus bersama Darren, namun ia pun seakan senasib dengan Darren, ia sama sekali tak dapat menolak paksaan orang tuanya yang semakin gencar dengan perjodohan itu.
Billa masuk ke dalam mobil milik Darren, tak ada yang buka suara, selalu kalut dalam pikiran dan perasaan masing-masing.
"Entar pulang ngampus kita harus fitting baju," singkat Billa memecah keheningan. Darren yang mendengar ucapan Billa hanya dapat membuang napas kasar.
"Gue tau Lo kecewa karena akhirnya semua tetap berjalan seperti kemauan orang tua kita, tapi bukankah gue juga sangat kecewa Ren," ucap Billa, penuh getir disetiap ucapnnya.
"Gue belum bisa relain Maira, apalagi sejak kejadian di perpustakaan itu, dia gak muncuk lagi di kampus," jawab Darren tak kalah frustasi.
"Jika memang semua harus berjalan seperti ini, apa lo tetep gak bisa menerima semua ini?" tanya Billa.
"Mungkin gue akan berusaha terima lo, walaupun itu akan menyakitkan buat Maira. Tapi kalo gue gak bisa terima, apa semua akan bisa berubah? kenyataannya setelah usaha kita membatalkan perjodohan ini juga berakhir sia-sia." tegas Billa.
"Mau lo apa?" tanya Darren sinis.
"Ayo kita berdamai dengan semua ini, seminggu lagi acara pernikahan itu akan terjadi, sejauh ini kita gak bisa berbuat apa-apa untuk batalin semua ini." pinta Billa. Tak ada jawaban dari Darren, ia masih fokus menyetir dengan mencerna ucapan Billa baik-baik, karena memang ucapan Billa ada benarnya.
Billa dan Darren sampai di parkiran kampus, Billa tak sengaja melihat Maira yang juga turun dari mobilnya, sontak Billa keluar dari mobil meninggalkan Darren dan berlari untuk menghampiri Maira. Darren nampak binggung dengan tindakan Billa yang keluar dari mobil secara tiba-tiba, namun ia hanya mengamati dari dalam mobil.
"Maira," teriak Billa.
Maira menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Billa. Maira memperhatikan sekeliling Billa namun tak nampak Darren bersamanya, hingga matanya tertuju pada mobil yang sudah terparkir rapi, Maira pun sangat hapal dengan mobil itu, membuat ia paham kalau Billa tak datang sendiri.
"Ra, maafin gue," pinta Billa dengan wajah melas.
"Maaf buat apa?" tanya Maira.
__ADS_1
"Gue tau lo sakit hati sama gue, harapan buat jadi sahabat lo lagi itu sudah gak mungkin Ra, tapi gue beneran gak ada niat buat khianatin lo. Ini semua karena paksaan dari orang tua gue dan mamanya Darren Ra, lo percaya kan sama gue?" jelas Billa.
"Gue ngerti Bill. Dan semoga kalian bahagia," jawab Maira dan kemudian berlalu meninggalkan Billa, dadanya terlalu sakit mendengarkan penjelasan Billa, ia memilih untuk pergi sebelum air matanya menetes sempurna.
"Ra.." teriak Billa, namun tak ada jawaban dari Maira. Billa tak dapat lagi menahan air matanya yang semakin menjadi-jadi. Sementara Darren yang masih mengamati di dalam mobil hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar.
Maira yang berlari ke toilet wanita, ia menangis sejadi-jadinya, hatinya begitu rapuh.
"Lo yang sabar ya Ra," ucap seseorang wanita dengan mengusap bahu Maira. Maira melirik ke arah suara dan kemudian memeluknya. Menumpahkan semua kesedihannya pada perempuan yang ia kenal itu.
"Gue hancur, Angel." ucapnya dengan suara yang bergetar.
"Dulu gue harus relain Darren buat lo, sakit memang, tapi gue harus rela dengan itu. Sekarang lo juga harus belajar buat relain Darren buat Billa, walau itu sakit Ra." jelas Angel berusaha menenangkan.
"Tapi kena Billa, kenapa?" teriak Maira masih dalam tangis dan dekapan Angel.
"Apapun bisa terjadi Ra, dan kamu harus tetap menerima semuanya," jawab Angel.
Maira hanya terus menangis di pelukan Angel, perempuan yang dulu pernah menjadi saingannya, namun kini tak ada satupun yang mendapatkan Darren. Justru orang yang tak pernah mengharapkan Darren yang akan menemani sisa hidup Darren dalam pernikahan.
Jodoh memang sudah di atur, bagaimana lika liku kehidupan mempertemukannya, namun Tuhan maha baik dengan semua ketetapannya. Tak ada yang tidak indah setelah kesakitan dan kesedihan yang dapat dilalui dengan kesabaran dan ketabahan.
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa kasih dukungan vite, like dan komentar + ritting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya..
mampir juga di karya yang lainnya.
🔖 hijab pertama Na
🔖 the pellows
__ADS_1
tinggalkan jejak disana juga ya readers 🍁